Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Malaikat Penolong Tepat Waktu


__ADS_3

Raka Jaya menghela napas sejenak, sebelum kemudian dia melompat menyambut serangan lawan-lawannya. Gerakan mereka sangat gesit dan juga terarah, jelas menandakan jika kesemuanya merupakan para pendekar yang miliki kemampuan tingkat tinggi.


Seandainya saja kondisi fisik Raka sedang dalam kondisi prima, tentu tidak begitu sulit untuk bisa meladeni permainan pedang mereka. Akan tetapi saat rasa sakit kembali melilit perutnya, konsentrasi Raka Jaya seketika buyar. Dia harus membagi kekuatan tenaga dalamnya, untuk meladeni lawan dan juga separuh lainnya untuk menahan rasa sakit. Sungguh, membuat Raka Jaya berada pada posisi yang amat sulit.


"Hahaha!" Muning Raib tertawa penuh kemenangan. Sudah jelas, tidak lama lagi anak buahnya akan mampu meringkus Raka Jaya.


Pedang emas milik Jenderal Muda terus berkelebat dengan api yang menyala. Akan tetapi ketiga lawannya juga miliki kemampuan olah kanuragan yang hampir setara, hingga tidak terlampau sulit bagi mereka bertiga untuk menghindari setiap serangan yang dibangun kian tidak bertenaga.


"Ah, sialan! Rencana mereka sungguh berjalan mulus. Aku sungguh tidak menyangka jika air di padang tandus itu mengandung racun yang ganas. Lalu, bagaimana dengan keadaan Ibu sekarang?" batin Raka Jaya.


Saat itulah satu kesempatan digunakan dengan sebaik-baiknya oleh lawan. Raka Jaya tidak bisa menghindari saat satu pukulan menghantam tubuhnya dengan telak.


Bruuuk! Seketika tubuh Raka Jaya jatuh tersungkur, pedang emas di tangannya sampai terlepas.


Rasa sakit yang mendera Raka bukan sekadar akibat pukulan. Akan tetapi, sakit yang melilit di perutnya terasa lebih menyiksa.


Maka demikianlah, Raka Jaya hanya menjadi bulan-bulanan lawan. Dia hanya bisa bertahan, tanpa mampu membalas barang satu kalipun. Air yang dia konsumsi dari sungai itu telah berhasil membuat Raka Jaya mati kutu.


"Hahaha! Inikah putra Elang Putih yang kesohor itu?! Sungguh memalukan, sangat tidak punya harga diri. Aku yakin, Elang Putih akan kehilangan muka jika melihat kondisi anak tunggalnya!" Muning Raib tertawa dengan lepas, sungguh suatu kebanggaan tersendiri bagi dirinya. Dengan demikian, dia bisa membalaskan rasa sakit hatinya pada Elang Putih.


"Fuuiiihhh! Jangan bicara harga diri. Kalianlah yang tidak tahu malu, tidak punya muka. Jika saja tidak gunakan racun, apa kalian yakin akan bisa untuk hadapi aku?" Raka Jaya balas mengejek. Sungguh dia tidak terima karena Muning Raib membawa-bawa nama ayahnya.


"Coba kalian berkaca, lihatlah ... kulit tua kalian itu, ciiihhh! Aku kira keriput karena pengalaman, tapi kiranya hanya tua kejemur!" Raka Jaya terus neyerocos, balas merendahkan lawannya.


"Anjing geladak! Sudah mau mati masih bisa menggonggong. Aku mau lihat, sejauh mana kau bisa bertahan!" dengan gigi gemertukan seorang pendekar datang mendekati Raka Jaya dengan pedang terhunus.


Raka Jaya segera menyambar pedangnya yang tergeletak di atas tanah. Setelah istirahat sebentar, dia merasakan jika perutnya tidak terasa begitu sakit. Dengan demikian, Raka Jaya bisa gunakan sisa tenaga dalamnya untuk digunakan untuk melakukan gerakan jurus pedang.


Crasss! Karena tidak menduga, pendekar yang datang menghampiri Raka Jaya tidak sempat untuk menghindar. Ujung pedang emas berhasil menggores pahanya.


"Jaha*nam!" dengan kemarahan tingkat dewa, orang itu langsung menggempur Raka Jaya dengan segenap kemampuan.


Alhasil, Raka Jaya kembali terpojok. Dia tidak bisa bertahan lebih dari lima jurus, setelah itu dia kembali menjadi bulan-bulanan. Membuat darah menetes membasahi pakaiannya.


"Cukup! Hentikan!" Muning Raib berteriak lantang.


