
Di ujung jalan, tepat di atas batu besar yang berdiri gagah nan besar. Duduk seorang pemuda dengan jubah berwarna ungu, sebagian besar wajahnya ditutupi rambut yang tergerai panjang. Hanya sebelah mata kanannya saja yang memandang lurus ke depan, tajam dan nyaris tanpa berkedip. Ada semacam balutan make up di wajahnya, jelas dia sengaja merubah wajah dengan riasan pupur dan gincu supaya tidak dikenali. Wajahnya yang dingin mencerminkan hatinya yang pula dingin, sedingin salju bak beruang kutub. Seolah tanpa adanya desir kehidupan di sana, tandus dan hanya aliran sungai darah yang mengisi setiap denyut nadi.
Di dunia persilatan, namanya tidak begitu dikenal. Bahkan kemampuannya yang menonjol pun belum diketahui. Akan tetapi, percaya atau tidak dia merupakan sosok yang bermain dalam beberapa kekacauan besar di Kerajaan Utara. Dia bukanlah seorang pimpinan ataupun tokoh aliran sesat yang membawahi banyak pasukan, tapi setiap dia muncul dan membawa tugas, maka bisa dipastikan lawan akan kerepotan. Ya, termasuk pula serangan di rumah penginapan.
Pendekar itu memperkenalkan dirinya dengan nama Kala Murka. Namun orang-orang lebih banyak menyebutnya Jubah Ungu. Itu dikarenakan dalam setiap kemunculannya, Kala Murka sangat jarang menyebutkan nama. Datang - beri tawaran - sepakat - bayar - pergi. Begitulah siklus yang dia lakukan. Mana mungkin ada orang yang mengenalnya, bahkan orang-orang yang bekerja padanya pun sebagian besar tidak mengenalnya.
Jubah Ungu, melemparkan sebutir kerikil di tangannya. Dia terlihat kesal, suatu kesalahan yang telah dia perbuat yakni salah memberi kepercayaan. Kelompok yang dia bayar untuk menculik Kemuning gagal menjalankan tugas. Lagi pula, kelompok itu terlalu percaya diri dengan hanya mengirimkan lima orang pasukan. Bagaimanapun besar kemampuan dan pengalaman yang dimiliki, tapi penjagaan di rumah penginapan amatlah ketat. Hanya prajurit khusus dengan kemampuan di atas rata-rata yang berjaga.
Jubah Ungu terus melemparkan kerikil untuk menghibur diri, sesekali dia melirik ke arah jalan. Dia sedang menunggu kelompok yang bertanggung jawab atas transaksi kemarin. Sesuai perjanjian, Jubah Ungu akan menunggu hasil yang didapat. Baik ataupun buruk, yang terpenting ialah bentuk tanggung jawabnya.
"Kepa*rat! Mengapa mereka tak kunjung datang?!" lama-lama Jubah Ungu merasa bosan juga. Dia merasa dipermainkan.
Tadi malam, Jubah Ungu menemui kelompok pembunuh bayaran yang mana mereka merupakan para pendekar yang berasal dari berbagai daerah. Bahkan tidak jarang dari para pembunuh itu sama-sama tidak mengenal satu sama lain. Dengan demikian bisa dipastikan tingkat rahasia yang tertutup begitu tinggi atas apa pun yang dilakukan. Bagaimana bisa membocorkan seandainya mereka bahkan tidak mengetahui nama-nama orang yang terlibat.
Sempurna bukan berarti tidak memiliki celah yang bobrok. Buktinya mereka gagal menjalankan misi. Di atas kertas memang para prajurit itu memberi keamanan untuk Tabib Dewa, tapi apa bedanya jika Kemuning berada di tempat yang sama. Kemudian kelompok itu hanya mengirim lima personel untuk menjalankan misi. Bahkan anak kecil sekali pun akan tertawa mendengarnya.
Jubah Ungu melayang turun, dia berjalan di atas tanah dengan tanpa mengeluarkan suara. Kemampuan ilmu meringankan tubuh yang amat sempurna, seperti seekor kucing yang sedang mengintip mangsa.
Tidak butuh waktu lama, Jubah Ungu sudah mencapai puncak bukit. Pandangannya terlepas luas memandang ke seantero penjuru. Dia mencari tahu kira-kira ke mana arah terdekat untuk bisa menjangkau markas kelompok yang dia sewa. Kelompok apa itu, Jubah Ungu pun tidak tahu namanya.
