Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Musnahnya Pasukan Mayat Hidup


__ADS_3

"BERHENTIIII !!!" Buyut Kafan berteriak sekuat tenaga. Dia mencoba untuk menghentikan gerakan mayat-mayat hidup yang masih melakukan serangan ke arah Mahesa dan Dewi Api.


Mayat hidup yang hanya dikuasai oleh kekuatan Jarum Kehidupan, meskipun mereka adalah bekas pendekar yang memiliki kemampuan tinggi, tetap saja saat ini mereka tidak ubahnya boneka bodoh yang sama sekali tidak memiliki perhitungan. Mereka tidak mengenal takut meskipun tombak es ciptaan tenaga dalam Mahesa telah mengancam nyawa.


Nampaknya kekuatan Anggrek Pencabut Nyawa jauh lebih tinggi dibandingkan dengan peringatan yang diteriakkan oleh Buyut Kafan. Mayat-mayat hidup itu tetap saja menyerang Mahesa.


Craasshh! Craasshh! Byaaarrrr !!!!!!!


Tidak lagi ada tubuh Mayat Hidup yang kebal. Sebelum serangan yang mereka arahkan mampu mencapai tujuan, tubuh-tubuh para pendekar itu lebih dulu hancur menjadi debu. Tidak tersisa, satu orang pun.


"Apa?!" Buyut Kafan melotot, dia masih belum percaya jika seluruh mayat hidup yang hampir saja mengalahkan sepasang pendekar nomor satu di Utara tersebut tiba-tiba hancur seluruhnya. Kehebatan yang tadi terlihat berubah menjadi tidak berarti.


Wira Lodra menatap ke arah Buyut Kafan. Penasihat kiriman Aliansi Utara Selatan itu terlihat kehabisan akal, membuat Wira Lodra mengurungkan niatnya untuk mengajukan pertanyaan yang merupakan berupa kecemasan semata.


Sekarang, mereka bisa melihat Mahesa diikuti oleh Dewi Api melangkah mendekati tangga. Pedang pusaka legenda memang tidak lagi dalam genggaman, tapi tetap saja sangat menakutkan karena berganti bola-bola tenaga dalam. Ya, bagi mereka peperangan yang sebenarnya baru saja akan segera terjadi.


Sangat luar biasa, kemampuan tenaga dalam yang dimiliki oleh Mahesa dan Dewi Api masih bertahan dalam waktu sejauh ini. Jika pendekar pada umumnya harus rehat dan membutuhkan pemulihan stamina, tapi tidak untuk dua pendekar tersebut. Dan hal inilah yang membuat mereka sulit untuk dikalahkan. Meskipun harus bertarung sepanjang malam, keduanya dipastikan merupakan calon juara menjelang fajar esok. Dikarenakan sukar ada orang yang mampu meladeni.


Karena pertarungan yang membetot perhatian, membuat para tokoh aliran sesat sejenak melupakan jika di dalam mereka memiliki sandera. Kartu mati untuk menghentikan perlawanan yang Mahesa lakukan.

__ADS_1


Khususnya Suhita, Tabib Titisan Dewa tersebut telah berhasil mendapatkan solusi untuk meruntuhkan kekuatan dinding ilusi. Dia memiliki kemampuan untuk tangani sihir, dan ruang tempatnya di sekap merupakan bagian dari trik ilmu sesat tersebut.


Cukup singkat waktu yang Suhita butuhkan untuk membangkitkan kemampuan penyingkir sihir. Hita harus bisa, karena dia membutuhkannya saat itu juga.


BAAARRR !!!


Dengan iringan pukulan Tapak Naga yang dia miliki, Suhita berhasil menghancurkan dinding pembatas. Di seberang sana, Hita bisa melihat jika saudara kembarnya, Danur Cakra pun sedang dalam usahanya untuk menghancurkan dinding gua.


"Hita, kau baik-baik saja?!" Danur Cakra bergegas menghampiri Suhita.


Dengan iringan senyum, Suhita mengangguk. Dia senang karena sang kakak pun tidak kurang suatu apa. Sekarang keduanya tinggal mencari cara untuk bisa keluar dari sana.


Hita baru ingat, jika bersama ayahnya merupakan seorang istri yang melahirkan Raka Jaya. Istri ayahnya itu pastinya datang untuk kepentingan lain. Tidak mungkin datang demi mereka, tapi sangat besar kemungkinannya jika Raka Jaya juga ada di sana.


