Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Janji Masa Kecil


__ADS_3

Sepuluh tahun yang lalu, saat itu dunia belum begitu panas. Tidak banyak beban dan derita kehidupan yang tersaji. Belajar, tertawa, menangis, matahari yang berganti bulan pun mengalir begitu saja. Tidak terlalu kencang angin yang berhembus, karena pohon baru saja tertanam.


"Kakak, laut ternyata sangat luas, ya. Apa mungkin ada orang yang bisa hidup di sana?" Suhita kecil menunjuk ke tengah lautan.


"Tidak masuk akal. Kau lihat saja, mengapa ada kapal yang berlabuh. Apa menurutmu mereka kepiting laut?" jawab Danur Cakra ketus.


Suhita cemberut, anehnya mengapa Danur Cakra begitu tidak senang berjalan berdua dengannya. Jangankan bergandengan tangan, Suhita berpegang saat hampir jatuh pun dipelototi. Dia sangat tidak suka punya adik yang manja, lebay. Padahal Suhita berlaku demikian karena rindunya yang amat besar, entoh mereka hanya sesekali saja bertemu. Dalam satu tahun, tidak akan lebih dari lima kali.


"Heh, apa itu? Buang! Jangan sembarangan ambil sesuatu," Danur Cakra menepuk lengan Suhita.


"Eh, Kakak !!! Ini namanya kerang, kerang hijau. Isi di dalam cangkangnya daging, enak loh di makan. Selain itu, gizinya pun sangat tinggi. Jangan takut, ini tidak beracun. Ayo, Kak. Bantu Hita mengumpulkan kerang hijau," Suhita begitu bersemangat mengumpulkan kerang-kerang yang banyak ia temukan di pasir-pasir.


Sementara itu Danur Cakra diam saja, berdiri tegak menonton Suhita. Dia tidak begitu tertarik ikut mengumpulkan kerang. Apalagi untuk memasaknya, masa iya seorang laki-laki memasak, yang benar saja.


"Kak, mengapa kau diam saja? Cepat bantu aku, siniii ..." panggil Suhita dengan wajah cemberut. Dia nampak kesal karena Danur Cakra begitu berat tangan.


"Ambil saja seperlunya, jadi orang jangan maruk. Kau pikir semua itu milikmu?! Serakah!"


"Iya, iya, dasar cerewet! Kalau tidak mau membantu ya sudah, baiknya diam saja di sana. Jadi laki-laki bawel," gerutu Suhita.


Suhita memilih kerang hijau yang bagus dan besar, untuk dimasak sendiri tentunya dia tidak mengambil terlalu banyak, seperlunya saja kira-kira habis sekali makan.


Setelah dirasa cukup, Suhita langsung membersihkan kulit kerang-kerang tersebut hingga bersih dari lumut dan kotoran yang melekat. Sebelum nanti akan direbus. Kebersihan tentunya menjadi hal yang sangat utama sehingga kerang setelah diolah akan semakin nikmat dan menarik di sajikan.


"Ibu mengajariku cara memasak kerang hijau asam manis. Aku yakin bisa mengubah kerang-kerang ini menjadi santapan yang lezat!" Suhita tersenyum penuh percaya diri.


"Alaaa ... paling juga kau meminta ibu yang memasaknya. Kalau begitu, aku juga bisa," Danur Cakra mencibir.


"Kau bisa? Bisa apa?!"


"Memasak kerang, lalu apa lagi. Lihat saja, suatu hari nanti pasti akan aku buktikan. Masakanku lebih enak dari resep ibu," Danur Cakra menepuk dada.


Suhita tertawa terpingkal-pingkal, ingin muntah rasanya tiap kali mendengar bualan Danur Cakra. Meski demikian, Suhita menerima itu, dia akan menunggu sampai saatnya nanti Danur Cakra bisa memasak kerang. Meskipun rasanya itu bukanlah hal yang mudah. Tapi satu kesombongan haruslah disertai dengan pembuktian yang sepadan.


