
"Ada yang datang, apakah kau ingin mengurusnya?" Dewi Api melirik pada putranya.
Raka Jaya menghela napas, teriring senyum di bibirnya. Awalnya Raka mengira jika Dewi Api sengaja membiarkan orang itu mendekat lalu menyelesaikannya sendiri. Tapi sepertinya tidak, sebagai orang tua tentu inginkan anaknya cepat berkembang.
Kesibukan Raka Jaya belakangan ini, membuat kemampuan olah kanuragannya seperti jalan di tempat. Bahkan dalam mengaplikasikan Gelembung Api Kemarahan, Dewi Api melihat justru mengalami kemunduran. Terlalu banyak celah yang menganga ketika Raka Jaya melakukannya. Teknik yang cukup sulit itu, harusnya terus dilatih dalam pertarungan seperti tadi. Tapi nampaknya jam terbang Danur Cakra lebih tertumpu pada siasat serta teknik serangan militer. Raka tidak hanya seorang pendekar, tapi pekerjaannya saat ini sebagai seorang Jenderal tentu membuat banyak perubahan dalam hidupnya serta cara menuntaskan perang.
Berbanding terbalik dengan dua anak Mahesa yang lain. Dengan kata lain, saat ini kemampuan Raka Jaya merupakan yang terlemah dibandingkan Suhita dan Danur Cakra. Tentu saja, Dewi Api tidak menyukai hal itu karena dunia persilatan hanya mengenal Raka Jaya.
"Mengapa masih di sini?" hardik Dewi Api.
Raka Jaya tergagap, kemudian dia lekas bangkit. Insting sebagai seorang pendekar harus diasah dalam keadaan dan situasi yang sangat sulit seperti saat sekarang. Dia tahu, ibunya sedang berupaya melakukan yang terbaik untuknya.
Sebentar kemudian, Raka Jaya telah berdiri di atas sebuah batu besar. Tebalnya kabut membuat jarak pandang amat terbatas. Hanya pepohonan yang berwarna hitam, seperti monster raksasa yang berdiri dengan gagahnya.
"Langkah yang sangat halus, aku yakin dia bukanlah orang sembarangan. Atau mungkin masih satu kelompok dengan Siluman Kabut tadi?" Raka Jaya menatap ke arah bekas pertarungan dengan Siluman Kabut. Di sanalah, ada sesosok bayangan yang mendekat.
Bayangan yang mendekat itu tidak lain ialah Barong. Penyampai pesan yang bertugas menunggu laporan dari Siluman Kabut. Dia sudah sampai di bekas pertarungan dan tentu saja dia sangat terkejut mendapati kehancuran yang terjadi.
"Luar biasa! Pertarungan yang sangat luar biasa!" Barong menggelengkan kepalanya berulang kali.
Belum sempat Barong memeriksa situasi lebih jauh, dia mendengar adanya suara desir angin yang mendekat. Sudah pasti merupakan pergerakan manusia, segera Barong melompat dan bersembunyi di balik sebatang kayu besar.
"Jenderal Muda! Putra Elang Putih ini, ternyata masih hidup," Barong menyipitkan matanya.
Orang bodoh sekalipun akan bisa menebak apa yang telah terjadi di sana. Jika Jenderal Muda masih hidup dan dalam kondisi yang baik-baik saja, berarti hal sebaliknya telah menimpa Siluman Kabut.
Barong menghembuskan napas dalam-dalam, dia berniat untuk segera pergi dan menyampaikan kabar tidak menyenangkan itu ke Lereng Utara. Tidak lagi ada yang patut untuk ditunggu di tempat itu.
Krataak! Tanpa sengaja kaki Barong menginjak sebuah ranting kering, hingga menimbulkan suara yang memancing Jenderal Muda untuk datang.
"Sial!" Barong mengumpat. Awalnya dia tidak ingin berurusan dengan putra Elang Putih, tapi sekarang apa boleh buat. Barong tidak punya pilihan lain.
