Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Kontak Batin


__ADS_3

Duduk di atas punggung kuda selama hampir setengah hari, bukanlah suatu yang menyenangkan bagi sebagian orang. Kecuali memang mereka para pendekar yang gemar berpetualang, merantau ke sana ke mari mengembangkan pengalaman serta menambah wawasan akan dunia yang amat luas.


"Tidak ada perkampungan lagi di depan sana, kita terpaksa beristirahat lebih awal," ucap Suhita seraya turun dari punggung kuda.


Kemuning juga Kencana Sari mengikuti, lagi pula keduanya memang sudah lelah. Meskipun tidak bermalam, paling tidak suasana akan lebih nyaman dalam keadaan perut kenyang.


Pelayan kedai berlari kecil menyambut kedatangan Suhita. Sepertinya pelayan itu mengenali Suhita, terlihat dari tuturnya yang menyapa Suhita dengan sebutan Tabib. Dengan begitu sopan, si pelayan mengantarkan Suhita ke dalam kedai, menemui pemilik kedai untuk memesan makanan.


"Saya pesan makanan paling enak yang ada di sini. Tiga ya."


"Ah, baik, baik ... silakan Nona pilih tempat yang dirasa paling nyaman. Nona juga bisa memesan minuman hangat atau kami juga menyediakan arak terbaik," pemilik kedai menawarkan.


"Terima kasih, tapi kami tidak minum arak. Mungkin untuk wedang jahe, itu baik untuk kesehatan," jawab Suhita. 


Bukanlah hal yang aneh, sudah biasa para pendekar dan gadis muda pula menenggak arak untuk menghangatkan tubuh. Biasanya, tubuh para pendekar akan kuat untuk itu. Minum barang satu atau dua gelas bagaikan menenggak air kelapa muda.


"Hita, yang aku lihat pelayan tadi mengenali dirimu. Apa kau tidak merasakan adanya gelagat yang aneh?" tanya Kemuning dengan setengah berbisik.


Suhita tersenyum manis, dia pun merasakan hal tersebut. Akan tetapi rasanya masih sangat wajar, karena secara umum siapa sih yang tidak kenal Tabib Dewa? Jadi, Hita kira bukan merupakan suatu hal yang perlu untuk dilebih-lebihkan. Andaipun dia memiliki kepentingan tersendiri, atau buruknya dia merupakan seorang mata-mata, bukanlah Suhita jika mencemaskan hal-hal semacam itu.


"Jangan berlebihan, hal kecil bukanlah tonggak utama sebagai tolak ukur untuk kita bersikap. Selama tidak mengganggu, aku rasa semua baik-baik saja," jawab Suhita.


Meskipun kecurigaan Kemuning bukanlah isapan jempol semata, tapi kenyataannya Suhita memang sosok yang memandang setiap orang dari kacamata kebaikan layaknya yang selalu ia tebar. Mencurigai orang, merupakan pekerjaan sia-sia yang hanya akan membuang-buang energi secara percuma.


Setelah berhasil melewati proses penyelarasan energi sumberdaya Lumut Kehidupan tahap kedua, kondisi kesehatan Kemuning telah kembali seperti sedia kala. Dia bisa menggunakan segenap kemampuan yang dimiliki, baik itu jurus-jurus pedang ataupun tenaga dalam. Pokoknya seluruh kepandaian yang selama ini dia kuasai.


Belum juga makanan yang dipesan oleh Suhita selesai dihidangkan, di halaman kedai berdatangan para penunggang kuda yang masing-masing membawa senjata tajam sebagai senjata. Akan tetapi mereka tidak nampak seperti para perampok ataupun preman tukang palak.


Dalam sekejap, meja-meja di kedai itu penuh terisi. Lebih dari dua puluh orang yang datang untuk makan, sudah cukup untuk memberi banyak keuntungan atas hidangan yang disantap untuk ukuran kedai di desa kecil.


"Sungguh suatu kehormatan bagi kami, istirahat makan ditemani oleh bidadari. Nona manis, apakah saya boleh bergabung bersama kalian?" seorang pria datang mendekati meja Suhita.


"Masih tersisa beberapa kursi yang kosong. Jika bukan untuk mengganggu, harusnya Tuan tahu tempat. Lihatlah mulut kami sedang dijejali makanan, bagaimana bisa menjawab? Terlalu jauh berbasa-basi, katakan saja apa tujuanmu," Kencana Sari meneguk habis isi cangkir di tangannya. Dia merasa terganggu atas sikap pria yang baru datang.