Danur Cakra dan Suhita, setiap kali berjumpa pasti selalu terlibat cekcok mulut, saling ejek, bahkan kadang sampai bertengkar. Akan tetapi mungkin karena itu pula hubungan keduanya menjadi sangat dekat. Karena sifat Cakra yang amat menjengkelkan, membuat Suhita selalu teringat dan merasa kesepian bilamana mereka lama tidak berjumpa. Tidak ada sedikitpun ada dendam, meskipun bertengkar tentunya hanya sebatas di mulut saja. Layaknya angin yang berhembus, semua yang berlalu akan berlalu tanpa diingat apalagi di simpan dalam hati. Sebaliknya pula demikian, Suhita yang manja, menjadi satu-satunya orang yang paling berani membuat Danur Cakra kesal. Wanita, senyumannya, rayuannya, pelukannya, civmannya, serta berbagai kenangan itu rasanya Cakra belum mengenal. Meskipun Cakra amat tidak menyukai manjanya Suhita, tetap saja dia merupakan satu-satunya gadis yang mengisi pikiran Cakra. Adiknya.

__ADS_1


Kenyataannya, ikatan erat tali persaudaraan kembali menyatukan apa pun yang terberai karena alasan. Meskipun hatinya dongkol Suhita amat mencemaskan kondisi sang kakak. Bagaimana pun juga sisi positif yang ada pada Raka Jaya, karena dia tidak terlahir dari rahim yang sama terasa ada perbedaan ketika Suhita berhadapan dengan Danur Cakra yang dalam tanda kutip bukan seorang yang istimewa. Bahkan jauh dari cerminan baik.


Suhita tersenyum sendu, ada satu perasaan yang menyelinap di dalam hatinya. Rasa yang diungkapkan dalam hidangan kerang hijau yang dia cicipi, membuat Suhita ingin menangis. Sebuah ungkapan yang amat besar terwakil dalam masakan tersebut.


Permohonan maaf yang begitu tulus. Suhita yakin, betapa besarnya perjuangan Danur Cakra untuk bisa menghasilkan masakan yang enak di lidah. Kendati tidak sesempurna apa yang diajarkan sang ibu, tapi perjuangan dalam proses yang Cakra lakukan bahkan lebih dari segala ekspektasi. Paling tidak, Danur Cakra telah menepati janji. Satu janji ketika kecil yang bahkan Suhita sudah melupakannya.


Danur Cakra bergerak, kepalanya terangkat. Dia terbangun dari tidurnya. Menyadari ada Suhita di sana, sambil mengucek-ngucek mata Danur Cakra segera bangkit dari kursi.


"Hita?! Ah, Tabib Dewa ... maaf jika aku tidak mengetahui kedatangan kalian," ucap Danur Cakra seraya membungkukkan badannya.


Di depan pintu, Raka Jaya tersenyum seraya membalas salam Danur Cakra. Ya, meskipun sepertinya Suhita telah luluh hatinya tapi dia memiliki gengsi yang cukup tinggi. Membuat Raka Jaya hanya bisa menggelengkan kepala. Tidak disangka, ternyata begitu mudahnya Danur Cakra membuat Suhita luluh. Betapa pun besar dan rumitnya gembok, dengan kunci yang pas maka sangat mudah untuk membukanya.


Tabib Dewa yang miliki nama begitu besar di seantero jagat raya, sekarang menunjuk sisi lain yang tidak diketahui orang. Ya, dia hanyalah Suhita, si anak kecil yang aneh.


"Siapa yang memasak? Terlalu menohok bumbu-bumbu yang digunakan," komentar Suhita.


Yes! Setidaknya Suhita sudah mau memulai pembicaraan. Danur Cakra sangat yakin jika Singa itu sudah kembali menjadi anak kucing yang jinak.


"Tentu saja aku. Bukankah dengan begitu, rasanya akan memberikan citra tersendiri? Sayangnya sudah dingin, terlalu lama api membakar sebelum akhirnya salju turun ke bumi," jawab Danur Cakra.


Mendapati keadaan yang meruncing, Raka Jaya segera bergabung dan tanpa disuruh lekas ikut mencicipi kerang hijau masakan Danur Cakra. Dan benar, rasanya cukup enak. Memancing lidah untuk tidak berhenti bergoyang.


"Tidak disangka, kau telah berlatih menjadi calon suami yang sigap. Memasak untuk istri, pahalanya sangat besar. Apalagi kalau enak begini," celoteh Raka Jaya.


Suhita menjulurkan lidah, dia tahu kalau Raka Jaya berada di pihak Danur Cakra. Percuma juga Hita habiskan energi untuk marah-marah, yang ada dia sendiri yang akan terkena darah tinggi.