Seketika tiga orang anak buahnya berhenti memukul. Sejenak membuat Raka Jaya bisa bernapas, meskipun semakin tidak berdaya karena rasa sakit telah mendera di sekujur tubuhnya. Raka sangatlah tidak menduga jika hidupnya harus berakhir dengan cara yang sehina ini. Kalah, tidak berdaya, diinjak seperti sampah di tepi jalan.


"Kita masih membutuhkan dia. Siapa tahu tubuhnya bisa berguna, mungkin juga kedua orangtuanya masih inginkan anaknya hidup. Hahaha! Kita bisa gunakan anak tidak berguna ini!" Muning Raib menginjak kepala Raka Jaya seraya tertawa dengan lepas.

__ADS_1


Tiga anak buah Muning Raib segera mengambil tali, bersiap untuk mengikat Raka Jaya dan menjadikannya tawanan untuk nanti digunakan sebagai alat penekan dalam menghadapi Elang Putih.


BAAMMM !!! BAAMMM !!! Beberapa ledakan terjadi di sekitar lokasi, gundukan tanah seketika menggunung melindungi tubuh Raka Jaya.


Sebelum tiga pendekar anak buah Muning Raib menghalau serangan tersebut, muncul bayangan seekor naga berwarna hitam yang menghantam ke arah mereka.


Serangan yang sangat tiba-tiba itu tentu tidak bisa diantisipasi dengan baik. Terpaksa ketiga pendekar itu menghindar, melompat cukup jauh. Mereka meninggalkan tubuh Raka Jaya yang tergeletak di bawah perlindungan tanah.


"Kepa*rat! Siapa kalian?!" Muning Raib yang baru saja hendak berlalu, seketika langsung kembali berbalik badan. Serangan yang begitu berenergi, sungguh tidak bisa ditebak siapa pendekar yang membantu Raka Jaya.


Muning Raib menatap tidak berkedip, matanya mengawasi secara seksama pada tiga orang yang mendarat di dekat Raka Jaya. Dan seketika itu juga, gundukan tanah yang melindungi Raka Jaya kembali pada bentuk normal.


Tapak Naga Bumi, Muning Raib mengenali jurus tersebut. Hanya saja dia terheran-heran karena sosok yang datang bukanlah Mahesa ataupun Raditya. Setahu Muning Raib, tidak ada orang lain yang kuasai kemampuan Sepuluh Tapak Penakluk Naga kecuali Elang Putih dan Ayahnya. Bahkan putra Elang Putih (Raka Jaya) tidak miliki kemampuan itu. Justru dia cenderung terbina sebagai anak didik Padepokan Api Suci.


Lalu, siapa mereka yang datang? Salah satu dari mereka yang menunjukkan Tapak Naga Bumi, atau mungkin hanya kebetulan saja?!


"Apa mungkin, Jenderal idiot itu yang melakukannya?" Muning Raib menduga-duga. Kerut di wajahnya bertambah berkali lipat.


Rata-rata usia mereka yang datang tidak berbeda jauh dengan Jenderal Muda. Seorang pria dan dua lagi merupakan gadis muda yang cantik-cantik. Mereka tidak lain ialah Danur Cakra, Suhita dan Kencana Sari. Beruntung mereka tiba tepat waktu. Jika tidak, entah apa yang terjadi pada Raka Jaya.


"Sari, cepat bantu Jenderal Muda. Kondisinya sangat lemah!" ucap Suhita.


Sementara itu, mata Danur Cakra telah berubah menyala merah. Dia bisa mendengar apa yang tadi diucapkan oleh Muning Raib dan anak buahnya. Jelas saja, kemarahan Danur Cakra terpatik dan menyala sampai ke ubun-ubun.


Belum juga bibir Cakra tertutup dengan sempurna, serangannya telah dibangun. Begitu banyak mata tombak yang melayang di udara, beserta angin kencang yang membentuk pusaran kegelapan. Danur Cakra menyerang tiga orang anak buah Muning Raib dengan sungguh-sungguh. Dia akan membalas tunai atas apa yang dilakukan mereka pada Raka Jaya.


"Hati-hati, pendekar ini bukanlah pendekar sembarangan. Aku merasakan aura hitam yang amat pekat menyelimuti sekujur tubuhnya," seorang dari tiga orang itu berkata.


Dengan segera mereka mempersiapkan kemampuan tenaga dalam terbaik yang mereka punya. Tidak bisa lengah sedikit, maka nyawa yang menjadi taruhan.


