
"Raka, jangan kau abaikan keselamatanmu hanya karena ingin disebut hebat. Orang yang hebat adalah orang yang tahu kapan waktu yang tepat untuk berhenti!"
Raka Jaya tersenyum, dia mengatakan jika dirinya baik-baik saja "kau jangan khawatir. Aku tahu, sejauh mana kakiku ini kuat untuk melangkah."
Suhita tidak bisa bicara lagi. Juri pemimpin pertandingan menarik lengan Suhita untuk segera turun dari arena karena pertandingan akan di lanjutkan memasuki babak akhir.
"Raka, semoga kau beruntung," ucap Suhita sebelum turun.
Raka Jaya mengangguk seraya melambai, dia sangat senang karena tahu kalau Suhita begitu mencemaskan keselamatannya. Tentu saja Raka Jaya tidak ingin membuat Suhita kecewa apalagi sampai sedih. Raka akan tunjukkan bagaimana dia akan tetap menang meskipun lawannya berbuat curang.
Pertarungan kembali dimulai.
Di awal babak ini, Raka Jaya masih merasakan keadaan tubuhnya yang begitu bugar karena seluruh pengaruh Racun Bayangan tersebut telah luntur oleh sumber daya yang tadi Suhita berikan.
Tidak perduli pada penilaian orang nantinya, saat tubuhnya masih siap maka Raka Jaya segera mengerahkan kemampuan terbaik yang dapat dia miliki. Dengan tenaga dalam yang cukup tinggi, Raka Jaya berharap dia bisa hentikan perlawanan Pati Unus sebelum ada kesempatan untuk diracuni lagi.
Dan pada jurus ketiga, Raka Jaya berhasil membuka celah. Melakukan gerakan tipuan yang berbuah menjadi serangan berbahaya. Tanpa bisa dihindari lagi, pukulan yang Raka Jaya layangkan berhasil mendarat dengan telak.
Pati Unus terlempar dengan keras. Tubuhnya sampai terbanting berulang kali, sebelum akhirnya jatuh di pelukan gurunya, dari Padepokan Menara Kematian. Darah mengalir dengan deras dari sudut bibir Pati Unus.
Juri pemimpin pertandingan melambaikan kedua tangan, menghentikan pertandingan dengan menempatkan Raka Jaya yang keluar sebagai pemenang.
Pukulan dengan tenaga dalam yang di luar dugaan, membuat Pati Unus tidak diperbolehkan untuk melanjutkan kompetisi. 'Lempar handuk' telah dilakukan oleh gurunya Pati Unus, dia tidak ingin membuat muridnya semakin terluka parah atau bahkan celaka.
__ADS_1
"Guru, aku masih sanggup!" Pati Unus tidak terima pada keputusan gurunya.
"Kita akan cari kesempatan lain. Lagi pula, kau tidak bisa gunakan Racun Bayangan pada tingkat yang lebih tinggi lagi. Kau tahu 'kan, gadis kecil itu sudah mengetahui rahasia terbesarmu."
Pati Unus menghela napas berat. Matanya menatap tajam pada Suhita yang berdiri di tepi arena. Ada kebencian dalam tatapan itu. Jika ada kesempatan, Pati Unus pasti akan membuat perhitungan dengan gadis kecil itu.
Setelah pertarungan itu, Padepokan Menara Kematian langsung menjadi perbincangan. Kemampuan anak didik mereka yang mengejutkan, membuat mata dunia persilatan melirik pada padepokan baru tersebut. Ya, meskipun pertandingan dimenangkan oleh Raka Jaya. Tetap saja, yang lebih bersinar itu karena kelas Padepokan Api Suci dan Menara Kematian sangatlah berbeda.
"Mereka menggunakan jurus yang berbahaya. Bagaimana bisa tetap di izinkan untuk mengikuti kompetisi?" Suhita tetap tidak habis pikir. Bukankah imbasnya akan sangat besar?!
Hampir saja Raka Jaya menjadi korban. Jika sampai itu terjadi, putra Dewi Api celaka dalam pertandingan karena kelalaian penyelenggara bisakah Padepokan Giling Wesi meyakinkan Dewi Api untuk tidak bertindak? Rasanya akan sia-sia. Semisalnya perang pun, pastinya Giling Wesi merupakan pihak yang dirugikan.
"Tabib kecil, apakah Raka Jaya akan mampu untuk lanjutkan pertandingan di putaran berikutnya?" Justa Jumpena terlihat begitu khawatir.
