Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Melarikan Diri


__ADS_3

"Paman, apa yang terjadi. Mengapa jadi begini?" Kemuning membantu Jatmiko untuk duduk.


Pelipis kiri Jatmiko terluka dan mengeluarkan darah. Begitu juga dengan beberapa bagian lain yang lebam dan bengkak-bengkak. Watu Galing sengaja menyerang bagian wajah Jatmiko untuk memperlihatkan pada anak-anak sirkus kalau kemampuan yang dia punya jauh lebih baik daripada Jatmiko. Dan seandainya ada dari anggota sirkus yang mengikuti jalan Jatmiko, maka bisa dipastikan yang bakal diterima adalah hal yang serupa.


"Pasukan kerajaan sedang bergerak ke sini. Mereka ... mereka melarang kita untuk melarikan diri," ucap Jatmiko.


"Apa?! Serangan akan datang, tapi kita justru saling bertarung. Paman, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Kemuning terdengar sangat terkejut. Bingung, harus berbuat apa.


"Kemuning ... kali ini kau harus dengarkan aku, menurutlah pada paman, kau harus segera pergi dari sini. Paman yakin, Pendekar Cakra punya kemampuan untuk membawamu selamat. Jangan hiraukan kami," mohon Jatmiko. Dia meminta dengan sangat agar Kemuning mau mendengar perintahnya, setidaknya untuk kali ini saja.


"Tidak Paman. Saya tidak mungkin meninggalkan kalian, apa pun yang terjadi," Kemuning menolak dengan tegas.


"TOLONGLAH ...  Ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku akan sangat berterima kasih bila mana kau mau mendengarku," Jatmiko terus mendesak.


Kemuning menggelengkan kepalanya berulang kali. Tidak sampai hati dirinya melakukan itu. Meskipun sekarang dia tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk melawan, tapi paling tidak dia bukanlah seorang yang terlalu mementingkan diri sendiri. Bila harus celaka, tidak masalah terkubur di dalam gua bersama-sama.


"Paman, sejak tadi saya tidak melihat Arsita. Di mana dia?" Kemuning mengalihkan pembicaraan. Memang benar, sejak tadi dia tidak melihat temannya itu.


Jatmiko tersenyum tipis, dalam hati dia bangga pada Kemuning karena begitu perhatian pada teman-teman seperjuangan. Karena jika mengingat latar belakang keluarganya, sangat tidak pantas Kemuning berada di sana, bergaul dengan rakyat jelata. Karena dia berasal dari keluarga bangsawan.


Penyesalan terbesar Jatmiko ialah, karena dia belum sempat memberi tahu siapa pun mengenai jati diri Kemuning. Terutama Danur Cakra. Padahal banyak kesempatan untuk mereka bicara berdua. Sementara juga telah terlihat jika Danur Cakra memiliki kebaikan hati yang besar, terkhusus lagi untuk Kemuning. 


Kemuning hendak bangkit dan berusaha mencari Arsita, tapi Jatmiko keburu menghentikannya. Terus meminta agar Kemuning segera melarikan diri saat itu juga.


"Kemuning, di sini kau sudah kami anggap sebagai keluarga. Tapi kau juga harus tetap memikirkan keluarga aslimu. Mereka pasti begitu mencemaskan dirimu. Oh, ya. Apa kau sudah beritahu Cakra tentang rahasia ini?"


Kemuning menggeleng, dia bahkan sudah melupakan tentang masa lalunya. Lagi pula, keluarganya tidak lagi menganggap dirinya ada. Dia telah mengubur atas siapa dia sebenarnya.


"Paman, sekarang saya hanya ada di pihak kalian. Apa pun yang terjadi, saya akan tetap bersama. Jadi saya mohon, jangan pernah untuk usir saya dari sini," minta Kemuning dengan sangat.


Sementara itu, Rangga yang ikut mendengar perkataan Ayahnya terlihat kebingungan. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Kiranya, begitu banyak rahasia yang disimpan sang ayah. Terutama mengenai diri Kemuning. Penasaran juga dia atas siapa diri gadis itu sebenarnya, dan apa hubungannya Kemuning dengan banyak kejadian yang terjadi akhir-akhir ini.


