
"Dia begitu berambisi. Aku tahu betul siapa kakakku, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" Suhita menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kepalanya terasa pusing, bukan karena sakit. Melainkan karena tidak bisa menentukan sikap.
Akhirnya, secara diam-diam Suhita memberanikan diri untuk menyelinap mendekati Danur Cakra. Dia berharap bisa sekadar mengingatkan untuk Danur Cakra bersikap bijaksana. Suhita takut jika sampai dua orang itu saling mencelakai. Haruskah?!
"Kau ini ... begitu istimewanya dia bagimu? Sampai hati kau kesampingkan aku. Tapi aku tidak bisa bicara lagi. Kemenangan adalah tujuanku. Tidak perduli kawan maupun lawan, siapa pun yang berani menghalangi jalanku, maka dia harus celaka lebih dulu dariku," tegas Danur Cakra.
Suhita hendak kembali menjawab, tapi Danur Cakra telah lebih dulu mengangkat tangannya, meminta Suhita untuk diam. Tanpa punya pilihan lain, Suhita hanya bisa mendengkus kesal. Selalu saja, Danur Cakra membuat hatinya kesal. Dalam hal apa pun itu. Terlebih sekarang ini. Dengan ringannya dia menuding jika Suhita terlalu membela Raka Jaya yang merupakan orang lain. Dan memang kenyataannya demikian.
"Kalau sudah selesai, sekarang kembalilah ke tempatmu. Dari sana kau bisa saksikan kemenangan saudara kembarmu ini," ucap Danur Cakra mengusir Suhita.
Dengan cemberut, Suhita melangkah turun dari arena pertandingan. Dia kembali ke samping Arya Winangun yang wajahnya mulai pucat pasi.
"Sialan! Dasar menyebalkan! Lihat saja jika nanti kau nyatanya menelan kekalahan, baru tahu rasa!" umpat Suhita penuh kekesalan.
"Hei, sebenarnya kau kenapa? Sejak tadi, aku tidak bisa menebak apa yang kau risaukan. Kalau kau mau dengar saranku, baiknya kau tenangkan diri lebih dulu. Kau harus tahu, jika seluruh jalan kehidupan sudah ditentukan oleh sang pencipta. Kita sebagai manusia hanya menjalankan takdir itu," dengan sangat dalam, Arya Winangun coba untuk tenangkan Suhita.
"Benarkah?! Haha! Cara bicaramu mengingatkanku pada ayah. Ternyata kau sudah tua juga," Suhita malah tertawa mengejek ketika dinasehati. Meski demikian, tidak terlihat jika Arya Winangun merasa tersinggung. Anak itu hanya menggeleng seraya menghembuskan napas panjang.
__ADS_1
Keduanya tidak banyak bicara lagi, Arya Winangun mengerti apa yang sedang Suhita pikirkan. Yang jelas, dia hanya berusaha menemani, menjadi pendengar yang baik. Bukankah kebanyakan wanita sangat menyukai seorang pendengar setia?
Sriing! Sriing!
Dua bilah pedang telah dihunus dari warangkanya. Mata pedang yang putih nan tajam menyeringai, menghembuskan napas kematian atas bau anyir darah. Ketajaman mereka siap untuk digunakan menebas apa pun itu.
Jurus Rahasia Pedang Dua Belas membuka serangan dengan mengoyak angin coba untuk goyahkan pertahanan Raka Jaya. Seyogyanya, Padepokan Api Suci yang memang tidak begitu kesohor dengan kemampuan bermain pedang terbaik di dunia, akan goyah karena benturan jurus yang tidak terbaca. Raka Jaya memang piawai bermain jurus pedang, tapi tentunya tidak untuk jurus pedang legenda seperti milik Rengganis.
"Pedang memang punya mata, tapi tidak punya hati. Jika kau lalai, pedangku tidak bisa kompromi," desis Danur Cakra.
"Aku justru senang jika kau bisa menang. Tapi alangkah baiknya jika kau belajar lebih giat. Dengan banyak keunggulan, kau sama sekali belum bisa kalahkan aku," Raka Jaya balas menyerang.
Dada Danur Cakra seolah meledak mendengar semua itu. Meskipun tidak ada maksud Raka Jaya untuk mengejeknya, tapi kenyataan berkata benar. Kemampuan Danur Cakra bisa dilihat berada jauh di atas Raka Jaya, tapi setelah belasan jurus berlalu dia belum juga bisa mengakhiri perlawanan Raka Jaya. Harus diakui jika Raka Jaya memiliki kecerdasan yang bernilai plus.
