
"Pelayan, tolong bungkus beberapa makanan yang cocok untuk dua hari perjalanan," Mahesa mengangkat kepeng uang emas pada pelayan kedai.
Kontan saja, pelayan yang semula hendak mendatangi pengunjung lain berbelok dan mendahulukan Mahesa.
Suhita menelan ludah, inilah kenapa salah satu faktor orang-orang sering kali terlibat keributan di sebuah kedai. Mengapa juga tidak membudayakan antri, semua orang juga sama ingin cepat dilayani. Suhita menekan semuanya di dalam hati. Dia bersikap seolah tidak perduli atas sikap ayahnya. Lagi pun orang-orang tidak protes jika semua berhubungan dengan uang.
"Ambil saja kembaliannya, aku tunggu di kuda. Tolong sedikit bergegas, kami takut kemalaman di jalan," lanjut Mahesa pada pelayan kedai.
"Ayo Hita, benahi barangmu. Kita lanjutkan perjalanan," Mahesa mengulurkan tangannya pada Suhita, menggandeng sang putri untuk keluar dari kedai. Mengabaikan segenap pandangan orang yang melirik pada mereka.
"Tuan, ke mana tujuan Tuan. Mengapa buru-buru sekali?" sapa ramah seorang pendekar dengan pedang di punggung. Nampaknya orang itu pun sedang dalam perjalanan.
"Kami baru kembali menonton kompetisi di kota Giling Wesi. Takutnya gelap telah datang sebelum kami mencapai tepi Hutan Jati," dengan ramah pula Mahesa menjawab sapaan pendekar yang tidak dia kenal itu.
"Ah, hutan jati?! Tanpa pengawalan?!" pendekar itu mengerutkan dahi.
"Kami sudah terbiasa, Tuan. Terima kasih, akan tetapi tidak ada kera yang takut ketinggian pohon," Mahesa tersenyum lebar. Kedua tangannya disatukan di depan dada, seraya membungkuk mohon diri.
__ADS_1
Melihat Mahesa membungkuk, Suhita mengikuti ayahnya. Dia melakukan hormat layaknya seorang pendekar.
"Ah, Tuan pendekar. Maaf, tapi kami harus segera pergi. Sampai jumpa lagi," Mahesa menyampaikan salam perpisahan karena bekatik kuda dan pelayan kedai telah menyiapkan kuda dan perbekalan yang Mahesa pesan.
Kuda terbaik dengan harga yang sangat fantastis, tidak masalah jikalau pun harus menempuh perjalanan dua hari dua malam tanpa henti. Dan sekarang hanya berjalan setengah hari dan kembali beristirahat, tentu kondisi kuda benar dalam keadaan prima. Tanpa keluhan, kuda dengan bulu berwarna cokelat kehitaman itu kembali meluncur dengan menggendong Mahesa dan Suhita.
"Ayah, nanti Hita juga ingin belajar cara menunggang kuda seperti ayah. Hita ingin kuda terbaik, seperti ini," seru Suhita pada ayahnya.
Mahesa meng-iyakan setiap keinginan putrinya. Lagi pula, semua yang Suhita inginkan tiada yang namanya kesia-siaan. Bahkan itu semua adalah kebutuhan. Mahesa tahu bagaimana nanti kedepannya jika Suhita telah tumbuh dewasa. Dia sangat memerlukan semua itu. Meskipun kenyataannya Suhita tidak akan tumbuh menjadi seorang pendekar seperti yang pernah Mahesa mimpikan, akan tetapi menjadi tabib besar pun tidak kurang harus kuasai kemampuan pendekar. Karena pasti nantinya banyak pendekar jahat yang iri dan ingin mencelakai.
"Hita, ayah harap sekarang kau mengerti mengapa sejak lama ayah begitu keras padamu. Bahkan meminta ibumu untuk membujuk agar kau mau belajar kemampuan yang ayah miliki. Bagaimana hidupmu, kaulah sendiri yang menentukan. Akan tetapi jika bicara keselamatan, ayah tidak bisa tetap harus diam," akhirnya Mahesa mengungkapkan unek-unek di dalam hatinya. Selama ini, dia tidak pernah memaksa Suhita untuk belajar. Paling-paling ibunya saja, Puspita yang sering terkena imbas saat Mahesa kesal.
PLAAAKKKK !!! Seperti satu tamparan keras yang menghantam wajah Mahesa. Jika saja Suhita bisa melihat bagaimana merahnya pipi Mahesa saat itu.
