
Wuuusss !!! Sebongkah batu sebesar kepalan tangan orang dewasa meluncur dengan deras, kecepatan terbang batu tersebut bahkan tidak terlihat oleh mata biasa.
Danur Cakra berhasil membuat orang yang dia kejar terjatuh, setelah punggungnya terkena hantaman batu dengan begitu keras.
Bruk! Orang itu tersungkur ke tanah. Dia melindungi wajahnya dengan kedua tangan, dalam kecepatan lari yang begitu cepat tentu saja saat terjatuh hempasan yang tercipta begitu kerasnya, sampai-sampai meninggalkan bekas yang panjang menyeret di atas tanah yang kering.
"Mau lari ke mana kau?!" Danur Cakra berkacak pinggang di hadapan orang itu.
Total ada tiga orang yang berlarian ketika terpergok oleh Danur Cakra. Mereka berlari ke arah mata angin yang berbeda, tentu saja tidak mungkin untuk bisa dikejar keseluruhan. Akan tetapi Danur Cakra tidak menghiraukan dua lainnya. Dia tidak terprovokasi untuk dapatkan lawan yang miliki kemampuan lari cepat yang lebih lamban. Sekali Danur Cakra mengejar, maka dia akan mengejar hanya satu orang sampai kena. Dan sekarang orang itu sudah berada di hadapannya.
Dengan cepat, pria itu bangkit dan langsung menikam Danur Cakra dengan menggunakan pisau yang terselip di balik jubahnya. Kemampuan dia dari terjatuh, bangkit dan langsung melayangkan serangan, menunjukkan bahwa kemampuan olah kanuragan yang dia miliki sudah sangat baik. Serangan itu begitu cepat dan terarah.
Dalam satu gerakan akan dapat mengenai lawan, bisa saja terjadi jika kemampuan yang dipunya tidak berimbang. Akan tetapi, andai hanya satu tingkat berada di bawah maka itupun sudah cukup untuk bisa menghindari. Apalah lagi Danur Cakra, bahkan tidak sembarang orang yang bisa menyentuh kulitnya dalam beberapa jurus.
Serangan pria tersebut hanyalah mengenai ruang kosong, tubuh Danur Cakra telah lama bergeser sebelum pisau di tangan lawan menghampiri kulitnya.
"Hup! Hup!" detik selanjutnya kedua orang tadi langsung terlibat saling serang. Di mana satu sama lain berharap untuk bisa secepatnya mengenai tubuh lawan.
Dengan tangan kosong, Danur Cakra meladeni jurus demi jurus permainan pisau lawannya. Bahkan serangan balasan yang dilakukan Danur Cakra sudah cukup membuat lawannya kerepotan. Setapak demi setapak orang itu terdesak mundur. Memasuki jurus ke sepuluh ...
Danur Cakra melakukan serangan dengan tempo yang amat cepat. Menduga kalau Danur Cakra terpancing oleh serangan tipuan miliknya, pria tersebut coba menusuk ke arah dada Danur Cakra.
Plak! Classsh! Danur Cakra menepuk lengan lawannya dengan keras, hingga pisau yang dipegang terlepas, meluncur dan akhirnya tertancap di batang kayu.
Pria itu terdorong mundur beberapa langkah, tangannya terasa sangat kebas terkena pukulan Danur Cakra. Masih untung dia sempat melumuri pergelangan tangan itu dengan aliran tenaga dalam sehingga tangannya tidak kaku membeku.
Wus! Brukk! Danur Cakra mengarahkan tendangan ke kepala lawan, tapi saat orang itu menghindar, kaki Danur Cakra langsung berbalik arah dan menyapu kuda-kuda lawan. Membuat lawannya ambruk, jatuh terlentang dengan keras.
Dia coba untuk cepat bangkit, tapi sebelum mencapai posisi tegak sempurna, serangan tak terlihat kembali Danur Cakra lakukan. Menghantam keras pada telinga kiri dan dada lawan.
"Uhuukkk ..." darah segar menyembur dari mulutnya. Pria itu jatuh terduduk dengan tangan memegangi dadanya yang terasa remuk.
"Tanpa kata, kau sebabkan luka. Kau tahu, ini bukanlah kesalahanku," ucap Danur Cakra.
