Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Keluar Dari Bukit Hujan


__ADS_3

Tidak banyak yang bisa diperbuat. Tidak ada kereta, tidak ada penerangan, serta tidak begitu mengenali medan, ditambah lagi hujan yang belum sepenuhnya reda. Seluruh keluhan itu memaksa untuk Suhita, Nyi Gondo Arum dan Kalagondang tetap bertahan di dalam gua badai salju.


"Sialan! Rencana mereka berjalan dengan mulus. Apa kita harus memanggang bangkai kuda untuk makan malam?" Kalagondang masih mengumpat panjang lebar.


"Harusnya, kau pergi cari sesuatu. Yang penting jangan kelelawar kecil itu," Nyi Gondo Arum menyahut.


Perbekalan mereka di dalam kereta, dan seluruhnya lenyap. Termasuk pakaian dan beberapa kepeng uang. Malam itu, mereka tidak punya persediaan makanan.


"Kakek, saat hujan reda kita harus segera kuburkan kedua kuda penarik kereta dengan layak. Kuda itu telah mengantarkan kita sejauh ini. Kasihan," ucap Puspita.


"Baik, Non." Kalagondang mengangguk. Dengan kata lain, Suhita tidak mengizinkan untuk mereka memanggang daging kuda yang sudah ikut bersusah-payah menjangkau gua badai salju.


Malam itu, untuk sementara mereka beristirahat di dalam gua. Saat rembulan menampakkan diri, memberi penerangan pada dunia maka barulah mereka berangkat. Itu dilakukan mengingat ancaman serangan yang bakal dilakukan oleh anak buah Pendekar Naga Sayap Tunggal yang berniat menangkap Suhita.


Pendekar Naga Sayap Tunggal merupakan seorang pendekar ternama yang memiliki kemampuan tinggi. Takutnya pengasuh Suhita akan kesulitan menangani jika mereka datang dalam kelompok besar. Sementara Suhita sendiri meskipun telah dibekali oleh kemampuan tenaga dalam yang mumpuni tapi dia belum memiliki jiwa bertarung yang sesungguhnya.


"Ah, Non Hita sudah bangun," Nyi Gondo Arum menghela napas panjang.


"Kita lakukan saja sesuai rencana," ujar Suhita kemudian.


Meskipun sedikit berat hati, Nyi Gondo Arum segera bangkit. Kalagondang telah menunggu di depan mulut gua. "Pelan-pelan saja, Non. Jalanan sangat licin, cahaya rembulan juga begitu redup."


Tidak terlihat tanda-tanda kemunculan para pendekar anak buah Pendekar Naga. Atau mungkin mereka menunggu di jalan keluar dari bukit hujan? Bisa jadi, mereka menerapkan teknik itu. Menunggu lalu kemudian mencegat lawan di perjalanan pulang. Rencana yang tidak buruk, tapi sayangnya Kalagondang sudah bisa menduganya.


"Aku tahu arah ke kota Cemara Asri. Kita bisa cari penginapan dan perlengkapan baru di sana," Nyi Gondo Arum berkata. Kemudian dia yang memimpin jalan, membelah hutan menuju Kota Cemara Asri.


"Sayang sekali, jalanan begitu becek. Kalian melupakan hal itu," Ki Pasopati dan seorang pendekar anak buahnya berlari dari arah belakang. Menyusul Suhita dan pengasuhnya.

__ADS_1


"Kebetulan sekali kau datang. Sudah terlalu lama aku menunggumu. Kalian memang sangat lamban," Kalagondang menyambut kedatangan Ki Pasopati.


"Hahaha! Kau sama sekali tidak penting. Kami hanya berurusan dengan tabib kecil itu. Guru kami, Pendekar Naga Sayap Tunggal ingin bertemu dengannya," Ki Pasopati menunjuk pada Suhita.


"Ah, kau hanya banyak bicara. Apa kau pikir hanya gurumu seorang yang ingin menangkap dan menguasai Tabib Titisan Dewa untuk kepentingan pribadi?! Hei, kau tentu sering mendengar apa yang terjadi pada orang-orang yang memiliki pemikiran serakah seperti itu?" Kalagondang bicara sambil bertolak pinggang.


"Kepa*rat! Kalau begitu, terpaksa aku melakukan dengan caraku!" Ki Pasopati mendengkus kesal. Dia memberi isyarat pada anak buahnya untuk segera melakukan serangan.


Lagi-lagi, pertarungan terjadi. Semakin sering berjalan dan bertemu puluhan kepala dengan pemikiran yang berbeda, membuat Suhita dipaksa harus bisa menyesuaikan diri. Tidak selamanya berbelas kasih bisa selamatkan nyawa. Ada saatnya harus bertindak tegas juga demi kebaikan. 


Kehidupan ini telah ada yang mengatur, manusia hanya menapaki takdirnya masing-masing. Beruntung bagi mereka yang miliki sifat layaknya air, mampu dengan mudah menempati ruang.


