Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Sangkar Piton Berbisa


__ADS_3

Tepat tengah malam, saat tanggal berganti. Cahaya bulan purnama yang bersinar terang, akan sangat dibutuhkan oleh Piton Berbisa untuk membantu proses pergantian kulitnya. Dengan begitu, bisa dipastikan bahwa si Piton akan keluar dari dalam sarangnya. Dia akan mencari tempat terbuka untuk mendapatkan penerangan sinar rembulan yang cukup. Saat itulah, kesempatan untuk mengalahkan Piton Berbisa. Tepat ketika kulitnya terbelah, maka kemampuan magis dan kekebalan tubuhnya lenyap untuk beberapa saat, sampai dia menyelesaikan proses pergantian kulit. Tidak lama, tapi kesempatannya sangatlah besar.


"Cakra ... aku, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Apakah kau tidak bisa batalkan niatmu?" tanya Kemuning dengan suara pelan.


Debar dalam dada Kemuning membuat dia merasa ketakutan jika harus kehilangan Danur Cakra. Bukannya meremehkan kemampuan Danur Cakra, akan tetapi akan selalu ada resiko dari setiap tindakan.


"Aku akan menjaga diri, kau jangan khawatir. Lagi pula aku tidak akan bertindak jika keadaannya tidak memungkinkan," Danur Cakra mengelus-elus kepala Kemuning.


Piton Berbisa merupakan hewan yang menjelma menjadi setengah siluman setelah melakukan tapabrata ratusan tahun lamanya. Kemampuan yang dia miliki yakni kekebalan di sekujur tubuh, dengan sisik tebal layaknya tameng baja. Selain itu, mata Piton Berbisa juga tidak bisa diremehkan. Kemampuan ilusi tersimpan di sana, siapa pun yang bertemu pandang dalam beberapa waktu maka jasadnya akan langsung tertidur. Piton Berbisa akan mengendalikan alam bawah sadar lawan, atau lebih menakutkan lagi Piton Berbisa langsung menelan tubuh lawannya tanpa memberi kesempatan pada ruh untuk kembali ke dalam jasad.


Danur Cakra telah kembali ke penginapan setelah sebelumnya singgah di toko buku dan toko sumberdaya. Dia membeli beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk nanti malam. Yang paling utama ialah Cakra membeli sket wilayah (peta) yang bisa menuntunnya melibas hutan tanpa takut tersesat untuk kembali. Cakra pun telah melingkar tanda pada titik-titik penting yang kemungkinan besar akan dia lewati. Persiapan telah dia lakukan secara matang. Jika timbul kekurangan, pastinya tidak akan fatal.


Di sudut ruangan, Kemuning hanya bisa diam seraya menatap kosong ke arah Danur Cakra. Hatinya bergejolak, tapi rasa senang tentu tidak bisa dia sembunyikan. Selain ia tidak perlu berhutang pada Tabib Dewa, hal itu juga menunjukkan betapa Danur Cakra amat peduli pada dirinya. Wanita mana yang tidak gembira, mendapati perlakuan istimewa dari seorang pria idamannya.


Tanpa mereka sadari, dari balik tirai jendela kamar, bertengger seekor burung gagak hitam yang menguping dan mengamati seluruh kegiatan yang dilakukan oleh Danur Cakra. Burung itu merupakan mata dan telinga Ki Sabdo Metu. Dengan begitu, Sabdo Metu akan mengetahui apa yang direncanakan oleh Danur Cakra dari laporan burung pengintai.


Merasa cukup, burung gagak cepat pergi dari penginapan sebelum ada orang yang menaruh curiga padanya. Burung gagak meluncur menuju kediaman Sabdo Metu. Dia menyampaikan seluruh yang disaksikannya. Membuat tawa lepas penuh kemenangan meledak dari mulut Sabdo Metu. Rencananya berjalan dengan lancar, tinggal melanjutkan pada tahap selanjutnya.


"Kirim lebih banyak mata-mata untuk terus mengikuti gerak-gerik pasangan muda itu. Jangan sampai lepas dari perhatian," perintah Sabdo Metu.


Sabdo Metu kemudian bergegas bangkit dan segera berganti pakaian. Tidak lupa dia mempersiapkan pusaka andalannya dan seluruh senjata rahasia, menyimpannya di dalam jubah. Sabdo Metu telah siap untuk menyongsong pertempuran besar.