"Hahaha! Jangan galak begitu, nanti cantiknya hilang, bukankah kita bisa berteman? Tidak salah 'kan sekadar berkenalan?" ditegur, bukannya memperbaiki sikap justru malah tertawa.


Kencana Sari sudah membuka mulutnya hendak menjawab, ketika Suhita memberikan isyarat supaya Sari tidak menanggapi pria yang sengaja mencari perhatian. "Jangan bicara sambil mengunyah makanan, nanti kau tersedak. Lakukanlah pekerjaan satu per satu, supaya semua berjalan secara sempurna."

__ADS_1


Desa Sasak merupakan daerah yang menjadi tujuan perjalanan para penunggang kuda tersebut. Jaraknya masih sangat jauh dari kedai, bahkan Suhita tidak tahu secara pasti.


Dilihat secara mendalam, rata-rata kemampuan mereka barulah berada pada tahap awal. Sangat kecil kemungkinannya jika kepergian mereka akan melakukan serangan atau sejenisnya, karena jika hal tersebut yang dilakukan maka sama saja dengan mereka menyerahkan diri, percuma melakukan perjalanan yang sangat jauh sekadar untuk melepaskan nyawa.


Selesai makan, lalu membungkus beberapa untuk bekal di perjalanan. Tanpa memperdulikan godaan para pendekar, Suhita segera melanjutkan perjalanan. Semakin lama mereka di kedai, maka akan semakin memperbesar potensi terjadi keributan. Terlebih lagi Kencana Sari, gadis itu terlihat sudah mencapai batas kesabaran dalam menghadapi mulut-mulut nyiyir para pendekar yang berucap asalan.


Belum jauh Suhita meninggalkan kedai, mereka kembali menemukan sekelompok orang berkuda datang mendekat. Kali ini jumlahnya lebih banyak, juga lengkap dengan atribut dan bendera berkibar, panji kerajaan. Jelas mereka merupakan prajurit kerajaan utara.


Suhita segera menepikan kudanya, memberikan jalan pada para prajurit. Namun ketika tiba, para prajurit tersebut justru menghentikan laju kuda mereka. Membuat derap sepatu kuda terhenti, menimbulkan sunyi.


Seorang pimpinan pasukan, mendekat. Dengan tangan kirinya, dia mengangkat lencana kerajaan (lencana untuk tugas penting) memperlihatkan pada Suhita, agar bisa membaca dengan jelas. Lencana tersebut merupakan bukti jika mereka bertugas secara resmi, di bawah payung hukum kerajaan. Barang siapa pun yang berusaha atau melakukan tindakan menjegal atau secara sengaja menutup-nutupi sesuatu dan tidak bersikap kooperatif, maka dengan ini ditegaskan jika hal tersebut melawan titah raja. Dan hukuman yang berlaku ialah hukuman yang sama seperti para pemberontak. Merongrong kewibawaan kerajaan, adalah bentuk perlakuan yang tidak ditoleransi, tanpa ampunan.


°°°


Berjarak puluhan mil, tepat di tengah hutan, seorang pendekar muda sedang duduk di atas dahan pohon. Di tangan pendekar muda tersebut tergenggam sebuah buah apel hijau. Namun sejak tadi, tidak ada tanda-tanda jika buah apel tersebut mengalami penyusutan ukuran. Bentuknya masih utuh, bulat dan mulus.


Danur Cakra hanya memutar-mutar buah apel di tangannya. Dengan seksama memandangi bentuk buah yang nyatanya masih tetap pada wujudnya semula. Meskipun berkedip dengan normal, terlihat tatapan mata Danur Cakra kosong, entah apa yang sedang ia pikirkan, atau mungkin dia tidak sedang memikirkan apa pun juga. Menikmati kebebasan, hidup bebas, sebebas-bebasnya, tanpa adanya aturan yang mengikat dalam setiap langkah.


Buah apel di tangan Danur Cakra bukan tidak memiliki cerita. Jika dilihat secara kasat mata, memang tidak ada yang istimewa. Akan tetapi pasti akan menggeleng setelah tahu darimana buah apel itu berasal.


