Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Jala Sutra


__ADS_3

"Mengapa kau ikut kabur? Apa kata orang nanti, Pendekar Naga Kresna lari terbirit-birit ketakutan. Mau ditaruh di mana mukamu? Nama yang selama ini dengan susah payah kau bangun, bisa-bisa hancur karena hari ini. Apa Kakak tidak takut akan hal itu? Dan pasti, kabarnya cepat sekali menyebar."


Danur Cakra tersenyum getir, dia hanya mengangkat bahu, sama sekali tidak peduli akan hal itu. Lagi pula, tidak ada yang mengenal Cakra dalam kebaikan. Meskipun cukup lama dia berada di jalan yang benar, tapi karena berita buruk atas sepak terjang Cakra belakangan ini membuat semuanya tertutup oleh cela. Semua orang telah terlanjur menganggap Cakra sebagai iblis pembunuh. Mau bagaimana lagi, apa yang harus dijaga? Sebaik apa pun hal yang dilakukan akan tetap dicap jelek.


Danur Cakra berbalik badan, dia terlihat memfokuskan pikirannya, mengalirkan kekuatan tenaga dalam pada kedua telapak tangannya. Kekuatan yang sedikit aneh, tidak biasa. Setelah mengamati keadaan di sekitar, Danur Cakra menghentakkan kedua tangannya ke udara.


WUURRR !!! Seekor bayangan naga hitam melompat keluar dari telapak tangan Cakra. Naga itu meluncur dengan sangat cepat, menghabisi segala bentuk mahluk hidup berupa binatang melata, bersayap, bertelinga dan segala jenis hewan lainnya. 


Bukan, itu bukan pukulan Tapak Naga Kresna ataupun energi tenaga dalam yang lain. Tapi itu adalah perwujudan naga yang ada di alam evolusi milik Cakra. Naga kecil yang mulai beranjak besar, tentunya dia sangat lapar dan akan memangsa segala jenis hewan bernyawa. Termasuk seluruh burung pengintai milik Setan Abang. Tikus pengintai, dan lainnya. Hingga sekitar tempat Cakra dan Hita benar-benar hanya ada mereka berdua.


Suhita semakin tidak mengerti akan permainan yang Danur Cakra lakukan. Dia tidak lagi terlihat seperti saudara sedarah yang paling tidak miliki sedikitnya ada lah persamaan energi tenaga dalam. Cakra benar-benar berpaling dari kekuatan Sepuluh Tapak Penakluk Naga. Entah apa alasannya.


"Kak, kau baik-baik saja 'kan? Jika ada sesuatu yang kau rasa tidak nyaman, bicara padaku. Aku pasti akan membantumu, aku ini seorang tabib hebat, kau tahu itu 'kan?" Suhita melototi Cakra dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Sudahlah, jangan pedulikan aku. Justru bagaimana sekarang kita meluruskan semua kekacauan ini. Kau harus membersihkan namamu. Tabib Dewa, adalah Tabib Dewa. Tabib yang dihormati oleh segenap tokoh persilatan. Bukan seperti sekarang, kau malah menjadi incaran orang."


"Benarkah Kakak mau bantu Hita?" tanya Suhita dengan gembira.


Danur Cakra ternganga, memangnya dia sedang main-main apa? Atau ada yang konslet dengan isi kepala Suhita? "dek, kau sehat 'kan?"


"Ye ... sialan! Kakak pikir aku gila? Makanya dengarkan dulu sampai aku selesai bicara."


Dengan singkat, Suhita memaparkan bagaimana karomah yang ada pada sumberdaya yang sekarang ia bawa. Wajar jika orang-orang tertarik untuk memilikinya. Suhita meminta agar Danur Cakra mau membantunya, menyelaraskan separuh bagian Mutiara Hati di dalam tubuhnya.


"Ya, ya, ya. Baik, aku setuju. Tapi, untuk sementara waktu kau simpan saja dulu. Sumberdaya itu jauh lebih aman bersamamu, sampai nanti suasana kembali tenang. Sekarang, lebih dulu kau harus mengikuti apa yang menjadi rencanaku," Danur Cakra mengangguk setuju.


"Rencana apa itu?" tanya Hita.


"Nanti akan aku jelaskan. Sekarang ayo kita lanjutkan perjalanan ke arah tenggara. Di seberang sungai itu, aku merasakan ada sebuah bangunan. Kita bisa mengatur siasat di sana. Ayo," Danur Cakra mendorong pundak Suhita, meminta adiknya untuk berjalan lebih dulu.


