
Satu hal yang tidak bisa dihentikan, yakni waktu. Malam dan siang yang silih berganti mengisi dunia, pun juga dengan musim yang datang pada masanya. Pada akhirnya, menjadi dewasa dan tua adalah suatu hal yang pasti.
Tidak terhitung berapa banyak jumlah rintik air hujan yang tercurah, tak pula diingat berapa kali angin bergerak mengendalikan cuaca. Yang jelas, saat ini keadaan sudah begitu berbeda.
Rasanya, hari saat sepuluh tahun yang lalu bagaikan hari kemarin. Perjalanan hidup terasa sangat singkat.
Menengok di sebuah gubuk reot di tepi hutan. Seorang kakek tua berpakaian lusuh tengah tertidur pulas. Di sampingnya, duduk seorang nenek yang sedang disibukkan dengan aktivitasnya merapikan pakaian yang baru diangkat.
"Nek ... nanti setelah kakek bangun, tolong dibantu untuk suapi beliau makan terlebih dahulu. Setelah itu, minumkan ramuan ini secara bertahap," seorang tabib muda berparas jelita datang dengan semangkuk sup hangat yang baru saja dia masak.
"A-ah ... Nona Tabib, baik ..." dengan sedikit tergagap si nenek menjawab dan menerima sup hangat dari sang tabib.
Wajah si nenek begitu nampak serba salah. Tabib muda itu terlalu baik hati, bahkan dia pula yang memasak dan melengkapi kebutuhan dapur nenek selama kakek sakit.
Bukan rahasia lagi, tabib cantik jelita yang sore itu memasak untuk kakek dan nenek merupakan tabib dambaan setiap orang tua yang memiliki anak laki-laki. Selain wajahnya yang amat menawan, sang tabib pun dilengkapi dengan budi pekerti luhur. Tutur sapanya sopan, ditambah kemampuan pengobatan yang dia miliki berada di atas rata-rata tabib pada umumnya. Tapi jangan salah, di balik keanggunan dan sikapnya yang lembut, tabib cantik itu pula dilengkapi dengan kemampuan tenaga dalam yang sangat tinggi. Sepuluh Tapak Penakluk Naga, meskipun tidak kentara tapi kenyataannya kemampuan itu telah membuatnya bertahan hingga saat ini.
Suhita Prameswari, Tabib Titisan Dewa yang sempat jadi buah bibir dan menggegerkan di masa kecil, sekarang ... setelah perjalanan panjang yang dia lalui sosoknya telah berubah menjadi gadis yang cantik jelita, pula yang akhirnya banyak menimbulkan masalah.
Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kedua orang tua Suhita memiliki paras yang menawan, sangat tidak masuk akal andaikata anak mereka malah berparas jelek. Meskipun jika boleh memilih, mungkin Hita akan lebih nyaman dengan penampilan yang biasa-biasa saja. Sehingga bila dia dalam perjalanan mengobati pasien, tidak perlu risih pada mata-mata lelaki yang mengikuti setiap langkahnya.
Suhita tersenyum, tidak berlama-lama kemudian dia bergegas keluar dari bilik dan memberi ruang pada sepasang kakek nenek renta tersebut untuk menikmati waktu berdua. Jelas, sangat jarang keduanya miliki kesempatan demikian.
"Hita ..." dengan sikap yang hormat, Arya Winangun datang menghampiri Suhita yang masih berdiri di beranda pondok.
Sebuah senyum manis terlempar dari bibir Suhita, seiiring langkah Arya Winangun yang semakin mendekat.
Arya Winangun, anak dari Endang Kusuma Gandawati tersebut telah lama ikut Suhita. Menyertai hampir disemua perjalanan Suhita menjadi juru sembuh. Tidak ubahnya sang Ibu yang bisa diandalkan, pula demikian dengan Arya Winangun. Nampaknya dia begitu tulus dan ikhlas.
Suhita menghela napas panjang, bibirnya tetap tersenyum lembut meskipun jauh di dalam kepalanya berkecamuk berbagai pemikiran. Perlahan, sepucuk surat yang berada di tangannya ia gulung dan kembali dimasukkan ke dalam bambu pembungkus.
"Aku tidak tahu, apa mungkin kita akan bisa datang tepat waktu. Jujur ... ini terlampau singkat," ucap Suhita.
