Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Penyusup


__ADS_3

Apa yang mampu kalahkan pengaruh iblis? Tentu saja keyakinan pada Tuhan. Sekuat apa pun iblis menggoda, bila di dalam dadamu tertanam satu kepercayaan, niscaya jiwamu akan kuat. Karena rasa suka, hanya menjadi nafsu kala kita tidak mampu mengendalikannya. Namun cinta yang tulus, justru akan menumbuhkan semangat untuk melindungi.


"Hei, tenangkan dirimu ... kau kenapa? Apa kau memakan obat yang aneh-aneh?" bisik Danur Cakra lembut.


Napas Kemuning ngos-ngosan tidak karuan. Dadanya berdebar kencang, dengan gerah terasa menyelimuti. Dia tidak lagi mampu berpikir jernih. Meminta untuk Danur Cakra segera 'melakukan' malam itu juga.


"Mungkin aku bukan manusia baik. Aku berteman dengan siluman, tanganku berlumuran darah, tapi dalam hatiku masih tersimpan satu keyakinan yang selalu aku jaga hingga sekarang. Kau tahu, jika sekadar untuk melampiaskan nafsu, maka aku tidak perlu berjuang keras. Dengan harta yang aku punya, kapan pun aku bisa melakukannya. Tapi lain saat bicara mengenai hati. Aku mencintaimu, sampai kapanpun aku akan menjagamu, melindungi kehormatanmu lebih dari nyawaku sendiri. Aku benar-benar mencintaimu ...."


Kemuning diam, dia menghentikan serangannya. Meratap dalam derai air mata, hatinya benar-benar tersentuh. Menyesal? Tentu saja. Yang dia lakukan hanya merendahkan diri sendiri. Beruntung dia bertemu pria yang bertanggung jawab.


"Cakra ... aku hanya takut kau meninggalkanku ..." ucap Kemuning lirih.


"Aku akan selalu berada di sini. Dalam doa akan selalu meminta agar Tuhan turut merestui. Jangan berpikir yang macam-macam ..." Danur Cakra membopong tubuh Kemuning kembali ke pembaringan. Merapikan pakaian Kemuning yang acak-acakan. Bukannya tidak tergoda, mungkin saat itu adalah perjuangan terberat yang sedang Cakra lakukan. Dia berjuang untuk menaklukkan dirinya sendiri. Menjadi pria hebat yang mampu kendalikan hawa nafsu.


Masih senggukan setengah menangis, Kemuning memejamkan matanya. Pelukan hangat Danur Cakra berhasil membuat hatinya tenang, hingga akhirnya dia tertidur.


"Huuuhhh ... sialan!" umpat Danur Cakra. 


Pelan-pelan Danur Cakra bangkit, jangan sampai membuat gadis sakit itu terbangun. Cakra mengelap wajah dan lehernya, membersihkan sisa air liur Kemuning dan tentunya juga beberapa tempat yang banyak dihiasi merah gincu. Kalau saja, seandainya, umpama, misalnya Cakra tahu kalau Kemuning tidak sedang dalam trauma, mungkin ceritanya akan berbeda. Bagaimanapun juga Cakra hanyalah pria biasa, lelaki normal layaknya kebanyakan orang. Dia pun memiliki lonjakan tinggi di bawah sana, tapi dia berhasil menguasai diri dan memilih untuk mengeluarkan di kamar mandi.


"Huuuhhh ... huuuhhh ... kepa*rat! Sialan!" Danur Cakra mengatur napasnya yang tersengal setelah berhasil mencapai puncak. Tubuhnya terasa sedikit lemas dengan lutut seperti diurut. Harusnya, dia meminta Kemuning yang melakukannya pasti letupan itu akan semakin dahsyat.


Benar seperti apa yang banyak diungkapkan. Apa pun kemampuan yang dipelajari, meskipun itu adalah ajaran sesat, nyatanya jika orangnya memiliki kemampuan baik untuk mengendalikan maka tidak akan menjerumuskan jauh ke lubang kenistaan.


