
Kompetisi masih berlanjut dengan menyajikan pertarungan yang sangat menarik untuk disaksikan. Di atas arena, dua orang anak berbakat sedang menunjukkan kapasitas mereka masing-masing.
Nama besar Padepokan Api Suci memang sudah tidak bisa diragukan lagi dalam bidang dan segi apa pun. Termasuk dalam membina sosok anak yang begitu hebat. Raka Jaya berhasil mengundang decak kagum para penonton setelah mampu menunjukkan jika dia pantas menjadi penerus Dewi Api.
Namun, di sisi lain ada hal yang juga mengejutkan perihal lawan yang sedang dihadapi oleh Raka Jaya.
Pati Unus yang BUKAN salah satu peserta unggulan berhasil membuat gebrakan. Kemampuan yang dia miliki mampu mengimbangi Raka Jaya hingga sejauh ini. Mereka merupakan lawan yang sebanding, melupakan orang-orang pada para peserta yang lain. Dikala merasa jika pertandingan yang sedang berlangsung merupakan partai final.
"Ah, celaka! Orang itu menggunakan racun bayang-bayang dalam setiap jurusnya. Apa yang harus aku lakukan?!" Suhita yang menyaksikan pertandingan dari tempat yang cukup jauh dibuat kebingungan.
Harusnya, penyelenggara lomba menghentikan pertarungan itu. Bukankah bertindak curang sangat dilarang? Pati Unus menggunakan racun, masa tetap dibiarkan.
"Tuan, bisa bawa saya menemui pimpinan padepokan?!" Suhita meminta bantuan pada seorang murid padepokan yang berjaga.
Murid padepokan Giling Wesi itu memandangi Suhita dari ujung kaki sampai ujung rambut. Seolah mencari tahu identitas hanya dengan pandangan mata.
"Tuan, saya mohon," Suhita menunjukkan lencana emas yang diberikan oleh ayahnya.
Terpaksa Suhita menempuh jalan itu karena dia kehabisan cara untuk secepatnya bisa mencapai arena pertandingan. Suhita harus mengingatkan penyelenggara kompetisi, jika tidak takutnya nyawa Raka Jaya dalam bahaya besar.
"Kau tunggu sebentar di sini. Aku akan temui atasanku," ucap murid padepokan itu sambil membolak-balik lencana emas yang Suhita berikan.
Secara teknis, Jaka Pragola telah salah menunjuk kepala keamanan. Tidak seharusnya murid yang berpengetahuan rendah seperti itu ditempatkan sebagai penjaga pintu. Lencana pengenal milik Mahesa saja, dia sampai tidak mengenali.
"Aduuuhhh ... lama sekali. Aku takut kalau ini sampai terlambat," Suhita begitu khawatir akan keselamatan Raka Jaya.
__ADS_1
Melihat murid padepokan yang masih berbisik-bisik dengan atasannya, Suhita sudah tidak sabar lagi. Dengan menggunakan tenaga dalam yang dia miliki, Suhita berusaha untuk menerobos dan mendekat pada prajurit jaga tersebut. Sekali lagi, Suhita merutuki dirinya. Menyesal atas keras kepalanya ia yang selama ini tidak mau belajar ilmu meringankan tubuh. Setelah semua ini, Suhita bertekad untuk melengkapi kemampuannya. Barulah bisa menjadi orang yang sigap saat dibutuhkan.
"Raka kau harus bisa bertahan!" teriak Suhita dalam hati.
"Tuan, bagaimana? Apa saya bisa masuk ke tepi arena?!" tanya Suhita pada pimpinan pasukan penjaga.
"Aku tahu, lencana emas ini asli. Tapi ..."
"Tuan, sudah tidak ada waktu lagi. Ada kecurangan dalam pertandingan itu, saya harus mengingatkan penyelenggara," potong Suhita. Dia merasa jika para penjaga terlalu bertele-tele. Atau mungkin, mereka memang menerima perintah begitu? Memeriksa dengan teliti hingga terkesan bodoh.
"Anak kecil, kau jangan sembarang bicara. Kau bisa didakwa atas tuduhan tidak beralasan itu!" suara pimpinan penjaga terdengar sedikit meninggi.
"Ada apa ini?!" ketika Suhita hendak membantah, ada suara lain yang mendekat pada mereka.