Setelah hampir sepuluh tahun usia Suhita, hari itu adalah kali pertama mereka menghabiskan waktu benar-benar hanya berdua saja. Kedua anak dan ayah yang sedikit berbeda cara pandang tersebut belajar untuk saling memahami satu sama lain. Mahesa mengerti, bagaimana lelahnya Puspita jika harus dihadapkan dengan pola pikir anak mereka. Sementara selama ini, Mahesa tidak mau tahu dan kerap menindihkan tanggung jawab pada Puspita. Dalam diam, Mahesa merasakan jika dia telah melakukan dosa besar pada istri yang sangat mencintai dan dicintainya itu.
"Ayah, mengapa ayah diam. Apa ayah kangen ibu?" ditambah dengan pertanyaan Suhita itu, membuat dada Mahesa semakin riuh berdebar. Tidak ditampiknya, jika satu-satunya wanita yang paling mengerti Mahesa selain ibunya ialah Puspita. Bekas pelayannya dulu yang sekarang telah memberikan sepasang putra dan putri untuknya.
__ADS_1
"Kau jangan khawatir, ayah selalu kirim pesan pada ibu. Kau tahu 'kan, Si putih bisa diandalkan," dari belakang, Mahesa mengecvp kepala belakang anaknya yang duduk berkuda dengannya.
Suhita tertawa kecil. Dia mengangguk berulang kali. Hatinya merasa tenang meskipun hanyalah kebohongan yang Mahesa ucapkan. Semenjak pergi, belum satu kali pun Mahesa mengirim kabar. Nanti, saat istirahat dia akan meminta Si Putih untuk benar-benar mengirim pesan kepada istrinya yang cemas menunggu di rumah.
Untuk mengalihkan perasannya yang mulai terombang-ambing, Mahesa memilih untuk mengajak Suhita membahas tentang tanaman obat dan sumberdaya. Mereka sama-sama kuasai kemampuan pengobatan, meskipun Suhita lebih mendalami tapi Mahesa tentu bisa saling berbagi pengalaman. Obrolan antara senior dan junior, pastinya akan membuat beberapa hal bisa terpecahkan. Hingga akhirnya kuda yang mereka tunggangi membawa keduanya mencapai tepian Hutan Jati. Hutan lebat dengan tumbuhan pohon jati yang dominan. Mahesa mengajak Suhita untuk beristirahat dan membersihkan diri di sungai yang mengalir di sana. Bersama dengan anaknya, pejalan Mahesa begitu banyak berubah. Dia tidak lagi menjadi pendekar tulen yang hanya berjibaku dengan misi dan misi tanpa menghiraukan kesehatan dan kebersihan.
Setelah Suhita selesai mandi dan berganti pakaian, Mahesa telah menyalakan api dan menunggu putrinya untuk menikmati roti yang tadi dibawa.
"Hah? Ayah sudah mandi ya, cepat sekali," Suhita mencolek pakaian ayahnya yang telah berganti.
Mahesa tidak menjawab dan hanya tertawa kecil. Dia sibuk mempersiapkan untuk putrinya mengisi perut, "sudah, jangan banyak cerita dulu. Sekarang ayo habiskan roti ini. Kalau sehat, itu baru namanya anak ayah."
Suhita duduk di samping ayahnya. Dengan manja, dia menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah. Seharian menempuh perjalanan dengan kuda yang berlari amat kencang, membuat tubuh Suhita terasa lelah. Setidaknya bahu sang ayah merupakan tempat yang paling nyaman Suhita rasakan untuk melepas penat dan lelah.
Mahesa tersenyum lebar namun kecut. Terasa betapa besarnya keangkuhan yang selama ini membelenggu hatinya. Miliki dua orang istri, tiga orang anak. Tapi Mahesa tidak begitu perhatian terhadap anak-anaknya. Terutama Suhita. Satu-satunya anak yang hidup bersamanya dan Puspita. Di bawah bimbingannya, dan mendalami ilmu tenaga dalam sepenuhnya dari dirinya. Harusnya Mahesa bisa lebih perhatian atas segala-galanya. Bukan hanya mengajari kemampuan bela diri semata, melainkan perhatian dan kasih sayang sebagai seorang ayah.
"Sayang, kau beruntung. Ah, tidak. Aku yang sangat beruntung. Bisa miliki seorang istri yang begitu baik dan mampu membina pribadi anakku dengan begitu sempurna. Hingga Hita tumbuh menjadi seorang anak yang amat membanggakan," Mahesa memeluk Suhita dengan hangat. Dekapan seorang ayah terhadap anak kesayangannya.
__ADS_1
Senja itu, suasana terasa begitu indah. Bias sinar jingga yang mengambang di ufuk barat, penuh dengan kehangatan.