
Tok! Tok! Tok!
Terdengar tiga ketukan pada daun pintu.
Suhita membuka matanya, seutas senyum mengembang. Adanya aura yang kuat terpancar dari sosok di luar sana. Ayahnya datang, Suhita bergegas bangkit dan membuka pintu.
"Maaf, benarkah kaulah Tabib kecil itu?!" tanya sosok yang berdiri di depan pintu kamar Suhita.
Suhita sedikit terkejut, ternyata bukan Ayahnya yang datang. Melainkan seorang gadis cantik berusia sekitar dua puluh dua tahun. Namun gadis itu membawa boneka di dalam gendongannya, seperti anak kecil yang selalu bersama boneka kesayangan ke mana pun dia pergi.
Suhita menepis rasa terkejutnya, dan coba menjawab dengan senyum dan anggukan kecil. Dia yakin, gadis itu membutuhkan jasanya. Atau mungkin ada teman atau kerabatnya dalam keadaan sakit.
"Nona, maaf. Apa ada yang bisa saya bantu?!' tanya Suhita.
Gadis itu segera menganggukkan kepalanya. Dia mengatakan jika telah cukup lama mencari-cari keberadaan Suhita. Tidak disangka, hari ini mereka berjodoh. Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Bulan. Berasal dari salah satu sekte di sebelah timur kota Giling Wesi. Sekte Perisai Hujan.
Suhita mendengar segala penjelasan gadis itu dengan seksama. Sebagai seorang yang belum begitu paham akan tokoh di dunia persilatan, Suhita tentu hanya mengingat segala ucapan Bulan tanpa tahu latar belakang sekte yang dia jelaskan. Lagi pula bagi seorang tabib seperti Suhita, tidaklah penting siapa orang yang akan ditolong, dari golongan apa dia berasal, karena kasta tidaklah memilih seseorang yang sehat untuk jatuh sakit kapan dan di mana saja.
Gadis cantik dengan boneka di pelukannya, aura yang dipancarkan sangatlah kuat. Sudah barang pasti dia merupakan seorang tokoh dunia persilatan yang disegani. Dia pun mampu menemukan Suhita kala bocah itu sedang berlatih kekuatan tenaga dalam. Jika mengingat ciri-ciri umum itu sudah tidak salah lagi kalau gadis yang datang pada Suhita adalah Bulan Jingga. Masih ingat siapa gadis itu?
__ADS_1
Bulan Jingga. Beberapa tahun yang lalu hanyalah salah satu anggota dari Tiga Penjahat Jalanan yang kemudian mereka bekerja di bawah perintah Cahaya Langit. Bersama-sama mengembangkan sayap Aliansi Utara Selatan, membangun kekuatan besar dengan markas utama terletak di Gunung Dewa Langit, salah satu hutan terlarang yang terletak di perbatasan Kerajaan Utara dan Kerajaan Selatan.
Aliansi Utara Selatan sempat mengalami guncangan hebat ketika pimpinan besar mereka, Cahaya Langit tewas. Banyak tokoh besar dan anggota Aliansi yang memecahkan diri dan keluar dari Aliansi. Tidak hanya itu saja, di dalam tubuh kepengurusan Aliansi Utara Selatan juga terjadi pergolakan. Sesama tangan kanan Cahaya Langit, mereka merasakan jika memiliki hak untuk mengambil alih pucuk pimpinan.
Bertahun-tahun lamanya pergolakan demi pergolakan muncul silih berganti. Bahkan Aliansi Utara Selatan sempat terpecah menjadi dua kubu. Di mana masing-masing kubu menyatakan diri sebagai aliansi yang asli. Kemelut tersebut nyata-nyata merugikan mereka sendiri, hingga beberapa tahun itu pula kekuatan para penjahat aliran sesat berkurang cukup drastis.
Pertama, kehancuran Aliansi Bunga Suci di Selatan. Yang juga merupakan andil Aliansi Utara Selatan dalam merebut segala lumbung penghasilan yang kemudian menjadikan Aliansi Utara Selatan merupakan kelompok nomor satu aliran sesat.