Suhita menggigit bibir bawahnya. Selalu saja, kebiasaan Cakra merasa jika rencananya adalah yang terbaik. Mentang-mentang dia pendekar.


"Iiiihhh ... menyebalkan sekali! Mengapa tidak sekarang saja? Tinggal telan lebih dulu, nanti di selaraskan saat kau punya waktu yang tepat. Biar ku beri tahu caranya," Suhita mengambil separuh Mutiara Hati dari dalam batu mustika kangguru miliknya. Lalu tangan kiri Hita mencengkeram kedua pipi Cakra agar mau membuka mulut, memaksa Cakra untuk menelan Mutiara Hati.


Begitu banyak yang menginginkan, bahkan seorang saudara yang lain pun begitu. Tapi Suhita justru memaksakan pada orang yang tidak begitu tertarik. Atau memang begitu? Seorang yang terlalu berharap akan ditempa oleh kecewa, karena pada dasarnya semua hal telah diatur oleh takdir.


"Uhuukk ... uhuukk ..." Danur Cakra sampai terbatuk menelan Mutiara Hati dengan paksa, "sekarang, apa kau sudah selesai? Nanti jika ada yang bertanya, katakan saja seluruh sumberdaya itu ada padaku. Tapi kau harus ingat pesanku, jangan pernah percaya pada siapa pun juga. Percayalah pada dirimu sendiri, di mana langkah kakimu yang akan membawamu berjalan."


Danur Cakra duduk berlutut, berbagai rasa di rasakan mengalir di dalam dadanya. Efek sumberdaya yang baru saja dia konsumsi, sangatlah menyiksa.


"Hita, ingatlah pesanku. Meski setelah ini kita jarang bertemu."


"Iya, iya, dasar bawel!" Suhita kesal, karena Cakra terus mengulang kalimatnya. Jangan percaya pada orang lain, percaya pada diri sendiri. Sampai-sampai Hita hapal di luar kepala.


Sambil mengomel pelan, Suhita melanjutkan langkahnya. Seperti yang dikatakan Cakra, mereka menuju arah tenggara. Setelah menyeberangi sungai maka akan tiba di sebuah bangunan besar.

__ADS_1


Danur Cakra menyeringai, matanya berubah menyala merah. Dialah Pendekar Naga Kresna seperti yang orang kenal. Karena Suhita berjalan di depan, tentu saja Hita tidak melihat perubahan yang terjadi pada saudaranya. Termasuk bola energi yang terkepal di tangan Danur Cakra, semuanya luput dari jangkauan rasa curiga Suhita.


"Iya, jangan pernah percaya pada siapa pun. Termasuk juga padaku, walaupun kita saudara!" ucap Cakra kemudian. Suaranya begitu berat dan bergetar.


Suhita kaget lalu berbalik badan, hendak memastikan apa yang ia dengar, "maksu ..."


BAAAMMM !!! Satu ledakan terjadi, sangat keras, hingga  mengguncang seantero hutan. Sebelum kemudian yang tersisa hanyalah suara gemericik air, dengan tulus mengantarkan perahu kayu yang hanyut mengikuti arus.


Saat kau menemukan dirimu dalam celah masa lalu dan masa depan, itulah ruang untukmu hidup, sekarang.


°°°


"Ahhh ... akhhh ... di mana ini?"


"Hei, syukurlah kau sudah bangun. Ayo minum air kelapa ini ...."


Kemuning memegangi kepalanya yang terasa sakit luar biasa. Pandangannya masih berkunang-kunang, tapi dia hafal jika suara yang bicara padanya adalah suara Kencana Sari. Artinya, mereka berdua masih hidup.


"Sari ... di mana kita sekarang?" tanya Kemuning lemah. Dia berusaha untuk segera duduk.


Kencana Sari membantu Kemuning, menyandarkan tubuh Kemuning pada sebongkah batu. Mereka berada di dalam ruangan, pada sebuah bangunan tua yang tidak lagi terawat. Batu-batu bekas arca berserakan tidak tentu arah. Sepertinya, bangunan itu bekas terbakar beberapa puluh tahun yang lalu.


