Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Jumlah kuda yang datang memang tidak sebanyak kelompok Pendekar Naga. Jumlah mereka tidak sampai sepuluh orang. Akan tetapi, bisa dilihat jika kemampuan para pendekar itu memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Mereka bisa melawan lebih dari dua orang dalam satu pertarungan.


"Hmmm ... mengapa kalian selalu saja ikut campur urusan orang lain, menyebalkan!" Pendekar Naga mendengkus kesal, matanya mengenali lambang yang menempel di pakaian mereka. Ya, mereka orang-orang dari Padepokan Api Suci.


Seorang bocah laki-laki tampan seusia Suhita, muncul dari rombongan. Dia segera melompat turun dari punggung kuda, menghampiri Suhita.


"Tabib, apa kau baik-baik saja?" tanyanya. Dengan senyum, dia membungkuk memberi salam pada Nyi Gondo Arum dan juga pada Kalagondang.


"Aku baik-baik saja, terima kasih," jawab Suhita, membalas senyum bocah itu.


"Pendekar Naga Tunggal, kami tidak akan mencampuri urusan kalian jika itu tidak bertentangan dengan kebaikan. Akan tetapi, tujuan kalian tidak lain yakni hendak menculik tabib kecil ini, mana bisa kami diam saja," pimpinan pasukan pengawal Padepokan Api Suci, Justa Jumpena mengingatkan Pendekar Naga.


"Fiiihhh! Apa bedanya dengan kalian? Berpura-pura baik, pada akhirnya juga ambil keuntungan dari kepandaian yang dimiliki oleh Tabib Titisan Dewa itu. Dasar munafik!" Pendekar Naga Sayap Tunggal meludah.


"Apa pun alasannya, pada kenyataannya kalian adalah orang yang melakukan penculikan. Jangan salahkan kami," Justa Jumpena meningkatkan tensi bicaranya.


"Hahaha! Kau pikir aku takut?! Anak-anak, habisi pecundang dari Padepokan Api Suci itu!" Pendekar Naga berteriak lantang, memerintahkan anak buahnya untuk segera menyerang.


Sontak, para pendekar pengawal dari Padepokan Api Suci melompat turun dari punggung kuda. Mereka menghunus senjata dan menyambut serangan dengan gagah berani.


"Tidak perlu, nek. Mereka pasti akan bisa atasi."


Nyi Gondo Arum menghentikan langkahnya, dia menoleh pada bocah laki-laki yang melarangnya. "Aden, ini tidak benar. Mereka telah melakukan percobaan penculikan pada Non Hita. Ini adalah tugas kami, tentu kami tidak bisa hanya berpangku tangan."  


Nyi Gondo Arum dan Kalagondang tetap membantu serangan. Keduanya begitu bersemangat untuk menyerang anak buah Pendekar Naga. Terlihat jika ada dendam pribadi yang disembunyikan.


"Ah, maaf Non Hita. Namaku Raka Jaya dari Padepokan Api Suci," Raka Jaya mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

__ADS_1


Suhita Prameswari terkejut. Dengan gugup dia menyambut uluran tangan Raka Jaya. Ada sesuatu yang terasa tidak biasa saat kedua mata mereka bertemu pandang.


"Mengapa kau membantu kami?" tanya Suhita memecah suasana kaku di antara mereka berdua.


"A-ah ... tentu saja karena padepokan kami adalah padepokan aliran putih," Raka Jaya tergagap mengutarakan alasannya, "tadi aku baru pulang berlatih, tidak sengaja mendengar keributan di sini. Makanya aku meminta paman-paman pengawal untuk membantu."


"Aku pernah dengar, Padepokan Api Suci adalah padepokan nomor satu di Utara. Kau beruntung bisa belajar di sana," puji Suhita.


"Ah, kau terlalu berlebihan. Kau lebih yang jauh lebih hebat. Terus terang, aku sering mendengar berita tentang Tabib Titisan Dewa. Tidak disangka, usia kita sepantar. Kalau saja tadi aku tidak menguping, mungkin aku tidak seberuntung ini," balas Raka Jaya memuji Suhita.


Sementara pasukan pengawal dari Padepokan Api Suci menekan perlawanan kelompok Pendekar Naga, Suhita dan Raka Jaya terus bercakap-cakap di tepi arena pertarungan. Awalnya mereka berdua nampak begitu kikuk dan kerap salah tingkah, tapi seiring obrolan yang mulai mencair keduanya sudah bisa tersenyum bersama suasana canggung itu telah lenyap. Ya, mereka cepat akrab.


Berulang kali Raja Jaya mencuri pandang ke arah Suhita. Tanpa tahu alasannya, hati bocah itu merasa senang mereka bisa berjumpa. Ada sesuatu yang mengikat di dalam dada. Entah apa itu.