Danur Cakra telah berhasil mencapai puncak tahap kedua, tentu saja itu atas kerja kerasnya. Hingga kegemaran bertarung yang harusnya dikurangi, justru semakin tumbuh subur dan terpupuk dengan baik.


Beberapa jam yang lalu, Danur Cakra baru saja keluar dari gerbang kerajaan lelembut di gunung gundul. Danur Cakra berhasil mendapatkan apel hijau yang merupakan lambang kebesaran dari kerajaan lelembut. Konon, buah apel hijau akan berbunga dalam seratus tahun sekali lalu menjadi besar dan siap di panen kisaran waktu lima ratus tahun lebih. Jika di dunia manusia, tentu akan sulit untuk bisa memanen buah apel hijau bahkan tidak bisa. Bayangkan, berapa keturunan sejak apel tersebut berbunga hingga kemudian bisa di panen, mungkin hampir tujuh turunan.


Bahkan di dunia para lelembut sekalipun, tidak sembarang tokoh yang bisa menikmati kesegaran dari buah apel. Hanya mereka, putra mahkota kerajaan yang akan mewarisi tahta baru bisa menikmati bagaimana rasanya apel hijau.


Danur Cakra datang tepat ketika buah apel siap untuk dipetik. Tentu saja saat yang amat tepat, karena nampaknya kehadiran Danur Cakra dalam dunia evolusi seperti telah ada yang merencanakan. Semua serba kebetulan, meskipun sangat janggal di cerna oleh pikiran normal.


Kehadiran seorang manusia di tengah pesta besar yang diadakan dalam prosesi penurunan buah apel hijau, tentunya menjadi cerita tersendiri di kerajaan lelembut gunung gundul. Bagaimana para prajurit penjaga terkejut, bagaimana perjuangan mereka dalam mempertahankan tanah kelahiran dari serangan manusia serakah.


"Gampang! Berikan buah apel itu padaku, tidak lagi ada urusan di antara kita. Atau kau memilih untuk aku lakukan cara kekerasan? Bagaimana, semua keputusan ada di tanganmu!" ucap Danur Cakra pada Raja Lelembut.


Tentu saja Raja Lelembut menolak dengan tegas. Tawaran yang diajukan oleh Danur Cakra bukanlah sebuah pilihan. Karena di sana bukanlah kewenangan Cakra untuk bicara. Kerajaan merupakan milik mereka, sekonyong-konyong datang seorang manusia ingin menguasai lambang yang amat berharga, sesuatu yang dijaga selama ratusan tahun. Sangat tidak masuk akal bagi siapa pun untuk menyerahkan secara cuma-cuma.


"Kurang ajar! Manusia tidak tahu diri! Prajurit, tangkap perusuh itu. Hidup atau mati!" titah Raja Lelembut.


Mendengar sabda rajanya, dengan serentak para prajurit mengangkat senjata, berperang demi tanah kelahiran. Tidak peduli meski harus celaka, dari pada berada di bawah telapak kaki penebar durjana.

__ADS_1


Danur Cakra tersenyum sinis, dia menatap para prajurit dengan begitu rendah. Di tangan Danur Cakra muncul sebilah pedang sinar aura yang kuat, sebuah pusaka langit yang dengan sekali tebas akan mampu mencelakai siluman. Pedang batu bulan. Pedang yang juga digunakan oleh Cakra saat mengalahkan sepasang siluman piton.


Pedang batu bulan berkelebat ke kiri dan kanan, menjatuhkan lawan seperti menebas dahan pohon talas. Kendati demikian, bukan berarti menjadikan lawan ciut. Justru sebaliknya, mereka yang banyak kehilangan kawan justru semakin bersemangat melancarkan serangan. Mencoba untuk membalaskan dendam sekaligus mencelakai sang perusuh.


Lama kelamaan, Danur Cakra semakin menyempit ruang geraknya. Belum lagi jasad-jasad yang bergelimpangan tidak beraturan, kerap menghambat setiap gerak kaki melangkah. Tidak mengambil resiko, Danur Cakra melompat mundur, dia mencari tempat yang lebih luas, sekaligus memancing pasukan untuk berpencar. Dengan demikian, Cakra bisa menghela napas sedikit lebih panjang.


"Sialan! Aku tidak bisa terus begini. Yang ada waktu dan energiku banyak terbuang dengan percuma. Buah apel hijau, aku harus bisa mendapatkannya," batin Cakra.