"Apa mungkin, Kemuning yang menjadi salah satu alasan atas serangan yang terjadi. Siapa dia?" Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Siapa sangka, justru pikiran nyeleneh muncul di saat yang genting. Dalam benak Rangga tiba-tiba muncul rasa iri atas perlakuan khusus ayahnya pada Kemuning. Padahal, Kemuning bukan siapa-siapa tapi begitu besar rahasia yang disimpannya. Penasaran Rangga untuk bisa membongkar rahasia tersebut.


"Lihat saja, aku pastikan untuk membongkar rahasia itu. Jangan panggil aku Rangga jika tidak bisa lakukan hal kecil ini," Rangga tersenyum tipis, menatap tajam wajah Kemuning yang tertutup cadar.


Satu hal lain yang semakin membuat hati Rangga terasa sakit yakni karena selama ini Kemuning begitu abai pada dirinya. Pada saat kemunculan Danur Cakra, justru Cakra yang berhasil mendekati Kemuning. Semakin gondok hati Rangga, untuk membuat perhitungan secara langsung dia tidak miliki cukup keberanian. Ada cara lain. Dan nampaknya sekaranglah masa itu tiba.


Sementara itu, Danur Cakra masih mendengarkan penjelasan Watu Galing dan Gunda Soka. Dibantu oleh Ki Wadas, mereka terus coba untuk meyakinkan Danur Cakra untuk mau bergabung. Mungkin tiada satu orang pun yang menduga bahwa Danur Cakra merupakan saudara dari Jenderal Muda Kerajaan Utara. Raka Jaya. Orang yang kerap mereka sebut namanya dalam setiap kalimat.


"Kami janji, bila kau mau berjuang bersama maka kami akan menjadikan kau orang dengan suara yang di dengar. Lihatlah kelakuan para pejabat kerajaan sekarang, kau bisa menilai sendiri. Berfoya-foya, main perempuan dan memperkaya diri sendiri adalah satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan," kalimat Watu Galing terus menerus mengkritik setiap kebijakan kerajaan. Apa pun yang dilakukan, semuanya merupakan kesalahan.

__ADS_1


"Sudah selesai?!" tanya Danur Cakra saat Watu Galing berhenti bicara.


"???" mereka saling bertukar pandang, salah menduga kalau kiranya Danur Cakra sama sekali tidak terpengaruh bagaimana pun mereka coba gunakan kemampuan untuk pengaruhi Cakra.


"Kalau kalian sudah selesai bicara, maka biarkanlah kami menentukan sikap. Siapa pun yang hendak berlindung, maka ikutlah denganku," ucap Danur Cakra.


Pernyataan Danur Cakra menunjukkan jika dia berada di pihak Jatmiko. Tentu saja, tatapan tidak senang terpancar dari Watu Galing dan Gunda Soka. Karuan saja mereka tidak setuju. Karena dengan adanya Danur Cakra, membuat orang-orang yang semula ragu untuk bergabung di pihak Jatmiko jadi berani ambil keputusan.


"Sialan! Berani sekali bocah ini bicara songong. Dia pikir sedang berhadapan dengan siapa?!" batin Gunda Soka kesal. Meskipun yang terlihat senyum mengembang di bibir tapi hatinya tidak bisa terima itu.


"Tunggu! Kau tidak bisa seenaknya mengambil keputusan. Kau pikir kau siapa?!" teriak seorang anak buah Gunda Soka.


"Harusnya kau mengimbangi ucapanmu dengan keberanian. Hentikan saja jika kau bisa!" Danur Cakra tidak memperdulikan pendekar tersebut. Dia bergegas untuk berkemas diikuti oleh beberapa orang.


"Kurang ajar!" pendekar yang merasa dirinya direndahkan langsung melompat menyerang Danur Cakra.


Akhirnya, apa yang Danur Cakra tunggu datang juga. Sejak tadi tangannya sudah gatal, tapi tiada seorang pun yang mau memulai pertarungan. Sebelum berhadapan dengan prajurit kerajaan, tiada salahnya melakukan pemanasan dengan mereka-mereka yang merasa kuat.


Danur Cakra tersenyum masam, dia hanya bergerak tipis untuk menghindari tusukan pedang lawan. Membuat mata pedang menerpa ruang kosong beberapa inci di sebelah kanan Danur Cakra.


