Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Gua Badai Salju


__ADS_3

"Non, apa tidak sebaiknya kita tunda saja perjalanan ini? Lihatlah, tidak lama lagi pasti akan turun hujan," Kalagondang menunjuk ke arah puncak bukit yang telah diselimuti awan sangat tebal.


"Dasar penakut! Aki-aki busuk, jika mentalmu sudah seperti kerupuk tersiram air, maka baiknya kau pulang. Menyusahkan saja, cepat sana pergi!" usir Nyi Gondo Arum dengan penuh emosi.


"Emosi hanya akan membuat masalah semakin besar. Tapi kalau dibicarakan, apa kau akan mendengarkan. Kau ini bukan orang yang membicarakan prinsip. Bisanya cuma membicarakan kesalahan orang," jawab Kalagondang tanpa bergeming dari tempatnya.


"Ikut ya ikut, pulang ya pulang. Jangan banyak cing-cong. Kalau mau ikut, tutup mulutmu atau segeralah pergi."


Kalagondang menjulurkan lidah pada Nyi Gondo Arum. Kalau saja bukan karena Suhita, tidak mungkin dia akan diam saja.


"Kakek benar, jauh lebih baik kita istirahat di sini. Akan tetapi, aku tidak bisa terus andalkan ayah untuk penuhi kebutuhanku. Hal ini penting, aku harus segera dapatkan. Yang ditakutkan ialah ada orang yang mengetahui tujuan kita," Suhita menjelaskan mengapa keinginannya begitu tidak bisa dihentikan.


Kedua pengasuhnya tentu saja paham akan hal itu. Yang terlihat memang seolah mereka menghalangi, padahal sebenarnya keduanya hanya mengkhawatirkan Suhita. Meskipun dikaruniai begitu banyak kelebihan, tapi tetap saja Suhita adalah bocah kecil yang memiliki pola pikir yang hanya lebih baik dari anak sebaya dirinya.


Suhita tidak meminta untuk mencari tempat istirahat. Maka Kalagondang terus menyetir laju kereta kuda yang membawa mereka bertiga semakin dalam memasuki hutan di bukit hujan.


Suasana semakin gelap, rintik hujan yang dingin bak salju sedikit demi sedikit mulai menetes menyentuh muka bumi. Meski demikian, kuda yang menarik kereta terus berjalan. Sebelumnya Suhita telah meminta Kalagondang untuk memberi kuda tersebut minuman khusus hingga tidak merasakan hawa dingin yang membasuh tubuhnya.


"Non, jalan semakin samar. Kalau begitu Kakek lebih dulu akan periksa lokasi di sekitar sini, setelah itu baru kalian menyusul," Kalagondang menyerahkan tali kendali kuda pada Nyi Gondo Arum. Dia segera melompat keluar kereta.


"Kakek, hati-hati!" teriak Suhita setelah Kalagondang lenyap di balik gelap.


Mereka mencari gua badai salju, dan sekarang rintik hujan sedingin salju sudah mulai muncul, itu menandakan jalan yang mereka ambil tidak salah. Tunggu sampai temukan hujan salju yang lebat dan mereka temukan satu gua maka mereka telah sampai tujuan.


"Aduh, mengapa kakek tidak kunjung kembali? Hita takut terjadi sesuatu padanya," Suhita melongok ke luar kereta.

__ADS_1


Hujan semakin lebat. Hawa dingin yang disebarkan semakin menusuk. Dua ekor kuda yang sebelumnya tenang-tenang saja, sekarang mulai terlihat kedinginan.


Di tengah suasana yang semakin mencekam, Kalagondang kembali muncul dengan basah kuyup. Dia membawa kabar gembira dengan menemukan gua yang sedang mereka cari. Ya, Gua Badai Salju.


Dengan memaksakan diri, mereka menerobos hujan salju yang lebat guna mencapai gua badai salju.


"Huuuhhh ... syukurlah, akhirnya sampai juga," Kalagondang membawa kereta kuda mereka sampai di mulut gua yang cukup luas.


Udara terasa begitu dingin menusuk, hujan salju yang membuat beku memang bukan sekadar isapan jempol. Jika saja tanpa bantuan energi hangat dari ramuan herbal yang Suhita buat, mungkin sebagian tubuh mereka sudah membeku.


Tingkat kedinginan di dalam hujan salju itulah hanya beberapa level berada di bawah titik beku kemampuan Tapak Naga Es yang biasa Mahesa gunakan. Seandainya Suhita bisa taklukkan dan kuasai dingin di sana, maka tinggal butuh penyempurnaan sahaja untuk dia kuasai Tapak Naga Es dengan baik.


"Jika ayah yang pergi, pastinya ini bukanlah halangan. Tapi aku inginkan diriku berkembang lebih awal, hingga bisa tumbuh menjadi seorang hebat layaknya ayah," Suhita tersenyum penuh keyakinan. Dia menjadikan ayahnya sebagai motivasi untuk secepatnya maju.


