
Ada seorang anak yang luput dari bahasan. Dia bahkan jauh dari keramaian. Tidak seorang pun dia miliki rekan yang merupakan anak-anak sebaya. Dia tinggal bersama kakek dan neneknya yang sudah berusia delapan puluh tahunan.
Danur Cakra Prabaskara, seorang anak ambisius yang hari-harinya dihabiskan dengan berlatih bela diri. Kemampuan jurus-jurus tangan kosong yang dia miliki telah berada pada tahap yang sempurna. Gerakan Danur Cakra sangat cepat dan nyaris tak terlihat mata tel*njang.
Begitu juga dengan kemampuannya bermain pedang. Jurus Rahasia Pedang Dua Belas telah dilatih oleh neneknya dan bersatu dalam tubuh Danur Cakra. Berlatih dengan mereka yang punya kemampuan begitu besar, membuat Danur Cakra menjadi lebih sempurna dalam antisipasi. Saat berlatih, kakek dan neneknya yang merupakan pendekar tanpa tanding berubah menjadi musuh yang harus Danur Cakra hadapi. Semakin berkualitas seorang guru, maka murid akan mengikuti.
"Lihatlah cucumu itu, setiap hari berlatih tanpa mengenal lelah. Aku lihat, semangatnya bahkan jauh lebih besar dari semangat yang dimiliki oleh ayahnya," Rengganis duduk di samping Raditya, dia membawa nasi untuk mereka sarapan.
"Iya, tapi sayangnya bakat yang dia bawa tidak serupa dengan ayahnya. Jika saja mereka mirip, dengan semangat dan mental baja seperti itu maka sudah pasti dia akan menguasai semua ilmu yang kita ajarkan lebih awal dari ayahnya. Sayang sekali," Raditya menanggapi komentar istrinya dengan acuh tak acuh.
Rengganis melotot, dengan menyilangkan jari telunjuk di atas bibir dia bicara bicara setengah berbisik, "Sssttt! Jangan membandingkan. Mana tahu, hari esok Danur Cakra lebih cerah dibanding ayahnya."
"Iya, iya. Hehehe!" Raditya tertawa kecil. Dia juga tidak bermaksud begitu.
"Danur, Danuurr! Istirahat dulu, nak!" panggil Rengganis.
Danur Cakra melirik ke arah nasi yang sudah di siapkan oleh neneknya. Perutnya yang memang sudah minta jatah sarapan, langsung memerintahkan untuk dia menghentikan latihannya.
"Eee ... sana cuci tangan dulu," Rengganis menahan Danur Cakra yang langsung mengejar jatah sarapan.
Danur Cakra menghembuskan napas, dengan ngedumel Danur melangkah menuju sumur dan menimba air, "Iya, iya. Dasar cerewet!"
__ADS_1
Rencananya, setelah sarapan nanti Danur Cakra Prabaskara akan melakoni ujian yang diberikan oleh kakeknya. Jadi, mengingat Danur Cakra telah menuntaskan belajar ilmu bela diri tangan kosong tarian naga, maka untuk menentukan dia lulus atau tidaknya yakni harus dengan melalui ujian.
Raditya menetapkan ujiannya ialah Danur Cakra harus pergi seorang diri ke gua lima belokan. Di dalam gua itu dihuni oleh segerombolan kera. Namanya kera, tentu hanya andalkan kekuatan tangan dan gigitan. Maka dari itu, Raditya memilih gua lima belokan sebagai tempat ujian kelulusan untuk jurus tangan kosong tarian naga.
Sama seperti Mahesa beberapa tahun yang silam, Raditya meminta muridnya untuk masuk ke dalam gua dan kemudian membawa pulang rambut (bulu) yang tumbuh di ubun-ubun pimpinan kera penghuni gua lima belokan. Jika berhasil, maka itu menandakan bahwa lulus ujian.
Memang seperti itu, karena satu kesuksesan akan diukur dari pencapaian yang bisa diraih. Bagaimana dengan usahanya, apa tidak dihitung? Tentu saja usaha hanyalah standar. Setiap orang akan berusaha dan berjuang, tapi hanya mereka yang lebih tangguh yang akan mampu untuk capai kesuksesan.