Waktu berikutnya, pertempurannya tingkat tinggi segera terjadi. Danur Cakra menggunakan jurus Sepuluh Tapak Naga yang telah dirubah identitasnya menjadi jurus Naga Kresna. Satu kemampuan yang baru, tanpa seorang pun pendekar senior yang mengetahuinya meski bagaimanapun luasnya pengetahuan mereka.


Tidak ubahnya dengan Muning Raib, tangan kanan Raja Iblis dari Lereng Utara itu sama sekali belum pernah melihat kemampuan tenaga dalam yang digunakan oleh Danur Cakra. Dalam waktu yang berdekatan, Muning Raib dikejutkan oleh dua kejadian sekaligus. Setelah Tapak Penakluk Naga yang tiba-tiba muncul, dan sekarang ada lagi kemampuan Naga Kresna. Benarkah Raditya dilindungi oleh para dewa?


Sejak masih muda, Raditya merupakan seorang pendekar selatan yang istimewa. Hingga kemudian menikah dengan gadis utara. Bahkan kutukan para leluhur mereka yang menentang hubungan utara dan selatan kala itu, sama sekali tidak berlaku pada Raditya. Dan sekarang, setelah di usia yang keseratus tahun, saat seorang cucunya sudah di tangan dan akan digunakan untuk meneror, ada-ada saja halangan yang menggagalkan.


Muning Raib hanya bisa mendongkol dalam hati, dia sendiri belum begitu yakin jika dia akan keluar sebagai pemenang bila berhadapan satu melawan satu dengan Tapak Penakluk Naga. Sementara Raja Iblis, belum bergerak saat ini.


Sesuai rencana, Raja Iblis dan rombongan akan menunggu di perbatasan Kota Bukit Hijau. Sementara, Muning Raib ditugaskan untuk meringkus Raka Jaya dan Nyai Parang Awi akan menangkap Dewi Api. Dalam kondisi yang sakit akibat mengkonsumsi air di padang tandus tanpa dimasak, harusnya bukan merupakan hal sulit untuk melakukan tugas itu. Dalam belasan jurus saja, ibu dan anak yang isi perutnya sudah terkuras akan bisa diringkus dengan mudah. Karena semakin sering gunakan tenaga dalam, maka akan semakin cepat mereka roboh.

__ADS_1


"Bang*sat! Apa yang harus aku lakukan sekarang?! Semoga saja, Nyi Parang Awi berhasil dengan mudah."


Melihat Muning Raib yang hanya diam terbengong, membuat Suhita mengurungkan niatnya untuk melakukan serangan. Waktu yang berharga itu dia gunakan untuk memeriksa kondisi Raka Jaya. Dia harus segera melakukan pertolongan pertama, paling tidak untuk hilangkan rasa sakit yang amat menyiksa Raka.


"Hita, Jenderal Muda alami dehidrasi parah. Dia kehilangan banyak cairan, hingga kondisinya semakin memburuk dengan ditambah pukulan yang ia derita," jelas Kencana Sari.


Suhita mengangguk, dia menekan beberapa titik meridian di tubuh Raka Jaya. Sementara untuk menawarkan racun yang menguras perutnya, Suhita meminumkan Gingseng Seribu Nyawa. Sumberdaya langka itu pasti akan bekerja dengan cepat. Membuat Raka Jaya kembali miliki tenaga, untuk kemudian bisa lakukan penyembuhan dengan gunakan teknik pernapasan tenaga dalam.


Air di padang tandus pada dasarnya tidak mengandung racun. Dengan kata lain tidak ada orang yang dengan sengaja menaruh racun untuk meracuni Dewi Api dan Raka Jaya. Akan tetapi, sungai kecil itu menerima kutukan dewa yang membuat siapa pun yang meminum airnya tanpa lebih dulu direbus, maka seluruh isi di dalam perutnya akan terkuras habis. Dan tidak akan berhenti kecuali dengan meminum kembali air yang sudah di masak. Sebenarnya obatnya tidak sulit, hanya saja keterbatasan pengetahuan membuat semuanya jadi sulit.


Dengan mengkonsumsi Gingseng Seribu Nyawa, setidaknya sumberdaya itu akan menahan segala rasa sakit hingga nanti airĀ  sungai itu selesai dimasak. Raka Jaya akan sembuh, karena efek racun menjadi tawar akibat kemampuan sumberdaya.


Suhita kembali mengangkat kepalanya, dia melihat jika Muning Raib masih berdiri menonton pertarungan Danur Cakra dan ketiga anak buahnya. Pria tua itu tidak bergerak membantu, dan nampaknya dia hanya sedang mempelajari kemampuan yang Danur Cakra gunakan menggebuk ketiga anak buahnya.


