
"Aaakkhhh ..." bersamaan dengan cadar yang digunakannya terlepas, penjahat berpakaian serba hitam itu menjerit. Darah mengucur deras dari mulutnya.
"Ah?!" Krepa, Raka Jaya dan Ateng saling bertukar pandang. Mereka mendapati jika orang itu memiliki rasa setia kawan yang begitu tinggi. Supaya dia tidak bisa mengatakan atas apa yang dia ketahui, dengan sengaja orang itu menggigit lidahnya hingga putus.
"Dasar gila! Sudah, bunuh saja dari pada membuat masalah!" ucap Ateng geram.
"Tidak perlu repot-repot. Dia akan mengakhiri nyawanya sendiri. Ayo kita pergi," Raka Jaya berbalik badan dan segera melangkah meninggalkan tepi hutan.
"Eee, tunggu kawan!" Ateng berlari menyusul. Sebelumnya, dia sempatkan untuk memukul kepala tawanannya dengan kayu kering.
"Aku yakin, pasti ada yang mengenali dari mana mereka berasal," Krepa menunjukkan beberapa bukti penting yang dia peroleh dari saku pendekar berjubah hitam.
"Paman, mereka tidak akan pernah berhenti sebelum kompetisi berakhir. Besar kemungkinan, mereka juga akan menyerang pemenang dari kompetisi nanti."
"Hei, apa kau gentar?" Ateng menyenggol lengan Raka Jaya.
"Sama sekali tidak. Maksud ucapanku ialah, jika kelompok mereka pasti akan tertangkap dan hancur. Sepandai-pandainya tikus sembunyi, takdirnya ialah mati di tangan kucing."
Ketiganya bergegas kembali ke penginapan. Mereka dapatkan sedikit petunjuk untuk teka-teki pembunuh yang telah habisi nyawa beberapa calon peserta kompetisi.
°°°
Justa Jumpena berjalan hilir mudik. Hatinya resah. Sebagai pimpinan pasukan pengawal, tentu saja beban mental menekannya begitu berat. Penjagaan telah di perketat. Seluruh anak pun tidak diperbolehkan keluar penginapan.
Sedikitnya ada tujuh orang anak berbakat yang mereka kawal. Semuanya merupakan calon peserta kompetisi yang dikirim untuk memboyong medali. Salah satunya ialah Raka Jaya, putra Dewi Api.
Masalah keselamatan dirinya, tentu Justa Jumpena tidak begitu memikirkannya. Namun hal buruk pasti terjadi pada keluarga besarnya bila mana sampai bermasalah dengan Dewi Api. Sebelum berangkat, pastinya Dewi Api telah bicara wanti-wanti pada Justa Jumpena.
__ADS_1
"Tidak. Ini bukan masalah Raka Jaya seorang, tapi masih ada enam orang anak yang lain. Bukan karena kita takut, melainkan kita memang tidak boleh gagal dalam tugas ini," Justa Jumpena menekankan pada Krepa dan beberapa orang kepercayaannya.
"Kakak, kau berpikir terlalu jauh. Anak-anak yang kita kawal, sangatlah berbakat. Aku yakin, dengan kerja sama pasti semuanya menjadi sedikit ringan."
Justa Jumpena membenarkan. Anak-anak yang mereka kawal, usianya paling tua memang sepuluh tahun. Akan tetapi bicara kemampuan, tentu mereka adalah yang terbaik hingga padepokan mengirim untuk kompetisi bergengsi.
"Sekarang, kita laksanakan sesuai rencana. Ingat, jangan ada yang berlagak sebagai pahlawan kesiangan," tandas Justa Jumpena sebelum mereka bergerak.
Malam nanti, diperkirakan akan datang serangan. Makanya mereka harus dalam keadaan seratus persen prima dan siap bertempur.
Raka Jaya yang menguping pembicaraan mereka mundur satu langkah. Bocah itu menyandarkan dirinya melekat pada dinding hingga tertutup oleh gorden yang terjuntai di dinding.
Untuk menangkap ikan, selain membutuhkan kail yang utama ialah umpan. Raka Jaya berpikir untuk menjadi umpan tersebut. Ya, Meskipun tanpa izin Justa Jumpena. Karena Raka Jaya yakin, jika dia bicara maka tidak mungkin akan diberi izin.
