
"Awalnya aku mengira hanya kucing yang memiliki sembilan nyawa. Ternyata naga hitam pula demikian. Mengapa kau datang ke sini, apakah yang kau rasakan kekuatanmu mulai pulih?" Raka Jaya berbicara, sendiri karena pada saat itu belum terlihat ada temannya bercakap.
Setelah beberapa saat, merasa kalau keberadaannya telah diketahui muncul sesosok bayangan dari arah belakang.
"Apa kau akan menangkapku sekarang juga?" tidak lain, dia ialah Danur Cakra.
Raka Jaya tertawa, "kau pikir aku ini apa? Harusnya kau sadar, jika kurang dari dua puluh jurus pastinya aku keluar sebagai pemenang. Lalu, apa yang ku dapat? Keringat pun tidak."
Danur Cakra tersenyum masam. Untuk menghadapi seorang Tumenggung saja, dia akan membutuhkan banyak waktu. Tidak berlebihan apa yang Raka Jaya ucapkan. Kemampuan olah kanuragan Danur Cakra sama sekali tidak berkurang, hanya saja untuk saat ini dia tidak punya cukup tenaga dalam. Percuma saja.
Danur Cakra menggunakan energi hawa murni secara terus-menerus untuk menguatkan tubuh Kemuning, hingga sekarang kondisinya sangat lemah dan akan terus lemah sampai nanti dia selesaikan beberapa tahapan latihan olah energi. Kecuali dengan memanfaatkan sumberdaya herbal berkhasiat tinggi.
"Raka, terima kasih. Aku berhutang nyawa padamu. Dan maaf, jika suatu hari nanti semua yang kau lakukan tadi berbuah menjadi penyesalan," Danur Cakra menepuk pundak saudaranya.
"Suhita, harusnya kau tidak membuatnya begitu hancur. Anak manja itu, sekarang tidak lagi seorang badut. Selamat, kau berhasil merubah segalanya. Jika harus mencelakai, aku akan mencabut nyawamu demi dia. Tapi kau tahu ... rasa sayangnya padamu ada di atas levelku."
Danur Cakra tertegun mendengar penuturan Raka Jaya. Kedatangannya tentu untuk mencari tahu mengenai Suhita, karena Cakra merasa jika dia tidak bertemu dengan adiknya. Suhita yang dia kenal. Bahkan tanpa bertanya, apalah lagi mendengarkan penjelasan. Ketika melihat wajah Danur Cakra Suhita langsung menyerang, bahkan nyaris mencelakai. W Hingga wajah Danur Cakra lebam-lebam dan masih terasa begitu sakit. Sampai saat ini, dia tidak percaya kalau Suhita yang melakukan itu.
"Apa kau tahu sesuatu? Ya ... memang aku sadar akan kekeliruanku. Aku bukanlah sosok yang dia inginkan, tapi terus terang aku tidak mengenali Suhita dalam marahnya."
Raka Jaya mengangkat bahu. Menghela napas panjang. Secara pasti, tentu hanya Suhita yang miliki jawaban. Meskipun Raka Jaya masih sangsi, mungkin Suhita juga dalam kebingungan.
"Siapa gadis cantik itu? Kau bahkan rela pertaruhkan keselamatanmu. Yang aku tahu, Danur Cakra bukanlah seorang pendekar bodoh," Raka Jaya bertanya tentang Kemuning.
"Aku sama sekali tidak mengenalnya. Hanya saja tiba-tiba hatiku penasaran dan terdorong untuk menyusuri tindakan sewenang-wenang bawahanmu di wilayah Gunung Songgo Langit. Kau pasti sudah dengar Tumenggung Surotanu yang pada akhirnya celaka di tanganku. Huuuhhh ... ceritanya sangat panjang sekali, aku takut terlalu menyita waktu untuk menceritakan semuanya," terang Danur Cakra.
"Disingkat saja, bisa 'kan?!" potong Raka Jaya.
Danur Cakra terbelalak, mengapa tiba-tiba Raka Jaya begitu tertarik mengenai diri Kemuning? Apa mungkin dia akan mendapatkan seorang saingan baru? Ah, tidak. Danur Cakra menepis jauh-jauh pemikiran aneh tersebut. Sebagai prajurit, pastinya ada alasan lain untuk Raka Jaya banyak tanya.
