
Jalanan setapak yang menuntun langkah menuruni tebing bebatuan, dihadapkan pada sebuah jurang yang begitu terjal. Kelompok Jubah Hitam berlompatan meniti bebatuan licin berlumut tersebut. Bagi mereka yang mengalami luka parah dan kehilangan keseimbangan maka akan terjatuh ke dalam jurang yang dipenuhi bebatuan tajam. Anggota yang lemah, tidak akan bisa kembali ke markas.
Pantas saja, kecepatan serta keseimbangan tubuh yang para penculik tersebut miliki berada pada level yang baik. Medan yang menuntut mereka untuk bisa demikian. Sungguh satu organisasi yang sangat kejam dan penuh tantangan.
Mahesa diuntungkan karena memiliki kemampuan meringankan tubuh yang sangat tinggi. Hingga meskipun dia tidak mengenal jalan, tidak sampai dia harus tergelincir apa lagi harus terjatuh ke dalam jurang. Membuat rekan-rekan penjahat berjubah lainnya sama sekali tidak menaruh kecurigaan.
Lubang Kaca Mata. Mereka tiba di markas besar para penculik. Kelompok Jubah Hitam ternyata bermarkas di Lubang Kaca Mata. Yang konon merupakan tempat terkutuk dan sangat angker. Pantas saja angker, jika penghuninya adalah para penjahat besar yang tidak mengenal rasa kemanusiaan.
Mengapa tempat itu dinamakan Lubang Kaca Mata?! Ya, karena gua tersebut memiliki dua pintu masuk yang sama besar. Terletak berdampingan dengan hanya dipisahkan oleh gundukan batu kecil. Jika di lihat dari kejauhan, bentuk gua itu sangat mirip dengan lubang kaca mata. Anggaplah gundukan batu kecil itu adalah batang hidungnya. Untuk mengapresiasi ciptaan Tuhan tersebut, maka dua gua kembar itu dinamai Lubang Kaca Mata.
"Gob*lok! Dasar tidak punya otak. Apa kalian sudah kehabisan akal?!" pimpinan besar Kelompok Jubah Hitam membentak dengan penuh kemarahan.
Sayang sekali, tidak seorang pun di dalam kelompok tersebut yang terlihat wajahnya. Semuanya memakai cadar dan penutup berwarna hitam. Hanya matanya saja yang terlihat. Sungguh tidak seorang pun yang bisa dikenali. Namun semua itu juga merupakan satu kelemahan bagi mereka. Hingga ketika ada seorang penyusup yang masuk, mereka juga tidak bisa mengenali.
Mahesa yang semula bergabung bersama dengan kelompok yang datang, sekarang telah berpindah posisi menjadi pasukan pengawal di dalam gua. Gerakannya yang sangat cepat, juga dengan kemampuan Mahesa membuat kesempatan yang baik. Hingga dia bisa berbuat sesuka hatinya. Berpindah-pindah posisi dengan mengandalkan cadar penutup di wajah.
"Hei, menurutmu. Apa kesalahan mereka kali ini akan mendapatkan pengampunan?" Mahesa menyenggol siku seorang rekan yang sama-sama bertugas jaga.
"Mereka pasti tamat. Aku berani bertaruh!" jawab orang itu dengan sangat yakin.
"Ah, mana tahu karena ada orang Giling Wesi itu, mereka diperlakukan dengan berbeda," bantah Mahesa.
__ADS_1
"Ketua cabang kecil itu, mana bisa diandalkan. Kalau bukan karena dia dapatkan kepercayaan dari Jaka Pragola, sudah sejak lama dia disingkirkan."
Owh, Barda Ripa ternyata miliki jabatan sebagai ketua cabang di Padepokan Giling Wesi. Mengapa hanya ketua cabang kecil? Sepertinya ada yang salah dengan keputusan Jaka Pragola itu. Pelan-pelan, Mahesa mulai coba menebak mengapa Barda Ripa sampai hati mengkhianati orang yang memberi kepercayaan besar padanya.
"Kau jangan sembarang bicara. Kalau sampai Barda Ripa dicelakai, lalu siapa yang akan menjadi pelicin untuk kita bisa menyusup ke dalam tubuh Giling Wesi?!" Mahesa terus memancing rekannya agar bicara panjang. Dengan berpura-pura menuangkan sudut pandang masing-masing. Sedikit demi sedikit, Mahesa berhasil menguak apa yang ingin dia ketahui.
