
Keputusan Raka Jaya yang keukeuh untuk menempatkan Danur Cakra sebagai salah satu dari peserta kompetisi membuat timbul kecemburuan pada anak-anak yang lain. Kecuali Aji Selenteng yang sama sekali tidak terbebani akan hal itu.
"Kau tahu, teman-teman tidak suka atas tindakanmu 'kan. Mengapa masih saja ngotot? Bagaimana kalau Cakra jangan bergabung bersama kita. Jangan dari padepokan kita. Masukkan saja dia melalui jalan yang lain. Tidak masalah 'kan?" usul Ateng.
"Maksudmu, Cakra tetap ikut serta dalam kompetisi hanya saja bukan berasal dari Padepokan Api Suci?" Raka Jaya balik bertanya.
Ateng meng-iyakan. Terserah dari mana pun Cakra berasal, bukankah tujuannya tidak lain hanya untuk bisa ikut kompetisi?
Danur Cakra mengaku hanya belajar kemampuan bela diri dari kakeknya. Di dalam hutan, tanpa padepokan juga tanpa identitas yang bisa di tunjukkan. Bagaimana dia bisa daftarkan diri, sementara tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Hanya padepokan dengan syarat tertentu, barulah boleh mendaftar.
Justa Jumpena memasuki kamar Raka Jaya. Dia membawa kabar gembira, sepucuk surat undangan yang bisa Danur Cakra gunakan sebagai syarat tiket masuk. Betapa bahagianya Raka Jaya, apa pun hasilnya nanti paling tidak mereka memiliki kesempatan yang sama.
"Besok perlombaan akan dimulai, baiknya malam ini kalian istirahat lebih awal," pesan Justa Jumpena.
"Baik, paman. Setelah menyampaikan kabar gembira ini, aku akan segera kembali," Raka Jaya bergegas menuju bilik saudaranya.
Raka Jaya mengetuk pintu berulang kali, dia yakin jika Danur Cakra belum tidur.
Kreeekkk! Suara khas dari pintu kamar yang terbuka. Tidak ada orang tanda-tanda orang yang membuka pintu kamar, Danur Cakra masih duduk di atas pembaringan. Nampaknya dia sedang melatih tenaga dalam.
"Luar biasa! Kemampuan tenaga dalam yang kau miliki begitu sempurna!" puji Raka Jaya. Menutup pintu, kemudian melangkah memasuki kamar.
"Ada apa, Raka? Begitu terburu-buru menemuiku?!"
__ADS_1
Raka Jaya menyerahkan surat undangan di tangannya. Dia menjelaskan secara singkat mengenai peraturan yang mengikat peserta kompetisi. Termasuk siapa-siapa yang berhak untuk ikut.
"Terima kasih! Aku mengerti. Sampai bertemu lagi besok. Tapi aku sarankan untuk kau berhati-hati jika sampai kita bertemu."
Raka Jaya mengacungkan jempolnya pada Danur Cakra sebelum meninggalkan kamar. Dia juga butuh istirahat. Besok adalah hari pertama kompetisi, pasti melelahkan karena masih begitu banyak orang yang ikut bertanding.
Sudah cukup lama waktu berlalu setelah kepergian Raka Jaya. Danur Cakra masih belum bergeming dari semadinya. Dia masih terus berlatih. Sambil memusatkan konsentrasi, Danur Cakra membuka lembar demi lembar kitab langit dan bumi di tangannya.
"Jika aku berhasil, pasti kakek tidak akan marah. Terlebih lagi, jika sampai aku membawa pulang perhargaan dalam kompetisi. Kakek dan nenek pasti bangga," Danur Cakra tersenyum seraya melirik surat undangan yang dihadiahkan oleh Raka Jaya untuknya.
"Anak itu, dia begitu baik hati. Huuuhhh ... suatu kelemahan yang sangat fatal," Danur Cakra menghela napas.
Seorang yang terlalu baik hati, biasanya akan selalu mendapatkan sial. Terlalu banyak yang akan memanfaatkan kebaikan itu untuk kepentingan pribadi. Makanya, kalau belum siap mental, masih takut dikhianati, jauh lebih baik jangan dulu menjadi orang yang baik. Jadilah orang yang sedang-sedang saja. Terlalu baik jangan terlalu, terlalu jahat juga jangan. Karena semua yang serba terlalu, tidak akan menjadi baik. Hal yang berlebihan, hanya buat pusing kepala.