"Jumawa! Kau pikir aku sudah kalah? Hahaha! Dasar bocah ingusan, bahkan kematian tidak akan membuatku gentar!" dengan suara yang masih berapi-api, pria itu menjawab tanpa sedikitpun rasa gentar.
"Sayang sekali, tanpa selaput dan bulu tebal, manalah mungkin anak itik yang lemah bisa menyeberangi lautan. Kau tidak lagi memiliki kesempatan untuk menyaksikan indahnya senja. Kau bukan berani, tapi konyol!" Danur Cakra menyeringai.
Di sini, terlihat bagaimana Danur Cakra menunjukkan sifat aslinya. Seorang pendekar berdarah dingin yang begitu haus darah. Dalam beberapa hari terakhir, dia bahkan tidak bertarung dengan seorang anak kecil sekali pun. Dan sekarang, ibarat musafir gurun menemukan sungai. Naga hitam begitu bersemangat meminum darah, legakan dahaga di kerongkongan.
Keduanya baru pertama kali bertemu, sama sekali tidak saling mengenal, juga tanpa memiliki masalah apa pun apa lagi dendam masa lalu. Namun dengan kasarnya telah pertaruhkan selembar nyawa, untuk apa?! Bahkan seekor anjing pun berkelahi karena untuk memperebutkan bungkusan tulang.
"Katakan padaku, apa yang kau lakukan? Untuk siapa kau bekerja?!" tanya Danur Cakra.
"Fuuiiihhh !!! Kau pikir, kau siapa berani ikut campur urusan pribadiku. Aku pantang mati sebelum ajal!"
__ADS_1
"Kalian rencanakan sesuatu pada Tabib Dewa? Mengapa tidak juga sadar, kalau kalian tidak akan pernah bisa berhasil!"
"Hahahah!" pria itu justru tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang membuat dia merasa lucu. Yang ada, hal itu menjadi pemicu dia meninggalkan dunia fana.
Dengan satu gerakan, Danur Cakra bergerak cepat. Tangannya terangkat, dan saat menurunkan tangan Danur Cakra telah berada di seberang tubuh lawan. Layaknya seekor beruang membelah batang kelapa, tangan Danur Cakra dengan begitu mudahnya membuat tulang dada lawannya terbelah jadi dua.
Membunuh lagi, lagi dan lagi. Kapan terpikir untuk berhenti? Mungkin terjadi andai sudah tidak mampu berinteraksi. Dia tidak memiliki salah apa pun, mengganggu pun tidak. Hanya saja tidak mau bekerja sama ketika ditanya, sekarang harus kehilangan nyawa. Lalu, apakah dibenarkan bagi Raka Jaya tetap melindungi Danur Cakra? Yang ada, malah merajut masalah untuk diri sendiri.
"Fuuiiihhh, sialan!" Danur Cakra meludahi jasad lawannya yang terbalut darah menganak sungai.
Dengan sekali memetikkan jari, Danur Cakra menghapus seluruh darah yang menempel di tangannya. Kekuatan Naga Kresna menghisap habis darah segar tersebut. Kemudian tanpa merasa terbebani, Danur Cakra melenggang pergi meninggalkan tubuh lawan. Seiring semakin menjauhnya Danur Cakra, api muncul di sekitar tetesan darah. Perlahan api tersebut membesar, hingga kemudian membakar habis seluruh jasad lawan.
°°°
Memasuki pelataran rumah penginapan, Danur Cakra merasakan aura yang aneh. Dia menangkap aura kemarahan dan juga energi negatif yang tersisa setelah pertumpahan darah di sana. Cakra bisa tahu jika telah terjadi serangan ketika dia menemukan beberapa pekerja yang bergerak cepat membenahi sebuah bangunan yang beberapa jendelanya rusak.
"Kurang ajar! Sudah ku duga, pria tadi terlibat dalam rencana besar. Tidak disangka, mereka telah benar-benar menyerang penginapan," batin Danur Cakra.
Danur Cakra memandang berkeliling, dia tidak menemukan adanya tempat lain yang juga alami kerusakan. Itu artinya, para penyusup sengaja menyerang bangunan yang tidak berpenghuni.
Ah, tunggu dulu. Memang benar bangunan itu malam ini tidak berpenghuni, tapi kemarin itu adalah kamar di mana Kemuning dirawat. Apa mungkin, tujuan serangan kali ini ialah untuk menculik Kemuning?