Lalu, siapa yang membayar Kelompok Jubah Hitam untuk menculik dan mencelakai anak-anak peserta kompetisi? Mahesa tidak temukan jawaban pertanyaan itu pada si penjaga. Mungkin, Mahesa harus bertahan lebih lama di dalam markas untuk bisa memecah tuntas seluruh akar masalah.
"Hei, tiba-tiba saja perutku melilit. Aku ke belakang sebentar," Mahesa menepuk pundak rekan-rekannya berjaga.
Tanpa menaruh curiga, mereka mengangguk dan membiarkan Mahesa pergi tanpa rasa bersalah.
Mahesa kemudian memutuskan untuk menuju tempat yang dia rasakan terdapat banyak aura manusia. Kemampuan deteksi itu semata yang Mahesa andalkan. Paling tidak, dia bisa cari tahu.
Tepat sekali! Mahesa cari tahu. Lorong yang dia ikuti menuntunnya tiba di dapur, dan pastinya ada tahu kedelai di sana. Meskipun sebenarnya bukan tahu itu yang Mahesa inginkan. Di dapur, Mahesa juga menemukan orang-orang yang memasak seluruhnya memakai jubah dan cadar hitam. Begitu berlebihan aturan yang diterapkan kelompok itu.
Dengan menebar pandang ke segenap penjuru, diam-diam Mahesa memuji tata ruang yang diterapkan oleh para penjahat Kelompok Jubah Hitam. Asap dan segala limbah yang tercipta dari kegiatan memasak, semuanya di arahkan ke suatu lubang yang sengaja dibuat menuju jurang. Ya, letak dapur itu tidak jauh dari sisi jurang. Sungguh, maha karya seni yang indah. Tapi sayang, ditempati oleh orang-orang yang tidak beradab.
"Hei, cari apa kau?!" tegur seorang wanita yang memasak. Mahesa tahu jika orang itu seorang wanita karena Mahesa dapat menebak setelah mendengar suaranya.
"Aku diperintahkan untuk mengambil cuka. Di depan, ada anggota yang gagal dalam tugas. Ketua meminta aku untuk mengambil cuka guna terapkan efek jera," jawab Mahesa dengan tenang.
__ADS_1
"Dasar bo*doh! Bukan cuka ini yang ketua maksud. Cuka itu ada di gudang. Ayo ikut aku," seorang wanita lain terlihat kesal pada Mahesa yang lakukan kesalahan.
"Jika saja bukan karena kebaikan hatiku, mungkin kau juga akan dihukum. Dasar aneh," sambil mengomel, wanita itu berjalan menuju gudang.
"Maaf, aku anggota baru. Baru dua hari, jadi mohon untuk bimbingannya," ucap Mahesa. Dalam hati, Mahesa hanya tertawa kecil. Boleh juga, wanita ini sepertinya bisa di manfaatkan.
Saat tiba di gudang, hanya ada beberapa orang di sana. Mahesa pura-pura tergelincir dan kepalanya menabrak kendi tanah berisi arak. Kontan saja, cadar dan sebagian bajunya jadi basah. Mahesa menggunakan kesempatan itu untuk memamerkan ketampanan yang dia miliki dengan melepaskan cadar dan penutup kepala hitamnya yang basah kuyup.
Cara itu sangat tokcer. Bukan hanya wanita yang bersamanya dari dapur yang bersimpati, tapi seorang wanita lain yang melihat ikut datang mendekat. Mereka memaklumi kesalahan yang Mahesa lakukan karena merupakan anggota baru. Mereka juga berjanji untuk merahasiakan semuanya.
"Jika kau butuh sesuatu, kau bisa minta tolong padaku. Dengan senang hati, aku pasti akan membantu," wanita yang bernama Gendis menawarkan jasa.
"Ah, aku hanya merepotkan mu saja. Aku jadi tidak enak hati," Mahesa berbasa-basi.
"Jangan sungkan. Justru aku senang bisa membantumu."
"Baiklah. Sebagai anggota baru, pastinya aku akan banyak merepotkan kalian. Terutama, aku ingin kalian membantuku untuk mengenal markas ini dengan rinci. Terus terang, aku sering salah jalan."
"Itu gampang. Sekarang juga, akan ku bawa kau berkeliling," saut Gendis penuh semangat.
Mahesa mengangguk, menghaturkan terima kasih. Dia bisa memulai rencana.
__ADS_1