
Tidak lagi mencapai belasan jumlahnya pasukan Gondo Mani yang masih mampu melanjutkan pertarungan. Lebih dari separuh dari mereka telah terkapar tak lagi bisa dekati Suhita yang bertarung dalam mode sungguh-sungguh.
Gondo Mani memperhatikan pertarungan dari jarak yang cukup jauh, seolah sedang membaca batas kemampuan yang Suhita miliki. Ya, meskipun berita mengenai betapa hebatnya kemampuan Sepuluh Tapak Penakluk Naga sudah sangat akrab di telinga, tapi bukanlah menjadi alasan untuk takut pada setiap siapa saja yang miliki kemampuan tersebut, begitu banyak apek lain yang juga menjadi penunjang. Yang harus diwaspadai dari seekor harimau bukan sekadar kulitnya yang belang. Mana mungkin seekor anak harimau miliki kuku yang tajam melebihi beruang dewasa.
"Semoga saja Sari tidak ikut terjebak di alam sialan ini. Aku harus bisa menghemat tenagaku. Pastilah Gondo Mani sengaja merencanakan semuanya," Suhita menghela napas sejenak, sebelum kemudian melompat mundur mengambil jarak aman.
Di sisi lain, Gondo Mani kiranya telah membaca siasat yang akan dijalankan oleh Suhita. Tentu saja, dia tidak akan membiarkan semuanya berjalan mulus. Yang harus terjadi ialah munculnya rasa putus asa di dalam hati Suhita. Memancing rasa putus asa yang kemudian akan digunakan untuk menikam Suhita dari dalam dirinya. Meruntuhkan rasa kepercayaan diri.
Tidak berselang lama, Gondo Mani lekas turun gelanggang. Dengan tongkat pusaka di tangannya, dia terus berusaha dan memaksa Suhita dalam keadaan yang terpojok. Ya, meskipun kenyataannya itu sangatlah tidak mudah. Perlawanan alot tentu saja diberikan Suhita, bahkan membuka mata lawan jika kemampuannya berada satu tingkat lebih tinggi.
"Jangan beri celah wanita jal*ng itu untuk bernapas! Habisi dia!" Gondo Mani membakar semangat tempur anak buahnya supaya tidak segan berjuang hingga titik darah penghabisan.
Gelombang serangan yang dilakukan Gondo Mani dan anak buahnya tidak berlangsung lama. Pupus sudah harapan mereka untuk bisa membuat Suhita terpojok dan putus asa. Karena saat itu, tidak diketahui dari mana datangnya tiba-tiba dari angkasa muncul pusaran angin yang sangat kencang. Memaksa pasukan dengan kemampuan rendah terjajar jauh ke belakang.
"Ba-gaimana mungkin?! Sial!" Gondo Mani tersentak. Pintu alam dedemit telah ditutup, lantas bagaimana bisa ada seorang manusia yang masih mampu menembusnya?! Tidak masuk akal.
Dua ekor naga raksasa berputar saling melingkar, yang menjadi sumber pusaran angin yang maha dahsyat. Ketika naga tersebut mencapai tanah, keduanya segera menabrakkan diri mereka masing-masing pada Gondo Mani dan anak buahnya.
BAAAMMM !!! Ledakan besar kembali terjadi.
Meskipun Gondo Mani merupakan seorang pendekar siluman pilih tanding, tapi di hadapannya saat ini pula para pendekar dengan kemampuan yang begitu besar. Sudah sewajarnya jika muncul rasa gentar di dalam dada Gondo Mani. Melawan seorang dengan kemampuan tapak naga saja mereka kesulitan, dan sekarang muncul seorang lagi. Bencana besar!
Selepas bayangan naga lenyap dari pandangan mata, sepasang pendekar yang menggantikannya. Dengan berlindung diantara dua ekor naga raksasa, membuat Danur Cakra dan Kencana Sari seperti tidak merasakan apa pun kala menembus dinding pembatas alam dedemit.