Wus! Wus! Wus! Tiga buah belati meluncur dengan kecepatan tinggi, menyambut kedatangan Jenderal Muda.
Warna belati yang hitam, membuat senjata tajam nan beracun itu luput dari pandangan mata. Hanya desir suaranya yang membelah angin, membuat Raka Jaya tersadar akan bahaya yang mengancam nyawanya.
"Hup!" Raka Jaya menjejak tanah dengan sekuat tenaga, menghentikan gerakan maju dan kemudian mengapung ke udara. Dia berhasil menghindari belati yang dikirim oleh Barong sebagai salam pembuka.
"Yaaaatttt!" Barong melompat menyusul, pedang di tangannya berkelebat menembus pekatnya kabut.
Ting! Ting! Benturan senjata tajam menghiasi dinginnya dini hari. Mata yang harusnya terlena, kini dipaksa tetap dalam fokus dalam pertarungan. Tanpa tegur sapa, Barong menempatkan Jenderal Muda sebagai lawan yang harus ditiadakan.
Pedang emas milik Raka Jaya mengimbangi permainan Barong. Keduanya terlibat saling jual beli serangan. Kendati jarak pandang terhalang, tapi keduanya masih bisa kuasai medan dengan sangat baik. Maklum, latar belakang mereka merupakan para pendekar yang berpengalaman dalam hal itu.
Beberapa jurus berlalu, dan barulah Raka Jaya bisa melihat wajah lawannya dengan jelas. Tentu saja mereka tidak saling mengenal, tapi malam ini akan saling mengalahkan.
"Sudahi perlawananmu, maka hidupmu akan lebih berharga!" teriak Raka Jaya.
Akan tetapi, Barong sama sekali tidak memberikan jawaban. Dia tidak bersuara barang sepatah katapun. Dan mungkin Barong inginkan dirinya di cap sebagai seorang tuna wicara.
Bug! Braaak! Raka Jaya berhasil mendaratkan tendangan di pinggul kanan Barong, membuat pengintai itu jatuh tersungkur.
Wus! Wus! Wus! Kembali Barong mengirimkan beberapa belati ke arah Raka Jaya. Akan tetapi, dengan mudah Raka Jaya menggunakan pedangnya untuk menghalau serangan tersebut.
Crasss! Kaki kiri Barong menjadi korban pertama sabetan pedang Raka Jaya. Darah mengalir, tapi Barong hanya menggigit bibir. Dia tidak mengeluarkan suara.
"Aku tahu, kau tidak bisu. Jangan berpura-pura di hadapanku!" Raka Jaya kesal juga, padahal dia hanya ingin bicara baik-baik.
Dengan luka di kaki, membuat Barong tidak lagi mampu memberikan perlawanan yang seimbang. Tubuhnya berkali-kali harus menerima pukulan, sampai darah mengucur deras dari mulut dan hidung.
__ADS_1
"Ini tidak benar! Aku tidak mungkin bisa lari, apalah lagi selamat dalam pertarungan ini," batin Barong.
Maka demikian, Barong mencoba untuk gunakan pedang di tangannya untuk menghabisi diri sendiri, akan tetapi kiranya Raka Jaya sudah membaca apa yang akan Barong lakukan. Dengan cepat Raka Jaya membuat pedang Barong terlepas dari genggaman. Disusul satu pukulan yang membuat Barong jatuh terduduk tidak berdaya.
Sadar akan perlakuan yang akan ia terima, sebelum Raka Jaya menanyainya, Barong menggigit lidahnya sendiri. Hingga darah menyembur saat lidah itu terputus. Barong benar-benar menjadi bisu.
"Aaa?!" Raka Jaya terbelalak, dia melumpuhkan Barong supaya tidak berusaha bunuh diri. Menelan pil racun ataupun menggunakan belati untuk menusuk jantung. Tapi dengan lidah yang terputus, tentu saja membuat Barong sama tidak bergunanya.
"Kau hanya menyakiti dirimu sendiri. Jika demikian, maka nikmatilah ..." Raka Jaya menyarungkan kembali pedang emasnya. Lalu berbalik badan dan meninggalkan Barong.