Sambil melompat menjauh, Cakra mengatur siasat untuk bisa hindari pasukan lelembut yang sama sekali tidak punya otak. Mereka tidak pernah mengukur kemampuan, hanya berlomba-lomba untuk menyerahkan nyawa. Bahkan pedang batu bulan pun tidak membuat mental mereka ciut. Benar-benar gila.


Cakra kemudian mencoba untuk mencari jalan menuju istana. Dia akan berfokus untuk mendapatkan apel hijau dan jika harus bertarung tentu dengan taruhan yang pasti. Siapa yang menang maka akan mendapatkan hadiah berupa apel hijau, bukannya menghabisi banyak nyawa tanpa peroleh apa pun.


Tidak butuh waktu lama, gempuran Cakra tertuju pada gerbang istana, lawan-lawan yang dia hadapi pula meningkat. Bukan lagi para prajurit, tapi mereka yang memiliki kedudukan di kerajaan lelembut. Termasuk putra mahkota yang merupakan pemilik sah buah apel hijau.


"Meskipun harus celaka, jangan bermimpi aku akan memberikan hakku padamu. Kami para lelembut gunung gundul tidak pernah mengganggu manusia, lalu mengapa sekarang kau datang mengacau ke kerajaan kami?"


"Hahaha!!! Asal kau tahu, aku sudah bosan mengacau di dunia manusia!" jawab Cakra seraya tertawa terbahak-bahak.


Dengan iringan tenaga dalam yang amat tinggi, tawa Danur Cakra mewakili satu serangan awal. Terutama mereka yang miliki kemampuan yang rendah. Denging berenergi hitam itu bahkan akan mampu membuat pecah gendang telinga.


Seluruh tubuh Danur Cakra memancarkan energi hitam kelam, energi naga kresna yang berbaur dengan energi kegelapan. Dengan kecepatan tinggi, Cakra berfokus menyerang pada satu titik. Putra Mahkota yang menyimpan buah apel hijau.


Bayangan naga berwarna hitam berkelebat kian kemari, menghalau para petinggi kerajaan lelembut yang coba membantu putra mahkota. Hingga pertarungan satu melawan satu terjadi. Danur Cakra bukanlah lawan sepadan bagi putra mahkota. Selain itu juga, di tangan Cakra tergenggam pedang batu bulan yang merupakan senjata paling berbahaya bagi mereka para siluman.


"Hahaha! Sudah ku ingatkan, jangan bermain-main denganku!" tawa Cakra mengiringi satu gerakan cepat.


Bleeesss!!! Pedang batu bulan menerobos dada putra mahkota. Membuat tubuh putra mahkota hanya bisa tegak berdiri dengan mata melotot. Tidak lagi mampu berbuat apa-apa, termasuk ketika Danur Cakra mengambil buah apel hijau dari dalam sakunya.


"Aneh sekali! Untuk apa buah apel hijau ini? Lagi pula, aku tidak tahu khasiat dan kegunaannya. Atau aku tanya Suhita?! Ah, tidak-tidak! Itu adalah ide paling gila!" Danur Cakra menggelengkan kepalanya berulang kali.


Tidak langsung menyantap buah apel hijau, justru Danur Cakra menyimpan buah tersebut. Ingat akan Suhita, membuat Danur Cakra langsung bangkit dari duduknya. Pikirannya tidak lagi menerawang, ia merasakan sesuatu. Yakni, kemampuan Suhita tengah melacak keberadaan dirinya.


"Apa yang terjadi pada anak itu?" batin Danur Cakra.


Sudah menjadi kebiasaan sejak lama, ketika Suhita mengontak Danur Cakra melalui kemampuan Tapak Naga, itu artinya Suhita sedang tidak baik-baik saja. Mungkin sesuatu tengah terjadi, atau mungkin pula ada kesulitan yang tidak bisa Suhita pecahkan seorang diri. Terlebih lagi, Suhita sekarang sedang dalam perjalanan hanya bersama Kencana Sari dan Kemuning. Kemampuan dua orang itu, Cakra tahu sendiri.


"Kepa*rat! Apa yang harus aku lakukan? Bisa jadi ini hanya akal-akalan Hita supaya aku datang. Tapi ... bagaimana jika terjadi hal buruk padanya?" Danur Cakra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


__ADS_2