Setelah minum beberapa teguk air kelapa segar, Kemuning merasakan jika tubuhnya sedikit membaik. Dia juga bisa melihat bagaimana kondisi Kencana Sari tidak lebih baik darinya. Mereka sama-sama terluka, hanya lebihnya Kencana Sari telah mengobati luka dalamnya sendiri. Tentu saja, karena dia seorang pelayan Tabib.


"Apa kau tahu, bagaimana kita bisa selamat?" tanya Kemuning.


Beberapa waktu yang lalu ...


Kemuning bersama Kencana Sari masih berada di kamar penginapan. Mereka lebih dulu berbenah, mengemasi beberapa barang bawaan. Sambil menunggu waktu yang sudah di janjikan, mereka duduk sambil mengobrol ringan.


Kencana Sari sudah tahu banyak. Sikapnya sangat berubah dari saat dulu dia pertama berjumpa Kemuning. Terlebih hubungan Kemuning dan Suhita sudah begitu dekat, membuat Kencana Sari menghargai Kemuning juga layaknya dia hormat pada Hita.


"Aku merasa, ada hubungan yang spesial antara Hita dan Cakra. Ah, maaf. Maksudku bukan sekedar mereka merupakan teman masa kecil," ucap Sari lebih serius.


"Kau melihat mereka memiliki beberapa kesamaan?" Kemuning tertawa kecil, sebelum kemudian dia melanjutkan.


"Banyak orang yang memiliki wajah yang mirip. Tapi lebih dari itu dan aku rasa kau lebih paham dariku. Aku bahkan berpikir jika mereka merupakan saudara. Ya, paling tidak ada sedikitnya hubungan darah mungkin kakek nenek mereka," Kemuning mengangkat bahu.


"Kau ini kekasih Pendekar Cakra dan kau sama sekali tidak tahu sedikit pun tentang dirinya, mengenai asal-usulnya, padepokan tempat dia belajar, atau apalah itu. Dia tidak pernah bercerita?" tanya Kencana Sari heran.


Kemuning tertawa kecil, dia balas menatap Kencana Sari dengan juga tatapan heran. "Lalu bagaimana denganmu? Hal yang sama kita rasakan bukan?"


Kencana Sari menelan ludah. Bahkan yang mereka temui juga sama. Apa itu artinya benar kalau Suhita dan Cakra punya hubungan saudara?


"Baiklah! Kita hanya bicara hal yang tidak penting. Andaipun tahu, tentunya hanya menambah beban kita saja," ujar Kemuning menutup pembahasan.

__ADS_1


Kencana Sari tersenyum. Kemuning benar, untuk apa mereka tahu jika hanya menambah beban pada diri mereka. Lebih baik tidak tahu, andaipun mati maka mereka tidak dengan membawa rahasia.


Ketika matahari sepenggalah tingginya, Kemuning dan Kencana Sari meninggalkan penginapan, mereka memacu kuda menuju tempat yang disebut oleh Suhita. Sejak subuh tadi Hita dan Cakra pergi, dan pasti urusan mereka sekarang sudah selesai.


Kuda terus berlari dengan kecepatan sedang, hingga membawa kedua gadis cantik itu meninggalkan pedukuhan. Mereka baru mengendurkan lari kuda ketika tiba di jalanan berbatu yang licin berlumut.


"Hahaha! Akhirnya, kalian datang juga!"


Serentak Kemuning dan Kencana Sari menarik tali kekang kuda saat mendengar adanya tawa menggelar diikuti suara dengan iringan tenaga dalam tingkat tinggi. Keduanya dipaksa mengerahkan tenaga dalam untuk menahan gendang telinga mereka supaya tidak berdenging sakit.


"Kau mengenali mereka?" bisik Kencana Sari.


Kemuning menggelengkan kepalanya. Dia belum pernah melihat siapa orang yang menghadang jalan mereka. Tapi jelas terlihat bila mereka tidak memiliki tujuan yang baik.


Kencana Sari melirik gagang pedang yang tergantung di punggung kuda. Meskipun sekarang kemampuan bertarungnya meningkat pesat, tapi Kencana Sari tidak memiliki pusaka. Sebagai seorang juru sembuh, tentunya benda itu tidak terlalu diperlukan. Tapi jika seperti saat sekarang ... rasanya tidak ada apa pun yang tercipta dengan mubazir.


Rompi Merah. Kelompok yang jarang terdengar di dunia persilatan. Atau mungkin nama kelompok itu baru saja terlahir saat menjalankan misi kali ini?


