
Bruuuk!
Puspita terjatuh setelah tidak mampu jaga keseimbangan. Tubuhnya tersungkur menimpa meja kecil yang sontak langsung berantakan.
"Jangan bergerak! Atau kau ingin anakmu celaka!" ancam seorang berandalan yang langsung menempelkan ujung pedangnya di leher Puspita.
"Ibuuu! Huuhuuhuu ..." tangis Suhita Prameswari tak terbendung lagi. Dengan mata kepalanya, dia menyaksikan berandalan kampung tersebut menjambak rambut ibunya dengan begitu kasar. Mereka juga menampar Puspita dengan sangat keras hingga darah mengalir dari sudut bibir indah itu.
"Hiiihhh!" Suhita menggigit lengan pria mabuk yang menggendongnya. Hingga dia bisa terlepas dan langsung berlari ke arah ibunya.
Plak! Plak!
Melihat Suhita berlari ke arahnya, Puspita menendang kepala orang yang mencengkeram rambutnya. Puspita meronta dengan keras hingga dia juga terlepas dari sanderaan. Seorang lagi yang mencoba menghalangi langsung Puspita hadiahi satu pukulan keras.
Craasshh! Akibat tindakan nekadnya, lengan Puspita terpaksa harus terluka saat dia nekad menerobos blokade yang dibuat para preman.
"Sayang ... kau baik-baik saja?" Puspita membopong anaknya dan memberikan perlindungan penuh pada sang tabib kecil. Tidak perduli dia harus kehilangan nyawa, asalkan anaknya selamat Puspita tidak perduli.
"Ibu ... huuhuuu ... Hita takuutt ..."
"Tenang, sayang. Kita akan baik-baik saja. Hita jangan menangis, ya," Puspita membelai rambut putrinya.
Puspita mencabik kain sutera indah yang dia pakai. Dia gunakan kain itu untuk mengikat lengannya yang terluka. Puspita sudah terbiasa akan rasa sakit, hingga bibirnya yang pecah bukanlah suatu beban.
Sementara itu, pemilik pondok yang merupakan masyarakat awam hanya bisa menangis menyaksikan tanpa tahu harus berbuat apa. Ketakutan semakin menjadi kala mereka melihat ada empat orang lagi yang datang menghampiri pondok. Dari pakaian yang melekat di tubuh mereka, nampaknya bukanlah utusan Tabib Surip melainkan anak buah Tabib Rawono, juga seorang tabib kesohor.
"Wah! Wah! Sepertinya kita keduluan, bos!" komentar seorang yang datang.
"Tapi lihat, lima cecunguk alas kaki Tabib Surip sungguh tidak berguna. Menghabisi seorang wanita saja masih harus menunggu kita. Hahaha!"
"Fuuiiihhh! Sebaiknya kalian jangan ikut campur. Ini adalah tugas kami, biar kami yang membereskan tabib busuk ini. Kalian pulang saja!" balas anak buah Tabib Surip.
Untunglah ada mereka. Dua kubu yang bertengkar itu ikut membantu perpanjang kesempatan untuk Puspita mengatur napas. Sudah delapan tahun Puspita tidak pernah melatih jurus silatnya, hingga gerakannya sangat kaku dan lamban. Badannya juga terasa sakit dan mudah capek. Ya, dia hanya seorang ibu rumah tangga, bukan lagi seorang pendekar.
__ADS_1
Bukan itu saja, selain Puspita, ada seorang lagi yang sejak tadi mengikuti langkah empat orang preman utusan Tabib Rawono. Orang itu mendekat dan dengan mata terbelalak menyaksikan orang yang dia cari ternyata ada di sana.
Tidak lain, tidak bukan. Orang itu adalah ayah dari tabib kecil yang nyawanya sedang terancam. Pendekar Elang Putih.
Tubuh Mahesa bergetar hebat melihat pemandangan di depan matanya. Tangannya terkepal dengan sangat keras hingga asap putih mengepul. Tidak pernah Mahesa semarah ini. Amarah yang meluap, emosi tidak tertakar lagi. Dalam sekejap mata, Mahesa bergerak seperti kilat dan telah berdiri di dekat anak dan istrinya.