Setelah yakin tempat di sekitarnya aman, Raka Jaya segera kembali ke kamarnya. Menyelimuti bantal guling supaya orang mengira dia telah tertidur. Setelah itu, dengan menyamar sebagai pengantar makanan di kedai Raka Jaya keluar dari dalam penginapan.
Sesampainya di luar lokasi penginapan, Raka Jaya segera menuju ke satu tempat yang cukup tinggi. Di mana dari tempat itu, bisa melihat ke arah penginapan dengan sangat leluasa.
Raka Jaya lekas bersembunyi kala menyadari ada orang lain yang juga berada di tempat itu. Syukurnya orang itu ternyata pendekar yang berasal Padepokan Api Suci. Meskipun demikian, Raka Jaya tidak menampakkan diri.
Aura membunuh yang Raka Jaya miliki tidak pekat layaknya para pendekar yang telah malang melintang di dunia persilatan. Raka Jaya belum banyak membunuh orang, hingga dia belum bisa dideteksi dengan mudah. Sangat gampang untuknya bersembunyi tanpa harus repot-repot melakukan teknik penekanan aura.
"Paman Justa Jumpena dan seluruh anggota pengawal melakukan tugas dengan mempertaruhkan nyawa mereka. Begitu tulus mereka menjalankan tugas. Apakah aku harus menjadi beban?" Raka Jaya menggelengkan kepala. Dia tidak inginkan itu.
Tidak lama kemudian, Raka Jaya telah berjalan menuju tempatnya tadi siang melakukan pertarungan. Raka Jaya yakin jika Justa Jumpena telah mengirimkan orang untuk memata-matai ke tempat itu. Mungkin Krepa atau pendekar yang lain.
"Hei, apa yang kau lakukan di tempat ini?"
__ADS_1
Raka Jaya terkejut bukan kepalang saat dia melompat ke balik batu, di sana telah ada seorang anak kecil sebayanya telah lebih dulu bersembunyi.
"Ma-maaf ..." Raka Jaya berujar pelan. Dia bicara masih dengan setengah berbisik. Takut kalau-kalau ada orang lain yang juga berada di sekitar tempat itu.
Gelapnya hutan membuat cahaya rembulan yang temaram tidak bisa menembus menerangi tanah. Namun Raka Jaya bisa melihat wajah anak itu dengan jelas. Ya, mereka bisa saling mengenali wajah meski berada di dalam gelapnya malam.
"Aku Raka Jaya, dari Padepokan Api Suci. Maaf, siapa namamu?" tanya Raka Jaya dengan ramah.
Anak yang Raka Jaya sapa, sama sekali tidak membalas barang satu senyuman pun. Dia menyambut uluran tangan Raka Jaya seraya juga menyebut namanya, "Cakra."
"Kau pasti peserta kompetisi. Dari mana asalmu?" tanya Raka Jaya berbisik lagi.
"Kau ini, bukannya diam dan mengawasi keadaan. Bagaimana kau dapatkan informasi jika terus bicara!"
Raka Jaya menelan ludah. Cakra memang benar. Jika mereka terus bicara, pastinya keberadaan mereka akan diketahui.
Cukup lama keduanya saling diam, hanya melemparkan pandangan ke segenap penjuru. Hingga saat yang ditunggu itu tiba. Ada beberapa sosok orang yang datang.
"Hei, kau mau kemana?"
"Apakah kita satu tim? Tidak 'kan?! Jadi, jangan pernah campuri urusanku!" Cakra menepis tangan Raka Jaya yang memegangi pundaknya.
Dasar sialan! Raka Jaya pun tidak mengikuti bocah itu. Dia mengambil arah yang berbeda. Keduanya masih anak-anak tanpa memiliki aura membunuh yang pekat. Dengan begitu, mereka sedikit diuntungkan.
"Siapa sebenarnya anak itu? Aku merasa jika kemampuan yang dia miliki begitu besar," Raka Jaya masih penasaran.
Mayat-mayat yang tadi sore, sudah tidak lagi ada di tempatnya semula. Kelompok pasukan berjubah hitam pasti sudah mengamankannya.
__ADS_1
"Hiiyaaatttt !!!" terdengar teriakan keras.
Tidak lama berselang, Raka Jaya menyaksikan pertarungan di tempat itu. Tidak diduga, begitu banyak orang yang telah datang. Rupanya kabar kematian beberapa kelompok penjahat berjubah hitam sudah menyebar, hingga banyak para pendekar yang melakukan pengintaian.