Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Kitab Langit dan Bumi


__ADS_3

Setelah keduanya sepakat, akhirnya kedua putra Mahesa tersebut berjalan beriringan menuruni tebing. Mereka mengambil jalan pintas. Meskipun lebih berbahaya karena curam, tapi dengan demikian mereka akan luput dari perhatian. Tidak bakal ada orang yang nekad menuruni tebing itu di malam yang gelap. Para penjaga yang tersisa juga enggan mengawasi dengan seksama.


"Huuuhhh ... akhirnya," Raka Jaya membersihkan tangan dan pakaiannya yang kotor setelah beberapa waktu bergelut di tebing yang curam.


"Sesuai kesepakatan, kau punya hak untuk diam dan jangan banyak bertanya," Danur Cakra kembali mengingatkan.


Raka Jaya mengangguk lemah. Meski dia heran pada Danur Cakra yang nampak begitu sensitif, tapi sesuai kesepakatan yang telah mereka buat maka dia akan tetap diam. Mengikuti seluruh kegiatan Danur Cakra di sana, maka segala pertanyaan akan terjawab.


Danur Cakra bersama Raka Jaya terus berjalan dengan hati-hati. Keduanya mengendap di dasar lembah, menuju ke satu tempat yang nampak di jaga oleh beberapa orang pendekar.


"Hump!" hampir saja. Beruntung keduanya masih sempat bersembunyi ketika puluhan orang bergerak ke arah mereka.


Nampaknya kelompok penjahat itu bergegas menuju ke tempat terjadinya pertempuran. Itu tandanya, markas mereka kosong.


Dan benar saja, saat tiba di depan mulut gua, hanya ada tiga orang yang berjaga di sana. Mereka nampak begitu senang karena pimpinan mereka tidak ada di tempat. Salah seorang dari mereka mengeluarkan beberapa kendi kecil arak.


"Hahaha! Ayo minum, habiskan saja," tawa ketiganya pecah sambil menikmati arak. Tanpa mereka sadari, ada dua orang bocah yang mendekat. Bahkan telah sangat dekat.


Danur Cakra memberi isyarat melalui jari tangannya, dia meminta Raka Jaya untuk langsung menghabisi seorang dari mereka hanya dalam satu serangan.


Wuuuss! Bugh! Desh!


Kedua bocah tersebut serentak melompat. Dengan tangan terjulur ke depan, melepaskan pukulan tenaga dalam mengarah dada lawan.


Dengan satu serangan, Danur Cakra melenyapkan dua orang sekaligus. Dada kedua orang korbannya hancur, dengan sisa energi yang masih mengepul asap.


Melihat sisa energi itu, Raka Jaya sampai mengerutkan dahi. Dia merasa ada kesamaan pola energi yang dimiliki oleh Cakra dengan milik Suhita. Paling tidak, Raka Jaya yang menganggapnya demikian. Apa itu? Kalo tidak salah ingat itu Pukulan Tapak Naga.

__ADS_1


Benarkah mereka berasal dari tempat yang sama?! Ah, bukankah ada beberapa tokoh persilatan yang memiliki kemampuan Tapak Naga?! Raka Jaya mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh. Bisa jadi Suhita dan Cakra hanya kebetulan mempelajari jurus yang sama. Hanya Raka Jaya saja yang masih tidak bisa melupakan pertemuannya dengan Suhita meskipun telah beberapa hari berlalu.


"Ayo, kita masuk!" ucap Danur Cakra setelah mereka membuang jasad tiga orang penjaga gua.


"Apa ada orang?" teriak Danur Cakra setelah mereka berada di dalam ruangan gua.


"Hei, apa kau sudah gila?! Kita ini penyusup, mengapa harus berteriak minta izin," Raka Jaya mengangkat kedua bahunya.


Danur Cakra tidak menjawab. Dia berdiri tegak, menunggu kalau ada orang yang datang setelah mendengar teriakannya. Jika tidak ada seorang pun yang mendekat, itu tandanya gua itu telah benar-benar kosong. Tapi sepertinya tidak, karena tidak lama berselang terdengar suara beberapa derap langkah kaki yang datang mendekat.


Danur Cakra mengangkat sebelah alisnya pada Raka Jaya. Menunjukkan jika apa pun yang dia lakukan tidak ada yang sia-sia. Semuanya terarah dan terstruktur, menuai hasil dari setiap tindakan.