Tidak hanya diam, Danur Cakra mengangkat kaki kirinya, melakukan tendangan hingga tepat mengenai kening lawan. Tidak sampai di situ saja, setelah melakukan serangan pertama, kaki kiri tersebut tidak menginjak tanah melainkan langsung bergerak cepat menendang ke belakang. Tubuh lawannya yang limbung akibat pukulan di kening, harus kembali mendapatkan tendangan sangat keras yang mendarat tepat pada perutnya. Membuat tubuh orang itu melayang dan terpental sangat jauh. Bahkan hingga tidak lagi terlihat, jauh ke luar gua. Bisa dibayangkan apa yang terjadi kala tubuh itu membentur batang kayu ataupun bebatuan yang banyak terdapat di luar gua.


Gunda Soka hanya bisa mengepalkan tangan. Sejatinya dia hendak membalas serangan, tapi di tahan oleh Watu Galing. Bukanlah hal yang baik jika harus berurusan dengan Danur Cakra pada saat genting seperti sekarang.


Orang pertama yang mengejar tentu saja Kemuning. Gadis itu seolah tidak perlu berpikir. Membuat tidak sedikit mata yang terlihat kecewa. Mereka kerap membantu bahkan rela untuk korbankan nyawa demi menyelamatkan Kemuning, tapi sekarang seolah Kemuning tidak mengingat hal tersebut.


"Cakra, kita harus tunggu Arsita lebih dulu. Aku ingin dengar langsung apa mungkin dia menolak pergi," ucap Kemuning menahan langkah Danur Cakra.


"Aku bawa kalian ke tempat yang aman, setelah itu aku akan kembali ke sini untuk menjemputnya. Kau dengar derap langkah kuda yang telah mengepung tempat ini? Kita tidak punya banyak waktu lagi," jawab Danur Cakra.


Kemuning menggelengkan kepalanya berulang kali. Dia bersikeras untuk tetap menunggu Arsita. Membuat Cakra jadi serba salah. Ada sekitar lima belas orang yang ikut bersama dengan rombongan Danur Cakra dan Jatmiko. Mereka pun setuju pada pendapat Kemuning. Bagaimanapun juga, Arsita harus membuat keputusan yang sama-sama mereka dengar. Bergabung atau tidak.


Suasana semakin genting, suara derap kaki kuda semakin terdengar jelas. Tumenggung Surotanu sudah tiba, mengepung gua persembunyian dari berbagai penjuru.


"Nah, itu Arsita!" seorang dari mereka menunjuk ke satu arah, di mana seorang gadis berlari mendekat.


"Mengapa kalian belum pergi?" tanya Arsita.


"Kami menunggu dirimu. Aku harap, kau mau bersama-sama dengan kami mencari tempat yang aman," jawab Kemuning dengan tatapan sendu.


Arsita mengangguk setuju. Lagi pula dia tidak mungkin mengkhianati perjuangan sang ayah yang sudah babak belur karena keputusan tersebut.


"Ayo, cepat!" teriak Jatmiko.

__ADS_1


Bersamaan dengan mereka memulai langkah, disaat itu juga terdengar suara dentuman dari arah pintu gua. Puluhan prajurit bergerak masuk dengan persenjataan yang lengkap. Peperangan tidak terelakkan.


Jatmiko sempat menoleh, hatinya terasa pedih teriris puluhan sembilu beracun. Manakala matanya menyaksikan teman-temannya para pemain sirkus yang minim kemampuan bela diri dibantai oleh prajurit kerajaan yang terlatih.


Danur Cakra merupakan seorang yang paling paham karakteristik dan seluk beluk dalam gua. Dia membawa rombongan masuk semakin dalam, kemudian membuka pintu rahasia untuk turun ke ruang bawah. Di sana terdapat satu lorong besar yang juga memiliki tembusan ke tempat lain. Jangan salah, jika tidak begitu paham maka bisa dipastikan bahwa gua itu bakal membuat orang tersesat untuk selamanya.


Tiba di sebuah ruangan, ada dua buah lorong yang letaknya berdampingan. Cakra menuturkan kalau setiap lorongnya akan tembus ke daratan. Letaknya memang berjauhan, tapi dipastikan bahwa mereka akan selamat.