°°°
Sementara itu, di rumah penginapan. Suhita sudah meminta Kencana Sari untuk membenahi seluruh perlengkapan mereka. Rasanya keadaan sudah tidak lagi kondusif. Hita merasa jika semakin lama dia berdiam di Kota Raja maka suasana akan semakin memanas. Ditambah lagi, Jenderal Muda yang terus menerus bersama mereka. Bukannya tidak senang, akan tetapi Suhita juga bisa menduga bagaimana sibuknya pekerjaan yang ditinggalkan oleh Raka Jaya. Jangan karena dirinya, justru membuat Raka Jaya dalam masalah lagi. Sungguh, Suhita tidak inginkan itu terjadi.
"Tabib, apa siang ini juga kita akan berangkat?" tanya Arya Winangun.
Suhita menghela napas, terus terang dia belum membuat keputusan pasti. Siang atau bahkan sore nanti. Tapi yang pasti Suhita akan secepatnya pulang ke Soka Jajar. Di sana, dunia terasa lebih tenang. Di mana Suhita seratus persen menjadi diri sendiri. Setiap hari hanya bergelut dengan obat-obatan tanpa harus tahu banyak mengenai dunia luas.
"Secepatnya. Tentu saja kita akan menunggu sampai Jenderal Muda kembali. Aku pun masih harus melakukan terapi pada Nona Kemuning. Tapi kalau semuanya sudah rapi, tentunya akan lebih baik," jawab Suhita dengan senyum manis di bibirnya.
"Huuuhhh ... aku heran, sebenarnya terbuat dari apa hatimu? Bagaimana bisa kau bersikap begitu baik pada wanita itu? Kau tahu siapa dia 'kan, wanita ular seperti itu tidak pantas disandingkan bunga," dengan suara yang pelan Kencana Sari ngedumel.
Meskipun sudah berulang kali Suhita memperingatkan agar Kencana Sari menjaga sikap, tapi tetap saja Kencana Sari tidak bisa menyembunyikan sikap ketidak senangnya terhadap Kemuning.
"Hahaha! Kau ini, sebenarnya ada masalah apa? Coba sekarang, mumpung tidak ada siapa-siapa, hanya kita-kita saja. Jelaskan padaku, mengapa kau begitu julid pada Nona Kemuning? Apa masalahnya?" Suhita meminta agar Kencana Sari bicara terus terang. Ya, karena sejujurnya Suhita juga merasa tidak enak ada orang yang selalu menjelek-jelekkan pacar saudara kembarnya. Itu yang pasti.
__ADS_1
Kencana Sari terdiam. Dia melirik pada Arya Winangun juga Prana yang juga terlihat salah tingkah. Apa mungkin, justru para pelayannya yang lain sudah tahu pokok permasalahannya? Tapi mengapa Suhita malah tidak tahu, kok bisa?
"Hei, mengapa diam?! Sari ... bicara saja terus terang. Sungguh aku tidak suka kau terus-terusan menjelekan Nona Kemuning. Apa kau punya bukti? Atau justru kau tahu sesuatu tentang siapa dirinya tapi merahasiakannya dariku?!" Suhita memberondong Kencana Sari dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit.
"Tabib, itu tidak benar. Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun. Tidak mungkin aku berkhianat pada Tabib, aku berani bersumpah. Tapi perihal Kemuning ... aku, aku hanya tidak senang melihat dia seperti itu. Aku yakin, Tabib juga menyadarinya bagaimana sikap Nona Kemuning pada Pendekar Cakra. Dia terlalu mengada-ada," akhirnya Kemuning mau berkata jujur. Keberaniannya keluar dengan sendirinya pada saat situasi mendesak. Apa boleh buat, dari pada dia buat Suhita marah.
"Ah?! Ja-jadi, kau cemburu? Ckckck!" Suhita terperangah, dia sampai terbengong beberapa waktu.
Kencana Sari menelan ludah. Majikannya sungguh sangat tidak peka. Mengapa justru menyebut kalau Sari yang cemburu, bukankah harusnya dirinya? Apa mungkin Suhita benar tidak cemburu, lalu mengapa ketika pertama kali Cakra datang bersama Kemuning dia marah-marah sampai mengamuk seperti babi terluka? Itu apa namanya?
