
"Aaahhhh ... hahaha! Segar sekali, sungguh sangat menyegarkan arak ini. Diminum di hari yang cerah," dengan bersemangat, setiap teguk dari kendi arak mengalir, hingga tersusun kendi-kendi kosong di atas meja.
"Enaknya, kalau di campur susu. Nah, susu ini ..."
CEMOL !
"AAA !!!" Pelayan kedai yang merupakan seorang wanita menjerit histeris tatkala tangan nakal pendekar itu meremas buah dadanya dengan sangat kasar. Hingga nampan berisi makanan yang di bawa si pelayan terlepas dan melayang jatuh.
TEP! Tidak terdengar adanya suara barang yang berserak di atas lantai. Beruntung makanan itu berhasil diselamatkan dan terjatuh tepat di telapak tangan seorang pendekar. Tanpa kurang suatu apa, bahkan kuah sayurnya pun tidak tertumpah walau barang sedikit. Kemampuan telapak tangan itu dalam menahan getaran sangat luar biasa, menyelamatkan seluruh isi nampan.
"Ini pesanan kami?" tanya sang pendekar pada pelayan kedai yang masih syok.
"Be-benar, Tuan. Maaf, hampir saja saya menumpahkannya di pakaian Anda," dengan terbata-bata wanita pelayan itu kembali meraih nampan yang berada di telapak tangan pendekar.
Tangannya masih gemetaran setelah menjadi korban pelecehan. Tapi pelayan kedai itu tetap melanjutkan tugasnya menghidangkan makanan pada pengunjungnya. Nampaknya, telah acap kali dia mendapat perlukan seperti itu dari pengunjung yang nakal.
"Layani kami saja! Susumu itu, biar untuk di sini! Cepat!" pendekar yang tadi berbuat tidak senonoh kembali bicara, dia mengangkat kepeng uang perak pada pelayan tersebut.
"Heh, apa kau tuli?! Mana bos mu, cepat layani kami!" bentaknya saat merasa dia diabaikan.
Seorang pria paruh baya yang merupakan pemilik kedai tergopoh menghampiri dan memohon maaf yang sebesar-besarnya. Dia meminta untuk para pendekar itu bersabar karena gadis yang mereka maksud masih sedang melayani pengunjung lain.
"Nok, cepat! Tuan pendekar itu ingin kau yang melayani," pemilik kedai menghampiri pelayan yang bernama Denok tersebut.
__ADS_1
"Biarkan dia di sini. Aku yang akan bayar dia, sepuluh kali lipat!" perkataan datar keluar dari mulut pendekar yang sedang disuguhi makanan oleh Denok.
Pendekar itu duduk membelakangi para pendekar mabuk yang ringan tangan mencolek benda sensitif milik para gadis pelayan kedai. Sementara, bersama sang pendekar tersebut ikut pula duduk seorang bocah wanita berusia delapan tahun. Mereka mampir untuk makan siang, dan tidak untuk membuat keributan.
"Ah, Tuan pendekar ..." pemilik kedai semakin terbelalak saat pendekar yang tidak lain adalah Mahesa, menjepit kepeng uang emas di celah jari telunjuk dan jari tengah. Aroma khas uang emas itu tercium begitu koinnya hampir menempel di hidung pemilik kedai.
Sementara itu, Suhita tidak berkomentar sepatah kata pun. Dia hanya melirik sekilas pada ayahnya, pada pemilik kedai juga pada gadis pelayan yang Suhita akui jika gadis pelayan itu memiliki bentuk tubuh yang menggoda. Di tambah pakaian ketat yang merupakan seragam kerja, membuat tonjolan-tonjolan yang dia miliki begitu menarik minat lawan jenis untuk menyentuhnya.
"Heh! Enak saja. Siapa cepat dia dapat! Kau mau cari mati ya? Beraninya mengambil lautan susu milikku!" teriak pendekar yang mulai mabuk.
Mahesa tidak perduli, bahkan menoleh pun tidak. Lagi pula jika bicara masalah uang, pasti semua orang juga maklum. Siapa yang banyak uang, dialah sang pemenang. Dengan uang, di dunia ini apa yang tidak bisa dibeli?!