"Mengapa?! Ah, aku jadi heran, ternyata banyak pemberontak yang takut mati. Kau jangan khawatir, aku tidak miliki wewenang untuk itu. Tugasku hanyalah menjaga keselamatan Tabib Dewa. Kecuali atas nama segel kerajaan, memerintahkan untuk menangkap kalian maka aku akan bertindak sesuai tugas. Meskipun itu tidak mungkin, karena aku bukanlah seorang pejabat hukum."
"Baiklah, Jenderal Muda. Buka telingamu lebar-lebar ...," Danur Cakra kemudian menceritakan kejadian-kejadian yang dia alami. Berawal dari mendengar percakapan Tumenggung Surotanu dengan seorang saudagar, hingga kemudian bagaimana sampai dia berada dalam peperangan yang tidak sengaja. Semuanya, dia lakukan sekadar untuk mempertahankan diri. Cakra hanya ingin membantu Kemuning.
"Dengan kata lain, bisakah dikategorikan dia sebagai kekasihmu?" tanya Raka Jaya di penghujung cerita Danur Cakra.
"Ah, apa maksudmu? Kejahatanku, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Kau ..."
Raka Jaya mengangkat tangannya, menghentikan kalimat Danur Cakra, "jika dia benar kekasihmu, tentu aku punya kewajiban untuk melindungi calon adik ipar ku."
Danur Cakra menelan ludah mendengarnya. Apa yang harus dia katakan, punya saudara mengapa aneh-aneh semua?
__ADS_1
"Sekarang pergilah, selesaikan urusanmu dengan Suhita. Terus terang, aku angkat tangan menghadapinya. Biasanya, kau punya banyak cara untuk mengambil hati Suhita. Sampai lengket seperti getah kenikat. Cepat pergi, jangan sampai ada anak buahku yang melihatmu," Raka Jaya mengibaskan tangannya, mengusir Danur Cakra untuk segera angkat kaki.
Danur Cakra mengerti, dia tidak akan menyulitkan Raka Jaya. Posisi Raka Jaya sebagai seorang Jenderal, pastinya dia melakukan semuanya dalam tekanan. Bahkan yang Raka Jaya lakukan saat ini, merupakan satu perbuatan yang melanggar hukum. Kalau sampai bocor ke telinga orang lain, bisa-bisa Raka Jaya pula akan tersangkut masalah. Melindungi seorang buronan, itu artinya telah bergabung dalam kejahatan. Bisa dipastikan, cepat atau lambat sang Jenderal Muda akan dapatkan masalah.
°°°
Tok! Tok! Tok! Daun pintu kamar Suhita diketuk berulang kali. Namun tidak ada jawaban, meskipun Suhita ada di dalam. Nampaknya Tabib Dewa sudah mengetahui siapa orang yang datang.
"Hita ... Hita ... buka pintunya, ada yang ingin aku katakan. Sebentar saja ..." mohon Danur Cakra. Ya, Danur Cakra berhasil menyelinap dan menemukan kamar Suhita.
Akan tetapi, tetap saja tidak ada jawaban. Setelah kembali mengetuk pintu beberapa saat lamanya, Danur Cakra akhirnya pergi. Namun setelah sepi dan yakin kalau Cakra sudah jauh, daun pintu tersebut terbuka. Suhita keluar seolah mencari sesuatu. Seperti orang yang takut hantu, terus memandang berkeliling untuk mencari yang tidak ingin dilihat.
"Ke mana berengsek itu, mengapa tidak coba untuk menunggu?" gumam Suhita.
Padahal bukan waktu yang sebentar saat Danur Cakra berusaha meminta agar Suhita mau bertemu, mengetuk pintu berulang-ulang kali sampai akhirnya menyerah dan pergi. Setelah pergi baru dicari. Ibarat magnet satu arah, mana mungkin bisa saling rekat.
Suhita menghela napas beberapa saat. Dia seperti sedang menimbang sesuatu, gamang tanpa punya keputusan. Hingga kemudian Suhita memutuskan untuk mencari tahu apa yang Danur Cakra lakukan. Meskipun sedang ngambek dan masih begitu kesal, tapi tindakan Suhita tidak bisa berbohong jika dia masih amat perhatian pada seorang yang amat dia rindukan.
"Selamat sore, Tabib ..." beberapa orang pelayan di rumah penginapan membungkuk hormat ketika Suhita melintas.
Suhita menjawabnya dengan anggukan dan senyum ramah. Hal inilah yang membuat orang-orang semakin sungkan padanya. Suhita tidak pernah merasa jika dirinya berada di atas orang lain, tidak pernah minta di dahulukan, karena bagi Suhita dirinya tidak lebih layaknya mereka, di mata Tuhan derajat manusia adalah sama.