Suhita ingat kejadian tadi siang. Jika tidak dibantu, pastinya Kalagondang akan kesulitan untuk bisa imbangi Ki Pasopati yang kemampuan tenaga dalamnya telah meningkat pesat. Lalu, apa yang harus Suhita lakukan?


Kalagondang dan Ki Pasopati sedikit demi sedikit telah bergeser, bergerak menjauh. Mungkin Ki Pasopati sengaja mengulur-ngulur waktu agar bala bantuan mereka segera datang.


Dengan semakin meningkatkan intensitas serangannya, Nyi Gondo Arum menambah kekuatan tenaga dalam dalam setiap pukulan yang dia lepaskan. Membuat lawannya jadi keteteran.


Suatu saat, Nyi Gondo Arum memukulkan tongkat di tangannya dengan gerakan memutar. Membuat lawannya mundur dan merubuhkan badan untuk menghindar. Naas, kaki pendekar itu tersangkut pada akar kayu dan terperosok.


Wuuss, Braaakkk!


Seperti suara balok kayu yang patah, benturan tongkat Nyi Gondo Arum menghantam dada lawannya, membuat pria itu tidak lagi bisa berteriak. Darah menyembur, membumbung tinggi keluar dari mulutnya. Pendekar itu roboh ke bumi dengan dada yang hancur.


"Mampus kau!" Nyi Gondo Arum meludah pada jasad lawannya.


Nyi Gondo Arum berniat untuk bergerak membantu Kalagondang yang bertarung hadapi Ki Pasopati. Tapi, secepat itu juga Nyi Gondo Arum mengurungkan niatnya karena saat dia sadar penuh, ternyata Kalagondang telah berdiri menonton pertarungannya.

__ADS_1


"Sial, kapan aki-aki busuk ini habisi lawannya? Ah, pasti Non Hita yang bantu untuk dia bisa habisi Ki Pasopati. Dasar curang," umpat Nyi Gondo Arum dalam hati. Dia sangat yakin jika Suhita ikut campur tangan.


"Mengapa bengong, ayo cepat tunjukkan jalan untuk kita bisa keluar dari sini, cepat!" ucap Kalagondang dengan suara keras.


"Sialan kau!" Nyi Gondo Arum emosi.


Tanpa harus dipinta, sudah pasti Nyi Gondo Arum akan segera membawa Suhita dan mereka keluar dari dalam hutan bukit hujan.


"Nah, itu padang geteper. Setelah lewati ini, kita akan tiba di persawahan warga," Nyi Gondo Arum menunjuk. Kota Cemara Asri sudah tidak terlampau jauh lagi.


Baru beberapa langkah ketiganya berjalan melintasi padang geteper, telinga mereka telah menangkap suara gemuruh derap kaki kuda yang menyusul. Sial! Itu pasti Pendekar Naga dan anak buahnya yang lain. Jumlah mereka cukup banyak.


"Hahaha! Jangan sedih karena berpisah, senanglah karena telah bertemu. Kau bisa mengingat kenangan ini di dalam hatimu," Pendekar Naga tertawa dan menghentikan laju kudanya.


Ada lima belas orang anak buahnya yang lain. Pastinya mereka bukan pendekar sembarangan. Malang tidak bisa dihindari. 


"Apa tidak ada cara lain, nek?" Suhita berbisik ketika melihat kedua pengasuhnya telah bersiap untuk kembali keluarkan jurus tenaga dalam.


Usia Nyi Gondo Arum dan Kalagondang terbilang sudah cukup umur, dengan terus mengikuti Suhita rasanya mereka akan semakin cepat menemui ajal karena terlalu sering gunakan kemampuan beladiri. Suhita jadi merasa bersalah.


"Tunggu dulu! Tuan pendekar, aku hanyalah seorang anak kecil yang masih belajar meramu obat. Aku rasa, kalian telah salah orang," ucap Suhita.


Pendekar Naga tertawa, dia memandangi Suhita dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia menjelaskan kondisi jasad Ki Pasopati yang hampir hancur dan tidak lagi dikenali, "Dengan mudah, kau mencelakai murid andalanku. Lalu bagaimana aku bisa percaya pada kata-katamu? Sudahlah, nak. Baiknya kau ikut saja bersama kami, aku akan menjamin keselamatanmu."


Sudah terlalu banyak pendekar yang bicara begitu. Biasanya, ada Mahesa yang kemudian mengajak bicara dan Suhita terlepas dari tawaran tersebut. Sekarang, Suhita baru mengetahui jika setiap ada orang yang datang untuk mengganggunya, maka Mahesa pasti membereskan orang itu hingga tidak muncul lagi. Suhita tidak tahu lagi, sudah berapa orang yang mati akibat hendak memaksa dia bergabung pada satu kelompok. Ayahnya memang pendekar hebat, tapi bagaimana dengan kedua pengasuhnya ini?


Disaat situasi semakin genting, dari arah yang berlawanan muncul kembali sekelompok orang berkuda. Mereka semakin mendekat. Apa mungkin, mereka datang dengan tujuan yang sama? Sebanyak itu? Gawat.

__ADS_1


__ADS_2