
Getaran pukulan tenaga dalam yang dikerahkan oleh Cambuk Angin, mengguncangkan dinding gua. Membangunkan mereka yang tengah terlelap terbuai mimpi. Pasukan Jubah Hitam segera bergegas, menyambar pakaian dan senjata mereka masing-masing.
Begitu juga dengan Ki Maung Koneng dan pendekar aliran putih yang telah bersiap-siap di dalam penjara. Mereka menunggu isyarat yang Mahesa kirim. Dan efek dari pukulan tenaga dalam tersebut, dirasa sebagai tanda jika pertarungan telah dimulai.
"Kita lakukan saja sesuai yang dijelaskan oleh Tuan Pendekar tadi. Ingat, jangan bahayakan diri sendiri dan juga para sandera lain," pesan Ki Maung Koneng pada para pendekar yang berangkat.
Paling tidak, para pendekar itu telah mengangguk tanda setuju. Mereka sepakat untuk melakukan rencana orang yang sama sekali tidak terlihat wajahnya. Membuat taruhan, dengan dua kemunculan. Pertama yakni mengubah status tahanan menjadi terpidana mati jika rencana tersebut gagal, kedua menjadi sebagai alat dalam bagian dari pencitraan yang dilakukan oleh pendekar yang mengatur rencana.
Kegamangan tersebut membuat seorang pendekar jadi goyah pendiriannya, hingga dia memutuskan untuk pergi dari tempat persembunyian. Menyusuri lorong dan berharap kebebasan atas dirinya. Pendekar tersebut, terus berjalan hingga akhirnya di ujung lorong yang telah begitu jauh, dia dihentikan oleh beberapa orang berjubah hitam. Tanpa banyak bertanya, orang-orang itu langsung menyerang dan berusaha menangkap si pendekar hidup-hidup. Tentu saja untuk mengorek informasi.
Sekuat apa pun, pendekar aliran putih bernama Arka Bari hanyalah seorang diri. Terlebih lagi, dia sudah beberapa bulan menjadi tahanan dan tidak memiliki kesempatan untuk berlatih dan mengkonsumsi sumberdaya berharga. Kondisi Arka Bari saat itu, membuat dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi.
"Akkkhhh! Kepa*rat kalian, lepaskan aku!" maki Arka Bari.
Plaak! Bugh! Hanya beberapa pukulan yang dia dapatkan sebagai jawaban. Kedua kaki dan tangannya diikat. Dengan kasar, orang-orang jubah hitam menyeret tubuh Arka Bari layaknya seekor anjing kurap.
"Bos, kami berhasil menangkap penyusupnya. Ini dia!" ujar mereka ketika menemui pimpinan pasukan.
"Kepa*rat busuk! Interogasi dia, buat dia mengaku!" perintah pimpinan pasukan seraya melayangkan tangannya, menampar pipi Arka Bari dengan keras. Hingga tubuh Arka Bari yang lemah, kembali jatuh tersungkur.
"Beberapa orang, cepat periksa ke arah penjara! Aku yakin, akan ada pendekar lain yang menuju ke sana!" perintah pimpinan pasukan tersebut. Dia sendiri segera berlari menuju ruangan pimpinan Kelompok Jubah Hitam. Masih terdengar riuh pertempuran di sana.
"Pasukan bersiaaap !!!"
"Sialan!" Mahesa mengumpat. Sungguh, kesiapan para pasukan Jubah Hitam sangat baik. Bahkan mereka mampu melampaui disiplinnya prajurit kerajaan.
__ADS_1
"Hahaha!!! Kau tidak akan bisa lolos, kepa*rat!" Bos Geledek tertawa lantang. Di tangannya, tergenggam senjata berbentuk seperti kilat petir. Setiap kali senjata itu di ayunkan, maka petir akan menyambar ke arah yang dia tuju.
Namun, sejauh ini belum sedikit pun kemampuan yang dimiliki senjata itu dapat menyentuh kulit Mahesa. Padahal, mereka berempat mengeroyok.
"Aku harus bisa pancing mereka keluar," gumam Mahesa dalam hati.
Sambil menunggu kelompok Jaka Pragola datang, Mahesa akan memancing para pendekar Jubah Hitam untuk bermain-main terlebih dahulu.
Sementara itu, Si Putih (burung elang peliharaan Mahesa) yang diutus untuk menyampaikan pesan pada Jaka Pragola dan para pendekar yang berasal dari padepokan peserta kompetisi. Telah melakukan tugasnya dengan baik. Burung elang yang cerdas itu hanya mengabarkan pada mereka yang merupakan orang yang dulunya begitu dekat dengan Mahesa.