"Hei, apa lagi yang kau tunggu?! Kau bisa hancurkan dinding itu, pasti kau pun punya kemampuan untuk bisa bawa keluar dari tempat terku*tuk ini!" Danur Cakra segera menarik lengan Suhita untuk cepat pergi.


"Kak Cakra, apa mungkin jika selain kita ada orang lain yang juga disekap di tempat ini?" Suhita balik bertanya. Matanya memandang ke arah Dewi Api yang tengah bertarung di luar sana.


Danur Cakra Prabaskara menghela napas panjang. Sama halnya dengan Suhita, dia juga bisa mendengar dengan jelas semua percakapan para pendekar di luar. Mereka rata-rata mengenali Dewi Api sebagai istri ayahnya. Sial! Bicara mengenai Raka Jaya, Suhita begitu sangat bersemangat. Terlebih jika nanti memang benar bahwa mereka adalah saudara. Sedikit rasa tidak senang mengganjal di relung hati Cakra.

__ADS_1


"Baiklah! Baiklah! Menurutmu, memangnya aku bisa apa?! Kau yang punya kekuasaan sekarang! Jadi, terserah kau saja!" Danur Cakra mengalah kala Suhita terus memaksa untuk mencari tahu mengenai Raka Jaya. Lagi pula, tidak ada pilihan lain yang dia punya. Harus diakui jika Suhita miliki kemampuan yang tidak dia punya.


Suhita harus menghancurkan setiap dinding gua yang merupakan ilusi. Bukankah hal tersebut akan memperburuk kondisi fisiknya?! Ah, ini tidak benar. Tidak ada yang tahu seberapa luasnya penjara itu, di mana keberadaan Raka Jaya juga tidak jelas. Danur Cakra tidak ingin, hanya karena untuk menemukan Raka Jaya membuat Suhita menjadi sakit. Dia harus melakukan sesuatu.


Tanpa sepengetahuan Suhita, Danur Cakra mundur beberapa langkah. Dia mengambil posisi bersemadi kala Suhita masih berusaha untuk menghancurkan dinding gua. Ya, nampaknya inilah saatnya Danur Cakra menggunakan kemampuan yang dia dapat dari Kitab Langit dan Bumi. Kitab yang tidak tergolong dari salah satu kitab baik dan malah cenderung negatif.


Danur Cakra memusatkan pikirannya, dia merapal mantra untuk memanggil Genderuwo. Siapa tahu, mahluk hitam menyeramkan itu bisa diandalkan untuk membantu mereka.


Asap putih mengepul di hadapan Danur Cakra. Selesai Cakra merapal mantera, Genderuwo langsung muncul dan siap untuk menjalankan segala tugas yang Danur Cakra berikan.


"Kak Cakra, aku dengar kau tadi bicara. Ada apa?!" Suhita celingukan, mencari-cari sesuatu yang mencurigakan. Namun apa yang dia cari tidak ditemukan. Bahkan asap sisa si genderuwo pun telah lenyap.


"Aku ... ah, tidak. Aku hanya bicara sendiri. Coba untuk berpikir, mungkin bisa untuk membantumu. Hita, aku tidak ingin jika sampai kau kehabisan tenaga. Pikirkan dirimu, jalan kita masih panjang. Syukur-syukur masih bisa keluar!"


Suhita diam saja. Dia memandang wajah kakaknya dengan dalam. Hita tahu, jika bagaimana pun menjengkelkannya Danur Cakra, tapi rasa sayangnya melebihi dari apa pun.


Mendapati Suhita diam tidak bergeming di tempatnya, hak tersebut pula membuat kepala Danur Cakra jadi gatal. Sebagai seorang pendekar aliran putih, Danur Cakra belum punya alasan yang tepat untuk dia mengakui bahwa telah mempelajari ilmu dari aliran sesat. Ya, kecuali jika nanti gurunya, Raditya telah memberikan izin. 


"Sial! Bagaimana jika Hita telah menguasai ilmu mata naga?! Pasti dia akan mampu melihat keberadaan Genderuwo. Ah, menyusahkan saja," umpat Danur Cakra dalam hati.

__ADS_1


Sementara itu, sebagai mahluk alam astral, Genderuwo suruhan Danur Cakra tidak terhalangi oleh dinding ilusi yang diciptakan untuk mengurung Suhita dan saudaranya. Dalam beberapa waktu saja, Genderuwo telah berhasil menemukan keberadaan kamar Raka Jaya. Mahluk halus itu segera kembali untuk melapor.


__ADS_2