Kematian Cahaya Langit, merubah segalanya. Aliansi dengan kekuatan besar itu menjadi keropos dari dalam. Perpecahan yang terjadi menimbulkan masalah yang tak kunjung usai. Tokoh aliran putih bisa bernapas dengan lega selama bertahun-tahun. Akhirnya mereka mampu menekan pertumbuhan tokoh sesat dan meminimalisir terjadinya pertumpahan darah.
Melihat kebajikan menyebar, tentunya membuat kepala dan telinga para penjahat dan tokoh aliran sesat terasa meledak. Mereka terus melakukan segala cara dan upaya untuk secepatnya bisa bangkit dan kembali menebar teror di sana-sini.
Lalu saat sekarang dengan keberanian yang sangat besar, Bulan Jingga menampakkan diri di siang hari di mana dalam penginapan itu juga terdapat seorang pendekar yang selama ini tidak bisa dia kalahkan. Ya, karena orang yang ada di hadapan Bulan Jingga adalah Suhita Prameswari. Seorang bocah yang belum pernah bertemu bahkan belum pernah tahu pada dirinya.
"Tabib kecil, aku mohon akan kebaikan hatimu. Tolonglah aku ..." Bulan Jingga menyatukan kedua tangannya di depan dada, memohon dengan sangat.
Suhita menghela napas, dia tidak tega melihat orang itu. Meskipun sebenarnya yang Suhita inginkan saat ini ialah bertemu dengan ayahnya dan kembali ke desa Talang Tunggal untuk segera bertemu dengan ibunya. Tapi di sisi lain, Suhita juga tidak bisa mengabaikan ada orang yang sakit dan butuh pertolongan harus dia tinggalkan begitu saja.
"Baiklah, Nona. Saya akan membantu semampu saya. Mohon untuk Nona tunggu sebentar," ucap Suhita.
__ADS_1
Suhita kembali masuk ke dalam kamar. Sementara, senyum lebar menghiasi wajah Bulan Jingga. Banyak makna yang tersimpan dalam senyuman itu.
"Bagaimana ini?! Apa aku harus temui ayah lebih dulu?! Bukankah ayah bilang jika dia ingin menyelidiki Pendekar Tongkat Emas?!" Suhita menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa yang harus Suhita lakukan sekarang? Di luar, Nona Bulan pastinya menunggu dengan tidak sabar.
Suhita menghela napas, kemudian dia keluar kamar dan meminta Bulan Jingga untuk sabar menunggu. Suhita akan terlebih dahulu menemui seseorang.
"Tabib kecil, aku mohon ... sudah tidak ada waktu lagi," dengan berbagai alasan Bulan Jingga terus berusaha menghalangi niat Suhita untuk pergi.
Suhita bersikeras untuk tetap pergi. Dia mengabaikan alasan-alasan yang dibuat oleh Bulan Jingga dan tetap melangkah meninggalkan gadis itu untuk menemui ayahnya di lantai atas penginapan.
"Sialan! Dasar bocah menyebalkan!" Bulan Jingga mendengkus kesal. Dia menatap Suhita dengan tatapan penuh amarah.
Kendati demikian, Bulan Jingga tidak mungkin menggunakan kemampuannya untuk menghalangi Suhita, itu sama saja dia menggali lubang untuk kuburannya sendiri. Jika mau bunuh diri, tentu tidak perlu jauh-jauh datang ke Giling Wesi.
Tidak ada hal yang bisa Bulan Jingga perbuat, dia hanya bisa menahan segala gelora yang menderu di dalam dadanya. Berusaha sabar dan menunggu Suhita dengan harap-harap cemas. Jika sampai Suhita datang bersama dengan Mahesa, maka segala rencana yang dia susun bakal berantakan.
Sementara itu, Suhita yang menaiki tangga telah berhasil menuntaskan anak tangga terakhir. Dia tiba di lantai atas. Pandangan matanya diarahkan ke segala penjuru, mencari-cari keberadaan Mahesa.
Suhita kemudian melangkah menghampiri kursi di mana tadi Mahesa dan Jaka Pragola bercakap-cakap. Bagaimanapun juga Hita harus pamit pada sang ayah, supaya Mahesa tidak mencari-cari nantinya.
__ADS_1