Kitab Terlarang Langit dan Bumi yang Danur Cakra pelajari membuat dirinya bisa keluar masuk dimensi lain juga bersahabat dengan jin dan Genderuwo. Dengan kemampuan itu sedikitnya telah berhasil menggeser cara pandang Danur Cakra cenderung pada kekejaman. Hingga dia lebih senang menggunakan kekuatan Naga Kresna saat bertarung. Menjadikan dirinya sebagai pendekar berdarah dingin yang gemar mencelakai. Namun bicara keteguhan hati, mungkin dia termasuk yang terbaik. Bahkan jauh lebih kuat dari ayahnya, Mahesa yang notabenenya merupakan Pendekar aliran putih terbaik. Terbukti kalau Danur Cakra lebih bisa menjaga kehormatan gadis pujaannya, tidak seperti ayahnya yang justru tidur bersama pelayannya (Puspita saat itu) sebelum kemudian resmi menikah.


°°°


Malam terasa begitu cepat berlalu, mungkin karena tidur yang terlalu dini hari atau karena tubuh yang terlalu lelah. Mentari pagi sudah menampakkan wajahnya, menyinari dunia menunjukkan wujud yang begitu gagah.


Kemuning membuka matanya, dia tersadar dan mendapati jika Danur Cakra tidak lagi ada di sampingnya. Mungkin dia kecewa, tapi dia juga sadar kalau keadaan sekarang tidak lagi sama. Di sekitar tempat penginapan itu begitu banyak mata yang terjaga siang dan malam. Selain mereka para prajurit jaga, juga pastinya banyak orang lain yang mengikuti setiap pergerakan di dalam rumah penginapan itu. Keputusan Danur Cakra memang tepat.


"Huuuhhh ... kira-kira apa yang Cakra pikirkan tentangku? Pasti dia mengira kalau aku ini wanita murahan yang dengan mudahnya menyerahkan diri. Bagaimana ini? Aduuhhh, dasar bodoh!" Kemuning menepuk dahi.


"Nona, kau sudah bangun?" pintu terbuka, Suhita berjalan masuk diikuti Kencana Sari. Di tangan Kencana Sari, nampak membawa nampan yang isinya bukanlah sumberdaya melainkan pakaian. Pakaian yang cukup mewah, terbuat dari kain dengan bahan dasar yang bagus. Istimewa.


"Kau tidak perlu khawatir, kondisimu hari ini jauh lebih stabil. Nanti kita aku akan membantumu untuk selaraskan sumberdaya Lumut Kehidupan tahap kedua. Semoga, setelah ini kau akan bisa segera pulih," senyum Suhita mengembang, wajahnya memancarkan semangat kegembiraan yang berbeda dari kemarin.


"Hmm ... harusnya aku senang, Tabib Dewa nampak sangat bahagia hari ini. Itu pasti karena semalam dia telah berdamai dengan kekasihnya. Tapi mengapa, hatiku ini justru terasa sakit? Mengapa aku tidak bisa ikhlas menerima?" batin Kemuning.

__ADS_1


"Mari Nona, silakan ..." Kencana Sari menyerahkan pakaian yang ia bawa.


Kemuning tersenyum, meskipun dengan begitu berat tangannya menerima pemberian Kencana Sari. Ketika mata mereka bertemu pandang, terasa ada tekanan intimidasi dari tatap mata Kencana Sari. Kemuning bisa merasakan jika pelayan Suhita itu masih menaruh dendam dan kebencian besar padanya.


"Tabib, aku merasa ada yang aneh. Pasti semalam ada tamu yang berkunjung ke sini. Lihatlah," Kencana Sari menunjuk ke arah kursi.


"Lalu apa masalahnya? Meskipun yang kau maksud ialah seorang pria, tentu bukan masalah karena jelas-jelas dia berada di kursi, sementara Nona Kemuning tidur di sini," Suhita mengangkat sebelah alisnya.


Kencana Sari hanya bisa menelan ludah. Tidak salah atas apa yang Suhita katakan. Jika tidak dilebih-lebihkan tentu semua berjalan seperti semestinya. Akan tetapi pemikiran seorang yang menyimpan rasa tidak senang tentu selalu berbeda. Berpikir positif adalah hal yang dia hindari.


"Sari, kau jangan semakin memperkeruh suasana. Kau tahu, sekarang ini situasi sedang sulit?! Jangan sampai kita membebani salah satu pihak. Aku tidak ingin siapa pun merasa dirugikan," pesan Suhita.


"Baik, Tabib. Aku akan selalu mengingatnya," Kencana Sari membungkuk.


°°°


WUUUSSS! WUUUSSS !!!


Di pagi buta, ketika sinar merah matahari masih terbalut putihnya kabut, beberapa anak panah melesat dengan kecepatan tinggi.


"Akhhh!" jerit tertahan keluar dari mulut prajurit jaga, sebelum kemudian tubuhnya roboh kehilangan nyawa.