Setelah selesai bersiap-siap, Sabdo Metu mengumpulkan seluruh anak buahnya guna memerintahkan penyerangan. Mereka akan bergerak lebih dulu dari Danur Cakra. Dengan demikian mereka akan melakukan pengintaian pada Danur Cakra dari tempat yang aman. Saat kesempatan itu muncul, mereka akan segera mengambil keuntungan tidak peduli dari aspek apa pun itu.


"Ketua, setidaknya ada sepuluh anak buah kita yang sejak sore tadi telah bersiap di seantero hutan. Mereka pasti bisa memantau setiap pergerakan yang dilakukan oleh pendekar muda itu," lapor tangan kanan Sabdo Metu.


Sabdo Metu menyeringai, sepertinya kali ini rencananya tidak akan bisa dijegal. Semuanya berjalan sesuai rencana. Tinggal bagaimana nanti malam umpan yang ditebar akan ditangkap mangsa dan kail mengenai sasaran. Luar biasa! Rencana yang sangat brilian.


Kobar, tangan kanan Sabdo Metu segera bergerak mendahului. Dia membawa belasan pendekar dengan peralatan lengkap. Mereka sangat yakin jika Piton Berbisa akan bisa ditaklukkan malam nanti, hingga diperlukan banyak tenaga untuk memindahkan hewan raksasa tersebut.


"Bos, jujur saja aku tidak tahu bagaimana tampang pendekar yang ketua Sabdo maksudkan. Bagaimana bisa aku mengetahui jika dia muncul di tengah hutan?" ujar seorang anak buah Kobar.


"Dasar to*lol! Di mana kau taruh otakmu?! Coba kau lihat pakaian pasukan kita. Kau pasti mengenali saat pertama melihat tampang pendekar muda itu. Ingat ya, muda! Usianya belum mencapai dua puluh tahun! Kalau bodoh harusnya dibagi-bagi, jangan ditelan sendiri!" bentak Kobar penuh emosi.


Mereka terus bergerak memasukkan hutan. Tanpa membawa kuda ataupun kendaraan lainnya, tujuannya tentu untuk menghilangkan jejak yang mencurigakan. Alat angkut yang dipersiapkan untuk membawa tubuh Piton Berbisa, mereka letakkan di tempat aman di tepi hutan. Ya, rasa percaya diri mereka sangatlah tinggi. Seolah-olah Piton Berbisa sudah terbujur tidak bernyawa saja, padahal sangat besar kemungkinannya justru mereka yang menjadi santapan Piton Berbisa. Piton yang kelaparan setelah beberapa lama tidak menyantap makanan.


"Semuanya! Bergerak pada posisi masing-masing, jangan bertindak tanpa perintah!" Kobar menurunkan perintah.

__ADS_1


Segenap pasukan segera berlompatan melaksanakan perintah. Dalam sekejap, tubuh mereka semua lenyap bersembunyi di dalam hutan yang amat gelap. Jika ada orang yang datang, pastinya tidak akan mengira bila sudah begitu banyak mata yang mengawasi segenap penjuru hutan.


°°°


"Berhentilah berpura-pura! Jujur saja, kau pasti mengenal siapa itu Sabdo Metu. Cepat beri tahu aku!" Danur Cakra mengintrogasi kepala keamanan di penginapan tempatnya bermalam.


Kepala keamanan itu memiliki kemampuan olah kanuragan setingkat guru di pedepokan kecil, tentu saja tenaga dalam yang dia miliki tidaklah sebanding dengan Danur Cakra. Sehingga ketika Cakra mengerahkan tenaga dalam untuk mengintimidasi, tubuh kepala keamanan bergetar hebat, kekuatannya tidak cukup kuat untuk menahan energi yang Danur Cakra kerahkan.


"Tuan Muda, kalau boleh saya tahu karena hal apa sehingga Tuan berurusan dengan Ki Sabdo Metu? Emmm ... dia merupakan seorang ahli sihir, baiknya kau jangan coba membuat masalah. Jika besok hendak melanjutkan perjalanan, tidak usah dengarkan apa pun yang dia katakan," pesan kepala keamanan.


Danur Cakra mengangguk, tapi rasa ingin tahunya tentu tidak bisa dibendung. Sekadar bercerita, tentunya tidak akan membuat kepala keamanan kehilangan apa pun. Justru Danur Cakra akan memberi imbalan atas informasi yang dia dapat.