Orang sering mengatakan jika usaha tidak akan mengkhianati hasil. Tapi sayangnya orang-orang tidak jujur mengakui bahwa banyak hasil yang mengkhianati usaha. Maka dari itu, diciptakan frustrasi dan kekecewaan di dalam diri manusia.
"Baik. Bagaimana cucuku, apa kau sudah siap?" tanya Raditya setelah Rengganis selesai membungkus perbekalan untuk Danur Cakra.
"Kakek jangan khawatir, aku pasti akan kembali sebelum batas waktu yang telah ditentukan. Mungkin, aku tidak membutuhkan perbekalan ini," dengan penuh percaya diri, Danur Cakra menjawab.
"Cepat pergi cepat kembali, ya!" Rengganis melambai dari kejauhan.
Danur Cakra bergegas menuruni bukit. Dia berjalan mengarah matahari terbenam, menuju gua lima belokan.
Dengan berbekal hanya sebilah pisau belati, Danur Cakra harus bisa mencukupi kebutuhan hidupnya bilamana isi bungkusan yang dibawanya habis. Namun demikian, Danur Cakra sangat yakin jika dia tidak akan sampai menghabiskan bekal sampai kembali nanti.
Danur Cakra berjalan tanpa henti, kakinya terus meniti tebing hingga mengantarkan dirinya tiba di kaki bukit naga hijau, di puncak bukit itulah terdapat gua lima belokan yang ditujunya.
__ADS_1
"Lebih baik aku istirahat sebentar di sini, sebelum mendaki bukit dan tuntaskan misi ini. Huuuhhh ... mudah sekali. Apa tidak ada ujian yang lebih menantang? Kakek ada-ada saja," Danur Cakra sesumbar.
Tidak sulit untuk dia menemukan bukit naga hijau, tinggal mendaki bukit lalu memasuki gua lima belokan. Kakeknya mengatakan jika kemampuan yang dimiliki oleh gerombolan kera itu tidak ada yang istimewa, mereka hanyalah kera biasa. Dengan kemampuan yang dia miliki, Danur Cakra yakin jika akan mampu mengambil bulu ubun-ubun pimpinan kera.
Setelah istirahat, Danur Cakra mendapatkan tubuhnya kembali prima. Dia harus segera memasuki hutan yang gelap itu untuk mendaki bukit naga hijau.
Pantas saja gerombolan kera begitu betah tinggal di sana, hutan bukit naga hijau begitu asri dan dipenuhi oleh pepohonan yang menghasilkan buah. Hanya ada rumpun bambu, satu-satunya jenis pepohonan yang tidak berbuah di sana. Sisanya, merupakan pohon dengan bermacam jenis buah-buahan. Baik buah yang enak, bisa di makan sampai pada buah beracun, semuanya komplit.
"Wah, wah. Memangnya tempat apa ini sebelumnya?" Danur Cakra menggeleng takjub.
Brug! Brug! Brug!
Beberapa ekor kera berlompatan dari pohon rambutan. Suaranya begitu berisik, membuat Danur Cakra langsung siap siaga. Empat ekor kera berbadan gempal itu berlompatan mendekati Danur Cakra.
"Fiiihhh! Jangan kira aku akan mengambil jatah makan kalian. Menyebalkan sekali, kalian pikir aku ini pencuri buah apa? Aku datang untuk mengambil kepala pimpinan kalian!" teriak Danur Cakra pada kera yang mendekat.
Tidak bisa mengartikan apa yang sebenarnya kera-kera itu bicarakan, hingga Danur Cakra harus segera memutuskan untuk menerobos blokade yang mereka ciptakan. Jika kera itu menyerang, maka barulah Danur Cakra akan beri mereka pelajaran.
Dengan lincah, tubuh Danur Cakra berkelit menghindari setiap serangan yang dilakukan oleh keempat kera. Bahkan Danur Cakra justru telah lebih dulu menghantam kera-kera itu dengan kepalan tangannya.
"Dasar kera sinting! Sudah ku katakan, jika yang aku cari adalah pimpinan kalian," Danur Cakra menendang tubuh kera yang terbaring tidak bernyawa. Sebelum melanjutkan langkah mendekati gua lima pengkolan.
__ADS_1
"Hei, kera busuk! Cepat keluar!" teriak Danur Cakra di depan mulut gua. "Hahaha! Sungguh menggoda, kalian sengaja memancing aku untuk marah, ya? cepat keluar."