Barong menatap dengan nanar. Dengan sisa-sisa tenaga, dia menyambar pedangnya yang tergeletak di atas tanah lalu mengayunkan ke arah Raka Jaya, dia bermaksud menebas leher Raka Jaya dari belakang.
Crasss! Raka Jaya berbalik badan, dan entah kapan dia bergerak pedang emasnya telah membelah dada Barong.
Sebelum roboh ke bumi, Barong menatap mata Raka Jaya seraya melempar senyum sinis, menegaskan jika dia sama sekali tidak getar menyambut kematian.
Raka Jaya menghentakkan kakinya, seketika tanah terbelah dan tubuh Barong menggelinding masuk ke dalamnya. Setelah itu tanah kembali tertutup dengan menanam Barong cukup dalam.
Barulah kemudian Raka Jaya kembali ke tempat mereka beristirahat. Dia sama sekali tidak menduga jika tadi ada sepasang mata yang mengawasi pertarungan mereka dari kejauhan.
Seorang rekan Barong menyusul setelah merasakan perasaan tidak enak. Dan apa yang dia takutkan benar adanya, Barong bertarung dengan Jenderal Muda dan dipastikan jika dia tidak mungkin bisa selamat. Sebelum Barong benar-benar dikalahkan, rekannya itu cepat-cepat pergi untuk melaporkan apa yang terjadi ke Lereng Utara.
°°°
Malam berakhir dengan normal, sisa waktu yang ada berlalu sebagaimana mestinya. Raka Jaya dan Dewi Api beristirahat untuk memulihkan kondisi, dan kembali melanjutkan perjalanan setelah sinar terang menyapa dunia.
Jauh di penginapan yang empuk dan nyaman, matahari yang perlahan merangkak keluar dari persembunyian tidak berhasil membangunkan lelapnya tidur Danur Cakra.
Cakra baru terbangun ketika merasakan adanya aura pekat di bawah kakinya. Ketika Cakra membuka mata, dia melihat sosok yang dikenalnya duduk tertunduk, sepertinya dia menunggu sudah cukup lama.
"Hei, mengapa kau datang ke sini?" Cakra segera bangkit dan duduk.
"Ya, sudah. Katakan saja!" Danur Cakra mempersilakan Genderuwo untuk bicara.
"Tuanku, ini berkaitan dengan perjalanan Jenderal Muda," kata Genderuwo memulai kalimat.
Tanpa sengaja, salah satu bawahan Genderuwo memergoki adanya beberapa siluman yang melakukan persiapan perang. Setelah diselidiki, ternyata tujuan mereka adalah ke Lereng Utara.
Raja Iblis dari Lereng Utara mengumpulkan beberapa siluman untuk membantu persiapan penyerangan. Mereka para pendekar senior, yang sudah kenyang asam garam kehidupan pastinya dibekali dengan kemampuan tenaga dalam tingkat tinggi. Akan tetapi, mereka sadar jika usia mereka sudah tidak produktif lagi. Tulang mereka yang sudah tua akan mudah alami rasa sakit. Makanya mereka pergunakan jasa siluman untuk persiapkan banyak sumberdaya yang dibutuhkan. Semakin banyak semakin bagus.
Hal pertama yang akan Raja Iblis lakukan ialah menghadang perjalanan Dewi Api dan putranya. Bagaimanapun kuatnya Dewi Api, dengan hanya berdua dengan Raka Jaya, sudah pasti mereka tidak akan mampu untuk menanggulangi Raja Iblis dan antek-anteknya.
"Tujuan mereka pasti untuk mengacaukan ulang tahun Kakek. Dan serangan yang juga menimpa Suhita, merupakan suatu rencana yang sudah disusun secara matang. Dengan kata lain, berita ini sudah bocor. Genderuwo, kau selidiki lebih jauh. Perintahkan anak buahmu, teman-temanmu, dan para siluman yang bisa kau percaya. Cari tahu titik awal berita ini mengapa bisa menyebar! Lakukan dengan cepat dan rapi, jangan samping semakin memperluas masalah!"