Setelah terus didesak, akhirnya kepala keamanan bercerita. Sejauh yang dia ketahui tentang Ki Sabdo Metu juga mengenai Legenda Piton Berbisa.


"Ooo ... mungkin karena itu, sehingga Sabdo Metu sangat bernafsu untuk mengalahkan Piton Berbisa. Ada kepentingan terselubung di dalamnya," ucap Danur Cakra pelan.


"Tuan Muda, saya tidak berkata demikian. Semua itu, hanyalah dugaan yang kau sangkakan," kepala keamanan terlihat ketakutan mengimbangi pembicaraan Danur Cakra.


"Jangan khawatir, aku bukanlah tipe orang yang gemar menjual nama. Apa pun yang aku lakukan, tentu aku  yang bertanggung jawab. Paman baiknya mengambil lebih banyak cuti," Danur Cakra bangkit seraya memberikan tips pada kepala keamanan.


Kehidupan para pekerja penginapan tidak begitu menjamin, karena sangat sepinya orang bermalam. Hingga saat siang mereka harus bekerja lainnya, sebelum kemudian malam hari begadang mempertaruhkan nyawa dari serangan Piton Berbisa.


"Apa-apaan? Kau tinggal di sini saja," ucap Danur Cakra.


"Tidak! Izinkan aku ikut bersamamu, mana mungkin aku bisa tidur bersantai di penginapan mewah sementara kau pertaruhkan nyawa sendirian di tengah hutan," Kemuning menolak.


Danur Cakra tertawa kecil, tidak bisa berkata apa-apa lagi selain hanya menghela napas dalam. Lagi pula, bila Kemuning dia tinggalkan sendirian di penginapan, itu juga tidak menjamin atas keselamatan gadis cantik tersebut. Mereka yang tahu, berkemungkinan mengambil keuntungan.


°°°


Gelapnya hutan tidak terkalahkan oleh cahaya rembulan. Sepanjang perjalanan bahkan tidak bisa melihat bekas telapak kaki. Hutan yang masih perawan, nampak seperti tidak pernah dimasuki manusia.


"Hati-hati ... sudah ku sarankan untuk tidak ikut serta. Beginilah kalau telinga tidak digunakan dengan baik," kata Danur Cakra pada Kemuning.


Kemuning cuma tertawa kecil, bukan saatnya untuk bertengkar. Kemampuan penglihatan Kemuning sangat buruk, matanya tidak bisa diandalkan untuk sekadar berjalan dengan baik. Tidak jarang dia harus digendong ketika melewati medan yang ekstrim. Beberapa kali juga Kemuning sempat terpeleset dan tersandung. Untung saja Danur Cakra sigap menuntun dalam setiap langkah.


"Kalau begini, rasanya tidak perlu kita kembali ke penginapan. Besok pagi, langsung saja kita lanjutkan perjalanan," ucap Danur Cakra.

__ADS_1


"Ah?! Yang benar saja. Lalu bagaimana dengan kuda dan pakaian yang tertinggal?" Kemuning terbelalak.


Aku sudah menambah sewa kamar untuk beberapa hari ke depan. Jika kita tidak kembali, mereka ku tugaskan untuk membenahi semuanya," jawab Danur Cakra tanpa beban.


"Huuuhhh ... aku heran, bagaimana bisa seorang wanita anggun nan baik hati seperti Tabib Dewa bisa mengenal dirimu yang begitu bobrok. Jika dia tahu tingkah lakumu, tidak terbayang apa yang terjadi."


"Apa hubungannya?! Justru karena aku ini sangat tampan, makanya tidak akan ada wanita yang bisa menolakku. Siapa pun itu. Bahkan aku tidak butuh pencitraan, siapa pun diriku, mereka tidak akan pernah peduli. Ingat, kau sedang berhadapan dengan dewa rindu. Sosok yang akan menebar bayangan rindu pada setiap wanita yang memandang," Danur Cakra menepuk dada, memuji dirinya sendiri.


"Terserah!" Kemuning bersungut-sungut.


Perjalanan keduanya semakin jauh masuk ke dalam hutan. Sambil bercanda, menggoda Kemuning, tidak terasa tujuan mereka sudah dekat. Sangkar Piton Berbisa hanya berjarak beberapa ratus meter lagi.


