
"Ayo, cepat sedikit! Awas, hati-hati. Tangganya cukup licin juga sangat gelap!" Setelah berhasil membuka sandi pintu rahasia, Danur Cakra sibuk mengevakuasi satu persatu orang untuk turun ke ruang bawah.
Dari balik cadar, senyum Kemuning mengembang. Diam-diam hatinya begitu kagum pada usaha Danur Cakra yang sibuk membantu para pemain sirkus. Padahal baru beberapa hari Cakra tinggal bersama mereka, tapi sepertinya dia tidak mempermasalahkan hal tersebut.
"Baik dan buruk, khilaf dan salah, aku tidak tahu siapa dia sebenarnya. Meskipun dia bukan seorang yang baik di masa lalu, tapi hatinya amat tulus. Bukankah setiap manusia punya satu kesempatan yang sama?" batin Kemuning. Pandangan matanya tidak lepas dari sosok Danur Cakra yang tengah sibuk.
"Kemuning, kau istirahat saja dulu sebentar. Silahkan untuk duduk dulu, pintunya sangat kecil nanti kita akan menyusul," satu sapaan mengejutkan lamunan Kemuning.
Rangga tersenyum, dia hendak meraih tangan Kemuning untuk membantu duduk. Tapi Kemuning menolak untuk digenggam, dia segera duduk sendiri. Dia masih mampu.
"Kurang ajar! Apakah tanganku terlalu kotor bagimu?!" maki Rangga dalam hati.
Rangga hanya diam, mundur satu langkah untuk mencari posisi yang lebih nyaman. Tatapan mata Rangga liar, mencari-cari celah diwaktu orang dalam kelengahan.
Dari dalam saku pakaian, Rangga mengeluarkan kain yang nampaknya telah diberi tetes ramuan hirup. Ya, dia hendak melancarkan aksi jahat yang sudah dipersiapkan dengan matang.
Perlahan Rangga bergeser mendekat pada Kemuning. Lipatan kain di tangannya sudah siap. Ketika orang-orang lengah, dengan cepat Rangga membekap mulut Kemuning. Aroma menyengat dari ramuan yang berada dalam lipatan kain, dengan cepat menjalar dalam hidung dan ruang napas Kemuning seiring dia menghela udara. Tubuh Kemuning seketika hilang tenaga, lemas.
Rangga segera membopong tubuh Kemuning, berlari cepat meninggalkan tempat itu. Tanpa seorang pun menyadari, bahkan Danur Cakra sekali pun.
Rangga terus berlari, tubuh Kemuning telah berada dalam gendongannya. Kali ini, tiada yang bakal bisa menghalangi dirinya untuk bisa dekat dengan Kemuning. Tidak akan ada. Kemuning pun harus pasrah tanpa perlawanan kala tubuhnya dibawa kabur.
Tidak. Bukan melintasi ruang utama. Tiada yang tahu kiranya Rangga telah mempersiapkan aksinya dari jauh-jauh hari. Rangga bahkan telah mempersiapkan jalan pelarian yang dia gali sendiri. Sayangnya, jalan itu terlalu kecil. Sehingga cukup lama menghambat waktu Rangga. Dia harus ekstra hati-hati merangkak dalam gua sempit dengan membawa Kemuning di gendongannya. Menyesal juga mengapa Rangga tidak buat jalan yang lebih besar. Dengan begitu dia tidak akan terjebak sangat lama di dalam lubang.
"Huuuhhh ... huuuhhh ... Kemuning sayang, jangan khawatir. Sebentar lagi aku akan membawamu keluar. Kita akan sama-sama tinggalkan jalan penuh penderitaan ini," ucap Rangga. Meskipun Kemuning tidak bisa menjawabnya.
Akhirnya ... setelah perjalanan yang sangat melelahkan, mereka berhasil mencapai cahaya matahari. Rangga keluar gua persembunyian dengan jalan yang dia buat dengan tangannya sendiri. Terlebih dahulu, Rangga mengistirahatkan Kemuning. Membaringkan tubuh yang tidak memiliki tenaga itu di atas rerumputan yang tebal.
"Cup! Cup! Cup! Mengapa menangis ..." ujar Rangga kala mendapati air mata Kemuning mengalir membasahi kedua pipinya.
Sangat penasaran dengan wajah yang tersembunyi di balik cadar, Rangga melepaskan cadar itu dan membiarkan wajah cantik Kemuning terpapar cahaya mentari.