"Siap! Tuanku! Hamba akan pertaruhkan diri hamba untuk amanah ini!" Genderuwo menghaturkan sembah sebelum kemudian tubuhnya menghilang dari pandangan.
...
Tok! Tok! Tok! Pintu kamar diketuk dari luar, kemudian Suhita masuk membawa makan dan minum. Sudah seperti orang sakit saja, makan sampai di antar ke dalam kamar.
Sambil menunggu Danur Cakra keluar dari kamar mandi, Suhita membuka seluruh tirai jendela, dia juga membenahi tempat tidur Cakra.
"Pakaian ini Hita rasa lebih cocok untuk Kakak pakai. Lihatlah, coraknya sangat indah!" Suhita menunjukkan selembar baju setelah Kakaknya kembali dari mandi.
Danur Cakra menatap Suhita dengan dalam, kemudian dia tersenyum dan mengambil baju untuk dipandangi. Tanpa bersuara.
Suhita juga diam. Dia justru tidak fokus, matanya memandangi Danur Cakra yang hanya melilitkan handuk menutupi tubuhnya. Sisa-sisa air yang masih menempel di leher dan dada Cakra menambah kesan seksi di mata kaum hawa. Termasuk juga Suhita. Meskipun mereka saudara kembar, jelas saja membuat kerongkongan kering karena Hita wanita normal.
"Cepat kenakan pakaianmu, kau merasa punya tubuh yang bagus, ya? Makanya pamer!" celetuk Suhita.
__ADS_1
Danur Cakra tidak merespon, dia mengatakan tidak akan memakai pakaian itu. Lebih nyaman gunakan pakaian layaknya pendekar seperti pada umumnya. Lagi pula, ada masalah yang terjadi.
"Alaaa, semua masalah bagimu. Bahkan memakai baju saja jadi masalah!"
"Ini baju pemberian Kemuning. Dan karena aku tahu tidak mungkin untuk dapatkan yang kedua kalinya, makanya aku menyimpan yang ini. Masalah yang aku maksud ialah berkenan dengan Bibi Dewi," jawab Danur Cakra.
"Kak Cakra tidak bercanda 'kan? Memangnya ada apa dengan Bibi Dewi?"
"Seperti yang terjadi padamu, perjalanannya alami hal serupa. Ada kelompok orang yang coba untuk mencelakai Bibi Dewi. Sekarang kau harusnya percaya, jika aku mengatakan jika rencana ulang tahun Kakek kali ini telah bocor ke telinga mereka yang menaruh dendam dan juga rasa benci."
Suhita terdiam, setiap memandang ke arah Danur Cakra dia merasakan jika konsentrasinya langsung buyar. Tidak pernah Hita bersama dengan seorang pria di dalam kamar dengan bertelanjang dada demikian. Cakra memang menyebalkan!
"Heh, sialan! Kau dengar tidak?" Cakra melotot karena merasa Hita tidak merespon seperti apa yang dia inginkan.
"Iya iya. Hita dengar. Lantas kita harus bagaimana?"
"Ah, bagaimana?" Cakra terbelalak. "Ya kita harus memasang telinga baik-baik. Mana tahu, ada kabar mengenai kematian mereka. Bukankah itu berita bagus? Dasar gadis idiot! Tentu saja kita harus membantu mereka!"
Danur Cakra marah-marah. Emosinya tersulut karena pertanyaan Suhita yang sangat bodoh. Hal sepele seperti itu saja masih harus ditanyakan, Suhita sengaja memancing kemarahan Cakra.
Jika ada dua bersaudara, percayalah sang adik yang kerap memancing masalah. Sementara kakak adalah si emosian. Tapi meski demikian, mereka akan menjadi saudara yang tidak akan terpisahkan.
Di bentak sang kakak, Hita malah tertawa sambil mesam-mesem. Kemudian mengacak-acak rambut Kakaknya, sebelum kemudian lari meninggalkan kamar.