Sebagai seorang Tabib Titisan Dewa, Suhita memiliki kemampuan tersendiri untuk bisa ketahui nama dan keberadaan obat ataupun rempah-rempah sumberdaya yang dibutuhkan untuk berbagai kepentingan. Tidak terkecuali bahan-bahan yang dia butuhkan untuk kepentingan pribadinya.


"Kita segera masuk, nek. Aku belum tahu pasti di mana keberadaan benda yang aku cari. Maka dari itu, kita harus mencarinya," ucap Suhita.


Mata Suhita sangat tajam, dia juga memiliki pendengaran yang cukup peka. Tentu saja semuanya diiringi dengan pola hidup sehat dan asupan nutrisi makanan yang sangat baik dan teratur. Suhita selalu menggunakan khasiat tanaman herbal untuk mengatasi masalah kebugaran dan segenap aspek yang menyangkut tubuhnya.


Wuuurrr!! ciittt ... ciiitt !!!


Puluhan ekor kelelawar berterbangan dari dinding gua. Mereka lari ketakutan saat Suhita berusaha membuka salah satu pintu.


"Ah, ternyata ini jalan rahasia, toh. Ckckck! Dari mana Non Hita bisa tahu?" Kalagondang terlihat kebingungan. Masa iya Mahesa yang memberi tahu, rasanya tidak mungkin. Bahkan Mahesa tidak begitu mengenal seluk beluk tanah di Kerajaan Utara ini.

__ADS_1


"Hanya keyakinan. Hati kecilku yang mengatakan," jawab Suhita datar.


Mereka segera masuk dan pintu kembali menutup. Menghilangkan jejak beberapa sandi yang tersembunyi di sepanjang dinding.


Di dalam ruangan rahasia itu, terdapat sebuah kolam yang memiliki air yang sangat jernih. Hebatnya lagi, air itu terasa hangat. Berbanding terbalik dengan suasana di luar gua yang beku.


Suhita memetik puluhan jenis tanaman obat yang tumbuh di sekitar kolam. Sumberdaya-sumberdaya itu seperti yang terdapat di alam lain. Berbeda dengan yang ada di hutan pada umumnya. Dengan kata lain, itu merupakan stok langka.


Secara logika, dengan hasil petik yang begitu banyak, Suhita akan kesulitan untuk membawanya pulang. Kedua pengasuhnya juga sudah begitu tua. Jika di masukkan ke dalam peti dan ditarik dengan kereta kuda, membawa sumberdaya langka seperti itu pastinya hanya memancing kejahatan di sepanjang jalan.


Mustika Kantong Kangguru, mungkin masih ada yang mengingat cincin milik Puspita Dewi yang dia peroleh saat perjalanan pulang dari Selatan beberapa tahun yang lalu. Ya, pusaka itu sekarang sudah diturunkan pada Suhita berikut seluruh isinya. Sumberdaya herbal, berbagai jenis racun, gundukan uang emas dan perak, bahkan senjata pusaka milik Puspita. Semuanya, sekarang sudah berpindah tangan dan menjadi milik Suhita.


Meskipun pada awalnya Suhita sempat menolak. Akan tetapi, juga tidak berguna jika mustika tersebut masih Puspita Dewi yang menyimpan. Puspita yang sama sekali tidak mau kembali belajar olah kanuragan, tidak punya kemampuan untuk bisa mengambil apa pun yang tersimpan di dalam cincin mustika tersebut.


Hsss! Hhsss! Hhhsss !!!


Terdengar desis seperti suara ular yang sangat besar. Suara itu memenuhi seluruh isi gua, seolah mereka berada di dalam mulut seekor naga.


"Nenek, Kakek. Tahan, jangan lakukan apa pun juga!" Suhita memperingatkan kedua pengasuhnya untuk tidak bertindak.


Perlahan, di depan mereka muncul kepala ular naga yang sangat besar. Kepala naga itu kemudian mengecil dan akhirnya lenyap. Berganti dengan wujud seorang wanita cantik berpakaian yang terbuat dari sisik ular, lengkap dengan mahkota dan aksesoris yang semuanya berlambangkan ular. Duduk di atas batu, tepat di depan kolam air panas.


"Pil Kelopak Surgawi, apa kalian datang untuk benda ini?" Ratu Naga membuka tangannya, menunjukkan kotak kayu kecil yang berisi Pil Kelopak Surgawi yang dia maksud. "Pil ini hanya ada satu butir, maka hanya satu orang saja yang bisa membawanya pulang."


Tentu saja, maksud Ratu Naga ialah tidak sembarang orang bisa keluar dari ruangan itu dengan selamat. Satu orang adalah jumlah yang maksimal.

__ADS_1


"Kami datang tanpa membawa maksud untuk saling mencelakai, jikalau pun ada orangnya tentu itu adalah dirimu," tiba-tiba Suhita bicara, seolah bukan dirinya.


"Nampaknya kita berjodoh, tabib dewa. Sayang sekali manusia di luar sana tidak terlalu beruntung untuk bisa menikmati darahmu," Ratu Naga menyeringai.


__ADS_2