Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Menyudahi


__ADS_3

Yang terlihat, semua orang sudah sangat menunggu saatnya Mahesa membuka belenggu kristal es yang menyimpan sebuah wajah manusia di dalamnya. Dengan demikian, maka akar masalah akan bisa ditelusuri.


"Baiklah, tapi aku harap kalian bisa bersikap bijak. Terutama kau, kak," Mahesa menatap Jaka Pragola.


"Apa dia merupakan orang di dalam padepokan ku? Jika benar, tentu aku tidak akan pilih-pilih. Hukum tetaplah hukum," Jaka Pragola menegaskan.


Mahesa mengangguk lemah, sebelum memetikkan jari dan membuat kristal es pecah, pandangan mata Mahesa sempat bertabrakan dengan mata Sulistya Sandra yang terus menatapnya. Mahesa melemparkan senyum tipis, mungkin sebagai sapaan. Atau entah apa maksudnya, yang jelas bagi Sulistya Sandra itu merupakan hal yang indah.


Praaakkkk! Satu retakan kecil, hingga kemudian menjalar bagaikan goresan kilat di seluruh permukaan bola kristal es.


Terutama Jaka Pragola, matanya tidak berpaling. Menanti hingga bola itu hancur dan membuat jatuh isi di dalamnya. Siapa gerangan penghianat di dalam padepokannya seperti yang Mahesa katakan.


PRAAKKK !!! Saat yang ditunggu itu akhirnya tiba. Kristal es tersebut hancur berkeping-keping dan menunjukkan sosok berjubah dan bercadar hitam di dalamnya.


Tanpa menunggu lebih lama, Jaka Pragola mengarahkan telapak tangannya pada sosok tersebut. Dengan sekali betot, jubah dan cadar hitam yang dipakai sosok misterius itu langsung berpindah pada genggaman tangan Jaka Pragola.


"... ???" semua mata terbelalak.


Barda Ripa, seorang ketua cabang kecil di Padepokan Giling Wesi merupakan orangnya. Dialah yang telah membuka jalan untuk para penculik bisa mengakses seluruh bangunan padepokan tanpa kesulitan.

__ADS_1


Barda Ripa masih terbatuk-batuk menahan rasa sakit di dadanya. Belenggu kristal es begitu menyiksa paru-parunya. Nampaknya Mahesa sengaja memberi hanya sedikit udara di dalam belenggu agar Barda Ripa tidak punya banyak tenaga.


"Kakak, perlakukan dia dengan baik. Bagaimana juga Barda Ripa adalah salah satu anak buah yang sering berjuang bersamamu. Aku yakin, saat ini dia menyadari kesalahannya," Mahesa menepuk pundak Jaka Pragola.


Jaka Pragola mengangguk dan berusaha untuk tersenyum, "Baik. Bawa dia, masukkan ke dalam tahanan untuk kepentingan pemeriksaan!" titah Jaka Pragola pada pasukan yang lain.


"Bagaimana kabar kak Ambar? Haduuuhhh ... Puja Kuswani pasti sudah tumbuh menjadi seorang anak yang manis," Mahesa menanyakan perihal keluarga kecil Jaka Pragola. Ya, itung-itung menghapus beban kekesalan di hati Jaka Pragola karena masalah ini.


"Adik, kau hanya menengok putriku sekali saat dia masih merah. Sekarang pasti kau kaget. Kita jarang sekali berjumpa. Beberapa kali aku sowan ke Padepokan Api Suci, tapi hanya istrimu yang ku temui. Masih seperti dahulu, hanya keberuntungan yang bisa mempertemukan denganmu," Jaka Pragola tertawa kecil. 


Mahesa ikut tertawa. Mereka terus mengobrol ringan, sebagai sahabat sekaligus saudara angkat yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Obrolan itu baru terhenti ketika mereka memasuki ruang kerja Jaka Pragola.


Mereka akan kembali mengusut kasus ini hingga tuntas. Ah, tidak. Bukan mereka. Hanya Jaka Pragola saja yang akan bekerja sampai tuntas di pengadilan. Sementara Mahesa hanya sebatas mencari dan mengumpulkan bukti. Dia berkata jika tidak bisa terlalu lama tinggal di Giling Wesi. Mungkin hanya satu atau dua hari ke depan saja. Mahesa bungkam saat ditanya mengenai kebetulan apa yang membuat dia tiba di Giling Wesi. Tentu saja, tidak ada yang bisa memaksa jika itu bersifat rahasia.


