
"Ternyata, Pendekar Tongkat Emas begitu kaya raya. Bagaimana dia bisa membangun sebuah wisma yang amat besar di tempat sepi seperti ini?!" Suhita berdecak kagum ketika matanya disuguhi pemandangan atap bangunan wisma.
"Kita tidak masuk dari depan, lebih tepatnya kita hanya akan menyusup. Jadi Ayah harap, Hita bisa mengerti," Mahesa menepuk pundak Suhita.
"Baik. Mohon bimbingan ayah," Suhita tersenyum meyakinkan.
Keduanya beriringan menuruni lereng bukit. Saat tiba di bawah sana, mereka telah kenakan pakaian yang berbeda. Pakaian seorang pendekar dan muridnya. Tidak jelas berasal dari mana, yang pasti Mahesa hanya ingin samarkan jati diri.
Tanpa banyak menemui kesulitan, Mahesa berhasil masuk ke dalam wisma. Beberapa orang penjaga yang berpatroli, tidak mengetahui keberadaan Mahesa dan Suhita yang menyelinap di balik dinding.
"Tempat yang cocok untuk menyembunyikan sesuatu yang langka, bukanlah tempat yang rahasia melainkan pada lokasi yang tidak terduga. Hita, kau ikuti ayah," Mahesa melompat ke balik celah dinding yang curam. Mereka mengambil jalan pintas untuk bisa turun ke lantai bawah tanah.
"Ayah, begitu banyak orang di dalam wisma ini. Apa Organisasi Naga Emas juga berpusat di sini?" tanya Suhita heran.
"Bukan. Mereka bukanlah orang-orang dari Organisasi Naga Emas. Melainkan hanyalah rekan Pendekar Tongkat Emas. Ayah juga tidak menduga, jika mereka semua datang ke sini di saat tersiar kabar Pendekar Tongkat Emas sedang sakit."
"Ah, apa itu artinya kecurigaan kita benar?!" Suhita mengelus dagu.
"Kita lihat saja. Siapa pun mereka, selama tidak bertentangan dengan kebenaran, maka aku tidak akan perduli itu. Namun jika sebaliknya, maka menjadi bagianku," Mahesa mengawasi satu persatu para pendekar yang berjalan hilir mudik di bawah sana.
Sebagian besar, mereka yang datang tentu dengan alasan untuk melihat-lihat tanaman sumberdaya yang ada. Orang-orang kepercayaan Pendekar Tongkat Emas pastinya sudah siap siaga, hingga sejauh ini tidak ditemukan reaksi mencurigakan dari para tamu yang datang berkunjung.
Mahesa dan Suhita tiba di tempat pemandian para penjaga. Di mana di sana ada beberapa tempat untuk mandi dan mencuci serta segala kegiatan untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Suhita mencuci mukanya di salah satu pancuran yang mengalir air yang dingin. Beberapa saat lamanya Suhita menikmati kesegaran air tersebut. Air yang mengalir dari celah batu yang nampak indah.
"Ayah ..." Suhita memanggil Mahesa, tangannya menunjuk ke arah lubang mata air.
Saat Mahesa datang menghampiri, sekejap kemudian tubuh keduanya telah lenyap, tidak lagi di tempat itu. Hingga tidak ada seorang pun murid ataupun tamu yang sempat melihat keberadaan mereka.
Suhita memejamkan matanya dengan rapat tatkala tubuhnya di bawa meluncur seolah hendak menghantam dinding tebing. Tiada hal apa pun yang Suhita rasakan. Bahkan percik air tidak menyentuh pakaiannya.
"Ah, tempat apa ini?" Suhita tercekat saat membuka mata. Dia telah berada di satu tempat yang tidak begitu luas. Di tepi aliran air yang hanya setinggi mata kaki.
"Hati-hati, sayang!" Mahesa memperingatkan Suhita.
Suhita segera menarik lengannya yang telah terjulur hendak meraih sesuatu. Tiba-tiba ada sehelai akar yang meluncur mengejar tangan Suhita. Beruntung ujung daun dari akar tersebut membentur gulungan air yang membentuk benteng melindungi jari Suhita. Suhita mendekat pada ayahnya.
"Tumbuhan ini hidup?!"
Mahesa melemparkan perhatiannya ke segenap penjuru ruangan. Dia mencari keberadaan pangkal tumbuhan akar tersebut. Namun, tidak diketemukan. Nampaknya tumbuhan itu pandai bersembunyi.
