
Plok! Plok! Plok!
"Luar biasa, kemampuan nyai sungguh membuat aku terpana," puji Mahesa seraya menghadiahi tepuk tangan.
"Tuan terlalu berlebihan, apa istimewanya kemampuan saya. Sungguh tidak sebanding dengan kekuatan besar yang Tuan miliki," Nyi Gondo Arum membungkuk hormat. Matanya menatap ke arah jasad Tikus Besar yang sudah tidak bergerak lagi.
Ya, Mahesa menghabisi pimpinan rampok tanpa wajah itu dalam waktu yang kurang dari sepuluh jurus. Tidak banyak orang yang bisa lakukan hal semacam itu. Kecuali, mereka yang telah memiliki kemampuan di atas rata-rata.
Tidak ada anggota rampok yang tersisa, semuanya sudah tergeletak tidak bernyawa. Kuda-kuda yang tadi mereka tunggangi hanya bisa terdiam saat Mahesa menarik paksa setiap bungkusan yang ada di punggung kuda. Masing-masing bungkusan itu berisi perhiasan dan uang. Sungguh tangkapan yang sangat besar. Tapi sayangnya tidak ada anggota rampok yang bisa menikmati hasil itu. Mereka telah dirampok dan bahkan kehilangan nyawa.
"Tuan, uang dan perhiasan sebanyak ini ... mau diapakan?" Nyi Gondo Arum menimang-nimang perhiasan emas.
"Pasti akan ada gunanya, kau simpan saja baik-baik," ucap Mahesa tanpa beban. Dia hanya tersenyum tipis.
Nyi Gondo Arum menghela napas. Dia membantu Mahesa mengumpulkan barang berharga ke dalam dua bungkusan yang lebih besar.
"Nyai, kita istirahat besok pagi saja. Sambil sarapan di kampung yang terletak di balik gunung itu," ucap Mahesa.
Nyi Gondo Arum mengangguk dan segera mengikuti Mahesa. Mereka akan istirahat besok pagi. Jika tidak ada halangan, maka sebelum tengah hari keduanya akan tiba di desa Talang Tunggal.
Kalau sendirian, waktu yang dibutuhkan tidak akan selama itu. Mahesa bisa berlari dengan lebih cepat, bahkan hampir mencapai dua kali lipat kecepatan lari Nyi Gondo Arum. Itu karena Mahesa telah berhasil menggabungkan ilmu meringankan tubuh yang dia miliki dengan kemampuan Tapak Naga hingga tubuhnya menjadi lebih ringan dan napas pun sangat panjang. Namun ketika bersama dengan orang lain, maka Mahesa akan menyesuaikan kecepatannya dengan rekan perjalanan.
Matahari tepat berada di atas kepala, ketika Mahesa mendarat tidak jauh dari Desa Talang Tunggal. Mereka memasuki desa dengan berjalan kaki. Seperti biasa, Mahesa tidak menunjukkan tanda-tanda mencurigakan jika dia merupakan seorang pendekar.
__ADS_1
"Ini rumahku, mereka itu adalah anak dan istriku. Nanti Nyai akan tinggal di sini. Bersama mereka," ucap Mahesa ketika mereka memasuki pekarangan rumah.
Nyi Gondo Arum mengangguk dan berusaha untuk tersenyum. Walaupun wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa kaget. Berkali-kali Nyi Gondo Arum memandangi istri Mahesa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Di luar dugaan.
Bukankah istri Elang Putih adalah Dewi Api? Lalu siapa wanita ini?! Istri simpanan Elang Putih? Yang benar saja.
"Ayaaahhh!" Suhita berlari menyambut kedatangan ayahnya. Puspita mengikuti di belakang.
"Sayang," Mahesa memeluk Suhita, "oh, ya. Beri salam pada nenek. Nah, mulai hari ini. Nenek akan tinggal bersama kita, Hita tidak keberatan 'kan?"
"Tentu saja tidak, ayah," Suhita tersenyum ramah pada Nyi Gondo Arum. Bocah kecil itu membungkuk berulang kali memberi salam, "Nenek, selamat siang. Namaku Suhita Prameswari. Aku sangat senang jika nenek mau tinggal bersama kami."
Nyi Gondo Arum tersenyum iba. Matanya mengkilap, berkaca-kaca saat memandang wajah Suhita. Sungguh seperti dalam mimpi saja ada seorang anak kecil yang tersenyum ramah padanya. Persetan bagaimana kisah keluarga Elang Putih ini, yang jelas Nyi Gondo Arum bisa ikut mengasuh seorang anak perempuan. Hal yang pernah menghilang saat putrinya pergi untuk selama-lamanya.
"Namanya Nyi Gondo Arum. Kau pasti pernah dengar bagaimana sepak terjangnya sebelum meninggalkan dunia persilatan," jawab Mahesa penuh keyakinan.
"Nyi Gondo Arum?! Ba-bagimana Kanda bisa bertemu dengannya? Kemampuan yang dia miliki begitu kuat. Tapi setelah memutuskan untuk keluar dari dunia persilatan, tidak seorang pun tahu di mana dia berdiam. Kanda hebat," puji Puspita. Sebagai ahli informasi keluarga Belibis Putih, tentu Puspita tahu hampir semua nama tokoh pendekar yang ada di seantero kerajaan utara.