Dag-dig-dug! Detak jantung Rangga semakin tidak beraturan. Ternyata Kemuning jauh lebih cantik dari apa yang sering dia bayangkan. Begitu beruntung dirinya bisa bersama dengan sosok bidadari khayangan.
"Kau sangat cantik! Mengapa harus bersembunyi di balik cadar?!" Rangga melemparkan cadar penutup wajah Kemuning.
"Ah, tidak. Kau tidak boleh menangis. Aku akan membawamu untuk segera pergi. Di sini sangat tidak aman," tanpa menunggu persetujuan, Rangga kembali menaikkan Kemuning ke pundaknya.
Rencana pelarian yang dia rancang nyaris sempurna. Hanya saja, Rangga melupakan sesuatu. Dia tidak mempersiapkan seekor kuda di sekitar tempat itu. Jika ada kuda, pastinya dia akan bisa cepat untuk menjauh. Tidak seperti sekarang, dia harus ekstra hati-hati menggendong Kemuning menuruni jalanan berbatu.
__ADS_1
Sementara Rangga melarikan diri, pasukan di bawah komando Tumenggung Surotanu telah menyebar. Mereka terbagi dalam banyak kelompok. Masing-masing kelompok dibawahi oleh seorang kepala pasukan yang miliki kemampuan cukup tinggi. Rata-rata hulubalang itu kuasai setidaknya satu atau dua jenis senjata.
"Gusti !!! Lihat ini!" teriak seorang prajurit.
Dengan cepat, hulubalang yang dipanggil bergerak mendekat. Dia mengambil kemudian mengamati kain yang ditunjukkan oleh anak buahnya. Mengelus-elus dengan seksama, menghirup aroma yang tertinggal.
"Baru saja. Aku yakin orangnya masih ada di sekitar tempat ini," hulubalang itu menyimpulkan.
Hulubalang mendapati adanya bagian kain yang basah dan bukan karena tetesan air hujan, melainkan air mata. Ya, karena kain yang mereka temukan tidak lain adalah kain bekas cadar Kemuning yang di buang sembarangan oleh Rangga.
"Cepat cari! Mereka belum jauh!" Hulubalang menurunkan perintah.
Serentak para prajurit bergerak menyisir lokasi di sekitar tempat itu. Mereka coba untuk menemukan petunjuk yang bisa digunakan untuk proses pengejaran. Karena mereka merupakan pasukan divisi khusus, tentu dengan cepat bisa menemukan sedikit petunjuk. Dari mereka ada yang menyusuri perkiraan arah saat kain tersebut di buang. Dan benar, di sana dia menemukan bekas injakan kaki. Dengan mengikuti bekas injakan kaki tersebut, sudah bisa dipastikan kalau mereka akan bisa menyusul sang pemilik kaki. Ya meskipun itu bukanlah hal yang mudah karena cuaca saat itu sedang panas. Hingga jejak pun tidak begitu jelas.
°°°
"Kepa*rat! Akan aku habisi kau!"
Kemarahan, membuat seseorang menjadi tidak pandai mengontrol emosi. Hingga tidak lagi bisa mencerna dengan jernih apa dan bagaimana jalan yang terbaik. Setelah pikiran dikendalikan oleh hawa nafsu, maka kekerasan merupakan alternatif yang menjadi pilihan.
Sekarang mata mereka terbuka atas siapa diri Cakra yang sebenarnya. Mungkin dari para pemain sirkus yang ada, tidak akan bisa percaya kalau sebenarnya Danur Cakra merupakan satu orang yang wajib untuk diperhitungkan. Dalam beberapa hari kebelakang, pemuda itu nampak banyak diam dan masa bodoh. Dan itu bukanlah dirinya. Cakra berusaha menjadi sosok orang lain sekadar untuk bisa mendekati Kemuning. Dan sekarang ... alasan untuknya berbuat baik justru menghilang. Maka siapa pun bisa menjadi lampiasan kemarahan.
Gunda Soka merupakan orang pertama yang merasakan betapa sakit dan pedihnya tamparan Danur Cakra. Bekas di pipinya membiru, itupun karena Gunda Soka termasuk seorang dengan kemampuan tenaga dalam yang tinggi. Jika orang biasa, menerima pukulan sekeras itu sudah dipastikan tulang rahangnya akan bergeser.