Tanpa Raka Jaya sadari, Suhita Prameswari pun demikian. Tidak tahu kenapa, Raka Jaya terasa berbeda dengan anak-anak lain yang pernah Suhita temui.


Aliran Darah. Ya, itulah alasannya. Di dalam tubuh kedua bocah tersebut mengalir titisan darah yang sama. Darah daging dari satu orang, Pendekar Elang Putih. Mereka adalah saudara satu ayah, hanya saja keduanya terpisah sejak lahir dan tidak saling mengenal satu sama lain. Kasihan.


Sebilah pedang menerobos angin di antara celah dua anak itu berdiri. Pendekar Naga Sayap Tunggal lolos dari penjagaan para pendekar dan menyerang mereka. Untung Saja Suhita menoleh, kalau tidak mungkin kedua anak Mahesa itu sudah terluka parah.


Wuuss! Wuuss!


Padang di tangan Pendekar Naga tidak berhenti, mata pedang pusaka yang sangat tajam itu terus bergerak menyerang Suhita dan Raka Jaya.


Lima serangan beruntun yang dilakukan oleh Pendekar Naga semuanya mandul. Tidak satu sabetan pun yang bisa mengenai tubuh Suhita maupun Raka Jaya. Malah sebaliknya.


"Hita, siap!" Raka Jaya melemparkan beberapa butir bola api sebesar telur ke arah Pendekar Naga.

__ADS_1


Saat yang hampir bersamaan, Suhita menerima pesan dari Raka Jaya untuk bersiap segera saja melepaskan pukulan jarak jauh di belakang butir api.


Mungkin, Pendekar Naga yang terlalu meremehkan kemampuan dua anak kecil yang menjadi lawannya. Dia tidak tahu, jika kedua bocah tersebut telah menguasai kekuatan tenaga dalam tingkat tinggi. Tanpa bisa mengelak, Pendekar Naga harus menikmati betapa menyesakkan pukulan tenaga dalam dua bocah itu.


BAAAMM !!!


Beberapa bola api memang bisa dihindari dengan baik oleh Pendekar Naga, tapi sisa bola api berkekuatan tinggi itu masih menerobos dan menghantam dadanya dengan keras.


Sepersekian detik setelah itu, energi susulan yang Suhita kirim sepenuhnya kembali berhasil menghantam dada Pendekar Naga dengan sangat telak.


Tanpa tameng energi yang cukup besar, Pendekar Naga Sayap Tunggal tidak mempersiapkan perlindungan yang sempurna pada tubuhnya. Dia hanya tidak menduga jika kedua bocah itu memiliki kemampuan yang lebih dari cukup untuk menghancurkan rusuk dan tulang dadanya.


"Pukulan Tapak Naga ..." kalimat terakhir yang terucap lemah dari kedua bibir Pendekar Naga Sayap Tunggal, sebelum akhirnya tubuhnya roboh bermandikan darah yang menyembur dari mulutnya. Jantung dan organ dalamnya hancur.


"Ah?!" Suhita Prameswari terbelalak tidak percaya. Keadaan begitu genting, dia tidak memperhitungkan jika lawannya akan kehilangan nyawa setelah menerima pukulannya.


Sepuluh Tapak Penakluk Naga, mana bisa dibuat main-main. Tadi, lawan Suhita yang sebenarnya terlalu bercanda dalam maut. Jika saja dia bersungguh-sungguh saat bertarung atau gunakan tiga perempat kemampuan saja, mungkin kematiannya tidak terlihat begitu sia-sia.


Hal itu berimbas buruk pada mental anak buah Pendekar Naga Sayap Tunggal. Melihat guru besar mereka mati dengan mudah, mereka yang memang dalam kondisi terdesak tidak miliki sedikit pun keyakinan dalam pertarungan. Mental mereka jatuh, diiringi serangan lawan yang membuat mereka benar-benar tersungkur.


Jumlah anak buah Pendekar Naga yang memang tinggal sedikit, langsung berkurang drastis dan pada akhirnya habis. Seluruhnya tewas tidak tersisa.


"Non, Non Hita baik-baik saja?" Nyi Gondo Arum memburu dengan wajah yang sangat cemas melihat Suhita yang syok.


Tangan Suhita bergetar hebat, dia telah membunuh, dia telah membunuh. Itu yang mengiang di telinganya.


"Baiknya, kita istirahat di penginapan saja, Den. Kasihan tabib kecil itu," bisik Justa Jumpena pada Raka Jaya.

__ADS_1


"Baiklah, ayo," Raka Jaya bisa pahami apa yang menimpa Suhita. Bahkan penjahat paling kejam sekalipun, pasti jiwanya terguncang saat dulu pertama kali dia menghilangkan nyawa.


Setelah beberapa saat dibujuk, Suhita mau untuk diajak istirahat di penginapan. Mereka segera kembali ke Kota Cemara Asri dengan menunggang kuda.


__ADS_2