
Tidak lagi bisa bangkit, tapi keempat mahluk hitam penjaga pintu gua masih memiliki kesempatan untuk menghela napas, membuat nyawa mereka tidak pergi meninggalkan jasad. Tubuh mereka kaku dan tidak bisa digerakkan, dengan sebagian besar telah terbungkus kristal es yang amat dingin.
Dengan membawa Suhita, Mahesa melangkahi tubuh mahluk seram tersebut. Tanpa perduli erangan kesakitan yang terlontar dari mulut mereka.
"Ayah, mana pintu guanya, sejak tadi Hita tidak lihat apa pun," Suhita celingukan. Bukankah tadi ayahnya yang mengatakan jika mahluk mengerikan tadi adalah penjaga pintu gua.
"Itu, di depan," jawab Mahesa singkat. Dengan tangan mengibas ke arah yang dia maksud.
Setelah berkedip, Suhita begitu terkejut karena tiba-tiba di depan mereka telah terlihat sebuah lubang gua yang cukup besar. Namanya juga gua siluman. Wajar saja jika akan sukar untuk ditemukan.
"Gua ini hanyalah gua biasa, sama seperti gua pada umumnya. Terbentuk di celah tebing dengan bebatuan keras di sekitarnya. Hanya saja, mereka yang menempati gua bukanlah manusia, hingga mereka miliki kemampuan untuk menyembunyikan gua dari penglihatan orang umum," papar Mahesa.
Ada pun tujuan kedatangan mereka hanya sekadar untuk bertanya mengenai kisah bibit Teratai Berduri yang sedang Suhita cari. Syukur-syukur jika ditemukan sumberdaya lain di dalam sana. Mahesa menilai jika kelompok siluman di sana mengerti banyak tentang sumberdaya langka. Itu disebabkan karena sudah beberapa kali mereka terlibat konflik terutama saat Mahesa masih aktif di Organisasi Naga Emas sebagai Bayu Samudera dahulu.
"Yah ... mereka ..." Suhita menunjuk ke arah beberapa siluman yang muncul di kelokan gua.
"Jangan takut, mereka tidak bermaksud jahat," Mahesa menenangkan Suhita.
Meskipun wajah para siluman itu terlihat sangat kejam dan penuh kebencian, nyatanya mereka menundukkan kepala ketika Mahesa dan Suhita tiba.
"Bukankah kalian pernah berjanji untuk tidak mengacaukan tempat kami lagi?! Sekarang apa?!" seorang pria dengan jubah putih bertanya. Tubuhnya masih membelakangi Mahesa.
"Aku datang secara baik-baik, mengajak muridku untuk melihat-lihat tanaman obat yang kalian punya. Bukan salahku jika pengawalmu bertindak tidak sopan," ucap Mahesa, seraya melangkah melewati para siluman yang berdiri di kiri dan kanan jalan.
__ADS_1
Siluman yang ada di dalam sana, bentuk tubuhnya serupa dengan manusia hanya saja ekspresi wajah yang begitu datar.
Pria berjubah putih melangkah semakin memasuki gua. Diikuti oleh Mahesa dan Suhita. Mereka terus berjalan hingga entah berapa lama waktu yang terlewat. Yang jelas, ketika Suhita menyadari jika ruangan yang mereka tuju sangatlah luas. Itu tidak seperti gua, melainkan kediaman yang juga dilengkapi dengan taman bunga dan berbagai tumbuhan berkhasiat obat.
"Apa yang kau butuhkan?" tanya pria berjubah putih pada Suhita.
Suhita tidak langsung menjawab, dia menoleh ke arah Mahesa. Meminta bantuan kata, bahwa Hita harus menjawab apa atas pertanyaan itu.
Mahesa mengangguk, menyetujui apa pun yang akan Suhita katakan.
"Emmm, Tuan. Seorang pasien saya sedang sakit keras akibat racun. Dan saya membutuhkan tanaman yang merupakan awal mula racun itu berkembang. Bunga Teratai Berduri," jawab Suhita.
Pria berjubah putih terlihat kaget bukan kepalang. Dia menatap ke arah wajah Suhita dan Mahesa secara bergantian. Terus terang, Suhita sendiri belum pernah melihat bagaimana bentuk tanaman yang dinamakan Teratai Berduri. Hingga dia tidak bisa menebak apakah ada atau tidaknya sumberdaya yang dia cari di tempat itu.