Danur Cakra seperti kerasukan. Seekor kerbau gila yang terlepas dari belenggu. Dia mendadak berubah jadi sosok orang lain untuk bisa menempati wadah dalam hati Kemuning. Sekarang hilangnya Kemuning, membuat dia sangat marah. Memang itu semua adalah kesalahannya. Salah karena tidak bisa menjaga, salah karena membiarkan seseorang membawa Kemuning pergi. Dan sekarang Danur Cakra tidak bisa berbuat apa-apa, keberadaan Kemuning pun entah di mana.
Sialnya Gunda Soka justru menertawai, mana mungkin Danur Cakra bisa menerima. Naga hitam, kekuatan tersebut langsung meronta dan menggunakan tangan Danur Cakra untuk mencabut setiap nyawa yang dia anggap bertanggung jawab.
Tidak lebih dari sepuluh jurus, Gunda Soka sudah keteteran. Pendekar itu terpojok dan hanya bisa bertahan dari gempuran Danur Cakra yang semakin menggila.
Beberapa pasukan coba membantu, mereka menikam Danur Cakra dari arah belakang. Berusaha untuk buat ruang agar Gunda Soka bisa menarik napas sejenak. Akan tetapi nampaknya usaha itu sia-sia belaka. Bahkan sebelum mata tombak mereka mendekat, justru malah berbalik arah dan menembus perut pemiliknya.
HIYYAAATTT !!! BAAAMMM !!!
Danur Cakra melepaskan pukulan tenaga dalam, menghantam Gunda Soka yang tersudut di dinding gua.
Gunda Soka melapisi tubuhnya dengan segenap kemampuan tenaga dalam, menggunakan segenap kemampuan untuk coba pertahankan diri dari gempuran Danur Cakra. Sepuluh Tapak Penakluk Naga, mana mungkin bisa dihindari. Saat naga tersebut datang, meletup disekitar tubuh Gunda Soka, saat itu pula dunia fana tidak lagi menyertai Gunda Soka. Dalam sekejap dia berpindah alam, menuju alam keabadian. Gunda Soka gugur, bukan sebagai seorang pejuang. Melainkan menghembuskan napas sebagai pelampiasan kemarahan seorang pendekar liar.
"Haaaaaahhhh !!!!!" Danur Cakra memekik keras. Meluapkan segala rasa yang mengganjal. Entahlah, apa itu.
__ADS_1
Satu persatu para pejuang gugur. Darah mengalir membasahi lantai gua, menebar aroma amis yang menusuk hidung. Bagi mereka, pemandangan seperti itu bukanlah hal yang menakutkan.
Danur Cakra keluar gua, dia melihat para prajurit berbaris dalam formasi. Dan tatapannya langsung tertuju pada pimpinan pasukan. Tumenggung Surotanu.
Danur Cakra ingat betul wajah orang itu. Pejabat hukum yang bernegosiasi dengan seorang saudagar kaya raya di sebuah kedai. Bukan sekadar untuk menangkap para pemberontak, tapi juga ada tujuan khusus yang dia emban. Demi setumpuk emas berlian.
"Kepa*rat! Aku yakin, Rangga bekerja untuk bina*tang busuk ini. Tapi, di mana Kemuning sekarang?" batin Danur Cakra.
Mengingat diri Kemuning yang pula berhasil membetot sukmanya, Cakra maklum jika begitu banyak orang yang tertarik pada pemain sirkus tersebut. Akan tetapi yang jadi pertanyaan ialah keinginan Tumenggung Surotanu untuk balas dendam. Itu artinya, keluarga asli Kemuning juga seorang yang terpandang. Untuk saat ini, yang terpenting ialah menemukan keberadaan Kemuning.
Danur Cakra memungut sebilah tombak yang tergeletak di tanah, berjalan mendekat pada barisan prajurit. Beberapa orang prajurit yang menghalangi langsung jatuh tersungkur setelah ujung tombak menghadiahi dada mereka.
"Lindungi Gusti Tumenggung !!!" teriak panglima perang.
Danur Cakra tersenyum sinis, dengan ujung tombak dia menunjuk wajah Tumenggung Surotanu.
"Mungkin kau tidak ingat, tapi aku tahu. Kau hanyalah seorang pesuruh berbalut baju dinas. Kembalikan Kemuning padaku, atau aku akan mengambilnya dengan paksa!" teriak Danur Cakra.