"Adik Elang, dengan bukti-bukti yang kau berikan. Aku berjanji akan mengusut kasus ini. Jika terbukti bersalah, Wira Sumitra harus mempertanggung jawabkan perbuatan bobroknya."


"Tidak perlu sungkan, kak. Aku juga berkewajiban untuk menghentikan segala bentuk kejahatan di muka bumi. Selama kita bisa bekerja sama, mungkin itu jauh lebih baik," ujar Mahesa.


Masalah sudah usai. Mahesa sangat bersyukur tenaganya masih sangat berguna. Oh ya, bagaimana dengan Suhita? Bahkan Jaka Pragola tidak menyinggung tentang itu. Padahal, secara khusus Mahesa telah memberi sepucuk surat dan lencana untuk Suhita tunjukkan pada petinggi Padepokan Giling Wesi. Dan tentu saja orang yang Mahesa maksud adalah Jaka Pragola itu sendiri.

__ADS_1


Menolak untuk menginap di kediaman Jaka Pragola, Mahesa justru memilih untuk mencari penginapan saja. Dengan begitu, dia bisa dengan bebas untuk mengawasi anak-anaknya jika wajahnya terbungkus dalam penyamaran. Mahesa tidak ingin namanya di sangkut pautkan dengan Padepokan Api Suci ataupun hal lainnya. Dia ingin kebebasan, karena ada sosok lain yang membutuhkan pertolongannya yang tidak diketahui oleh dunia persilatan. Anaknya.


°°°


Sementara itu, Suhita Prameswari yang sebelumnya telah berangkat lebih dulu meninggalkan hutan bersama dua orang peserta kompetisi yang diselamatkan dari sekapan Penculik Jubah Hitam. Mereka sudah tiba di Giling Wesi dengan selamat.


Suhita Prameswari tidak perlu menggunakan surat khusus yang diberikan oleh ayahnya. Dia diterima dengan baik oleh orang-orang dari Padepokan Lentera Hati. Itu sudah cukup bagi Suhita untuk bisa ikut keluar masuk di lokasi kompetisi tanpa terhalang oleh izin.


Senyum bangga dan juga perasaan lega menghiasi hati Suhita ketika mendengar hembusan kabar yang menyatakan bahwa Kelompok Jubah Hitam telah berhasil dihancurkan. Itu artinya ayahnya telah berhasil dalam misinya dan kabar begitu menyanjung nama Pendekar Elang Putih. Ayahnya pasti baik-baik saja. Suhita tidak perlu khawatir, mengingat nama ayahnya begitu diperhitungkan oleh siapa pun orangnya.


"Hmmm ... di mana tempat penginapan Raka Jaya, ya? Kalau malam ini aku pergi mencarinya, apa tidak mengganggu?" Suhita meletakkan jari telunjuknya di bawah dagu. Berpikir dan mempertimbangkan.


"Ahhh ... aku cari saja dulu. Kalau sudah ketemu, baru pikirkan langkah selanjutnya," Suhita tersenyum, memantapkan hatinya untuk melanjutkan langkah.


"Tabib kecil, kau mau kemana? Hari sudah sangat gelap," seorang murid padepokan yang berjaga menahan Suhita.


"Paman, ada yang mendesak untuk saya ambil. Lagi pula, kota ini masih sangat ramai. Paman tidak perlu khawatir, aku pasti akan kembali," Suhita tersenyum meyakinkan.


Akhirnya setelah beberapa saat bicara, murid padepokan itu mengizinkan Suhita untuk pergi.

__ADS_1


Suhita melangkah dengan santai membelah jalanan kota. Meskipun sudah larut, tetap saja kota itu sangat ramai. Terlebih lagi, begitu banyak padepokan yang datang mengikuti kompetisi. Tentu hal itu dimanfaatkan oleh penjual kuliner lokal untuk mengais rejeki.


"Itu sepertinya pasukan pengawal dari Padepokan Api Suci. Ah, aku harus ikuti dia. Dia akan menunjukkan jalan menuju Raka Jaya menginap," Suhita segera bergegas.


__ADS_2