"Kak Cakka!" Suhita berteriak gembira, dan segera menghambur mendekat.
"Kau baik-baik saja?!"
"Ya, seperti yang kalian lihat. Hasil latihanku tentu tidak akan berkhianat!" jawab Suhita dengan penuh percaya diri.
"Peperangan telah dimulai. Tidak ada pilihan lain, meski coba untuk menghindar tetap saja percikan darah akan menghampiri!" desis Danur Cakra.
__ADS_1
Suhita hanya bisa menghela napas berat. Dia paham atas apa yang Danur Cakra ucapkan. Sejak diketahuinya bahwa kelompok aliran sesat akan membalas dendam saat ulang tahun Kakeknya, tentu saja Suhita tidak mungkin bisa terhindar dari pertarungan serta darah yang mengalir. Hal yang bertentangan dengan kehidupannya sebagai seorang tabib.
"Haruskah begitu cepatnya?! Bahkan kami belum tiba di tujuan. Aku hanya berharap, semoga masih bisa bertemu atau paling tidak aku berkesempatan untuk menatap wajah Kakek di usianya yang seabad," ucap Suhita dalam hati.
Dalam melakoni pertarungan hidup atau mati, seharusnya Suhita dan Danur Cakra tidak berada di satu arena. Dengan demikian, mereka akan sukar untuk bisa dicelakai. Akan tetapi, saat keduanya bergabung hal yang terjadi justru malah sebaliknya. Tentu saja ini tidak lepas dari kekuatan sumberdaya Mutiara Hati yang mereka konsumsi. Sisi positif dan negatifnya berjalan beriringan.
Danur Cakra mengambil alih pertarungan Suhita. Di sini, Cakra memiliki kemampuan yang lebih daripada Suhita. Meskipun saat ini mereka tidak berada di alam manusia, bukanlah suatu yang mengherankan karena Cakra telah terbiasa berlatih di dalam alam evolusi miliknya.
Di bawah sepuluh jurus, Gondo Mani telah terpojok. Dan barulah ia mengetahui jika salah satu putra Mahesa merupakan manusia setengah siluman. Di alam mana pun mereka bertarung, maka kekuatan Tapak Penakluk Naga akan bisa digunakan secara sempurna.
"Kau ... kau ... hanya beruntung!" ucap Gondo Mani seraya menunjuk lurus ke arah Suhita.
Suhita hendak menjawab, akan tetapi tubuh Gondo Mani keburu hancur menjadi debu yang kemudian terbang tertiup angin. Tidak ada yang mampu lari dari kematian saat Jurus Sepuluh Tapak Penakluk Naga menghantam dengan telak.
Bammm !!! Bammm !!! bebatuan mulai runtuh, menandakan pusat kekuatan dedemit telah hancur.
Dengan cepat, Danur Cakra meraih lengan Suhita dan Kencana Sari. Membawa keduanya kembali ke alam nyata. Alam manusia yang merupakan tempat semestinya untuk berpijak.
"Huuuuhhh ..." Danur Cakra menghela napas panjang. Berulang kali, sampai rongga dadanya terasa kembali nyaman.
Danur Cakra dan Suhita saling bertatapan, tanpa sepatah kata yang terucap keduanya akhirnya tahu hal apa yang telah terjadi. Saat mereka bersama, maka mereka akan menjadi lemah. Dengan kekuatan yang cukup, maka lawan akan mampu untuk membelah dada keduanya untuk mengambil sumberdaya Mutiara Hati yang terpisah itu.
"Bukan saatnya untuk membuang-buang waktu secara percuma. Secepatnya kita harus bisa menyeberang!"
Ketiganya lekas menuju pelabuhan. Kapal-kapal wisata yang diperuntukkan bagi pengunjung ke pulau seribu pandan sebagian telah berlayar. Ada juga yang hanya mengitari pulau kecil lainnya yang tidak kalah menyuguhkan pemandangan yang sangat indah.