"Akan saya usahakan. Tapi saya yakin kalau Raka akan bisa atasi masalahnya sendiri," ucap Suhita seraya melirik pada Raka Jaya.
"Hita, terima kasih," Raka Jaya tersenyum dengan satu anggukan.
Ya, Suhita langsung bekerja keras untuk bisa kembalikan kekuatan Raka Jaya dalam waktu yang singkat. Racun yang telah terhisap, semuanya telah berhasil di keluarkan. Hanya saja, untuk bisa tubuhnya kembali pulih tentunya dibutuhkan waktu.
Nah, yang sekarang sedang Suhita lakukan ialah membuat waktu itu semakin singkat. Jika pada kondisi normal Raka Jaya pulih dalam dua atau tiga hari, bagaimana Suhita harus bisa ciptakan satu resep agar Raka Jaya bisa pulih dalam dua atau tiga jam saja. Memang sulit, tapi tidak bisa dikatakan menjadi mustahil jika belum dicoba. Karena Suhita begitu yakin, dia percaya diri pada kemampuannya.
Sementara Suhita kembali ke dapur untuk mulai meracik obat, di luar sana. Tepatnya di arena kompetisi pertandingan terus berlanjut. Sudah beberapa pasang orang yang menyelesaikan pertandingan. Hingga giliran Danur Cakra yang menaiki ring.
__ADS_1
Suhita tidak sempat menyaksikan pertarungan saudara kembarnya. Dia bahkan tidak sempat tahu, jika kemampuan yang dimiliki oleh kakaknya sudah dalam tahap penyempurnaan.
Dengan tenang, Danur Cakra melangkah memasuki area pertandingan. Lawannya tidak lain adalah orang yang tadi pagi sempat terlibat perkelahian dengannya. Anak angkuh dari Padepokan Pagoda Putih itu harus terima akibat setelah tadi pagi beraninya menggoda Suhita, "Kita bertemu lagi. Kali ini, aku akan hancurkan nama sekaligus wajahmu di depan banyak orang."
Satrio Watu tersenyum masam. Wajahnya mendongak ke langit, menunjukkan jika dia bukanlah orang yang biasa ditindas.
"Bersiaaap, MULAI!" juri pemimpin pertandingan mempersilahkan mereka untuk memulai serangan.
Tanpa menunggu setengah tarikan napas, Danur Cakra telah melompat menyerang dengan kepalan tangannya yang bercahaya. Satu genggaman energi naga dia gunakan untuk membuka serangan.
Satrio Watu menunduk, dia sudah menduga jika Danur Cakra bakal menghabisi dirinya. Hanya saja, Satrio Watu tidak menyangka kalau mereka harus dipertemukan dalam pertandingan kompetisi, untuk sama-sama memperebutkan satu slot agar maju ke babak selanjutnya.
DAARRR !!! Hantaman demi hantaman dari pukulan yang Danur Cakra lakukan berulang kali membuat tanah di arena bergetar. Hingga Satrio Watu hanya berada dalam posisi bertahan. Sesekali, dia hanya mengandalkan serangan balasan untuk bisa membalas pukulan Danur Cakra.
"TUNGGUUU !!! Kami keberatan! Anak itu berusaha untuk habisi murid padepokan kami!" seorang tetua dari Padepokan Pagoda Putih mengajukan permohonan pada pemimpin pertandingan. Dia keberatan jika Danur Cakra tetap diizinkan untuk menggunakan tenaga dalam yang berbahaya seperti tadi.
"Pak tua, apa kau ragu pada kemampuan muridmu? Katakan saja jika takut. Minta dia untuk menyerah!" teriak Danur Cakra.
"Hahaha! Apa kau pikir aku sudah kalah? Ayo kita lanjutkan. Aku ingin lihat, sampai di mana kau punya kemampuan," Satrio Watu yang merasa dipermalukan di depan banyak orang langsung naik pitam.
Danur Cakra tersenyum masam, memang itulah yang dia inginkan. Dan ketika pertandingan di lanjutkan, Danur Cakra langsung menyergap dengan Pukulan Tapak Naga, yang berhasil membuat Satrio Watu kehilangan kesadaran dalam satu pukulan.
Selain sukses memberi pelajaran pada orang yang berani mengganggu saudarinya, Danur Cakra juga memiliki kesempatan untuk melanjutkan pertandingan di babak selanjutnya. Di mana dalam pertandingan nanti dia akan berhadapan dengan seorang lagi wakil dari Padepokan Menara Kematian.
__ADS_1