"Namun, akan lebih buruk lagi jika kita abai begitu saja. Paling tidak, dengan adanya niat baik semua akan jauh lebih seimbang," Arya Winangun menimpali.
Pengirim surat bukanlah berasal dari kalangan orang biasa, melainkan dari seorang pangeran sekaligus seorang pejabat tinggi di Kerajaan Utara. Meminta bantuan untuk Suhita datang mengobati seorang Jenderal yang konon mengalami gejala penyakit aneh. Sudah beberapa tabib ternama yang mencoba untuk mengobati, tapi sejauh ini masih belum berhasil. Hanya Suhita yang menjadi harapan terakhir mereka.
Tentu Suhita menyambut dengan suka-cita, siapa pun orangnya, bila memerlukan bantuan pasti akan Suhita tolong. Masalahnya ada di jarak. Untuk tiba di Kerajaan dibutuhkan waktu setidaknya satu pekan perjalanan tanpa henti. Jauh. Dan yang pasti sosok Suhita tidak akan bisa melakukan perjalanan seperti itu. Hatinya pasti akan tergugah manakala di jalan ditemui orang susah yang memerlukan pertolongan.
"Baiklah. Sampaikan pada mereka, besok pagi kita akan lanjutkan perjalanan ke Kerajaan Utara. Aku harus pastikan kesembuhan Kakek," ucap Suhita seraya menoleh ke arah bilik.
Arya Winangun mengangguk. Tidak lama kemudian dia pamit untuk menemui dua orang rekannya yang lain. Selain Arya Winangun, Suhita pula disertai oleh dua pembantu lain. Seorang kusir kereta bernama Prana, dan seorang pembantu lagi bernama Kencana Sari.
Kedatangan Arya Winangun sudah ditunggu oleh kedua orang rekannya, meskipun sudah bisa menebak tapi tetap saja mereka menunggu apa yang menjadi keputusan Suhita.
"Ya, sudah. Kalau begitu aku akan selesaikan tugasku lebih cepat. Untuk nanti istirahat dan menempuh perjalanan jauh," Kencana Sari segera berlalu sesaat Arya Winangun selesai bicara.
__ADS_1
Tugas yang dia maksud ialah menyelesaikan pembuatan obat dan ramuan herbal penting di Kademangan tempat mereka berada sekarang. Kencana Sari menularkan beberapa cara meracik beberapa ramuan yang akan berguna bagi warga desa. Semuanya tentu saja gratis. Kencana Sari harus menyelesaikan tugasnya sebelum besok mereka harus pergi meninggalkan Kademangan tersebut dan entah kapan lagi akan melintas di sana.
°°°
Sementara itu, jauh di Kerajaan Utara. Raka Jaya yang sekarang nampak sangat gagah dengan balutan pakaian seragam yang ia kenakan. Pedang di pinggangnya, dengan gagang berbalut emas pula dengan bilah pedangnya yang terukir dengan emas. Itu semua melambangkan bahwa saat ini, posisi yang diduduki oleh Raka Jaya adalah seorang Jenderal.
Remang cahaya Rembulan membelai wajah Raka Jaya yang nampak gundah. Jenderal muda itu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Raganya memang bugar, tapi jiwanya sedang menghadapi masalah besar. Permasalahan yang tidak semua orang bisa mengerti dan paham.
"Huuuhhh ..." Raka Jaya menghela napas panjang, "Aku yakin, Hita sudah menerima surat itu. Kemungkinan besar, dia sudah dalam perjalanan ke sini. Apa yang harus aku perbuat?"
Raka Jaya berjalan hilir-mudik di halaman belakang kediaman pribadinya. Dia telah melewatkan jam makan malam. Raka Jaya tidak lapar, sudah kenyang oleh beban yang tengah dia pikul.
"Jenderal, mohon maaf," terdengar suara dari arah belakang pintu, seorang abdi meminta untuk menghadap.
Raka Jaya menoleh kemudian mengangguk, mempersilahkan abdi tersebut mendekat.
"Seorang utusan Pangeran Arka Yudha meminta untuk mengahadap. Menurutnya tuturnya, ada hal penting yang dia akan sampaikan," lapor sang abdi.
"Sudah semalam ini ... ada apa?!"