"Owh ... ya, ya, ya. Aku menyesal tidak menghabisimu di kedai itu. Ternyata kau seorang mata-mata. Hahaha!" Tumenggung Surotanu tertawa mengejek. Dia menoleh ke arah empat orang pengawal andalannya. Empat Setan Alas.
"Di pintu neraka nanti, maka kalian akan berkumpul. Dan Kemuning katamu itu, akan tetap di sini. Habisi dia!"
Selesai Tumenggung Surotanu berkata, Empat Setan Alas diikuti beberapa orang prajurit serentak menyerang. Yang pula disambut dengan suka cita oleh Danur Cakra. Pertempuran kembali pecah. Para pejuang yang semula mulai kehilangan semangat, kembali mengayunkan pedang dengan garang saat melihat Danur Cakra berada di pihak mereka.
Satu orang dapat mempengaruhi satu pertempuran. Hal itu benar ada. Ketika masing-masing pasukan miliki semangat juang yang berani mati, maka mental lawan yang menjadi surut. Dengan adanya Danur Cakra, keadaan menjadi berbalik. Bahkan Watu Galing dan anak buahnya dengan terang-terangan keluar dari gua, melakukan perlawanan hingga akhir.
Empat Setan Alas menyerang Danur Cakra dari empat arah mata angin, mereka mengepung dan mencoba untuk menekan pergerakan Danur Cakra. Akan tetapi, bilah tombak yang berada di tangan Danur Cakra begitu kuat untuk menahan setiap gempuran. Ujung tombak yang telah bermandikan darah terus berkelebat untuk menambah korban lagi dan lagi. Matahari, menjadi saksi yang enggan mengedipkan mata melihat kejadian tersebut.
Anggota tertua Empat Setan Alas, Ki Beringin melompat tinggi ke udara tangannya menghunus sebuah senjata pusaka dari balik jubahnya. Detik selanjutnya dia segera meluncur turun dengan mengarahkan senjata tersebut pada Danur Cakra.
Tentu saja, senjata yang ada pada Danur Cakra sama sekali tidak sepadan dengan pusaka milik Ki Beringin. Ketika ujung dari dua senjata tersebut beradu, seketika tombak milik Danur Cakra hancur berantakan.
Ki Beringin terus meluncur ke bawah. Dia tidak lagi menghiraukan apa pun yang terjadi di sekelilingnya, tujuannya hanyalah untuk secepatnya melukai lawan.
Disaat mata lengah, maka saat itulah debu memasukinya. Meninggalkan rasa sakit, bahkan memberi luka. Hal serupa terjadi pada Ki Beringin. Saat dengan keyakinan penuh dia merasa jika telah memetik kemenangan, saat itulah kekalahan dia tuai. Sebelum tombak pusaka miliknya menjangkau tubuh Danur Cakra, malang baginya karena sebilah pedang besar telah lebih dulu menerobos punggungnya. Teknik Danur Cakra, siapa yang bisa menduga.
Dengan tewasnya Ki Beringin, tiga Setan Alas yang tersisa seperti patah kaki. Gerakan mereka begitu terbatas dengan bermunculannya titik-titik lemah yang menjadi celah bagi Danur Cakra untuk semakin menekan. Tidak butuh waktu lama, satu lagi pagar pelindung andalan Tumenggung Surotanu roboh ke bumi. Sementara dua orang lainnya terpental cukup jauh. Mereka akhirnya terpisah dan mendapatkan perlawanan dari orang lain. Ki Wadas dan Watu Galing mengambil alih tugas Danur Cakra.
Danur Cakra tersenyum sinis, sekarang dia bisa lebih leluasa bergerak mendekat pada Tumenggung Surotanu. Ada hal yang hendak Danur Cakra cari tahu, terutama mengenai perjanjiannya dengan Juragan Abdi. Mengenai siapa latar belakang Kemuning sebenarnya.
__ADS_1
"Hahaha! Jangan berpikir kalau kau sudah menang. Andaipun kali ini kau mampu kalahkan kami, tapi ingatlah Kerajaan Utara tidak akan menutup mata. Selamanya kau akan hidup dalam bayangan ketakutan!" ucap Surotanu berapi-api.
Danur Cakra tidak memperdulikan apa pun yang dikatakan oleh Tumenggung Surotanu. Yang dia tahu, hanyalah tujuannya. Persetan dengan orang lain.