Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Kehadiran Dua Pengasuh


__ADS_3

Untuk Racun Waktu yang sempurna, memang sangat diperlukan tenaga dalam tingkat tinggi. Dengan pukulan atau teknik pelepasan energi beracun, barulah bisa disebut menjadi racun tanpa sumber. Akan tetapi, jika hanya untuk membuat serbuk racun tentu bisa dilakukan tanpa tenaga dalam. Seperti yang banyak digunakan oleh petinggi Kelompok Laskar Hitam (tempat di mana Racun Waktu berasal. Pencipta Racun Waktu ialah Selasih Wungu, yang kemudian menjadikan Puspita sebagai penerusnya).


"Non, apa Non Hita yakin akan menemukannya di sini? Ini hutan belantara, Non," Nyi Gondo Arum berusaha menahan agar Suhita tidak melanjutkan perjalanan.


"Ah, nenek. Mengapa tiba-tiba nenek jadi begitu penakut? Ini 'kan siang hari. Sudah, tidak akan terjadi apa-apa, nenek tenang saja," jawab Suhita ngotot.


Tanpa bisa dihentikan, Suhita terus berjalan. Terpaksa Nyi Gondo Arum mengikuti. Bahan-bahan yang Suhita cari kali ini berbeda dari biasanya. Nampaknya dia tidak sedang cari bahan untuk pengobatan.


Memang benar, Suhita tidak sedang mencari ramuan obat. Malah sebaliknya, dia sedang mencari untuk membuat racun.


Kitab yang ditulis oleh ibunya sudah mulai Suhita pelajari. Lembar demi lembar telah ia perdalam setiap poinnya. Puspita telah berhasil meyakinkan anaknya mengenai sisi baik jika mempelajari kitab tersebut. Puspita juga menekankan jika usia kitab hanya akan bertahan selama enam bulan. Jadi, Suhita harus selesai mempelajari semuanya dalam kurun waktu yang sama.


Suhita tertarik memang bukan karena semata buta untuk bisa membuat racun untuk menjaga diri, tapi lebih dari itu. Rasa ingin tahu yang begitu besar, membuat Suhita semakin bersemangat. Catatan pemberian ibunya itu menjawab segala pertanyaan yang selama ini membayangi pikirannya. Suhita pernah beranggapan jika ayahnya memberikan penjelasan yang tidak detail, tapi sekarang semuanya sudah terungkap tanpa secuil pun yang ditutupi. Karena memang orang yang menulis ialah seorang ahli racun terbaik pada masanya.


Matahari yang telah berada tepat di atas ubun-ubun tidak membuat cuaca terasa panas. Rindangnya pepohonan membuat cahaya matahari tidak mampu menembus dengan sempurna. Suhita dan Nyi Gondo Arum sudah berputar arah, mereka akan menuju jalan pulang. Saat itulah muncul bayangan yang berkelebat menghampiri mereka.


"Nona, hati-hati!" Nyi Gondo Arum memusatkan perhatiannya. Dia melompat mendekat pada Suhita.


"Gkgkgk! Rupanya telingamu masih tajam, nenek peot. Aku baru saja mau tiba," suara khas seorang kakek tua yang kemudian menampakkan diri.


"Fiiihhh! Aki-aki bau tanah. Berani sekali kau menampakkan wajah kotormu di depanku!" Nyi Gondo Arum mengepalkan kedua tangannya, "Nona, hati-hati. Aki-aki busuk itu bukan orang baik."


"E-e-eee ... tunggu dulu. Kau jangan meracuni otak anak kecil dengan ujaran kebencian," kakek tua itu menggoyangkan jari telunjuknya ke arah Gondo Arum.


"Kalagondang! Jangan pancing batas kesabaran ku. Menyingkir dari jalan, kami mau lewat!" bentak Nyi Gondo Arum.


"Gkgkgk! Kau kira aku takut. Hei, memangnya kau mau pulang ke mana, apa punya rumah?" ledek Kalagondang.

__ADS_1


"Nenek pulang ke rumahku. Dia yang menemaniku setiap hari, kakek jangan ganggu nenek terus," jawab Suhita.


"E-eehh ... bukan begitu, cah manis. Kakek hanya takut dia menyakitimu," jawab Kalagondang dengan lembut. Senyumnya berubah amat manis saat menatap Suhita.


"Ah, itu karena kakek belum mengenal nenek. Dia baik, kok. Makanya kalian berteman saja, jangan bertengkar, ya," Suhita menarik jubah Nyi Gondo Arum sambil tersenyum lebar.


"Berteman?! Fuuiiihhh! Tidak sudi!" sangat kompak. Kedua kakek nenek itu menyuarakan hal serupa.


Suhita melongo, matanya bergantian memandangi wajah Nyi Gondo Arum dan Kalagondang, berulang kali. Ternyata kedua kakek nenek itu sudah saling mengenal. Lalu mengapa mereka saling bertengkar?


"Nona, sudah jangan pedulikan dia. Aki-aki busuk itu, mana bisa diberi hati," Nyi Gondo Arum mengajak Suhita untuk segera pergi.


"Ealaaahhh! Begitu saja mau pergi. Apa kau sudah tidak lagi punya keberanian?"


"Kakek, jangan bertengkar lagi. Kami minta maaf kalau sudah mengganggu istirahat kakek. Atau begini saja, bagaiman kalau kakek singgah ke rumah kami. Akan Hita siapkan makan siang yang enak, kakek pasti lapar," Suhita tersenyum pada Kalagondang.


°°°


Puspita tidak bisa memberi keputusan. Dia hanya terdiam ketika Suhita terus mendesak agar ibunya memberikan tempat tinggal untuk Kalagondang.


