Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Tawanan


__ADS_3

Suhita membuka matanya perlahan. Didapatinya suasana yang begitu asing bertebaran di sisi kiri dan kanannya. Belum pernah Hita berada di sana sebelumnya. Tapi ... ini tidak menyerupai penjara atau tempat penyekapan seperti yang diceritakan kebanyakan orang. Padahal Hita ingat betul, jika terakhir kali dia sadar ialah berada dalam pertarungan.


"Apa yang mereka inginkan dariku?! Oh, ya. Apakah ini Klan Perisai Hujan itu?" gumam Suhita. Dia berusaha bangkit, tapi sekujur tubuhnya sangat lemas, tidak bertenaga sama sekali.


Suhita menepuk jidat, tentu saja hal itu sangat wajar terjadi. Dia kehilangan terlalu banyak tenaga saat menggunakan tenaga dalam Tapak Naga hingga batas akhir. Pada akhirnya, tertangkap juga.


Bagaimana cara untuk bisa ambil sumberdaya dari dalam cincin mustika?! Tidak bisa. Hita tidak bisa berbuat apa pun melainkan tersenyum dan berdoa.


"Aku harus coba teknik penyembuhan itu. Jika berhasil, itu artinya aku memang telah gapai puncak tertinggi dari Kitab Pengobatan Dewa," Suhita tersenyum. Satu hal yang hampir dia lupakan yakni posisinya sebagai seorang juru sembuh. Hita mempelajari teknik penyembuhan yang paling sederhana. Olah napas untuk kembalikan kebugaran. Sebagai seorang tabib berbakat, Hita akan mampu melakukannya dengan sempurna.


.


"Tidak mungkin! Bagaimana bisa hilang?!" ucap Bulan Jingga dengan nada yang tinggi.


Beberapa orang pengawal dan petinggi Klan Perisai Hujan hanya bisa tertunduk dalam. Mereka tidak punya jawaban apa pun atas pertanyaan itu. Kenyataannya, Tabib Dewa itu memang tidak ada di tempat.


"Nona, saya tidak pergi. Saya masih ada di sini. Yang saya lakukan hanyalah mengurangi derita," suara Suhita terdengar, disusul kemunculannya dari balik kelok jalan.

__ADS_1


Bulan Jingga tersenyum tipis. Dia tahu, Suhita tidak sebodoh yang diperkirakan. Bocah itu sadar akan kemampuan yang dia miliki. Tidak mudah untuk bisa keluar dari cengkeraman Bulan Jingga dan kelompoknya.


"Apa yang kalian inginkan atas diriku?!" tanya Suhita dengan tegas.


"Tidak! Bukan dirimu, tapi ayahmu!" Bulan Jingga mengangkat dan menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Suhita.


"Ayah?!" Suhita mengerutkan dahi. Oh, ya. Dia hampir lupa, Bulan Jingga pasti sudah mengetahui segalanya. Termasuk bahwa Suhita adalah anak dari Elang Putih. Suhita menyesal pernah berharap akan bantuan sang ayah. Pada akhirnya, semua yang dipikirkan dalam benaknya bisa diketahui oleh Bulan Jingga si pembaca pikiran.


"Kau tahu masa lalu orang tuamu?! Siapa sebenarnya ibumu? Dan mengapa hingga sekarang dia tidak memiliki secuil pun kemampuan olah kanuragan?!" Bulan Jingga memberondong Suhita dengan pertanyaan terkait ibunya.


Suhita diam, dia berusaha tidak mengingat apa pun mengenai sang ibu. Terutama atas tempat tinggal mereka selama ini. Dengan demikian, tidak akan ada seorang pun yang mengetahui di mana ibunya sekarang berada. Termasuk Bulan Jingga.


Dua orang berbadan kekar datang dengan membawa banyak buku catatan, baik yang berasal dari aliran putih maupun aliran sesat. Bulan Jingga mempersilahkan Suhita untuk mencari tahu sendiri atas apa yang telah terjadi beberapa tahun yang lalu. Karena semua catatan itu adalah salinan asli. Orang yang membuatnya masih hidup dan segalanya bisa dipertanggung jawabkan. Dengan artian, tiada rekayasa atau kebohongan di sana.