Total ada lima orang dengan membawa beberapa senjata pada masing-masing personel. Penyusup itu sepertinya telah melakukan kesalahan hingga datang kesiangan, membuat mereka bergerak begitu terburu-buru. Sesuai rencana, harusnya mereka tiba saat subuh. Ketika orang-orang masih tertidur, mereka datang melakukan serangan. Sudah kepalang basah, akhirnya mereka memaksa untuk tetap melakukan serangan tepat ketika orang-orang terlena dalam aktivitas pagi hari. Tidak seorang pun yang menduga, karena memang serangan itu tidak termasuk dalam rencana yang cerdas.


"Di mana ruangannya?" tanya seorang penyusup.


Seorang personel menunjuk ke suatu arah. Nampaknya dia merupakan satu-satunya anggota yang pernah datang ke tempat itu. Dengan demikian, dialah yang bertugas untuk memimpin pasukan. Melintasi jalan yang minim resiko. Dengan cepat, kelima orang penyusup bergerak menuju tempat yang dimaksud.


"Dengarkan aba-aba, lindungi diri kalian masing-masing dan jangan coba libatkan rekan yang lain," ucap pimpinan pasukan.


Serentak empat anggota lainnya mengangguk. Masing-masing menghunus senjata, bergerak serentak menyerang ke dalam ruangan.


BRAAAKKKK!


Beberapa jendela dijebol, detik selanjutnya tubuh para penyusup sudah berada di dalam ruangan. Mereka mengepung dari segenap arah. Jika siapa pun ada di dalam, maka bisa dipastikan dia tidak akan bisa menghindar dari serangan. Sungguh, teknik serangan yang sangat sempurna. Dan hanya pembunuh profesional yang mampu melakukan semuanya dengan begitu cepat dan rapi.


Set! Crassh! Set! Crasss! Mereka menyerang dan menyabetkan pedang ke arah ranjang. Beberapa dari mereka pula menyerang ke arah kamar mandi. Dalam waktu singkat, kamar yang semula rapi berubah seperti kapal pecah.


"Bagaimana?!"

__ADS_1


"Sialan! Tidak seorang pun ada di sini. Kita dijebak!" dengan geram pimpinan penyerang mengumpat penuh kemarahan. Dia menatap pada rekannya yang sebelumnya telah lebih dulu masuk bersama rombongan Panglima Braja.


"Bukan waktunya untuk tanya jawab, yang terpenting ialah cara kita untuk bisa keluar dari sini. Ayo cepat!" seorang personel berkata bijak, dia cepat berlari menuju jendela untuk bisa segera kabur.


Benar apa yang mereka duga, di luar ruangan para prajurit kerajaan telah bergerak mengepung mereka. Raka Jaya sendiri yang memimpin. Mungkin gerakan mereka tidak terduga dan tidak tertebak saat berada di luar. Namun hal yang tidak mereka ketahui ialah bahwa lokasi rumah penginapan itu telah dipagari kemampuan tenaga dalam oleh Raka Jaya. Hingga saat mereka memaksa untuk masuk Raka Jaya langsung mengetahuinya. Memang benar Raka Jaya kehilangan dua orang pasukan, tapi tentunya sepadan jika kemudian dia berhasil menangkap kelima orang penyusup tersebut.


"Fuuiiihhh! Tidak ada pilihan lain. Tapi paling tidak, salah seorang dari kita harus bisa menyampaikan laporan."


Lima penyusup mengangguk tanda mengerti, sudah bukan kali pertama mereka berada dalam posisi yang sama. Berada pada posisi pertaruhkan hidup dan mati, selembar nyawa mereka bukanlah suatu yang begitu penting. Jauh berbeda di atas itu, yakni ialah keberhasilan misi.


"Serang! Habisi sebanyak yang kita bisa!" dengan bergerak mendahului, pimpinan penyusup melakukan serangan. Seperti kebanyakan pendekar, tentunya mereka menyerang lawan yang memiliki kemampuan rendah.


Pertempuran sengit tidak dapat dihindari, suara dentingan senjata yang saling beradu memecah kesunyian pagi. Baik prajurit kerajaan juga pasukan penyusup sama-sama memiliki kemampuan olah kanuragan pada tahap yang tinggi. Begitu sulit untuk mereka saling menjatuhkan satu sama lain, membuat pertempuran semakin seru.