Sebelum Cakra memberi kebebasan pada mereka untuk memilih, terlebih dahulu dia membagikan masing-masing satu kantong besar kepeng uang emas. Uang yang Danur Cakra dapatkan pula dari dalam gua itu. Dengan bekal yang dia berikan, maka masing-masing orang akan bisa membeli lahan luas dan rumah. Sisanya, bisa untuk hidup setidaknya satu tahun. Ya, mereka bisa melanjutkan hidup dengan tenang, jauh dari perasaan was-was. Hidup dengan bebas, dengan identitas baru dan masa depan yang pula baru.


Meskipun berat, tapi mereka harus menerima. Bekal yang Cakra berikan lebih dari cukup bahkan meski untuk membeli alasan yang terangkai. Bukankah suatu hari nanti mereka tetap akan bisa berjumpa?


"Tidak ada waktu lagi! Selamat jalan teman-teman, selamat tinggal. Semoga Tuhan akan kembali mempertemukan kita dalam kondisi yang jauh lebih baik," lepas Danur Cakra dengan lambaian tangan.


Kendati sangat berat, akhirnya satu persatu para pemain sirkus itu melangkah untuk memilih salah satu dari dua lorong gua yang ada. Gua nasib yang akan membawa mereka pada kehidupan baru.


Setelah para bekas pemain sirkus semuanya berangkat, tinggallah Danur Cakra, Jatmiko dan Arsita yang masih berdiri sedih melepas kepergian teman-teman mereka. Saat sepi yang mencekam, barulah mereka menyadari sesuatu. Sejak tadi, di mana keberadaan Kemuning dan Rangga?!


Danur Cakra terkesiap, dia terlalu fokus pada banyak orang hingga melupakan Kemuning yang sebenarnya sejak awal berjalan di dekatnya. Terakhir dia melihat Kemuning yakni sebelum turun ke ruang bawah. Kala Cakra membuka pintu rahasia, setelah itu dia tidak menyadari jika Kemuning sudah tidak lagi bersamanya.


"Sialan!" Cakra menepuk jidat. Dengan cepat dia kembali berlari menaiki anak tangga.


"Cakra, tunggu!" Jatmiko diikuti Arsita segera menyusul Danur Cakra.


"Kemuniiing !!! Kemuniiing !!!" Cakra berteriak memanggil-manggil nama Kemuning.


Dibantu oleh kekuatan tenaga dalam Mata Naga, Danur Cakra menebar pandangannya ke segenap penjuru. Berharap dia bisa menemukan Kemuning. Tapi entah ke mana, gadis yang dia cari seperti hilang ditelan gelapnya gua.


Jatmiko dan Arsita juga berusaha membantu untuk mencari keberadaan Kemuning. Seandainya sakit yang dideritanya kumat, pasti Kemuning masih berada di sekitar tempat itu.


"Ah, celaka. Aku curiga jika ini adalah perbuatan Kak Rangga. Tapi mengapa dia harus lakukan tindakan konyol seperti ini?" Arsita kebingungan.


Tindak tanduk Rangga akhir-akhir ini memang begitu mencurigakan, Arsita juga tahu kalau kakaknya menaruh hati pada Kemuning. Tapi tidak begini caranya. Dengan menculik Kemuning, Rangga hanya menanam peledak di dalam tubuhnya, mengambil resiko besar yang semestinya bisa dihindari. Bodoh!


Langkah kaki Danur Cakra telah tiba di ruang depan gua. Di sana, dia menemukan peperangan sengit antara prajurit kerajaan dan kelompok Watu Galing. Tapi Danur Cakra tidak melihat adanya Kemuning.


Danur Cakra terus berjalan, mengabaikan tajamnya senjata yang banyak berseliweran di kiri dan kanannya. Terus berjalan seraya memandang berkeliling berharap untuk secepatnya bisa melihat Kemuning. Hingga dia pun melewati tempat Gunda Soka berlindung. Danur Cakra menghampiri Gunda Soka, menanyakan apakah ada dari mereka yang melihat keberadaan Kemuning.


Gunda Soka tertawa terbahak. Dia malah mengejek Danur Cakra, "bagaimana kau ini? Melindungi satu orang saja tidak becus. Ya mana aku tahu, mungkin gadis itu sedang coba bernegosiasi dengan para prajurit. Hahaha!"


Plaaak!!!


Danur Cakra menghadiahi Gunda Soka satu tamparan yang sangat keras. Gerakannya amat cepat, hingga tidak bisa untuk dihindari. Bukan saatnya untuk bercanda, kepa*rat!

__ADS_1


__ADS_2