Rombongan Jaka Pragola, hanya terdiri dari sepuluh orang saja. Termasuk di dalamnya ada Sulistya Sandra, seorang wanita yang sampai sekarang belum bisa mengubur rasa kagumnya pada Mahesa. Ya, karena memang Padepokan Teratai Jingga merupakan sekutu dekat Padepokan Giling Wesi. Wajar juga jika Si Putih mengusik tidurnya Sulistya Sandra, karena wanita itu pasti akan merasa tersinggung jika tidak diajak.
"Luar biasa! Tidak sedikit pun kemampuan terbang burung elang ini menurun. Dia tetap lincah seperti beberapa tahun yang lalu," puji Jaka Pragola.
"Hati-hati! Jalan di sini sangat berbahaya dan begitu licin!" Jaka Pragola mengangkat tangannya, meminta rombongan untuk berhenti sejenak.
Jurang kematian yang begitu dalam. Auranya saja membuat perut mual seperti mabuk perjalanan, apa lagi jika harus terpeleset dan jatuh ke dalam sana. Sejauh ini, belum ada orang yang berhasil selamat setelah jatuh ke dalam jurang itu.
"Di sini, kemampuan meringankan tubuh amat dipertaruhkan. Keseimbangan merupakan sebuah kunci untuk kita bisa selamat."
Setelah sepakat, sepuluh orang pendekar besar utara tersebut kemudian melanjutkan perjalanan. Mereka yakin, di markas Kelompok Jubah Hitam, Mahesa telah dalam keadaan pertarungan hidup atau mati.
°°°
"Mengapa belum juga kau perlihatkan wajahmu, wahai sang pahlawan?! Hahaha! Paling tidak, kami tahu bagaimana cara terbaik untuk bisa mengantarmu ke neraka!" Surya Petir kembali melontarkan pertanyaan yang mengandung ejekan.
__ADS_1
Yang sejujurnya ialah, Surya Petir sangat penasaran pada wajah di balik cadar itu. Karena sudah belasan jurus berlalu, tapi mereka berempat belum juga ada yang berhasil melepaskan cadar yang menutupi wajah Mahesa.
Dengan pedang pusaka langit di tangannya, Mahesa terus menggempur lawan hingga bisa melukai salah seorang dari mereka. Kombinasi jurus pedang yang Mahesa pakai merupakan jurus Sepuluh Langkah Pedang tahap menengah. Hingga cara bertarungnya tidak tertebak oleh lawan.
Mahesa juga tidak menggunakan tenaga dalam Sepuluh Tapak Penakluk Naga. Kerena jika dia lakukan itu, maka kemungkinan besar para pimpinan Kelompok Jubah Hitam tersebut akan melarikan diri. Sementara, tujuan utama Mahesa ialah untuk membongkar dalang di balik perbuatan Kelompok Jubah Hitam menculik bahkan menghabisi nyawa anak-anak para peserta kompetisi. Selain Wira Sumitra dan Barda Ripa, pasti masih ada orang yang bermain di belakang semua kekacauan ini.
"Jadi, hanya sampai di sini saja kemampuan dua saudara yang katanya tersohor itu?! Ckckck ... aku kira, kalian perlu waktu lebih dari sepuluh tahun lagi untuk belajar meringkusku," Mahesa tertawa mengejek.
"Fuuiiihhh! Dasar besar mulut. Sejak awal, kau hanya berlari-lari seperti seekor anak tikus. Bagaimana bisa tahu kekuatan yang kami punya?! Mari maju, dan lihat apa yang bisa kami lakukan pada tubuhmu!" tantang Surya Petir mengajak adu tenaga dalam.
"Hahaha! Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Tapi, aku harap kau jangan menyesal!" Mahesa menjejak tanah yang dia injak, hingga tubuhnya terapung ke udara.
Kedua tangan Mahesa memancarkan cahaya putih yang amat menyilaukan mata. Dia sedang persiapkan pukulan Tapak Naga untuk menyambut tantangan Surya Petir.
Keempat petinggi Jubah Hitam juga melakukan hal yang serupa. Mereka bergabung dan menyatukan kekuatan mereka. Hingga terbentuk seperti sebuah bola, dengan pancaran warna energi yang berbeda-beda.
Saat mereka kompak menghentakkan tangan, kala itu bola raksasa yang memancarkan empat warna energi meluncur ke arah Mahesa. Di sisi lain, Mahesa juga telah melepaskan bayangan dua ekor naga berwarna putih menyilaukan. Mulut kedua naga itu bahkan jauh lebih besar dari bola energi milik Surya Petir dan kawan-kawannya.
Naga-naga itu membuka mulutnya, seekor naga menerkam bola energi, sementara yang satu lagi menyambar tubuh keempat pendekar Jubah Hitam.
"Apa??!!"
BAAARRR !!!
Sudah terlambat untuk sadar, jika yang menjadi lawan mereka adalah pendekar dengan kemampuan tenaga dalam tiada tanding. Pendekar Elang Putih.
__ADS_1