Tidak meleset, perkiraan Suhita sangat tepat. Lebih tepatnya Muning Raib sedang terpana dan terheran menyaksikan gelombang energi yang Danur Cakra gunakan. Dalam setiap serangan, Muning Raib menemukan adanya napas kemampuan Tapak Naga akan tetapi yang terwujud merupakan hal yang berbeda. Energi yang Danur Cakra gunakan cenderung diliputi oleh energi hitam. Jelas dia bukanlah pendekar aliran putih.


"Siapa anak muda ini, siapa gurunya?" terlalu lama Muning Raib dan kelompok Lereng Utara menutup pergaulan ke dunia luar membuat mereka ketinggalan informasi mengenai perkembangan dunia persilatan dewasa ini. Bahkan dengan munculnya satu kekuatan hitam yang amat besar sekalipun, mereka sampai tidak tahu.


Muning Raib menyaksikan tiga anak buahnya yang merupakan para pendekar tingkat tinggi satu persatu dihajar oleh Danur Cakra. Terlihat jika Cakra sangat menikmati pertarungan. Ah, tidak. Dia justru menikmati pembantaian. Setiap tetes darah lawan yang keluar memberikan rasa kebanggaan tersendiri di dalam hatinya. Senyum puas akan mengembang saat lawan melolong kesakitan. Jelas-jelas itu bukanlah sifat seorang pendekar aliran putih. Muning Raib menyesal, harusnya mereka tahu sejak awal dan berniat untuk merekrut Cakra menjadi anggota mereka. Untuk membalas dendam pada Raditya.


"Tidak! Aku tidak boleh terlibat pertarungan dengannya. Mana tahu ada jalan untuk bisa gunakan pemuda ini," Muning Raib sedikit gentar, akan tetapi yang lebih utama ialah rencana yang bakal dia ajukan pada Raja Iblis dan anggota Lereng Utara yang lain.


Muning Raib mundur, dia berusaha untuk kabur tanpa diketahui. Akan tetapi rencananya tidak berjalan mulus, karena mata Suhita terus menerus memantaunya.


Sebongkah batu besar menghadang jalan yang akan dilalui oleh Muning Raib. Begitu juga dari arah belakang, tanah yang semula datar mendadak berbentuk seperti kerangkeng yang mendekat dan hendak mengunci tubuh Muning Raib di dalamnya.


Suhita menepuk tanah dan mencoba menggunakan Tapak Naga Bumi untuk mengurung Muning Raib. Hita tahu tua bangka itu akan melarikan diri. Makanya dia segera bertindak.


Sama sekali tidak diduga, kiranya gadis berwajah lugu itu yang miliki kemampuan Tapak Naga Bumi. Muning Raib hampir tidak percaya.


"Ini sangatlah tidak bagus. Bukan merupakan kabar baik, tapi sebaliknya!" Muning Raib menghentakkan kedua tangannya, melepaskan satu pukulan tenaga dalam yang kemudian berhasil membawa tanah pengurung ciptaan Suhita menjadi hancur.


Sekarang giliran Suhita yang tercengang. Kiranya kemampuan pria tua tersebut jauh di atas seperti e Suhita perkiraan. Sekarang Suhita sadar, orang-orang yang muncul merupakan para pendekar masa lampau yang kaya akan kemampuan dan juga pengetahuan.


Muning Raib tetap berhasil kabur meskipun Suhita coba untuk hentikan. Dan Hita yakin jika orang itu mundur hanya untuk mendapatkan bantuan.


"Mengapa akhir-akhir ini aku terus bertemu dengan para pendekar senior dengan kemampuan tidak terukur?! Betapa mereka telah siapkan kemampuan yang cukup untuk membuat perhitungan dengan Kakek," batin Suhita. Kemampuan Tapak Naga yang Suhita rasakan sangat kuat ternyata masih belum cukup mampu untuk kalahkan lawan tanpa pertarungan.


Suhita kehilangan jejak Muning Raib. Betapa Suhita seperti anak yang baru belajar menggunakan olah kanuragan. Menegaskan hatinya untuk semakin siap siaga. Di atas lantai langit masih ada lagi langit yang lain.

__ADS_1


Beruntung Danur Cakra berhasil mengalahkan ketiga lawannya. Dari mulut mereka diharapkan bisa mendapatkan keterangan dan petunjuk.


Dan satu lagi, mengapa mereka tidak melihat adanya Dewi Api di tempat itu, di mana dia?!


__ADS_2