Hal utama, yang paling penting ialah diri sendiri. Persetan dengan orang lain. Ada yang berpendapat, jika terlalu memikirkan hari esok merupakan kebiasaan buruk. Tapi jika tidak dipikirkan tentunya malah semakin buruk. Tentu saja Danur Cakra memilih poin yang pertama.
Tok! Tok! Tok! Pintu kamarnya kembali ada yang mengetuk berulang kali.
"Siapa?" tanya Danur Cakra. Dia merasakan jika orang yang datang kali ini ialah sosok yang tinggi besar.
Karena tidak ada jawaban, Danur Cakra bergegas melangkah menghampiri pintu. Kewaspadaannya ditingkatkan. Mana tahu, orang yang datang tidak memiliki maksud yang baik.
"Hah?! Kau ini mahluk apa?" Danur Cakra terperangah melihat sosok tinggi besar yang berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Mahluk itu jelas bukan berasal dari bangsa manusia. Warnanya hitam kusam, dengan mata merah menyala. Sepatah kata pun, dia tidak mengeluarkan suara. Mungkin, dia tidak bisa bicara dengan bahasa manusia.
"Jika tidak menyerangku, apa kau berada di pihakku?' tanya Danur Cakra. Dengan teliti, dia memandangi tubuh makhluk menyeramkan tanpa sedikitpun adanya rasa takut.
Mahluk itu mengangguk. Tangannya bergerak memberikan bahasa isyarat, berharap lawan bicaranya mengerti. Setelah beberapa kali diulang, pelan-pelan Danur Cakra bisa menangkap bahasa isyarat yang diperagakan oleh mahkluk hitam tinggi besar itu. Kurang lebih, dia berkata jika kedatangannya tidak lain karena di panggil.
"Di panggil?! Apa mungkin kau mahluk yang berasal dari langit?" kejar Danur Cakra kemudian. Namun mahkluk itu menggelengkan kepala.
"Alam dimensi lain?" tebak Danur Cakra lagi. Barulah mahluk itu mengangguk.
Ya, Danur Cakra paham sekarang. Semuanya berasal dari kitab bumi dan langit yang sedang ia pelajari. Ada mantera yang Danur Cakra baca yang merupakan pemanggil mahluk astral.
"Ya, sudah. Anggap saja ini adalah perkenalan kita. Sekarang, silahkan kau kembali ke tempat kau berasal."
Mahkluk alam astral itu mengangguk, kemudian dia membungkuk mohon diri sebelum benar-benar pergi menghilang.
Huuuhhh, ada-ada saja. Danur Cakra menepuk jidatnya.
Namun, ada hal yang menarik dari semua itu. Dengan demikian, itu artinya Danur Cakra bisa berinteraksi bahkan memanggil mahkluk astral untuk bisa dimintai bantuan. Wah, pasti bakal menarik. Danur Cakra mengulum senyum sebelum kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas pembaringan.
Malam itu, Danur Cakra bisa tidur dengan nyenyak. Banyak keuntungan yang didapat dengan dia mempelajari kitab langit dan bumi. Itung-itung untuk melengkapi kombinasi kemampuan Tapak Naga yang dia punya.
Malam terus merangkak. Suasana penginapan di Giling Wesi terlihat begitu kondusif. Tidak terdengar suara orang menjerit minta tolong, ataupun kegaduhan lain yang terjadi. Pihak Padepokan Giling Wesi melakukan penjagaan dengan ketat. Mereka tidak ingin nama baik padepokan mereka jadi tercoreng bila mana ada tamu yang merasa terganggu.
__ADS_1
Berada di kawasan padepokan, tentu tidak seperti saat di jalan. Keamanan setiap orang akan terjamin. Terlebih lagi besok merupakan hari pertama kompetisi akan dilangsungkan. Tokoh-tokoh besar dunia persilatan pun telah banyak berdatangan. Membuat kekacauan di tempat penuh singa dan buaya? Tentu hanya menyerahkan nyawa saja. Tidak akan ada kelinci bodoh yang mau melakukannya.