"Ayah, itu ... itu teratai berduri!" seru Suhita dengan suara bergetar, dengan telunjuk mengarah pada satu pot yang di letakkan di tepi sungai.
"Kau yakin?!" tanpa mengurangi kewaspadaan, Mahesa mendekati pot tanaman itu. Bentuknya tidak ubahnya seperti tanaman pohon dengan daun yang kecil. Bagaimana bisa dinamakan Teratai Berduri?! Bahkan nyaris tiada duri yang terlihat di batang tersebut.
Suhita memetik sehelai daunnya, mencabik dan mencium aroma yang timbul. Tidak salah lagi, itulah sumberdaya yang dia cari.
__ADS_1
"Ayah, Hita sangat yakin. Ini adalah Teratai Berduri. Dugaanku benar, Pendekar Tongkat Emas terluka karena dia hendak menghasilkan biji dari tanaman langka ini. Ayah, dia ingin melestarikan tanaman langka berbahaya ini," jelas Suhita.
Mahesa menghela napas panjang. Dengan seksama dia mendengarkan penjelasan Suhita mengenai tumbuhan teratai berduri sesuai yang Suhita baca dari kitab.
"Ayah tidak tahu, apa yang sebenarnya direncanakan oleh Pendekar Tongkat Emas. Sejauh yang ayah kenal, dia adalah seorang yang baik hati," ucap Mahesa.
Bagaimanapun juga, Pendekar Tongkat Emas adalah orang yang berjasa bagi Mahesa. Ketika Mahesa kehilangan seluruh kemampuan dan ingatannya, dan berganti nama sebagai Bayu Samudera Pendekar Tongkat Emas dan beberapa pendekar senior lain yang tergabung dalam Organisasi Naga Emas adalah orang yang banyak membantu Mahesa untuk bisa kembali pada kekuatannya. Mereka semua adalah orang yang baik, pasti ada alasan lain yang mendorong Pendekar Tongkat Emas menyimpan tanaman langka ini.
"Baiklah, baiknya kau cukupi kebutuhan pengobatan yang kau butuhkan. Setelah itu, kita kembali ke Giling Wesi," ucap Mahesa.
Suhita mengangguk. Selain kemampuan dari Kitab Pengobatan Dewa dan Kitab Wasiat Iblis yang Suhita pelajari, dia juga mendapatkan banyak tambahan pengetahuan dari kitab yang dibaca di dalam gua siluman semalam.
Sementara waktu, Mahesa menyimpan tanaman langka teratai berduri. Sampai Pendekar Tongkat Emas sadar dan berikan penjelasan. Singkat kata, Mahesa dan Suhita berhasil menjalankan misi itu. Mereka temukan keberadaan banyak tanaman langka di dalam wisma Pendekar Tongkat Emas. Tempat yang tidak terduga, di dalam lubang mata air tempat pemandian umum. Sungguh hebat yang arsitek yang merancang. Sayangnya kemampuan Tabib Dewa mampu taklukkan itu semua.
"Hump! Sial!" Mahesa berdecak kesal.
Akibat terlalu terburu-buru, Mahesa melupakan jika kemampuan yang Suhita miliki masih sangat rendah. Hingga gerakan langkahnya akan tetap bisa didengar oleh para pendekar tingkat tinggi bagaimana pun Suhita berusaha.
"Hita, kita ketahuan. Ada yang mengikuti kita," bisik Mahesa. Suhita mencoba mencari, tapi dia tidak temukan yang dimaksud oleh ayahnya.
"Ayah, lalu bagaimana sekarang?" tanya Suhita panik. Orang sebanyak itu, tidak mungkin bisa dihadapi bagaimanapun kuatnya Mahesa, dia hanya seorang diri. Belum lagi, mereka bisa gunakan Suhita sebagai alat untuk menekan.
"Kita harus berusaha untuk kabur. Setidaknya, tidak akan ada separuh kekuatan yang bisa menyusul kita. Pejamkan matamu," Mahesa menggendong tubuh Suhita, sebelum kemudian melompat menyusuri lorong.
__ADS_1
Hanya dingin yang Suhita rasakan, ketika tubuh mereka menerobos membelah angin. Dengan kecepatan seperti ini, akan masih ada orang yang bisa mengejar? Suhita tiba-tiba mencemaskan keselamatan ayah tercintanya.