"Kau pasti penasaran, maka aku memberimu waktu untuk membaca dan mempelajari semuanya. Jika kau masih kurang yakin, tidak masalah bagiku untuk mendatangkan orang-orang itu sebagai saksi. Bukankah seorang yang jahat seperti aku pun juga berkesempatan untuk berkata benar?" Bulan Jingga melangkah meninggalkan Suhita.


Tinggallah Suhita Prameswari seorang diri di dalam ruangan, Tabib Titisan Dewa itu berulang kali menelan ludah. Dirinya pernah mendengar akan hal itu, tapi kali ini hatinya menderu tidak karuan. Dia coba menolak, tapi semua berita itu benar adanya. Setidaknya, apa yang orang-orang ketahui demikian adanya. Itu semua merupakan hal yang pernah ayahnya lakukan. Mencelakai Cahaya Langit, pimpinan Aliansi Utara Selatan yang mana hingga sekarang tugu peringatan atas keberhasilan itu masih ada di kota bilah api.

__ADS_1


Tapi ... mungkinkah semua kabar yang menyebar ini suatu kebenaran?! Suhita hampir tidak percaya jika ayahnya memiliki seorang istri selain ibunya. Istri sah yang semua orang ketahui tentang itu. Lalu bagaimana dengan ibunya? Benarkah tuduhan yang Bulan Jingga lontarkan?!


Seorang wanita yang Suhita kenal penuh kasih, wanita yang mengandung, melahirkan dan membesarkan dirinya, Puspita Dewi tidak lain adalah Cahaya Langit yang dikabarkan telah tewas?!


Akal serta logika Suhita tidak mampu mencapai ke sana. Satu-satunya orang yang bisa menjelaskan semuanya dengan rinci hanyalah ayahnya. Suhita perlu bicara dengan Mahesa. Karena sampai sejauh ini, Hita menaruh kepercayaan yang besar pada pria itu, ayahnya.


°°°


"Bagaimana, apa seluruh info dan catatan-catatan yang ku miliki, sama halnya dengan apa yang kau ketahui?! Atau justru di sini lebih rinci? Ah, aku yakin akan hal itu," dengan senyum Bulan Jingga melangkah santai di ruangan yang berbeda. Dia meninggalkan Suhita guna menemui anak lain yang juga telah dia tangkap.


"Apa maksudnya semua ini? Apa yang sebenarnya kau rencanakan?!" anak kecil itu balas bertanya.


"Hahaha! Generasi masa depan aliran putih sangat cerdas, tapi sama seperti pendahulunya. Terlalu berpikir negatif. Asal kau tahu, tidak ada hal lain yang aku inginkan. Aku tidak punya rencana apa pun. Aku hanya inginkan ayahmu itu mengembalikan pimpinan besar kami. Dewi Cahaya Langit!" tegas Bulan Jingga.


Raka Jaya menghela napas berat. 


Sejujurnya dia tidak ingin percaya pada semuanya. Dia telah berusaha untuk menutup mata dan telinga akan hal buruk yang dituduhkan pada sang ayah. Namun, perihal pernikahan diam-diam yang telah dilakukan oleh sang ayah, sungguh membuat lubang kekecewaan tergali di dalam relung hati Raka Jaya. Apa lagi menurut Bulan Jingga, dari rahim istri kedua itu ayahnya telah dikaruniai dua orang anak. Dan yang paling menyayat hati, wanita yang ayahnya peristri merupakan seorang penjahat besar yang dikabarkan tewas di tangannya. Bagaimana bisa begitu?!

__ADS_1


Bulan Jingga tersenyum penuh kemenangan. Dia bisa mengetahui kecamuk yang menggempur hati putra-putri Mahesa. Sekarang, tugas Bulan Jingga tinggal memupuk rasa kekecewaan itu hingga menjadi kebencian. Setelah kebencian di hati para putra-putri Mahesa bisa dibangkitkan dan berubah menjadi dendam, maka tinggal menunggu saatnya saja bom waktu itu akan meledak.


Selain Raka Jaya, Danur Cakra Prabaskara juga ada di tempat yang sama. Hanya saja di ruangan yang berbeda. Bulan Jingga telah merencanakan semuanya dengan matang. Dia akan memberikan kejutan besar pada Pendekar Elang Putih yang sejauh ini tidak bisa dikalahkan dalam perkelahian. Dan saat itu, saat ini telah tiba.


__ADS_2