"Kanda ..." Puspita langsung merapatkan tubuhnya pada sang suami. Begitu juga dengan Suhita Prameswari, anak itu memekik keras merasa bagai mimpi mendapati tiba-tiba saja ayahnya muncul.
"Sayang, maaf," Mahesa mengecvp kepala anak dan istrinya secara bergantian. Dia mengambil Suhita dari gendongan ibunya.
"Dinda, kau ... kau terluka?!" jantung Mahesa terasa seperti mau copot melihat kain pembalut lengan Puspita yang sedikit memerah karena darah.
Puspita memegang erat lengan Mahesa, memohon pada suaminya untuk tidak mempertontonkan pembantaian di depan putrinya yang masih kecil. Puspita bisa memahami kemarahan yang menggebu di dalam hati Mahesa. Dengan sekali serang saja, Mahesa pasti akan bisa menghabisi seluruh preman kampung itu.
Mahesa memejamkan matanya, mencoba menerima permintaan istrinya dengan hati lapang. Tapi ... tidak bisa! Mereka telah memperlakukan anak dan istrinya dengan begitu kasar bahkan hampir mencelakai. Mahesa tidak bisa terima semua itu. Dia cukup menjauhkan mereka dari hadapan Suhita, maka Mahesa kembali menjadi seorang pendekar.
Pria mabuk yang tadi menyandera Suhita begitu terkejut melihat tiba-tiba saja Mahesa muncul. Diam-diam dia jongkok dan memungut balok kayu di dekatnya. Kemudian mengayunkan balok kayu tersebut mengincar tengkuk Mahesa.
Tep! Wuusshh!
"Ah?!" tukang pukul yang hampir terlibat perkelahian menoleh ke arah yang sama. Mereka menyaksikan seseorang dilemparkan dengan begitu saja seperti melempar bantal.
Mereka saling bertukar pandang, sejak kapan ada seorang pria muda berpakaian bangsawan berdiri di sana?! Sedang menggendong anak kecil, apa mungkin dia yang melakukan. Tapi kalau bukan dia, lalu siapa lagi?
Diam-diam, Mahesa memutar pergelangan tangannya. Mengerahkan tenaga dalam berupa aura membunuh yang diarahkan pada kelompok preman kampung itu. Tingkat tenaga dalam yang tinggi, membuat sepuluh orang yang berdiri di tengah halaman itu bergetar ketakutan. Mereka hampir kehabisan napas, hingga tidak bisa menjawab saat Mahesa mengusir mereka semua. Para berandalan bayaran itu terbagi menjadi dua kubu, dengan sekuat tenaga mereka berusaha untuk secepatnya bisa pergi meninggalkan pondok. Rasa ketakutan yang mereka rasakan melebihi takutnya melihat hantu.
"Kanda, maafkan saya ..." Puspita tersedu, membenamkan wajahnya di pundak suami tercinta.
Mahesa tersenyum, dengan lembut dia memberikan pencerahan pada anak dan istrinya. Menguatkan hati mereka agar segera melupakan kejadian barusan.
"Hita, kau rawat ibumu dulu, ya. Bersihkan lukanya. Ayah akan ambil obat mujarab sebentar. Jaga ibu, ya," Mahesa bicara lembut pada anaknya.
Suhita Prameswari langsung menyanggupi. Dia meyakinkan ayahnya kalau kemampuan mengobatinya bisa diandalkan. Selain Puspita, tidak akan ada yang menduga jika Mahesa keluar bukan untuk cari obat melainkan untuk membalas dendam dan menghabisi para preman kampung yang tadi mengacau. Darah harus dibayar dengan darah. Satu kali mereka memukul Puspita, maka satu kali pula balasan yang akan Mahesa berikan.