"Hei, anak kecil. Apa yang kalian lakukan di sini?" seorang pendekar sepuh menyapa. Kepalanya melongok ke arah pintu.


"Ketiganya sedang bersenang-senang di ujung lembah, kalian tidak perlu khawatir. Oh ya, kakek tua. Apa kau yang bernama Ki Buyut Sepuh?!" Danur Cakra berujar tanpa satu kali pun membungkuk memberi hormat. Sikapnya tidak ubahnya seperti mereka, kelompok penjahat itu.


"Kakek tua, apa kau tidak bisa mendengar suaraku?" ulang Danur Cakra.


"Bocah nakal, jaga bicaramu. Bahkan tulangmu masih terlalu lunak meski sekadar untuk dipanggang. Aku sarankan baiknya kau cepat pulang," usir pengawal yang mengikuti kakek tua.


Pengawal itu berjumlah empat orang, dengan pakaian yang sama persis dan bentuk fisik yang juga mirip. Jelas mereka merupakan pendekar dengan kemampuan yang cukup besar.


"Namaku Ki Basar Nawa, bukan Buyut Sepuh seperti yang tanyakan. Bahkan, mendengarnya pun baru kali ini." Kakek tua tetap menjawab pertanyaan Danur Cakra dengan suara yang lembut.


"Baiklah. Tidak perduli siapa pun namamu, tapi sepertinya aku tidak datang ke tempat yang salah. Gua ini dulunya bernama gua sangkar tikus, tidak tahu sekarang harus disebut gua jurang gerowong. Yang harus kalian ketahui, kedatanganku ialah untuk kitab langit dan bumi."


"Hahaha! Kau belum tidur, lantas mengapa sudah bermimpi?! Bangun, nak. Jangan paksa kami untuk mencela," Basar Nawa tertawa mendengar penuturan Danur Cakra.

__ADS_1


Sementara itu, dari balik tawa yang pecah dari mulut Basar Nawa, Danur Cakra Prabaskara menemukan ada hal yang disembunyikan oleh kakek tua itu. Apa lagi kalau bukan kitab langit dan bumi. Basar Nawa tahu sesuatu, tapi berpura-pura bodoh karena tidak ingin mengatakan.


Danur Cakra ikut tertawa, tapi setelah itu dia langsung berlari menuju lorong sebelah kanan tempatnya berdiri.


"Cepat hentikan dia!" perintah Basar Nawa pada anak buahnya.


Dua orang pengawal langsung berlari mengejar Danur Cakra, sementara dua orang lainnya justru mengalihkan perhatian mereka pada Raka Jaya yang sejak tadi diam mematung.


"Guru kembalilah. Anak satu ini biar saya yang mengurus," ucap seorang pengawal.


Basar Nawa tersenyum tipis, kemudian mengangguk pelan. Dia mengajak seorang lagi pengawalnya untuk pergi.


"Mau lari ke mana kau bocah?!" pengawal itu menyeringai, memperlihatkan giginya sambil merentangkan tangan membuka jurus.


Apa boleh buat. Raka Jaya akan hadapi apa pun resiko yang bakal terjadi. Dia yang memaksa untuk boleh ikut Danur Cakra memasuki gua. Tidak ada alasan untuknya menghindar lagi. Datang berdua, pulang pun harus bersama.


Raka Jaya langsung membuka serangan. Maksud hatinya ialah menyelesaikan perlawan pengawal tersebut kemudian menyusul Danur Cakra ke dalam gua.


"Sial! Rupanya kau bukan bocah sembarangan," pengawal itu meludah ke tanah. Serangannya menerpa ruang kosong. Terlalu mudah bagi Raka Jaya untuk menghindar.


"Kau dengar, gurumu itu yang membuat semuanya menjadi rumit. Apa salahnya bicara, bukankah tidak sulit?"


"Bocah ingusan. Lolos satu kali, bukan berarti kau bisa lebih unggul dariku. Jangan besar kepala!"


"Baik! Orang sepertimu, mengaku kalah hanya bila telah terbujur tidak bernapas!" Raka Jaya segera menghunus pedang pusaka di pinggangnya.


Dengan Jurus Inti Api, Raka Jaya menyergap lawannya dari berbagai arah. Mau tidak mau, lawannya harus mengakui kehebatan energi api yang dikuasai oleh Raka Jaya setelah pedang yang panas menyala itu menembus kulit dan dagingnya.

__ADS_1


__ADS_2