Hingga akhirnya, dengan susah payah, Danur Cakra berhasil membuat Raka Jaya bertekuk lutut. Pedang Raka Jaya yang terjatuh telah berada di bawah telapak kaki Danur Cakra, sementara ujung pedangnya telah menitik warna merah karena menempel di leher Raka Jaya. Sedikit luka terjadi di sana.
"Kau sangat luar biasa, kawan. Tapi tindakan yang kau lakukan semuanya terlalu tergesa-gesa, hingga kau sering lakukan tindakan ceroboh. Kau tidak bisa manfaatkan potensi emas yang kau punya," dengan senyum Raka Jaya menyalami Danur Cakra.
__ADS_1
Sementara itu, Danur Cakra justru merasakan seolah Raka Jaya sedang menindasnya. Hati Danur Cakra justru bergemuruh dengan sejuta gumpalan rasa tidak nyaman. Murid Raditya Rengganis itu tersinggung tanpa alasan. Dia merasa jika dia terlalu bodoh, hingga tidak bisa mengetahui apa lagi mengembangkan potensi dirinya sendiri.
"Tidak, aku adalah Danur Cakra. Aku harus bisa capai keinginanku dengan tanganku sendiri. Jika aku tidak bisa menang di sini, aku pasti akan kembali. Akan ku buat orang-orang mengakui betapa berbahayanya diriku. Siapa pun, tidak perduli kawan maupun lawan. Jika berani menghalangi jalanku maka dia harus celaka lebih dulu dariku."
Satu hal yang semakin menjadi cambuk dalam hati Danur Cakra, kala melihat adiknya, Suhita justru mendatangi Raka Jaya dan nampak bicara dengan begitu manis. Terus terang, Danur Cakra cemburu. Dia tidak senang melihat adiknya lebih akrab pada orang lain ketimbang dirinya. Meskipun tanpa dia sadari jika sebenarnya dialah yang membuat Suhita jadi demikian. Suhita kurang baik apa, tapi balasan yang didapat justru rasa kesal dan tidak dianggap.
"Aku harus selesaikan ini secepatnya. Huuuhhh ... sial! Genderuwo masih terluka, aku jadi tidak bisa gunakan dia. Lagi pula, Suhita pasti tidak tinggal diam jika aku gunakan Genderuwo untuk membantuku. Dasar sialan!" Danur Cakra mengumpat.
Dalam pertandingan sebelumnya, dia gunakan teknik dari Kitab Langit dan Bumi untuk kalahkan lawan dengan bantuan siluman dan genderuwo hingga membuat Bayu Bajra merasakan tubuhnya sangat berat hingga tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi sepertinya, di partai puncak kali ini Danur Cakra harus bertarung secara adil. Seperti yang juga dilakukan oleh Raka Jaya.
Pertarungan penentu dimulai. Babak terakhir di mana kedua kandidat sama-sama mengantongi satu poin kemenangan. Bukan hanya mereka berdua, akan tetapi hampir seluruh penonton yang menyesaki lapangan merasakan hal yang sama. Mereka berharap-harap cemas, menunggu siapa yang akan menjadi pemenang kompetisi kali ini. Untuk mengisi posisi satu dan dua sebagai generasi terbaik. Generasi harapan tokoh aliran putih di masa mendatang.
Aliran energi tenaga dalam elemen api membungkus seluruh ring pertandingan. Baik Raka Jaya maupun Danur Cakra, mereka sama-sama gunakan kekuatan elemen api. Tapak Naga Api menghadapi Ilmu Inti Api. Sungguh, tontonan yang sangat jarang tersaji.
Sejauh yang orang-orang tahu, Ilmu Inti Api milik Dewi Api hanya bisa diungguli oleh Tapak Naga Es milik Pendekar Elang Putih. Dan pertarungan itupun tidak semua orang pernah melihat. Hanya cerita dari mulut ke mulut, karena kenyataannya dua orang pendekar tersebut telah menjadi sepasang suami istri. Dan mereka dikaruniai seorang anak bernama Raka Jaya. Anak yang sekarang tengah melakoni pertandingan.
Tentu, dengan latar belakang keluarga yang sama besarnya diketahui dunia persilatan. Membuat Raka Jaya lebih dijagokan, untuk keluar sebagai pemenang kompetisi.
__ADS_1