Piton Berbisa, sungguh merupakan satu keajaiban. Bagaimana ular itu sampai memiliki racun layaknya kobra? Itu saja sudah menunjukkan bahwa dia memiliki kemampuan yang tidak lazim. Belum lagi, kabar kekebalan dari sisik bajanya yang teramat tebal. Sampai-sampai bila bergesekan dengan batu ataupun benda keras lainnya maka api akan terpercik.


"Cakra ... apa kau yakin jika Piton Berbisa itu ada?"


"Tentu saja. Hanya saja yang tidak bisa aku tebak ialah adanya rencana di balik kemunculan Piton Berbisa. Bahkan tadi aku sempat mendeteksi beberapa energi asing yang tersebar di seantero hutan. Ya, ada kelompok lain yang ingin memanfaatkan kita," jelas Danur Cakra.


Kemuning celingukan, dia semakin gentar. Mengapa masalah selalu datang silih berganti? Baru saja satu hari dia tidak membuat Danur Cakra kesulitan, sekarang malah muncul hal lain yang terdengar begitu menakutkan. Jika saja bukan karena desakannya, mana mungkin Danur Cakra tergoda untuk mencari tahu tentang Piton Berbisa. Ya, Kemuning menyalahkan dirinya, bagaimana dia bisa terlihat istimewa di mata Cakra jika hanya menimbulkan masalah dari waktu ke waktu.


Danur Cakra tidak melanjutkan bicaranya. Dia tahu kalau Kemuning menjadi terbebani karena ucapannya. Gadis itu tidak bisa menggunakan kemampuan tenaga dalam, dia tidak bisa mendeteksi jika begitu banyak mata yang terus menerus mengikuti perjalanan mereka. Selama orang-orang itu tidak menimbulkan masalah, Danur Cakra tidak akan bertindak lebih jauh. Siapa tahu, tepat ketika Piton Berbisa muncul maka orang-orang itu bisa dimanfaatkan sebagai sarana untuk mengalahkan. Dengan demikian artinya Danur Cakra membuat rencana yang berbalik menguntungkan, justru Cakra yang berhasil memanfaatkan mereka. Lihat saja nanti, siapa yang lebih licik.


Sudut mata Danur Cakra mengawasi seekor burung gagak hitam yang pelan-pelan terbang menjauh. Pasti burung itu adalah mata-mata. Itu artinya, mereka sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang. Cakra bisa mengingat saat burung yang serupa dia temukan terbang landai di dekat penginapan. Kurang ajar! Bisa-bisanya Sabdo Metu bermain-main begitu jauh. Cakra akan pastikan pria tua itu akan menyesali tindakannya.


"Nah, kita sudah sampai. Dari sini kita bisa mengawasi gua persembunyian Piton Berbisa."


Danur Cakra mengambil posisi yang begitu strategis untuk mengintai. Dari sisi tebing itu, mereka juga mendapatkan pencahayaan yang cukup. Hingga Kemuning pun bisa leluasa memandang, melihat betapa angkernya aura yang terpancar dari mulut gua sangkar Piton Berbisa.


"Aku mendengar suara desis piton itu. Apa dia akan segera keluar?" tanya Kemuning.


Danur Cakra mendongak memandang rembulan, "aku rasa belum. Dia akan keluar ketika rembulan tepat di atas kepala. Ketika pergantian hari, maka si piton akan memulai pergantian kulit."


Kemuning manggut-manggut, dia memandang berkeliling dan menemukan hamparan padang ilalang yang lumayan luas. Apa mungkin itu adalah tempat yang dipilih oleh Piton Berbisa untuk proses pergantian kulit?


"Sialan! Sampai di sini pun masih ada yang mengintai," umpat Danur Cakra dalam hati.


Piton Berbisa belum menampakkan wujudnya, tapi sosok pengintai begitu cerobohnya memperlihatkan diri. Dengan usia yang muda, mereka pikir Danur Cakra hanyalah pendekar kemarin sore. Baiklah, jika itu yang dianggapkan. 

__ADS_1


Pengintai itu terkejut bukan main saat dia merasa kalau Danur Cakra mengetahui keberadaannya. Dia tidak lain ialah Kobar, tangan kanan Sabdo Metu. Kobar berniat untuk menarik diri dan pergi menjauh, akan tetapi dia tidak mendapatkan kesempatan untuk itu. Danur Cakra jauh lebih hebat dari yang dikira.


__ADS_2