"Aduuuhhh ... Tabib, jangan sok polos. Masa iya aku harus bicara secara detail?" pekik Kencana Sari dalam hati. Dia kehabisan akal dalam menghadapi Suhita.
Jangan-jangan Suhita sudah dicuci otaknya, makanya dia jadi begitu bo*doh dan menurut saja, mempercayai setiap alasan yang dikemukakan oleh Danur Cakra. Jelas-jelas Cakra merupakan buaya profesional yang sudah menguasai teknik pergantian kulit. Haruskah wanita secantik, sebaik dan se-se-se sempurna Tabib Dewa jatuh dalam perlukan buaya ghaib selevel Danur Cakra? Pastinya tidak mungkin mereka setuju.
"Tabib, sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu? Kemarin kau marah-marah, sekarang justru kau berpura-pura tidak melihat apa yang dilakukan oleh Pendekar Cakra. Kau masih sadar 'kan?" Kencana Sari menatap iba.
Suhita tersadar, dia terlalu terbawa suasana hingga lupa kalau di mata para pelayannya Danur Cakra adalah orang asing. Begitu dekat dengan dirinya tentunya karena hubungan spesial antara laki-laki dan perempuan. Bukannya Suhita tidak sadar, jika kerap kali pelayannya memergoki ketika dia dan Cakra sedang bercanda bahkan saling berpegang tangan dan sebagainya.
Suhita menyeringai, tersenyum getir. Mencoba putar otak untuk cari alasan yang masuk akal, supaya tidak muncul semakin banyak pertanyaan aneh-aneh yang lain.
"Dengan kata lain, dalam hati sebenarnya Tabib cemburu 'kan?" kejar Kencana Sari.
"Pria menyebalkan itu, kau bahkan tidak tahu bagaimana dia membuatmu terngiang siang dan malam. Sudahlah, lupakan apa pun yang menjadi ganjalan dalam hati. Niscaya kau akan hidup dengan damai," Suhita bangkit dan meninggalkan para pelayannya.
Suhita keluar ruangan, terus melanjutkan langkahnya menuju ke kamar Kemuning. Tinggal satu lagi sumberdaya Lumut Kehidupan yang harus diselaraskan untuk mengembalikan kondisi Kemuning. Saat ini, hampir sebagian besar luka dalam yang Kemuning derita hampir disembuhkan. Akan tetapi, trauma yang KemunIng alami merupakan hal yang berbeda. Tapi di sisi lain, pengaruh psikologis juga saling berkaitan untuk kesembuhan yang sempurna. Harusnya semuanya berjalan secara beriringan.
Suhita menghentikan langkahnya ketika dia mendapati di beranda depan kamar Kemuning, ada Panglima Lodaya yang sedang bercakap-cakap dengan Danur Cakra. Tapi ... Suhita merasa jika mereka tidak baik-baik saja. Tentu saja, Panglima Lodaya bukanlah Raka Jaya yang selalu menutup mata dan telinga ketika bertemu dengan Danur Cakra. Panglima Lodaya merupakan seorang prajurit terbaik yang dimiliki oleh Kerajaan Utara, dia akan pertaruhkan segenap jiwa dan raga untuk mempertahankan kerajaan dari berbagai macam guncangan. Apalagi pemberontak yang merongrong kewibawaan kerajaan, Panglima Lodaya menjadi pagar pertama yang akan pasang dada.
"Ah, ini bukanlah ide baik," batin Suhita.
Dengan segera, Suhita datang mendekat. Menyelamatkan Danur Cakra dari berbagai kalimat penuh selidik yang Panglima Lodaya siapkan dalam obrolan. Takutnya, ketika merasa terpojok maka Danur Cakra justru bertindak bodoh.
"Panglima ... maaf, apakah saya mengganggu?" Suhita membungkuk hormat.
"Sama sekali tidak, Tabib. Justru saya yang mungkin mengganggu ketenangan Tabib. Terus terang, karena kedatangan saya yakni untuk bertemu dengan Tabib," jawab Panglima Lodaya.
__ADS_1
Usia Panglima Lodaya memang sudah mendekati kepala empat. Akan tetapi, matanya masih normal. Dia tahu dan bisa membedakan benda bagus dan yang berkarat. Meskipun berkarat, Tabib Dewa ialah karat emas. Mata yang buram sekalipun akan segera jernih dan bersinar kala bertemu pandang dengan Tabib Dewa. Obat yang sangat mujarab.