"Kasihan Kakek, Bu. Dia tidak punya rumah. Bukannya di kamar belakang itu kosong dan tidak berpenghuni? Kakek bilang, dia mau meskipun tinggal di kandang kuda. Lagi pula, kakek itu baik, kok."


Puspita tersenyum, dia tidak menjawab. Di rumah itu, Kalagondang akan menjadi satu-satunya pria. Terus terang, Puspita masih trauma jika harus satu atap dengan laki-laki kecuali suaminya. Bahkan untuk bicara berdua dengan Raditya, ayah mertuanya. Puspita tidak berani. Trauma setelah kehancuran akibat perbuatan terlarang Puspita dan Mahesa saat itu, masih terngiang sampai sekarang. Karena manusia, memiliki batas yang sangat tipis. Di mana akal sehat tidak akan pernah bisa menang melawan hawa napsu.


"Nyonya jangan ragu. Aki-aki busuk ini tidak usah dikasihani. Biarkan saja dia jadi gelandangan. Saya yakin, Tuan tidak akan mengizinkan," Nyi Gondo Arum memanasi.


"E-eehh ... dasar nenek peot. Kau pikir rumah ini milikmu, ya? Enak saja main usir-usir. Nyonya, saya bisa terima apa pun keputusannya. Tapi saya harap Nyonya tetap izinkan untuk saya bertemu dengan Non Hita," pinta Kalagondang.

__ADS_1


"Fuuiiihhh! Jangan-jangan kau ini adalah gerombolan penculik, kau ingin menculik Non Hita, ya? Pake cara pura-pura baik. Akan ku potong lidah busukmu itu," Nyi Gondo Arum berdiri dan bersiap menyerang Kalagondang.


Puspita segera melerai mereka. Dari sikap cara keduanya berkomunikasi, mengingatkan Puspita pada Mahesa dan Dewi Api. Hanya saja, Nyi Gondo Arum dan Kalagondang tidak bisa melebur keangkuhan mereka dan akhirnya tidak menikah sampai usia keduanya menjelang senja. Coba saja, kalau Mahesa dan Dewi Api sama seperti kedua orang ini, mungkin hidup Puspita tidak akan seperti sekarang. Mahesa pasti akan selalu ada bersamanya, menjadi miliknya seutuhnya.


Ah, tidak, tidak. Puspita segera mengusir pikiran jeleknya itu. Dia tidak boleh berpikir buruk seperti itu. Puspita harus sadar diri, hidup ini tidak seindah mimpi.


"Untuk sementara waktu, aki bisa mencari tempat si sekitar sini. Maaf, aku tidak bisa putuskan sekarang. Terus terang, aku miliki trauma jika ada seorang pria selain suamiku tinggal di rumah ini. Satu lagi, asalkan tujuannya baik, maka tidak mungkin aku melarang siapa saja untuk menemui Suhita," jawab Puspita.


Puspita yakin, jika Kalagondang dan Nyi Gondo Arum merupakan sepasang pendekar kuat di masa jaya mereka. Meskipun Puspita tidak pernah mendengar nama Kalagondang di dunia persilatan. Atau peran Kalagondang hanya menjadi bayang-bayang Nyi Gondo Arum. Entahlah.


"Gkgkgk! Nyonya, terima kasih. Saya pasti akan mengawasi Non Hita dari gangguan iblis jahat bernama Gondo Arum ini. Nyonya tenang saja, saya akan singkirkan pengaruh buruknya," Kalagondang membungkuk berulang kali.


"Kurang ajar! Mana mungkin Nyonya percaya mulut busukmu itu. Cepat pergi!" Nyi Gondo Arum mencengkeram pundak Kalagondang dan melemparkan tubuh kurus tersebut ke luar ruangan. Dia segera menyusul, untuk memastikan jika Kalagondang benar-benar pergi.


Puspita tertawa kecil melihat tingkah dua orang tua itu. Sungguh, dia mengganti wajah kedua orang itu dengan wajah Mahesa dan Dewi Api. Mungkin, masa tua keduanya nanti akan seperti itu.


Puspita berharap dengan kehadiran dua orang tua yang memiliki kemampuan tinggi di sisi Suhita, maka bisa menjaga keselamatan Suhita dengan baik. Satu lagi, Puspita pastinya inginkan anaknya untuk tertarik belajar bela diri jika setiap hari bergaul dengan pendekar yang menunjukkan betapa seni dalam bela diri itu sangat indah. Selain untuk menjaga keselamatan, tentunya juga bisa digunakan untuk kesehatan. Olah raga, membugarkan badan yang letih berpikir seharian.


"Apa ibu akan izinkan kakek itu tinggal bersama kita?" tanya Suhita mendapati wajah ibunya begitu berbinar.


"Begini saja, bagaimana kalau Hita berjanji pada ibu. Selain meracik obat, Hita juga harus rajin berolahraga seperti kakek dan nenek. Dengan demikian, ayah pasti senang," bujuk Puspita.


Suhita Prameswari menoleh ke arah halaman. Di kejauhan terlihat Nyi Gondo Arum dan Kalagondang masih berkelahi. Menunjukkan seni yang indah.


"Baik, Bu. Nanti Hita akan minta untuk nenek mengajari."


Betapa bahagianya Puspita Dewi mendengar jawaban anaknya. Perkataan itu sudah ditunggu-tunggu selama beberapa tahun lamanya. Akhirnya, Tuhan berikan jalan untuk membuka pintu hati anaknya. Sungguh, kabar gembira yang harus segera Mahesa ketahui. Tapi ... kapan suaminya itu kembali?

__ADS_1


Ah, Puspita sudah terbiasa. Dia juga sadar akan posisinya. Setelah Mahesa selesai dengan Dewi Api, maka dia pasti akan kembali. Ya, memang begitulah nasib hidup dimadu. 😭.


__ADS_2