
Dahulu, kuil itu digunakan untuk berbagai kepentingan keagamaan. Kuil yang semula bernama Kuil Sinar Mulya sekarang telah bertukar menjadi bangunan tua yang tidak terawat. Kerusakan parah terjadi di sana-sini, terlihat bekas pembantaian yang terjadi menjadikan aura negatif yang ganti menyelimuti kuil yang semula merupakan tepat suci.
Seperti yang telah disepakati sebelumnya, Raja Iblis akan menunggu Muning Raib dan Nyi Parang Awi di sana. Mereka akan bersama-sama menuju ke tempat di mana Raditya memperingati ulang tahun dengan membawa kado spesial.
Muning Raib yang melarikan diri dari pertarungan bisa melihat bangunan kuil dari kejauhan. Sejenak dia berhenti, mengatur napas untuk siapkan laporan buruk atas kegagalan yang terjadi.
Bukan karena alasan takut kalah jika harus bertarung melawan Suhita ataupun Danur Cakra (karena memang kenyataannya juga akan seperti itu). Akan tetapi Muning Raib lebih mendahulukan kepentingan kelompok mereka. Jika Muning Raib tidak cepat melapor, pastinya Raja Iblis tidak akan cepat mengambil tindakan. Bisa-bisa tiga bocah ingusan putra Mahesa akan membuat masalah menjadi semakin runyam.
Muning Raib tergopoh-gopoh memasuki pelataran kuil. Di sana dia berpapasan dengan beberapa pendekar yang tentunya menatap penuh tanda tanya. Muning Raib kembali dengan hanya seorang diri, tanpa Jenderal Muda bahkan tanpa membawa serta tiga orang anak buahnya. Jelas ada hal yang tidak beres telah terjadi. Sebelum Muning Raib bercerita, semua orang sudah tahu jawabannya.
"Hanya bocah ingusan?!" Raja Iblis menyipitkan matanya setelah mendengar laporan Muning Raib. Untuk pertama kalinya Raja Iblis kecewa atas kinerja Muning Raib. Ditambah dengan tindakannya yang melarikan diri, terbirit-birit menghindari perlawanan bocah kemarin sore.
Sekali lagi Muning Raib menegaskan jika apa yang dia lakukan bukan karena dia takut ataupun penjelasan lain yang merendahkan dirinya. Bahkan Muning Raib harus pertaruhkan namanya demi untuk kepentingan kelompok. Satu hal yang membuat Raja Iblis tersentuh.
"Baiklah. Alasanmu masuk akal, dan terima kasih karena kau telah berkorban. Akan tetapi, apakah semua yang kau ceritakan merupakan hal yang nyata? Seorang gadis belia kau katakan kuasai Pukulan Tapak Naga, sementara putra Elang Putih saja kita ketahui tidak miliki itu," ujar Raja Iblis masih belum yakin.
Seperti yang diketahui, Jurus Sepuluh Tapak Penakluk Naga hanya akan bisa dikuasai oleh pendekar yang memiliki darah keturunan Padepokan Naga Putih dari Selatan. Dan dikarenakan hanya Raditya satu-satunya keturunan yang tersisa setelah perang di Pulau Tengkorak, jelas menegaskan bahwa hanya keturunan Raditya yang mampu untuk menguasai kemampuan itu. Satu-satunya anak Raditya yakni Elang Putih, yang namanya melambung karena kemampuan Sepuluh Tapak Penakluk Naga. Lalu, siapakah gadis muda yang Muning Raib maksud?!
"Aku berharap apa yang kau katakan benar adanya. Dan sebelum berhadapan dengan Raditya, aku bisa menguji kemampuanku dengan bocah itu. Kita tunggu saja mereka di sini. Aku yakin keberadaan Dewi Api akan menuntun Jenderal Muda dan teman-temannya datang ke sini!" Raja Iblis memutuskan.
Muning Raib hanya bisa menghela napas mendengar keputusan Raja Iblis. Meskipun dia kurang setuju, karena itu bisa merusak segala rencana yang telah disusun. Jika Raja Iblis tidak bertemu dengan Raditya, kecil kemungkinannya untuk Muning Raib bisa berhadapan dengan Mahesa. Padahal dia sudah menantikan saat ini dalam waktu yang cukup lama.
°°°
Beralih pada Nyi Parang Awi.