"Hehehe, kau memang harus mengakui betapa hebatnya suamimu ini. Sekarang, dengan adanya Nyi Gondo Arum yang menjaga kalian, aku tidak perlu risau andai sedang tidak bersama kalian," wajah Mahesa begitu gembira. Dia sampai melupakan bahwa dari kalimat itu seolah mewakilkan maksud jika selama ini setiap kali pergi merasa terbebani oleh tanggung jawab atas keselamatan anak dan istrinya.
Untung saja dia berhadapan dengan Puspita, yang hanya membalas dengan senyum manis. Tanpa adanya ekspresi aneh lain di wajahnya. Coba saja kalau bertemu dengan istri pertamanya, bicara dengan kalimat taksa makna seperti itu sama saja dengan menyerahkan kepalanya.
Nyi Gondo Arum merasakan kalau dirinya diterima dengan baik di keluarga itu. Puspita begitu baik padanya, begitu juga dengan Suhita yang sangat cerdas dan tidak menyusahkan. Ya, memang rada keras kepala terkadang. Hanya saja, Nyi Gondo Arum sedikit heran mengapa sampai Mahesa menyembunyikan keberadaan anak dan istrinya dari dunia persilatan. Terus terang, Nyi Gondo Arum sangat terkejut saat menemukan wanita yang menjadi istri Mahesa di sana ternyata bukanlah Dewi Api. Rasanya aneh saja, mengapa harus ada cerita seperti itu di dalam kehidupan seorang pendekar ternama selevel Pendekar Elang Putih.
__ADS_1
"Nek, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," bisik Puspita pada Nyi Gondo Arum.
"Nyonya, jangan sungkan. Apa pun itu, saya pasti akan bantu," bagi Nyi Gondo Arum, sikap Puspita seperti itu dirasa terlalu berlebihan. Bukankah dia seorang Nyonya rumah?
"Nenek bisa lihat, bukan? Kegemaran Suhita sangat bertolak belakang dengan dunia persilatan. Sementara, ayahnya inginkan untuk dia berlatih ilmu silat. Apa Nenek punya saran?"
Nyi Gondo Arum mengangguk. Dia bisa pahami apa yang Puspita maksud. Dan itu juga merupakan salah satu alasan mengapa Mahesa memintanya untuk datang. Pasti. Pasti Suhita yang telah bereksplorasi akan tersandung masalah di kehidupan masyarakat. Dia memang menebar kebaikan sebagai seorang juru sembuh, membantu orang yang membutuhkan pertolongan, terutama mereka yang mengalami keterbatasan ekonomi. Tapi rasa iri dengki yang dimiliki orang lainlah yang menyebabkan masalah itu.
"Nyonya, saya akan berusaha. Paling tidak Nona Hita harus punya dasar-dasar bela diri untuk melindungi dirinya saat keadaan terdesak."
"Terima kasih, Nek. Aku begitu kasihan pada Kanda Elang, dia tidak bisa memenuhi harapannya. Sebagai seorang istri, aku merasa sangat bersalah. Setiap hari bersama, tapi aku tidak bisa sedikit pun meyakinkan anakku bahwa apa yang diinginkan ayahnya merupakan hal yang amat penting," keluh Puspita.
"Nyonya jangan sedih, selama Tuan tidak ada, maka saya akan berusaha untuk berikan perlindungan pada Nona Hita. Pelan-pelan saya akan berusaha untuk bicara dengannya," janji Nyi Gondo Arum.
"Terima kasih, Nek. Kalau begitu, aku ke kamar dulu, ya."
"Mari, mari. Silahkan Nyonya," Nyi Gondo Arum berdiri dan membungkuk hormat, mengantar Puspita beberapa langkah.
"Nyonya jangan khawatir, saya pasti akan lakukan yang terbaik," Nyi Gondo Arum memandangi punggung Puspita hingga hilang di balik daun pintu. Lalu kemudian nenek itu kembali menghampiri Suhita Prameswari yang begitu fokus pada racikan obatnya.
Puspita segera mengunci pintu dan jendela. Ibu muda itu mengambil kertas dan tinta, melanjutkan catatan Racun Waktu-nya. Sekarang, Puspita bisa konsentrasi penuh menyelesaikan proyek besar itu. Suhita ada yang menemani, sementara suaminya juga tidak di rumah.
"Putriku, Ibu tahu jika ini merupakan suatu kesalahan. Tapi ibu tidak punya apa-apa untuk membekali masa depanmu. Ibu tidak bisa menjadi pelindungmu, ibu juga tidak punya sedikit pun kemampuan yang bisa diajarkan. Semoga, kau bisa bijak dalam menggunakannya kelak," Puspita memantapkan hatinya, sebelum menggoreskan tinta, menyelesaikan tulisan penjabaran Ilmu Racun Waktu tahap akhir. Jika Suhita berhasil pelajari itu, maka kemampuannya meracik racun akan mencapai pada tahap paling tinggi.
__ADS_1
Akan jarang ditemui seorang juru sembuh yang kuasai teknik racun tingkat sempurna. Dari generasi ke generasi, sangat sulit untuk menemukan satu nama saja. Puspita hanya bisa berharap, semoga anaknya tidak sampai salah jalan dan menjadi jahat seperti yang pernah terjadi pada dirinya. Semoga tidak.