__ADS_1
Dugaan Puspita tidak mungkin meleset. Hanya saja, dia tidak berani untuk melarang dan hanya tersenyum melepaskan kepergian suaminya meskipun dalam lubuk hati dia kurang setuju Mahesa terus mengotori tangan dengan darah preman kampung. Jangankan satu kali pukul, dengan petikan jari saja, Puspita yakin para preman itu tidak akan sanggup menahan pukulan Mahesa.
"Huuuhhh ... huuuhhh ... sialan! Siapa juragan muda itu?! Mengapa tiba-tiba saja muncul dan kita seperti mau mati?" seorang preman bertanya pada pria mabuk yang merupakan anak pemilik pondok yang sedang Suhita obati.
"Kakak, aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja dia melemparkan tubuhku, untung saja pinggangku tidak patah."
"Lalu, bagaimana ini? Kita tidak mungkin pulang dan melaporkan kegagalan ini pada Tabib Surip, bisa-bisa habislah kita," wajah mereka nampak panik.
"Tidak perlu risau! Aku akan bantu ringankan beban kalian. Aku pastikan, kalian mati tanpa rasa sakit!"
Sungguh mereka terkejut. Entah kapan datangnya, tiba-tiba saja Mahesa sudah berdiri menghadang jalan mereka.
"Semut-semut kecil, berani sekali membuat masalah di tengah lautan. Aku akan menutup kisah kalian hari ini," ucap Mahesa seraya berbalik badan. Menatap dengan penuh kebencian membara.
"Kurang ajar! Kau pikir, kami tidak akan melawan?! Serang dia!" serentak mereka menghunus senjata dan menyerang Mahesa.
Mahesa tersenyum masam, kemudian menyambut serangan mereka dengan tangan kosong. Gerakan Mahesa yang amat cepat membuat lawan-lawannya tidak sempat mengayunkan pedang, Mahesa keburu tiba dengan pukulan yang bertenaga dalam.
Plak! Bugh! Desh!
Kepalan tangan Mahesa menyambar tubuh orang-orang itu hanya satu kali. Tapi cukup untuk menghancurkan dada dan organ dalam mereka tanpa ampun. Jantung yang hancur membuat darah tidak terpompa ke sekujur tubuh melainkan keluar melalui mulut mereka. Sangat mengerikan menyaksikan darah segar itu mengucur seperti air pancuran.
Terakhir, pria mabuk yang melaporkan keberadaan Suhita. Mahesa tidak menghantam dadanya, melainkan melompat ke udara, kemudian meluncur turun dengan telapak tangan terbuka menghantam kepala orang itu hingga sekujur tubuhnya hancur berkeping-keping. Tersembur, berserakan tidak karuan.
Sebelum pergi, Mahesa memetikkan jarinya. Memunculkan api dari tenaga dalam Tapak Naga, membakar hangus jasad mereka, menghilangkan jejak.
Tidak cukup itu saja, Mahesa kembali melesat dan mengejar empat preman lain yang dia ikuti. Tukang pukul suruhan Tabib Rawono itu pasti akan membuat masalah jika tidak sekalian dibereskan.
"Kenapa terburu-buru? Pintu neraka itu bisa dimasuki dari mana pun kau melepaskan nyawa!" Mahesa mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, menghentikan langkah empat preman yang berlari ketakutan.
Preman itu malah semakin ketakutan. Bukannya berhenti, Mereka justru semakin mempercepat ayunan kaki mereka. Mereka sudah menduga jika Mahesa akan mengejar, tapi tidak menduga kalau kecepatan meringankan tubuh pemuda itu sangat di luar nalar. Mereka tidak ingin dihabisi, makanya terus berlari dengan kencang.
Mahesa tersenyum sinis, kepalanya menggeleng berulang kali, sebelum kemudian mengayunkan tangannya yang terangkat dengan cepat. Bersamaan dengan itu, puluhan tombak es meluncur mengejar tubuh para preman tanpa harus Mahesa mendekat.
__ADS_1
Tanpa bisa negosiasi, tubuh keempat preman kampung suruhan Tabib Rawono tersungkur dan membeku saat punggung mereka tertembus oleh tombak es. Tubuh itu akan mencair bersama balok es setelah cukup cahaya matahari memanaskan.