Bersama dua orang anak buahnya, misi yang dijalankan Nyi Parang Awi berbeda dengan Muning Raib. Dia tidak mendapatkan halangan apa pun. Tidak ada campur tangan pendekar lain, hingga Dewi Api yang dalam keadaan lemas bisa mereka kalahkan.
Meskipun harus diakui, jika perlawanan yang dilakukan Dewi Api jauh berada di atas ekspektasi mereka. Menduga jika dengan kondisi fisik yang lemah Dewi Api akan mudah untuk diringkus, tapi nama besar Dewi Api sebagai pendekar wanita terkuat bukanlah isapan jempol belaka. Hampir saja salah seorang anak buah Parang Awi kehilangan nyawa. Bahkan Nyi Parang Awi sendiri dibuat kerepotan. Sampai kemudian Dewi Api ambruk karena kehabisan tenaga.
"Fuuiiihhh !!! Merepotkan saja!" Nyi Parang Awi meludah.
__ADS_1
Jika saja bukan karena misi yang dia emban untuk meringkus Dewi Api, sudah pasti Nyi Parang Awi akan menghabisi Dewi Api saat itu juga. Darahnya mendidih, tapi mau bicara apa karena kedatangannya bukan sekadar untuk bertarung.
Setelah Dewi Api diikat di punggung kudanya, Nyi Parang Awi dan dua anak buahnya kembali menuju kuil yang disepakati menjadi tempat bertemu.
Jelas saja perjalan mereka lebih lama karena jarak yang di tempuh sedikit lebih jauh. Terlebih mereka menggunakan kuda tanpa lari cepat seperti kala berangkat.
Nyi Parang Awi belum tiba di kuil, tapi dia telah menerima kabar yang tidak mengenakkan. Beberapa pendekar yang diperintahkan untuk menyusulnya telah menceritakan kegagalan yang dialami oleh Muning Raib.
Meskipun tertawa-tawa penuh ejekan, tapi sebagai rekan yang menjunjung tinggi solidaritas, Nyi Parang Awi bisa menerima alasan yang Muning Raib ungkapkan. Dia tahu bagaimana kualitas kemampuan yang dimiliki oleh Muning Raib. Dan tujuannya kembali yakni supaya kelompok dari Lereng Utara bisa lebih waspada. Banyak hal yang harus diperhatikan secara rinci. Layaknya sebutir pasir di ujung kuku, jika tidak segera ditangani maka akan menjadi penyakit yang serius.
"Apa pun yang menjadi keputusan Raja Iblis, pastinya yang terbaik. Tidak menutup kemungkinan jika mereka yang akan datang menemui kita. Terus terang, aku juga sangat penasaran bagaimana nanti pertarungan antara Naga Suci dan Raja Iblis," Nyi Parang Awi segera melanjutkan perjalanan.
"Permintaanmu segera terkabul, kalian tidak perlu untuk menunggu!" terdengar teriakan dari udara.
Serentak Nyi Parang Awi dan para pendekar lainnya mengangkat kepala, melihat siapa orang yang tiba-tiba muncul.
"Siapa dia?!" tanya Parang Awi pada seorang anak buahnya.
Raka Jaya berhasil menghadang jalan Nyi Parang Awi yang membawa tubuh ibunya. Dan tanpa basa-basi, kedatangan Raka Jaya langsung dengan mengayunkan sabetan pedang. Raka Jaya mengamuk, menghantam anak buah Parang Awi yang terluka dengan pukulan kristal api dari bilah pedangnya.
Dalam sekejap, pertarungan sengit segera berlangsung. Raka Jaya menggunakan kemampuan dari Padepokan Api Suci yang tentunya menempatkan anak buah Parang Awi dalam kesulitan. Pedang emas telah melukai mereka berdua. Bahkan tidak lama lagi seorang dari mereka akan kehabisan darah.
"Kepa*rat!" Nyi Parang Awi mengumpat, dia mengepalkan energi pada telapak tangannya. Lalu melemparkan energi tersebut untuk membokong Raka Jaya.
Tiiingg !!! Raka Jaya telah siap, dia menangkis serangan Nyi Parang Awi dengan bilah pedang ditangannya, hingga suara denting menusuk gendang telinga.
Raka Jaya terjajar hingga beberapa tindak. Kemampuan tenaga dalam yang dia tepis sungguh sangatlah tinggi. Para pendekar senior itu merupakan orang-orang pilihan yang sangat berbahaya.
Raka Jaya melirik pada tubuh ibunya yang terkulai lemah di atas punggung kuda. Dewi Api masih pingsan, tenaga dalamnya terlalu banyak terkuras.