"Ampun Jenderal, utusan tersebut menolak mengatakan pada para penjaga bahkan pada hamba sekalipun. Berdasarkan perintah, dia hanya akan bicara langsung pada Jenderal."
"Baiklah, suruh dia menunggu sebentar. Aku sendiri yang akan menemuinya," perintah Raka Jaya.
Setelah membungkukkan badan tiga kali, abdi itu bergegas menjalankan perintah. Langkahnya terayun cepat kembali menuju gerbang depan.
Dari luar, memang semuanya terlihat baik-baik saja. Kerajaan Utara tengah berada dalam masa yang gemilang. Tanpa banyak yang tahu, sebenarnya keadaan politik di dalam pemerintahan tidak seperti yang terlihat. 'Tempat Basah' memang sangat digemari oleh cacing.
Sebagai seorang pendekar muda berbakat yang juga berasal dari padepokan nomor satu, tentu membuat jalan karir yang Raka Jaya titi menjadi mulus. Dalam waktu yang relatif singkat, Raka Jaya telah mendapatkan posisi yang mantap. Ditunjang oleh kemampuan dan keterampilan yang amat mumpuni, tentu membuat semua orang tidak memiliki alasan untuk bisa membantah.
Semakin tinggi dan besar sebuah batang pohon, maka semakin kencang pula angin yang menerpa tiap helai daun. Setelah resmi berseragam prajurit Kerajaan, berprestasi, lalu kemudian meniti satu per satu posisi penting, Raka Jaya baru sadar kalau yang dia hadapi bukan hanya ancaman musuh juga para penjahat kelas kakap, melainkan pula banyak tikaman-tikaman berbahaya yang dilancarkan oleh rekan sejawat. Orang-orang yang juga menginginkan jabatan yang serupa. Politik memang kejam. Di sana tidak ada lawan maupun kawan, yang ada hanya tercapainya tujuan. Sebagai seorang pendekar baik-baik, tentu saja membuat halang dan rintang yang Raka Jaya lalui terasa semakin besar.
"Apa mungkin, di tempat kediaman majikan mu masih nampak matahari?!" kalimat tidak bersahabat terlontar dari bibir Raka Jaya kala menemui utusan Pangeran Arka Yudha.
Utusan itu membungkuk memberi hormat ketika mengetahui Raka Jaya menemuinya. Wajahnya tidak terlihat tersinggung meskipun sangat jelas rasa tidak suka yang Raka Jaya tunjukkan.
"Jenderal ... mohon ampun beribu-ribu ampun. Akan tetapi, hamba harus menemui Anda. Pangeran Arka Yudha ingin untuk Jenderal segera melihat bahwa Beliau telah menemukan bukti-bukti keterlibatan Tuan Reksa Sewu dalam serangan yang menewaskan seratus pasukan kita di Geger Bentiring," dengan lugas dan jelas utusan Pangeran Arka Yudha menyampaikan pesan.
Raka Jaya mengerutkan dahi. Dia terlihat berpikir keras. Bagaimana mungkin Reksa Sewu yang melakukannya, sementara hubungannya dengan Pangeran Ukra Shana terbilang sangat akrab. Rasanya, ada yang salah. Hati Raja Jaya menolak, tapi bagaimanapun juga dia harus melihat secara langsung apa yang diperoleh Pangeran Arka Yudha hingga dia berani mengatakan sebagai 'bukti' itu.
"Bawa aku menemui junjunganmu," ucap Raka Jaya.
"Silahkan, Jenderal."
Beberapa waktu kemudian, Raka Jaya diikuti utusan tersebut telah terguncang di atas punggung kuda. Keduanya menunju kediaman Pangeran Arka Yudha.
__ADS_1
°°°
Matahari yang mulai memerah di ufuk timur, menandakan hari baru telah datang untuk menjemput cerita yang akan mulai ditulis waktu demi waktu hingga nanti terang kembali terbungkus gulita.
"Nona Tabib ... hanya Tuhan yang akan membalas segala kebaikan yang telah Nona berikan. Kami cuma bisa panjatkan do'a, semoga kebaikan akan selalu menyertai Tabib," dengan titik air mata di sudut mata yang kendur, nenek dan kakek terlihat amat berat untuk melepas kepergian Suhita.