Danur Cakra merangkul pinggul Suhita dari samping. Dengan suara yang dibuat-buat sebegitu manjanya, dia membisikkan permohonan maaf di telinga Suhita. Mencivm rambut hitam milik Suhita yang tergerai panjang. Mere*ngkuh tubuh sang adik dengan begitu hangat.


"Banyak penyakit yang timbul karena sesuatu yang begitu manis, apalagi janji manis. Semut saja akan mati di tengah tumpukan gula, janjimu melebihi manisnya madu dan buktinya membusuk."


"Mana mungkin adik semata wayang ku setara dengan semut. Aku janji ... ah, baiklah. Aku tidak janji apa-apa, berhenti membuatmu marah adalah hal terbesar dalam hidupku," bisik Cakra lagi. Meskipun Suhita begitu ketus, Cakra telah persiapkan diri. Bahkan dia tidak berhenti bermain di tengkuk Suhita sampai Hita mengangguk memberi ampunan.


Tidak akan ada seorang pun pria di muka bumi yang rela membiarkan perlakuan Danur Cakra pada Suhita. Meskipun mereka saudara kembar, tentunya setelah sama-sama dewasa tidak dibenarkan seorang kakak laki-laki mencivmi tengkuk juga telinga belakang adik perempuannya. Tugas seorang kakak ialah menjaga, bukannya menyalurkan nafsu.


"Berlutut, kemudian letakkan kedua tanganmu di telinga saling menyilang. Angkat kaki kananmu, jangan sampai menyentuh lantai. Lalu katakan kalau kau meminta maaf, tidak akan membuatku marah lagi, tidak akan membuatku sedih lagi, kau menyayangiku, dan akan memenuhi permintaanku. Lakukan sebanyak dua ratus lima puluh kali. Cepat!" dengan angkuh Suhita berbalik badan. Kedua tangannya menekan pundak Danur Cakra untuk segera berlutut.

__ADS_1


"Baiklah! Selesaikan urusan kalian. Urusan kerang ini, biar aku yang tangani," tanpa beban Raka Jaya mengambil satu wadah dan berjalan menuju beranda tanpa menoleh. Dia tidak memperdulikan pekik Suhita yang melarang. Lagi pula, makanan sebegitu banyak mana mungkin akan habis oleh Suhita seorang.


Plok! Danur Cakra menepuk bok*ong Suhita dengan kesal. Wajahnya begitu tertekan, memerah, mencoba mengendalikan diri untuk tidak mengumpat. Suhita benar-benar ingin mengerjainya. Memangnya belum cukup membuat Cakra pusing tujuh keliling mencari sumberdaya yang nyata-nyata tidak ada? Sekarang lagi memberikan hukuman yang sama sekali tidak masuk akal. Kecuali Suhita, tidak mungkin ada orang lain yang berani lakukan itu padanya.


Hati Suhita benar-benar puas, ingin rasanya dia tertawa terbahak-bahak melihat Kakaknya tidak berdaya dalam tekanan batin. Menuruti permintaan tidak masuk akal yang dia ajukan. Baguslah, paling tidak Suhita tahu kalau Danur Cakra benar-benar ingin memperbaiki hubungan mereka. Padahal di dalam hati, sesungguhnya tidak sedikit pun ada rasa dendam apalagi adanya niat memutus hubungan persaudaraan. Suhita hanya kecewa.


Kendati berat hati, Danur Cakra melakukan hukuman yang diberikan Suhita. Seraya berlutut, mengangkat kaki kanan dan kedua tangan memegangi telinga, Danur Cakra memohon pengampunan sampai dua ratus lima puluh kali.


°°°


"Hmmm ... hahaha !!! Inikah yang mereka maksud dengan bahaya?! Harimau tanpa cakar, ular tanpa bisa. Apa yang bisa dilakukan angin ketika awan telah menjadi hujan. Sungguh, aku sangat penasaran !!!" tawa seorang pendekar paruh baya meledak saat mendengar seorang menuturkan keterangan.


Meskipun usianya hampir menjejak setengah abad, tapi gagah dan garangnya sosok Macan Rimba Boma Burdoko tetap menggetarkan siapa pun yang berhadapan. Boma Burdoko atau yang lebih dikenal dengan sebutan Macan Rimba merupakan seorang tokoh aliran sesat yang juga memimpin satu padepokan aliran sesat di kaki gunung sewu.