Melihat dari lambang yang ada di bajunya, dia berasal dari Padepokan Walet Merah. Tentu saja merupakan orang yang berpengaruh. Lagi pula, Ambar Wati (istri pimpinan Padepokan Giling Wesi merupakan orang Walet Merah). Pria itu mendekat dan mengambil lencana pengenal yang ada di tangan penjaga.
"Tuan ..." suara Suhita mengalihkan perhatian orang itu.
"Ah, adik, maaf. Mereka adalah orang baru, jadi nampak sangat bodoh. Sekarang, kau bisa ikut denganku," dengan memaksakan senyum pendekar dari Padepokan Walet Merah itu mengembalikan lencana emas pada Suhita dengan membungkuk hormat.
"Tuan, saya juga ada bawa surat untuk pimpinan padepokan. Untuk membuktikan jika saya ..."
"Ah, sudahlah. Sekarang ayo ikut denganku. Silahkan," pendekar itu mempersilahkan Suhita berjalan ke tempat yang diinginkan. Sementara dia terlebih dahulu menatap pada dua penjaga sambil mengalungkan jari telunjuk di lehernya dengan ekspresi lidah yang menjulur. 'Habislah, kalian.'
Suhita secepatnya berlari menuju Raka Jaya yang sedang istirahat minum. Terlihat jika wajah Raka Jaya sudah pucat seperti kecapean.
__ADS_1
"Raka!"
"Ah, Hita. Kenapa kau ke sini?" Raka Jaya mengerutkan dahi melihat Suhita nekad melompat naik ke arena.
"Jangan banyak bicara, cepat kau minum ini. Cepaaatt!" Suhita memaksa Raka Jaya untuk menelan sumberdaya di tangannya.
Secara singkat, Suhita menjelaskan jika lawan Raka Jaya menggunakan jurus Racun Bayangan saat bertarung. Hal itu membuat Raka Jaya seperti kehabisan tenaga, padahal sebenarnya dia keracunan.
"Kau harus bawa ini. Saat napasmu mulai tidak teratur, kau harus menelan satu butir lagi," ucap Suhita.
"Tabib kecil, ini tidak diperbolehkan. Mengkonsumsi sumberdaya dalam pertandingan akan membuat peserta di diskualifikasi," seorang juri mendekat dan mengingatkan Suhita.
"Tuan. Dia yang telah curang. Menggunakan Jurus Racun Bayangan untuk melemahkan tubuh lawan. Apa itu diperbolehkan?" bantah Suhita.
Suara Suhita yang keras, membuat orang-orang yang menonton pertandingan mengalihkan perhatian padanya. Termasuk pimpinan dan anggota Padepokan Menara Kematian. Mereka menatap Suhita dengan penuh selidik.
"Dasar sialan! Membuat masalah saja. Apa dia ingin menjadi pahlawan?! Cari mati!" desis Danur Cakra menyaksikan banyak mata yang menyimpan rasa tidak suka pada adiknya. Terutama orang-orang dari Menara Kematian.
"Apa karena kalian berasal dari Padepokan Api Suci, padepokan yang berpengaruh. Hingga bisa seenaknya melayangkan tuduhan pada kami yang hanya padepokan lemah. Jika inginkan anak didikku kalah, katakan saja. Kami pasti akan lakukan. Kami bisa mengundurkan diri sekarang juga!" seorang dari Menara Kematian angkat bicara.
Perkataan Suhita hanya berbentuk tuduhan yang tidak berdasar. Karena tidak semua orang yang bisa melihat efek dari jurus racun bayangan seperti yang Suhita katakan. Karena apa pun, diperlukan bukti-bukti yang kuat.
Bagi Padepokan Api Suci, tentu apa yang dikatakan oleh tokoh Padepokan Menara Kematian merupakan hal yang sangat menampar. Mereka merasa dipermalukan. Itu sama saja menyebut jika Raka Jaya tidak memiliki kemampuan. Jika saja, ada Dewi Api di sana. Sudah pasti keributan yang lebih besar akan terjadi.
"Tidak! Aku baik-baik saja, dan aku siap melanjutkan pertandingan!" Raka Jaya segera berdiri dan melangkah ke tengah arena. Waktu istirahat sudah habis.
__ADS_1
Raka Jaya mengangkat tabung bambu kecil yang berisi sumberdaya pemberian Suhita. Dengan disaksikan semua orang, Raka Jaya mengembalikkan sumberdaya itu pada Suhita.
"Mari kita lanjutkan!"