"Kepa*rat! Tidak ada pria yang bisa menjaga matanya. Jika berkesempatan, dengan senang hati aku akan mencungkil mata pria ini!" sudut mata Danur Cakra melirik tajam pada Panglima Lodaya.
"Ah, ya? Apa yang bisa saya bantu?" tanya Suhita.
Panglima Lodaya kemudian menanyakan keberadaan Raka Jaya. Karena sejak dia datang, Raka Jaya tidak nampak. Padahal ada hal penting yang mendesak untuk segera di laporkan.
Suhita berpikir sejenak, karena dia pun belum lagi bertemu Raka Jaya setelah kekacauan. Atau mungkin Raka Jaya sudah kembali ke istana? Tapi ... tidak mungkin juga Panglima Lodaya sampai menyusulnya ke sini.
"Ehemm ... ah, maaf. Terpaksa saya menyela," Danur Cakra ikut bicara.
Cakra kemudian menyampaikan kalau Jenderal Muda pergi ke sel tahanan. Dia hendak menyelidiki lebih lanjut atas sosok di balik layar yang bertanggung jawab atas serangan tadi pagi. Ada dua orang yang tertangkap, dan dari mereka Jenderal Muda akan mengorek keterangan guna penyelidikan.
"Saya rasa, Jenderal Muda tidak membawa mereka langsung ke penjara. Seperti yang kita tahu, berita ini begitu dirahasiakan," tandas Danur Cakra.
Panglima Lodaya manggut-manggut. Masuk akal. Bahkan dirinya saja sampai tidak tahu, itu menandakan tingkat kerahasiaan yang begitu tinggi. Tapi apa mungkin Jenderal Muda membawa tawanan itu ke kediaman pribadinya? Rasanya tidak. Sebab, menurut keterangan pengawal di sana Jenderal Muda belum pulang. Lalu ke mana?
"Baiklah ... kalau begitu aku permisi," Panglima Lodaya segera pamit. Tidak ada gunanya dia berlama-lama di tempat itu. Tujuannya ialah untuk menghadap Jenderal Muda.
"Kak, kau serius? Kau jangan macam-macam ya ..." ucap Suhita pada Danur Cakra setelah Panglima Lodaya pergi. Suhita curiga kalau ini hanyalah akal-akalan Danur Cakra untuk membuat Panglima Lodaya segera pergi.
"Apa kau mengenalku sebagai seorang pembohong? Mana berani aku macam-macam pada petinggi kerajaan."
"Ya, kau bukan pembohong hanya ingkar janji," Suhita melangkah memasuki kamar.
"Sialan! Aku akui, kau punya keberanian yang patut diacungi jempol terbalik," Danur Cakra segera mengikuti langkah Danur Cakra.
Di dalam, Kemuning sedang duduk menghadap jendela. Pandangan matanya jauh ratusan kilometer menembus awan, hingga yang terlihat hanyalah semut kecil bertebaran di angkasa.
Suhita datang dan menyapa dengan begitu baik. Dia memperlakukan Kemuning dengan sangat luar biasa santun. Tentu saja hal itu membuat Kemuning merasa begitu canggung. Rasa bersalah merayap menghinggapi hatinya. Kemuning sangat menyesal dan merasa begitu berdosa karena menganggap dirinya merupakan seorang yang tidak tahu budi, tidak pandai berterima kasih, tidak punya hati.
"Mungkin aku adalah manusia paling hina di muka bumi ini. Tabib Dewa begitu baik padaku, jasanya tak terhitung. Tapi aku ... justru melukai hatinya. Air susu yang dia beri, aku membalasnya dengan air tuba. Mengapa aku tidak bisa berhenti menyukai kekasihmu Tabib, mengapa?!"
Suhita sudah selesai memeriksa kondisi Kemuning. Wajahnya nampak tidak begitu ceria, ada sedikit masalah yang harusnya tidak perlu terjadi. Keadaan Kemuning saat ini tidak memungkinkan untuk menerima sumberdaya Lumut Kehidupan tahap kedua. Efek obat ini sangat keras, bahkan jauh lebih keras dari tahap pertama. Sementara, keadaan Kemuning justru sebaliknya. Kemampuan tubuhnya justru melemah.
__ADS_1