Suhita terus melangkah, dia kembali ke ruangan di mana Kemuning di rawat. Suhita yakin kalau Danur Cakra ada di sana. Dan tebakannya tidak meleset. Di depan pintu, Suhita menghentikan langkah. Menguping pembicaraan.
"Tuan Pendekar, Tabib Dewa menitipkan catatan ini untuk Anda. Harap Tuan segera mencarikannya untuk kami proses. Tabib bilang, Anda pasti bisa mendapatkannya dengan cepat," Kencana Sari menyerahkan catatan yang dititipkan Suhita.
Danur Cakra menerima dengan penuh tanda tanya. Bahkan dia tidak pernah tahu bagaimana bentuknya, bagaimana bisa dapatkan dalam waktu singkat.
"Tuan, waktumu tidak banyak. Saya harap Tuan jangan terlalu banyak berpikir. Bukannya Tabib Dewa bilang bahwa Anda akan berikan jantung Anda sekalipun?" Kencana Sari menegur Danur Cakra yang terpaku menatap catatan di tangannya.
Danur Cakra menatap pada Kemuning, gadis cantik itu terbaring lemah tidak berdaya. Danur Cakra harus mendapatkan sumberdaya yang diinginkan oleh Tabib Dewa. Meskipun sampai detik itu dia tidak tahu kemana langkahnya akan menuju.
"Cakra ..." panggil Kemuning.
"Hei, kau tenang saja di sini. Aku pasti akan mencari sumberdaya yang dibutuhkan. Yakinlah, kau akan cepat sembuh," ujar Danur Cakra.
"Kau sendiri bagaimana? Lihat ..." Kemuning menunjuk wajah Danur Cakra. Nampak jika rasa khawatirnya tidak dibuat-buat.
"Aku baik-baik saja. Ini hanyalah luka ringan, aku merasa baik. Yang terpenting, kau harus dengar kata-kata ku. Ingat! Kau harus kuat, sampai aku kembali!" Danur Cakra terlebih dahulu mengelus kepala Kemuning sebelum kemudian segera berangkat.
"Fuuiiihhh!" Suhita meludah dalam hati. Dia segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Ingin rasanya Suhita tertawa terbahak. Lebay sekali tindakan Danur Cakra itu. Tidak pantas dilakukan oleh seorang pendekar, apa lagi pendekar jahat sepertinya.
__ADS_1
Suhita bergeser ke balik pintu, hingga ketika Danur Cakra mendorong daun pintu, tubuh Suhita terhalangi oleh daun pintu tersebut. Hingga Danur Cakra tidak menyadari jika ada sesosok tubuh di sana. Faktor lain yakni karena Danur Cakra terlalu fokus pada lembar catatan yang dia bawa, konsentrasinya sedikit kendor.
"Ah, Tabib ..." Kencana Sari terkejut ketika dia menutup daun pintu dan menemukan ada Suhita di sana.
Suhita mengangkat kedua alisnya, menanyakan alasan keterkejutan pelayannya. Membuat Kencana Sari hanya bisa menundukkan kepala.
Suhita menghampiri Kemuning, dari balik jubahnya dia mengeluarkan sebuah kotak kecil. Saat dibuka, kotak tersebut berisi dua pil berwarna hijau lumut.
"Sari, kau ambil sedikit madu klanceng. Bawa juga air panas satu cangkir kecil," ucap Suhita.
Dengan cekatan Kencana Sari menyediakan apa yang Suhita minta, "Tabib, pil apa itu?"
"Sumberdaya ini aku dapatkan di antara tiga batu karang yang baru saja terpecah. Warna hijau bukan karena terbungkus lumut, tapi secara alami terbentuk akibat tekanan air laut yang tidak tersentuh cahaya matahari. Sebagian orang menamainya Lumut Kehidupan. Meskipun kenyataannya ini bukan lumut," Suhita menjelaskan seraya memperlihatkan setiap sisi sumberdaya itu pada Kencana Sari.
Lumut Kehidupan, konon katanya bisa menghidupkan orang yang kehilangan nyawa tapi belum saatnya untuk meninggal. Tidak sembarang orang bisa melihat apalagi memiliki. Tidak disangka Tabib Dewa memiliki sumberdaya tersebut. Jika sumberdaya itu akan digunakan untuk mengobati Kemuning, lalu untuk apa Tabib Dewa menyuruh Danur Cakra bersusah payah untuk mencari sumberdaya lain?