"Jika terjadi sesuatu, aku tidak akan bisa memaafkan siapa pun itu!" Danur Cakra mengepal keras, dia merapatkan gigi geraham hingga terdengar bunyi gemertukan karena amarah.
Di tangan Danur Cakra, tercangking beberapa kotak makanan. Dia sengaja pergi untuk membeli makanan, tapi malah bertemu seseorang yang memancingnya sampai jauh ke sisi timur Kota Raja. Tidak disangka, ternyata sebagian dari mereka telah bergerak melakukan serangan.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi?!" tanya Danur Cakra sambil mendorong daun pintu.
"Hei, Kak Cakra. Kau dari mana saja? Kau tahu, kekasihmu itu hampir mati ketakutan tapi kau malah keluyuran. Kau sengaja?!" Suhita mendongakkan kepala menyambut kedatangan Danur Cakra.
Sementara itu di sudut ruangan, Kencana Sari hanya bisa menundukkan kepala. Sungguh dia tidak ingin menjadi saksi keributan, tapi bisa apa dia karena sejak pagi juga sudah bersama Suhita.
"Bisa kau katakan sekali lagi? Oh, ya. Di mana dia?" Danur Cakra melongok ke pembaringan.
"Masuk sembarangan ke dalam kamar seorang gadis. Apa kau tidak pernah belajar sopan santun?! Yang kau cari, tidak ada di sini."
"Ah, Appa?!" Danur Cakra terbelalak lebar. Dia tercekat, juga tidak menduga mendapati sikap Suhita yang begitu cuek.
"Ups, ups, tunggu dulu. Jangan ngegas ... aku capek membujuknya untuk ikut denganku. Tapi, dia bersikeras untuk tetap tinggal di kamarnya. Lalu, aku bisa apa?!" Suhita mengangkat bahu.
Napas Danur Cakra naik-turun tidak karuan. Entah apa yang dia rasakan saat itu. Yang jelas, tidak sedikit pun perasaan senang yang ia tunjukkan. Hanya saja, dia tidak berani marah-marah pada Suhita, terlebih lagi ada Kencana Sari mana mungkin Danur Cakra mau menunjukkan sifat aslinya.
"Ambil sarapanmu, aku mau ke sana," Danur Cakra mengambil satu wadah bubur kacang hijau yang dia beli. Sisanya dia tinggalkan di atas meja.
"Emmm ... terima kasih. Apa kau tidak mau menemaniku makan di sini?" tanya Suhita. Dia tersenyum tipis, seraya memainkan kedua alisnya. Sengaja menggoda Danur Cakra yang diliputi rasa kesal.
__ADS_1
"Hita! Kauuu ... aahhhh!" Danur Cakra kehabisan kata-kata menghadapi adiknya. Dia hanya bisa mengepalkan tangannya di depan wajah Suhita. "Kau tahu, bagaimana kondisinya sekarang? Bukankah kau seorang yang begitu welas asih?"
"Kakak menyalahkan aku? Jelas-jelas yang salah itu dirimu. Malam di temani tidur, pagi-pagi malah menghilang. Ada yang salah dengan isi kepalamu?"
Danur Cakra melotot, degup dalam dadanya bertambah kecepatan dua kali lipat. Anehnya mengapa harus dalam keadaan begini Suhita begitu menjengkelkan? Atau mungkin dia pun sama, sama-sama kesal. Sudahlah, tidak ada ceritanya Cakra menang berdebat dengan adiknya. Lagi pula, Kemuning jauh lebih penting. Dengan bersungut-sungut, Danur Cakra keluar kamar. Membanting pintu dengan kasar.
"Dasar sinting!" umpat Suhita. Tanpa terbebani oleh sikap Danur Cakra, Suhita mengecek isi wadah makanan yang Danur Cakra bawa.
Suhita tersenyum, rupanya bubur kacang hijau. Begitu banyak hal-hal kecil yang Danur Cakra ingat. Membuat Suhita semakin yakin kalau Danur Cakra begitu menyayangi dirinya. Bicara sikap dan perlakuan, ya memang sudah bawaan lahir. Punya saudara mudah marah. Tapi jujur, Suhita begitu ketagihan membuat Danur Cakra kesal.
"Sari ... bubur kacang hijau nya, kau juga suka 'kan?" Suhita mengundang pelayannya untuk bantu menyantap makanan bergizi tersebut.