Bukan hanya kakek dan nenek saja, melainkan hampir sebagian besar penduduk Kademangan juga merasakan hak yang sama. Cuma dua hari Suhita bermalam sebagai tamu di sana, akan tetapi kehadirannya terasa amat berarti. Bahkan terasa lebih berharga dari keberadaan mereka yang sejak lahir sudah di sana.
"Jika suatu saat nanti takdir menuntun langkah kakiku untuk kembali melintas, pasti kita akan berjumpa lagi. Aku harap, bukan karena mengapa kita harus berjumpa dan berpisah. Akan tetapi, apa hal baik yang kita peroleh. Selamat tinggal semuanya," senyum termanis Suhita merekah seiring lambaian tangannya pada segenap penduduk yang mengantar. Perlahan, kereta kuda yang mereka naiki berjalan menjauh.
"Mereka semua orang baik. Aku yakin, Kademangan ini akan semakin berkembang," ucap Suhita dalam senyum.
"Awalnya, saya melarang mereka untuk datang berbondong. Saya tahu, mereka hanya akan menangis melepas kita pergi. Kemarin saja, di kantor Kademangan mereka sudah mulai menangis."
"Biarkan saja, mungkin itu salah satu cara mereka dalam meluapkan rasa. Sari ... kita tidak bisa menyamakan bagaimana kita bersikap dengan orang lain," Suhita menanggapi perkataan Kencana Sari.
"Kalau semua gadis seperti Sari, mungkin tidak akan ada kaum yang lemah. Sulit ditemukan adanya isak tangis," celetuk Prana yang sedang memegang kendali kereta.
Gelak tawa terdengar mengiringi seusai kalimat Prana berakhir. Meskipun dongkol pada candaan Prana, Kencana Sari ikut tertawa kala Suhita pula tertawa.
Roda kereta terus berputar, telah jauh meninggalkan Kademangan tempat Suhita menginap. Hingga kemudian mereka memutuskan untuk beristirahat di tepi sebuah danau.
Suhita berjalan mendekat ke tepi danau, tapi ... rasanya ada yang aneh. Meskipun tidak tahu secara pasti, insting Hita mengatakan jika ada sesuatu di sana. Hita mengangkat sebelah tangannya, menghentikan seluruh aktivitas para pembantunya. Keempatnya sejenak diam. Memusatkan perhatian ke segenap penjuru di sekitar tempat itu, coba untuk mencari sesuatu yang mungkin mencurigakan.
Suhita meminta Kencana Sari untuk kembali ke kereta dan mengambil gayung untuk bisa menyentuh air danau.
Semakin langkah mendekati tepi danau, naluri hati Suhita semakin yakin jika ada yang tidak beres di danau tersebut. Hal juga yang tentu menuntun mereka untuk memilih lokasi tersebut untuk beristirahat.
"Siluman?! Rasanya tidak mungkin. Aku tidak merasakan adanya aura siluman di sekitar tempat ini. Akan tetapi ... aneh saja dengan suasana yang cenderung mistis ini," Suhita menghela napas sebelum kemudian jongkok dan mengayunkan gayung di tangannya untuk menyentuh air danau.
Binatang buas, hewan misterius penghuni danau, jika benar ada sudah pasti akan nampak di bawah air yang amat jernih tersebut.
Suhita tersebut tipis, dia mengurungkan niatnya untuk mengambil air danau. Kembali bangkit berdiri dan menyerahkan gayung pada Kencana Sari.
"Kemampuan tenaga dalam seseorang, nampaknya ada yang sengaja bermain-main dengan kita. Aku tidak tahu apa tujuannyanya," ucap Suhita pelan.
"Ah, untuk apa? Apa salah kita?" tanya Kencana Sari.
"Kita cari tempat lain saja. Aku rasa, kedatangan kita hanya mengganggu. Masalah jangan di kejar, jika masih bisa lebih baik kita menghindarinya."
"Tapi Hita ..."
Suhita mengangkat tangannya, meminta Arya Winangun untuk tidak melanjutkan kalimat. "Kita pergi!"
Tanpa berani membantah lagi, ketiga pembantu Hita ikut berbalik badan dan berniat pergi. Namun tiba-tiba ....
__ADS_1
WUUUSSSS !!! WUUUSSSS !!!