Dengan erat Suhita menggenggam lengan Kakaknya, membiarkan orang-orang menatap iri tanpa miliki kesempatan serupa.
Beruntung, ada satu kapal yang akan segera berlayar hingga mereka tidak perlu menunggu lagi. Di atas kapal, Cakra bisa merasakan adanya aura kekuatan yang terpancar dari beberapa orang pendekar. Tidak jelas mereka berasal dari kelompok aliran sesat atau malah kelompok aliran putih.
Belaian angin yang berhembus lembut mengiringi perjalanan kapal yang semakin mendekat ke pulau seribu pandan.
__ADS_1
°°°
"Waaahhh ... indah sekali ..."
"Ya, sungguh seorang penata ruangan yang sangat perofesional! Selera kelas dewa!"
"Sssttt! Jangan berisik, itu Ayah sudah tiba!"
Segera, seluruh mata terarah pada pintu masuk. Terlihat ada sepasang suami-istri yang melangkah mendekat. Ya, mereka tidak lain adalah Raditya dan Rengganis.
Hari yang dinantikan sudah tiba, hari ulang tahun Raditya. Dan senyum mengembang di wajah Raditya ketika menerima kejutan dari anak dan menantunya. Do'a terbaik tentu saja dipanjatkan.
Kendati hanya seorang anak Mahesa yang bisa hadir, akan tetapi itu tidak mengurangi kebahagiaan di hati Raditya. Semua telah tergantikan saat Raditya bisa merasakan betapa hangatnya hubungan kedua orang menantunya (yang seperti diketahui saat beberapa tahun yang lalu keduanya tidak dekat layaknya sekarang).
"Ayah, silakan dipotong kuenya ..." Puspita menyiapkan pisau dan piring kecil untuk sesi pemotongan kue.
"Ah, hahaha! Terima kasih ..." tawa haru riang gembira, terpancar menyelimuti.
Setelah memanjatkan doa, Raditya memotong kue ulang tahunnya. Untuk kemudian memberikan suapan pertama pada sang istri tercinta, wanita hebat yang sekarang telah keriput dengan uban bertabur di kepala.
Plookk! Plookk! Ploookkk! Tepuk tangan Mahesa beserta anak istrinya mengiringi satu suapan romantis.
"KAKEEKKK !!!" di tengah-tengah suasana gembira tersebut, tiba-tiba terdengar satu teriakan yang teramat keras mengoyak ruangan. Menggetarkan seisi telinga, memaksa mereka mengalirkan tenaga dalam untuk lindungi diri.
Canda dan tawa seketika terhenti. Mereka yang ada di dalam ruangan menajamkan pandangan ke arah pintu yang terbuka dengan sendirinya, seolah mengindari kehancuran jika tetap menghalangi jalan. Suasana menjadi hening.
"SELAMAT ULANG TAHUN !!!" dengan berpose kocak di buat-buat, seorang pemuda melompat di depan pintu. Tersenyum menyeringai seraya memberikan ucapan selamat ulang tahun, sedikit pun tidak merasa bersalah setelah sedetik lalu melepaskan kekuatan tenaga dalam yang hampir memecahkan gendang telinga.
"Huuuuhhh ... dasar bocah sint!ng," Raditya mendengkus.
Tidak lain, dia yang datang adalah bocah yang sedari bayi dibesarkannya. Danur Cakra Prabaskara. Tidak lama berselang, Suhita Prameswari juga muncul diikuti pelayannya. Membuat anggota keluarga mereka menjadi lengkap. Sepasang anak kembar yang terlahir dari rahim Puspita Dewi ikut bergabung di bawah atap yang sama.
__ADS_1
Raditya dan Rengganis sampai menitikkan air mata haru. Di hadapan mereka berdiri anak semata wayangnya, dua orang menantu dan tiga orang cucu. Suasana yang bahkan jarang muncul dalam sekali dalam satu tahun. Senyum mereka, menghapus segala beban yang menindih selama satu abad ke belakang.