Semangat juang dari kelima orang penyusup yang begitu menggebu, membuat para prajurit sedikit kesulitan untuk meringkusnya. Prajurit lebih menghitung resiko, menghindari terluka dan memilih mengulur waktu hingga tiba saat yang tepat. Berbanding terbalik dengan para penyusup yang mengamuk seperti banteng terluka. Tidak seorang pun yang memperhitungkan hidup atau mati, selama pedang masih terayun maka selama waktu itu pula mereka gunakan untuk menyerang.


"Suara pertempuran?! Apa yang terjadi?" Kemuning cepat-cepat menyudahi mandinya. Dia keluar seraya buru-buru berganti pakaian.


"Tetap di sini, kita aman. Beruntung kita sudah berpindah kamar. Ternyata dugaan Raka Jaya tidak meleset," ucap Suhita lirih.


Meskipun tanpa memakai pupur dan gincu wajah Kemuning masih memancarkan kecantikan yang luar biasa. Wajar saja jika Danur Cakra klepek-klepek dibuatnya. Sebagai wanita biasa, tentu saja wajar Suhita memiliki rasa cemburu. Dia juga tidak kalah cantik, pula memiliki popularitas yang amat tinggi, baik pada semua orang. Tapi pesonanya jelas kalah jauh.


"Tabib ..." Kencana Sari mengibaskan tangannya di depan wajah Suhita. Sejak tadi nampak kalau Suhita justru larut dalam pikirannya sendiri. Entah apa yang dia pikirkan ketika memandang Kemuning.


"Di dalam hati Tabib Dewa pasti menyimpan rasa tidak suka padaku. Hanya saja dia pandai menyembunyikan semuanya. Dia tetap berlaku baik padaku, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Atau mungkin Cakra berhasil membuatnya percaya. Tabib Dewa tidak salah menjatuhkan pilihan hatinya, dia memilih pria yang tepat," Kemuning tersenyum getir.


"Kasihan Hita, dia pasti tertekan. Hanya saja hatinya terlalu baik, hingga wanita busuk ini sengaja memanfaatkan kebaikannya. Dasar tidak tahu terima kasih," dengan lirikan sinis Kencana Sari terus mendongkol dalam hati.


"Mengapa aku curiga kalau para penyusup itu masih satu komplotan dengan punggawa kerajaan yang kemarin datang, buktinya mereka menyergap kamar di mana pertama Nona Kemuning dirawat. Aku heran, bagaimana bisa memiliki urusan dengan mereka?! Terus terang, bagiku ini terasa sangat janggal," Kencana Sari bicara sambil terus mengawasi pertarungan dari celah jendela.


Tidak ada yang menjawab. Setuju ataupun menyangkal. Nampaknya Suhita memiliki pemikiran yang sama, hanya saja cara pandang gadis itu yang membuat jadi berbeda. Tidak masalah, bagi Kencana Sari yang terpenting ialah bagaimana caranya untuk secepatnya mereka tidak lagi berurusan dengan Kemuning dan segala masalah yang melilitnya.


Satu hal yang tidak mereka sadari yakni di mana keberadaan Danur Cakra? Sejak menjelang subuh, pendekar muda itu sudah tidak lagi berada di dalam kamar. Dia bahkan pergi saat Kemuning sedang tertidur lelap. Hingga sekarang terjadi serangan para penyusup, Danur Cakra tidak menunjukkan batang hidungnya. Ke mana dia?


"Cakra ... kau di mana? Aku takut ... mereka pasti bermaksud mencelakaiku," ucap Kemuning dalam hati, dia terlihat gemetaran menyaksikan pertarungan di depan mata.


Baru saja keadaan Kemuning sedikit membaik, dia berusaha bangkit dari trauma, melihat darah yang mengalir, sungguh bukanlah hal yang baik. Sementara itu satu-satunya orang yang menjadi sandaran hatinya, Danur Cakra tidak berada di sisinya. Apa yang bisa dia perbuat sekarang?


"Nona, tenanglah ... Cakra tidak mungkin meninggalkan dirimu. Ada aku di sini, juga ada Jenderal Muda yang akan melindungi dirimu," Suhita merangkul pundak Kemuning, tentu saja dia tahu betapa rasa takut yang mendera Kemuning.

__ADS_1


Kemuning mengangkat wajahnya, menatap pada Suhita. Sungguh, dia tidak bisa mengerti atas besarnya kebaikan yang Suhita berikan. Bahkan dengan dua kehidupan sekalipun, dia tidak akan bisa membalasnya.


__ADS_2