"Nona Kemuning, kau harus banyak bersabar. Karena sumberdaya ini harus diberikan secara bertahap. Aku akan terus mengontrol kondisimu," ucap Suhita memberikan kabar gembira pada Kemuning.
"Terima kasih banyak, Tabib Dewa. Kau begitu baik hati, jauh dari apa yang ku dengar dalam cerita. Dengan suka cita bersedia menolongku, padahal kau tahu kalau aku pernah coba untuk mencelakaimu. Sungguh, aku begitu malu menerima kebaikanmu," dengan suara bergetar menahan tangis, Kemuning berkata.
"Hmmm ... sudah bukan kali pertama, pasaran ucapan seperti ini terlontar. Tabib Dewa tidak akan terbuai," dengan kesal Kencana Sari yang menyahut. Dia muak melihat 'sandiwara' yang Kemuning mainkan.
"Sari! Kau tahu, aku tidak suka ada orang yang ikut campur urusan pribadiku. Kau boleh pergi atau kunci mulutmu!"
Kencana Sari terdiam. Mendadak bulu kuduknya berdiri, ekspresi wajah Suhita memang tidak begitu mengerikan, akan tetapi dengan nada bicara yang tidak seperti biasanya sudah cukup untuk membuat Kencana Sari buru-buru pergi. Mengapa akhir-akhir ini Suhita begitu mudah marah. Pikirannya sedang kusut atau mungkin benar ada luka yang menganga di hatinya. Aneh sekali.
"Nona, maaf. Maaf atas ucapan yang tidak pantas untuk kau dengar. Pelayanku terkadang tidak ..."
"Tabib, kau tidak usah meminta maaf. Aku tahu siapa diriku, sudah sepantasnya aku menerimanya. Tabib tidak perlu memikirkan hal itu," Kemuning tersenyum, memastikan jika semuanya berjalan dengan baik-baik saja.
"Bukan karena masalah itu, Nona. Tapi ... ya, sudahlah. Kau lupakan saja semua, sekarang yang terpenting adalah kau fokus pada kesembuhanmu. Kekasihmu benar, tiada yang lebih penting dari kesehatanmu. Kau jangan membuat pengorbanannya sia-sia," Suhita terdengar begitu menekankan kata Kekasihmu, sepertinya ada yang ingin dia sampaikan.
"Tabib, maafkan aku sebelumnya. Tapi aku sangat penasaran, apakah antara kau, Cakra dan Jenderal Muda telah saling mengenal sebelumnya? Kalian terlihat begitu akrab," tanya Kemuning.
Suhita terlihat sedikit terkejut, tapi dia segera menutupinya dengan senyuman. Suhita sama sekali tidak menjawab pertanyaan Kemuning tersebut. Hanya tanda tanya di dalam hatinya, benarkah itu? Jika Kemuning bisa melihat, bagaimana dengan orang lain. Dan tentunya ini sama sekali tidak baik untuk Raka Jaya. Bisa-bisa dia akan dapatkan kesulitan setelahnya.
"Nona, bersiaplah. Kau harus persiapkan dirimu, agar tubuhmu bisa menerima Lumut Kehidupan. Kau ikuti arahanku," ucap Suhita mengalihkan perhatian.
Suhita menuntun Kemuning untuk mempersiapkan diri. Mengatur napas dan detak jantung agar tubuhnya tidak terkejut mendapatkan asupan energi maha besar yang terkandung di dalam Lumut Kehidupan.
Tubuh Kemuning memancarkan cahaya berwarna kehijauan, pertanda sumberdaya yang ia konsumsi bereaksi dengan baik. Suhita tersenyum, itu artinya proses berjalan dengan semestinya.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok! Pintu kamar diketuk dengan keras. Belum juga sempat Suhita bergerak membuka pintu, daun pintu tersebut telah dibuka dengan paksa.
Seorang Panglima kerajaan masuk diikuti tiga orang Tumenggung dan beberapa prajurit terlatih yang siaga di sekitar pintu. Kedatangan mereka begitu mendadak dan juga tidak dihentikan oleh para prajurit yang berjaga. Itu artinya, mereka punya cukup kekuatan administrasi untuk bisa masuk dengan mudah. Mungkin surat perintah resmi dari kerajaan. Ada hal apa? Suhita terpana, pikirannya mengembara jauh. Ataukah ini berkaitan dengan Raka Jaya yang secara sengaja membiarkan Danur Cakra tetap menghirup udara segar?