Tiga orang pimpinan dan empat orang anak buah. Kelompok yang dibilang cukup kecil, apalagi untuk menjalankan sebuah misi besar. Tapi bisa saja, mereka hanya baris pertama atau mungkin juga kemampuan yang dimiliki lebih dari anggota seratus orang.


"Lalu, apa yang kalian inginkan?"


"Hahaha! Tentu saja untuk membawamu pulang. Ayo ikut dengan kami, janganlah bertindak bodoh dengan menyulitkan diri sendiri!" seorang pria brewok, menunjuk pada Kemuning.


Astaga. Kemuning hampir mati tersedak. Kiranya ini menyangkut masalah pribadinya. Mereka ialah kelompok bayaran yang bertugas untuk membawa Kemuning pulang. Begitu seriusnya kah keluarga Kemuning memburunya? Ah, tidak. Mereka bukan utusan ayah atau ibunya, melainkan dari keluarga bangsawan Cokro.


Salah satu alasan kuat Kemuning kabur dari rumah ialah karena ia menolak perjodohannya dengan anak ketujuh dari keluarga bangsawan Cokro. Setelah hampir lima tahun lamanya, Kemuning berharap dia dilupakan. Akan tetapi sepertinya tidak. Justru masalahnya semakin rumit.


"Sari, baiknya kau selamatkan dirimu sekarang. Mereka hanya akan memburuku. Cepatlah!" ucap Kemuning atau dalam masalah ini dia pantas dipanggil Diah Pitaloka.


Kencana Sari tentu saja menolak. Dia tidak akan membiarkan Kemuning mengahadapi semuanya seorang diri. Apa gunanya ada teman jika semua menghilang saat masalah datang. Justru saat itulah fungsi seorang teman. Teman semacam apa yang bersama dalam tawa lalu menghilang saat muncul masalah.


"Kita hadapi bersama-sama. Jika bisa lari, maka harus berdua," Kemuning menyambar pedang di punggung kudanya, lalu melompat turun.


"Hahaha! Sedikit menyusahkan tapi amat menyenangkan. Ayo anak-anak, saatnya bersenang-senang!" pimpinan Rompi Merah memerintahkan keempat anak buahnya turun bersamaan.


Tidak butuh waktu lama, denting suara senjata tajam yang saling beradu mengubah suasana jalan. Pertarungan tidak seimbang terjadi. Empat orang pria tinggi besar menyergap dua orang gadis muda. Di atas kertas, hasilnya jelas. Pertarungan tidak akan berlangsung lama.


Namun keadaan berbanding terbalik ketika langsung menilik di medan laga. Memang benar, empat orang anggota Rompi Merah merupakan pendekar yang miliki kemampuan tinggi. Satu dari mereka akan mampu meladeni setidaknya lima orang prajurit. Tapi yang menjadi lawan mereka saat ini bukanlah gadis sembarangan. Kulit mereka memang halus, tangan pun sangat mulus. Akan tetapi, pedang yang digenggam tetaplah senjata tajam yang sangat berbahaya bila terkena kulit.


Kencana Sari telah berhasil merobohkan dua orang yang menjadi lawannya. Sementara pula Kemuning bertarung di atas angin. Mereka tidak mungkin mudah untuk dikalahkan.


"Kepa*rat!" dengan geram, pimpinan Rompi Merah langsung melompat dari punggung kuda. Ketiganya terlibat dalam pertarungan sengit.


Jurus demi jurus berlalu, harus diakui jika kekuatan mereka hampir berimbang. Tapi kepandaian bertarung serta kecurangan pastinya lebih dikuasai oleh Kelompok Rompi Merah. Membuat pertarungan semakin sengit, baik Kencana Sari ataupun Kemuning mereka masing-masing sudah mendapatkan hadiah pukulan.

__ADS_1


Seorang pimpinan Rompi Merah mundur beberapa tombak, dia mempersiapkan pukulan tenaga dalam jarak jauh. Sementara dua rekannya dan seorang anak buah mengambil alih pertarungan. Sudah jelas, mereka akan melakukan kecurangan. Melawan gadis kecil saja harus curang, wajar jika nama kelompok mereka tidak dikenal di dunia persilatan.


"Jala sutra !!!" dengan teriakan keras, pimpinan Rompi Merah menghentakkan kedua tangannya, melepas pukulan tenaga dalam yang membentuk jaring laba-laba.


__ADS_2