Danur Cakra mendengkus kesal, anak kecil bertubuh gadis dewasa di hadapannya memang tidak pernah memberinya ketenangan dalam berekspresi. Selalu saja main-main. Terkadang Cakra bingung, bagaimana sampai orang-orang dunia persilatan menaruh hormat pada seorang gadis bobrok yang cuma memiliki sedikit kelebihan dalam mengobati.
°°°
Matahari bergerak dengan cepat, yang semula masih malu-malu muncul di ufuk timur, sekarang dengan gagahnya memancarkan sinar menyengat tepat di atas kepala.
Padang yang tandus menambah cuaca kian panas menggigit kulit. Dewi Api dan Raka Jaya menghentikan laju kuda mereka ketika melihat adanya sungai kecil yang mengalir. Kuda mereka butuh minum supaya tetap kuat membawa mereka hingga mencapai wilayah Bukit Hijau.
"Terik sekali di sini. Tanaman pun seperti enggan untuk hidup. Padahal setiap hari biasanya hujan selalu turun," Raka berkomentar seraya melemparkan pandangan ke segala arah.
Hanya kekeringan yang terlihat, anehnya ada sumber air di sana tapi mengapa sedikit sekali pohon di sekitar sungai?
"Ada apa, Raka?" tanya Dewi Api ketika mendapati putranya hanya bengong.
"Sedikit aneh, Bu. Lihatlah, mengapa pepohonan tidak banyak tumbuh meskipun di tepi air?" jawab Raka Jaya seraya menunjuk pada tempat yang ia maksud.
Dewi Api melihat pada air yang mengalir, kemudian diikuti Raka Jaya melangkah mendekati aliran sungai kecil itu. Meskipun hanya seluas langkah kaki orang dewasa, air yang mengalir secara terus menerus tentunya lebih dari cukup untuk membuat pepohonan hidup.
Dewi Api mengambil air dengan telapak tangannya, mengendus aroma air dan tidak mendapati hal yang mencurigakan. Jika air ini mengandung racun, lantas racun semacam apa yang akan tetap bertahan dalam aliran air yang tanpa henti?
"Ibu, sepertinya ada yang tidak beres!"
"Ya, ibu pun berpendapat demikian."
Setelah beberapa saat mencoba cari tahu, Dewi Api dan Raka Jaya tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kuda mereka yang juga telah selesai minum dan makan sedikit rumput, sudah siap untuk melanjutkan perjalanan.
Tidak merasakan sesuatu yang janggal di dalam air, atas persetujuan Dewi Api, Raka Jaya mengambil air tersebut untuk mengisi satu tabung air minum untuk bekal di perjalanan mereka. Setelah itu barulah mereka melanjutkan perjalanan, membelah padang tandus yang sangat panas.
Aaakkk! Aaakkk! Seekor burung gagak mengurangi kecepatan terbangnya, kemudian hinggap di sebuah tonggak kayu.
"Hahaha! Bagus, bagus! Dewi Api sudah mengambil air di sana. Tinggal menunggu waktunya dia meminum air itu, dan kita akan lihat bagaimana mereka rasakan betapa menyiksanya usus yang dicuci. Hahahaha!"
Si burung gagak hitam melaporkan apa yang terjadi di padang tandus. Air tersebut memang tidak mengandung racun, terlihat sangat jernih dan tidak mencurigakan. Akan tetapi siapa pun yang meminum air tanpa lebih dulu dimasak, maka dalam jangka waktu sekitar dua jam perutnya akan sakit melilit. Sakit yang luar biasa, bahkan akan menguras seluruh isi perut hingga habis.
Seorang anak buah Raja Iblis telah mendapatkan kabar baik. Mereka tinggal menunggu di satu tempat yang diperkirakan berjarak perjalanan sejauh dua jam dari sungai di padang tandus. Saat itu, Dewi Api, Raka Jaya berikut kuda mereka akan mengalami sakit di perut hingga diare parah. Dengan mudah, mereka akan mengalahkan para pendekar hebat yang kehabisan tenaga.
__ADS_1