Di hadapan Macan Rimba, duduk bersandar seorang pria tua yang nampak begitu lelah. Pria tua itu tidak lain dan tidak bukan ialah Pendekar Tongkat Malaikat. Sosok yang beberapa waktu lalu hampir celaka ketika bertarung dengan anak-anak Mahesa (episode kekalahan Tabib Dewa).


"Kau sama sekali tidak berubah. Begitu percaya diri dan sombong. Namun karena itu pulalah aku sangat menghormatimu," ucap Tongkat Malaikat dengan senyum masam.


"Fuuiiihhh! Tua bangka tidak tahu malu. Kau datang memuji hanya karena punya kepentingan. Jika tidak, bahkan kau tidak menyisakan seorang gadis pun untukku," Boma Burdoko meludah.


"Boma ... Boma ... kau sudah miliki pengikut lebih dari seratus orang. Aku lihat, ada beberapa wanita diantaranya. Apa masih kurang juga? Tidak takut lututmu keropos?" Tongkat Malaikat terkekeh seraya menggelengkan kepalanya berulang kali.


Bicara selera lelaki, memang tidak diragukan lagi betapa buasnya Boma untuk itu. Hingga nama julukan yang dia miliki bahkan menggambarkan buas untuk hal tersebut. Dalam satu malam, dia sanggup bercinta dengan tiga orang wanita sekaligus. Luar biasa!


"Hahaha! Tua bangka kau memang pandai bersilat lidah. Ya, sudah. Sekarang apa yang kau ingin aku lakukan?" tanya Boma Burdoko.


"Tentu saja, aku ingin kau bantu aku untuk balas dendam pada Jenderal Muda Kerajaan Utara itu. Pedang Emas miliknya hampir saja merenggut nyawaku, aku tidak bisa membiarkan dia melenggang dengan santainya. Aku harus menuntut balas!" ucap Tongkat Malaikat dengan geram. Dendam di hatinya tidak akan mungkin padam dengan begitu saja.


"Ahahaha! Jika untuk bisa pecundangi dirimu dia harus bersama seorang teman, apa jadinya kalau aku yang turun tangan? Kau jangan khawatir, kepalan tangan Jenderal Muda itu tidak sebesar namanya," Macan Rimba tertawa terbahak.


Pendekar Tongkat Malaikat ikut tertawa. Tentunya bukan karena kemampuannya direndahkan, melainkan dia senang karena dapatkan seorang tokoh besar aliran hitam yang berada di pihaknya. Dengan demikian, kemungkinan untuk bisa balas dendam akan semakin terbuka lebar.


Setiap tokoh aliran sesat pasti akan bertolak belakang prinsip dengan para pendekar aliran putih. Selain Jenderal Muda berasal dari Padepokan Api Suci yang sekarang menjadi padepokan nomor satu, terlalu banyak alasan untuk mereka menebar kebencian. Kekuatan Pendekar Tongkat Malaikat akan semakin bertambah seandainya ada lebih dari tiga tokoh yang bergabung lainnya. Selain itu, dia pula membutuhkan asupan dana segar yang mengalir bak air terjun untuk membasuh dahaga dan membeli sumberdaya. Intinya, Pendekar Tongkat Malaikat akan pikirkan cara untuk bisa dapatkan semuanya. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Mengapa harus memilih jika mampu untuk dapatkan keduanya.


Mencari cara untuk bisa mendapatkan dukungan dari mereka para petinggi kerajaan merupakan salah satu solusi apik. Mereka para petinggi kerajaan yang tidak sejalan dengan Jenderal Muda, sudah bukan rahasia umum lagi bertebaran bagai jamur di musim hujan. Mengingat popularitas dan kedekatan Jendral Muda dengan Raja, pasti dengan mudah akan bisa ditemukan orang-orang yang diam-diam memusuhinya.

__ADS_1


"Ibarat api di dalam sekam. Mungkin sekarang aku bukan siapa-siapa, tidak terlihat meski telah menyala. Tapi lihatlah, kau tunggu saja tiba saatnya ... baaammm ketika ledakan terjadi, nanti kau pasti menyesal telah berurusan dengan Pendekar Tongkat Malaikat," dengan api dendam yang menyala, Pendekar Tongkat Malaikat mengepalkan tangannya dengan keras.


__ADS_2