Untuk bisa mendekat pada ibunya, Raka Jaya dihadang oleh anak buah Nyi Parang Awi. Dengan bantuan seorang utusan Raja Iblis yang baru tiba, membuat Raka Jaya harus meladeni empat orang sekaligus, di mana seorang diantara mereka merupakan pendekar wanita dengan olah kanuragan yang sangat sempurna.
__ADS_1
Tidak berselang lama, Suhita diikuti Kencana Sari juga tiba. Mereka datang memberikan tekanan pada Nyi Parang Awi dan anak buahnya.
"Hmmm ... inikah pada pendekar muda yang Muning Raib maksud? Aku melihat jika mereka tidak istimewa," batin Parang Awi.
Nyi Parang Awi marah, dia tidak terima anak buahnya dihajar habis-habisan. Dengan segera dia turun gelanggang. Dengan kemampuan tenaga dalam yang menakutkan, Nyi Parang Awi menyerang Suhita yang juga merupakan sesama wanita.
Pedang Raka Jaya berhasil merobohkan seorang lawan. Pria itu jatuh bersimbah darah, dan tidak lagi mampu melanjutkan pertarungan. Dia meregang nyawa di tangan seorang anak yang menuntut balas atas ketidak adilan dalam mereka memperlakukan sang ibu.
Satu melawan satu, pertarungan terus berlangsung. Masing-masing menggunakan kemampuan terbaik untuk bisa menekan lawan. Dan saat Danur Cakra datang, dia tidak lagi kebagian musuh.
Danur Cakra hinggap di dahan sebuah pohon besar. Dari sana dia bisa mengawasi pertarungan dengan leluasa. Cakra melihat jika tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam pertarungan itu. Kemampuan bertarung Suhita meningkat berkali lipat dari saat terakhir dia berjumpa, dan tentu saja Danur Cakra sangat gembira mengetahui hal tersebut.
"Ah, bibi Dewi?!" Danur Cakra melihat seorang wanita yang dalam keadaan tidak sadarkan diri terikat di punggung kuda. Cakra segera melompat mendekat.
Melihat ada orang yang coba mendekati Dewi Api, tentu saja Nyi Parang Awi tidak diam saja. Dia berusaha meninggalkan Suhita untuk bisa menggagalkan rencana Danur Cakra.
Seketika itu, tubuh Dewi Api yang tidak berdaya menjadi perebutan. Nyi Parang Awi berhasil membuat Suhita menjauh darinya dengan bantuan pukulan tenaga dalamnya. Saat menahan serangan yang dilayangkan, membuat Suhita terdorong ke belakang.
Taarr !!! Taarr! Suara letupan di udara. Nyi Parang Awi melemparkan bahasa isyarat, meminta bantuan pada kelompoknya.
"Sialan!" Danur Cakra sadar akan hal itu. Lalu kemudian dia meminta untuk Suhita membawa Dewi Api dari sana. Sementara waktu, Danur Cakra akan menahan serangan yang dilancarkan Nyi Parang Awi dan bala bantuan yang sebentar lagi akan datang.
"Tidak ada waktu untuk berpikir. Kau tahu, aku tidak akan bisa dihabisi, makanya cepatlah pergi!" ucap Danur Cakra pada Suhita.
Setelah sama-sama mengkonsumsi Mutiara Hati, Danur Cakra tidak akan bisa dicelakai selama Suhita masih hidup. Makanya, jika mereka berpisah bisa dipastikan kalau keduanya jauh dari maut.
Suhita segera membawa Dewi Api, melarikan diri dan akan mengobati Dewi Api di tempat yang lebih aman.
Hal yang tidak terduga kemudian terjadi. Setelah kembali berhasil merobohkan lawan, Raka Jaya menyusul Suhita. Wajar jika dia sangat khawatir pada keadaan ibunya. Hanya Raka Jaya yang juga merasakan bagaimana menyiksanya rasa sakit pada perut akibat pengaruh air di padang tandus.
Danur Cakra bisa mengimbangi kemampuan Nyi Parang Awi, tapi entah bagaimana jika bantuan dari kelompok Lereng Utara datang. Apalagi kalau Muning Raib atau bahkan Raja Iblis yang muncul. Dengan seorang diri, sekuat apa pun Raka Jaya jelaslah bukan tandingan mereka. Para pendekar senior yang luar biasa.
__ADS_1