"Hei, jika hanya seorang pembantu jangan banyak gaya. Kau pura-pura buta hanya karena ada anak majikanmu, hahaha! Coba saja jika sendirian, dengan uang segitu mungkin kau lebih gila dari kami," celoteh berisi ejekan terus mereka lemparkan pada Mahesa, berharap Mahesa terpancing dan membuat keributan. Dengan demikian, para pendekar mabuk itu bisa terbebas dari segala bayaran. Trik usang seperti itu, mana mungkin bisa mempan untuk Mahesa.
Suhita menggenggam tangan ayahnya, Suhita takut jika Mahesa terpancing dan melukai orang-orang bodoh itu.
Dengan sungkan Denok duduk di seberang meja, dia mengambil mangkuk dan juga mengambil beberapa kerat makanan. Dia melakukan seperti apa yang Mahesa katakan.
"Bibi ... bibi sudah lama kerja di tempat ini?" tanya Suhita di sela-sela makan.
"Iya, Non. Sudah hampir dua tahun saya bekerja," jawab Denok dengan polos. Denok menceritakan jika dirinya bekerja untuk kehidupan keluarganya. Ada seorang ibu dan adik yang harus Denok tanggung hidupnya. Sementara untuk bekerja lain, Denok tidak punya kepandaian apa pun.
"Bibi yang sabar. Aku yakin, suatu hari nanti akan datang seseorang yang bakal bertanggung jawab atas diri bibi, hingga tidak perlu lagi bekerja di tempat yang seperti ini," Suhita membesarkan hati Denok.
__ADS_1
"Terima kasih, Non. Saya pun akhirnya terbiasa hidup di tempat seperti ini," ujar Denok dalam senyum.
Hingga mereka selesai makan, tidak seorang pun yang berani menyentuh meja Mahesa. Kekuasaan penuh yang kepeng uang miliki, sungguh menempati di setiap lapisan masyarakat.
Sebelum pergi, Suhita menyempatkan diri untuk bersalaman dengan Denok. Di balik tangannya, terselip beberapa kepeng uang. Entah apa motif di balik semua itu. Karena loyal, kasihan, atau sekadar salam perpisahan.
"Ayah, Hita merasakan jika para pendekar tadi tersinggung karena sikap ayah. Bagaimana jika mereka datang dan mencari gara-gara?!"
"Jika saja bukan karena adanya dirimu, mungkin saat ini para pemabuk itu sudah menjalani terapi patah tulang dan tidak mampu bekerja dalam beberapa bulan," jawab Mahesa dalam hati. Namun yang terlihat hanyalah senyum sebagai jawabannya.
Jarak yang mereka butuhkan untuk mencapai Kota Giling Wesi ialah sekitar enam jam perjalanan. Saat memasuki tapal kota nanti maka hari sudah gelap. Dari itu, Mahesa dan Suhita harus segera bergegas. Waktu mereka akan genap satu pekan di esok hari.
Layaknya putaran sang bumi, ayunan kaki kuda yang membawa ayah dan anak itu pun terus bergerak tiada henti. Mereka memanfaatkan disetiap detik perjalanan dengan penuh kegembiraan hati.
EEEAAAKKK !!! Kuda yang Mahesa tunggangi meringkik keras. Kedua kaki depannya sampai terangkat amat tinggi tatkala Mahesa menarik tali kekang dengan tiba-tiba.
"Ada apa, Yah?" bisik Suhita.
"Berhati-hati, ada tamu tidak diundang," ucap Mahesa seraya menenangkan kudanya.
Tidak lama berselang, beberapa bambu meluncur dengan deras di depan mereka. Jika saja Mahesa tidak menghentikan laju kuda, paling tidak kuda mereka yang terluka oleh serangan mendadak itu.
"Tidak, bukan mereka. Kali ini, kita berhadapan dengan para pembunuh profesional. Tapi kau jangan takut, bahkan kemampuan mereka berada di bawahmu," ucap Mahesa.
__ADS_1
Awalnya Suhita menduga jika yang menghadang jalan ialah jaringan kelompok yang tadi siang mereka temui di kedai. Tapi, Mahesa mengatakan jika sedang berhadapan dengan pembunuh profesional.
Siapa?! Apa hubungannya dengan mereka?!