°°°
"Tidak, terima kasih. Aku baru saja selesai makan, aku masih kenyang," Kemuning menolak bubur kacang hijau yang Danur Cakra bawa.
"Kalau tidak mau sedikit, ya banyak, tidak masalah. Jauuuh aku beli ini khusus untukmu," ujar Danur Cakra merayu.
"Hehehe ... terima kasih. Aku baru tahu, ternyata jalan ke depan tembus dari arah sana, ya. Bangunan di sini dirancang begitu sempurnanya," Kemuning memandang ke arah Danur Cakra datang.
Sialan! Danur Cakra menelan ludah. Tidak disangka, kiranya sedari tadi gadis itu mengintip dari celah jendela, hingga dia bisa tahu kalau Danur Cakra datang dari arah kamar Suhita. Bisa juga caranya untuk membuli, Cakra bahkan tidak menduga. Lantas apa masalahnya? Apa Kemuning mengetahui sesuatu? Danur Cakra coba berpikir.
"A-ah ... ya aku, aku cuma mengirimkan bubur untuk Tabib Dewa dan pelayannya. Tidak salah 'kan, lagi pula mereka bersikap begitu baik pada kita," Danur Cakra coba membela diri. Meskipun dia tahu jika ada hal yang sengaja Kemuning coba ungkit.
"Tabib Dewa, cantik ya ... baik, berhati mulia, akan sulit menemukan wanita yang sepadan. Siapa pun yang bisa dekat dengannya pasti seorang yang beruntung. Lagi pula, siapa wanita yang berani bersaing dengan Tabib Dewa. Andai saja aku seperti dia ...." Kemuning menatap jauh ke luar jendela.
Ada yang tidak beres, Danur Cakra bisa menangkap dari getar suara yang terdengar. Kemuning seperti menahan suatu beban yang begitu berat. Rasanya tidak mungkin hanya karena dia cemburu pada nama besar yang orang-orang agungkan pada Tabib Dewa. Bukankah sejak lama dia sudah tahu semua itu?
"Emmm ... kau tahu, meskipun terkubur di dalam kubangan air limbah yang kotor dan bau serta tidak terlihat, tapi percayalah jika semua itu tidak melunturkan betapa berharganya sebutir mutiara. Bukan tempat dan keadaan di sekitarnya, melainkan mutiara itu sendiri yang berharga. Tiada apa pun yang bisa lunturkan semua itu."
Danur Cakra kemudian tertawa, dia mentertawakan Kemuning yang menatap heran padanya. Tidak peduli, apa yang dipikirkan gadis itu, yang jelas Danur Cakra memaksa untuk Kemuning mau membuka mulut untuk memakan sesuap bubur kacang hijau yang dia berikan.
Meskipun dengan terpaksa, mau tidak mau akhirnya Kemuning menelan sesuap bubur yang terlanjur masuk ke dalam mulutnya.
Kemudian Danur Cakra mengunyah satu sendok bubur, setelah beberapa lama dia tidak menelannya melainkan justru mendekatkan mulutnya pada Kemuning, memberi isyarat agar Kemuning membuka mulut.
"Apa?! Iiiihhh ...." Kemuning berontak, dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Meskipun Danur Cakra terus memaksa, tidak sedikit pun Kemuning memberi celah.
"Kau sudah gila? Bahkan nenek tua yang ompong pun bisa hanya sekadar makan bubur, aku bisa mengunyah sendiri," Kemuning menyerah.
Kemuning memilih untuk memakan sendiri bubur kacang hijau dari pada harus menyambut dari mulut Danur Cakra. Mungkin aktivitas itu mengasyikkan, hanya geli saja. Menang banyak si Cakra.
"Kenapa sebegitu jijiknya kau melihatku, atau memang kau hanya terpaksa selama ini berada dekat denganku?" ujar Danur Cakra, membuat Kemuning ternganga.
Nada bicara Cakra, menunjukkan seolah dia begitu terpukul, pesakitan, menjadi sosok tidak berguna yang tercampak layaknya daun setelah rintik hujan reda.
__ADS_1
"Cakra ... bukan itu maksudku. Jangan pergi, tunggu dulu, dengar penjelasan ku ..." Kemuning memeluk lengan Danur Cakra untuk tidak membuat Cakra berlalu.
Dan memang, habitat asli seekor buaya ialah di muara. Celakalah si anak kelinci yang salah tempat belajar renang.