"Benarkah?! Apa aku bisa meminjam kitab yang kau maksud. Tidak lama, aku hanya butuhkan di sini dan tidak di bawa pulang."
Lagi-lagi ekspresi wajah pria berjubah putih kembali berubah. Permintaan yang Mahesa buat sungguh membuatnya pusing kepala. Jika tidak dituruti, lantas apa yang bisa mereka lakukan jika Mahesa tetap memaksa. Yang ada, hanyalah kehancuran. Kekuatan pendekar itu tidak seperti manusia pada umumnya.
Nyi Nilam Sari, pimpinan kelompok siluman itu muncul dari balik pintu. Dengan diiringi beberapa orang pengawal berperawakan besar. Wanita paruh baya itu menatap penuh perhatian kepada dua orang manusia yang bertamu ke tempatnya.
"Tuan Pendekar, selamat datang. Jika tidak keberatan, izinkan saya untuk menjamu kalian terlebih dahulu. Mari silahkan ikuti kami," dengan penuh hormat Nyi Nilam Sari mengundang Mahesa.
Mahesa menyatukan kedua tangannya di depan dada, diikuti Suhita mereka membungkuk memberi salam.
__ADS_1
"Terima kasih, Nyai. Akan tetapi ada hal penting lain yang ingin kami ketahui. Dan kau pun pastinya sudah tahu, aku rasa tidak perlu untuk aku mengulangi tujuan kedatangan kami."
Nyi Nilam Sari menghela napas panjang. Sebelum kemudian mengangguk lemah. Dia melirik ke arah pria berjubah putih dan para pengawalnya. Tanpa perintah langsung, mereka bergegas meninggalkan tempat itu.
Sekarang hanya ada Mahesa, Suhita dan Nyi Nilam Sari yang berdiri di dalam ruangan yang cukup besar itu. Beberapa saat lamanya, mereka hanya diam seraya memandangi tanaman berkhasiat obat di pelataran yang tertata.
"Kau datang atas nama Organisasi Naga Emas atau dengan kepentingan pribadi?" tanya Nyi Nilam Sari kemudian.
"Aku datang demi dia. Muridku yang berkepentingan denganmu. Aku harap, kau anggap dia sebagaimana adanya diriku," ucap Mahesa seraya menunjuk pada Suhita.
Nyi Nilam Sari memandangi Suhita dari ujung rambut hingga ujung kaki, dengan penuh perhatian dan tatapan dalam. Hingga pada akhirnya seutas senyum tersungging di bibirnya setelah mereka bersalaman.
"Tabib Dewa. Suatu kehormatan jika aku diperkenankan untuk membantumu," ucap Nyi Nilam Sari.
"Nyi Nilam, sekarang kau tahu bukan apa yang harus kau lakukan. Aku harap kau tidak berkeberatan," Mahesa kembali menghaturkan hormat.
Nyi Nilam Sari tersenyum tipis. Dia mengangguk lalu kemudian mengajak Suhita untuk pergi bersamanya, dia akan membantu semampu yang dia bisa. Bukan karena pengaruh Mahesa atau yang dikenalnya dengan nama Bayu Samudera dari Organisasi Naga Emas, akan tetapi karena Nyi Nilam Sari tahu dia sedang bersama dengan seorang tabib masa depan.
Suhita menoleh pada Mahesa, memohon izin untuk pergi.
"Ya, hati-hati. Aku akan menunggu di sini," jawab Mahesa dengan senyum penuh keyakinan.
Sebenarnya muncul banyak pertanyaan dalam benak Suhita, mengapa Mahesa tidak pergi menyertainya. Malah memilih untuk menunggu di tempat itu. Namun, di sisi lain Suhita juga harus lebih percaya pada diri sendiri dan tidak harus mengandalkan ayahnya. Mungkin, hal itulah yang sekarang ditanamkan oleh Mahesa. Berdiri di kaki sendiri, tidak tergantung kepada orang lain.
__ADS_1
Suhita mengikuti langkah Nyi Nilam Sari menuju ruangan yang terdapat banyak jenis buku. Dia akan meminjamkan kitab yang membahas mengenai tanaman langka Teratai Berduri.