Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Juara Sejati


__ADS_3

Terompet berbunyi, mengalun di udara, membuka pertukaran jurus pada kompetisi. Mempertemukan dua orang calon pendekar di masa mendatang. Untuk menentukan siapa yang akan menempati posisi juara. Bocah terbaik di dunia persilatan.


Gerakan mereka yang sangat cepat, membuat orang-orang harus memusatkan perhatian. Ada juga penonton yang merupakan orang awam hanya bisa terpana, berdecak kagum tanpa tahu pertarungan seperti apa yang sebenarnya terjadi di atas ring.


Danur Cakra Prabaskara memang memiliki kemampuan ilmu tenaga dalam yang lebih sempurna. Namun yang menjadi lawannya ialah Raka Jaya yang punya IQ di atas rata-rata orang pada umumnya. Setiap hari, Raka Jaya selalu bertemu dengan orang-orang, para pendekar pilih tanding di padepokan terbaik di Utara. Bertukar pikiran juga mendapatkan petuah yang amat penting. Secara pengalaman, sudah sangat jelas Raka Jaya diunggulkan. Terlebih, Danur Cakra tak seperti ayahnya. Bakatnya dibina hanya karena latihan dan kemauan keras.


Di dunia persilatan, sudah tidak heran jika ada pendekar yang bisa menang karena pengalaman. Karena rata-rata kelemahan terbesar lawan ialah terletak pada puncak kekuatannya. Tinggal bagaimana caranya untuk bisa mencapai tempat itu.


Raka Jaya, tidak pernah mencoba untuk mengadu kekuatan dengan Danur Cakra, karena dia tahu jika dia akan kalah. Tapi di sisi lain, Danur Cakra juga hanya manusia biasa yang memiliki batas kekuatan tertentu. Hingga tiba di titik tersebut, Danur Cakra merasakan jika tenaganya mulai mengendur.


"Sialan! Raka Jaya sengaja memancingku mencapai batas. Dia sama sekali tidak mau mengadu kekuatan pukul," terlambat bagi Danur Cakra menyadari hal tersebut. Dia yang semula ingin terlihat keren dengan seabrek kebisaan yang tidak dikuasai lawan, sekarang harus menyesal karena adanya ikatan peraturan yang berlaku di kompetisi.


Jika saja pertarungan itu bukan di ajang kompetisi, katakanlah pertarungan jalanan atau pertarungan hidup dan mati di tengah hutan, mungkin kejadiannya akan berbeda. Orang-orang juga akan tahu, jika kemampuan tenaga dalam Danur Cakra itu lebih baik.


Wuuusss! Wuuusss!


Danur Cakra melakukan salto belakang, melompat mundur beberapa tombak. Hingga dia bisa melihat wajah Raka Jaya dari jarak yang cukup jauh. Darah telah menghiasi sudut bibir Raka Jaya. Sementara Danur Cakra sadar jika pasti wajahnya terlihat pucat. Keringat dingin mengalir membasahi dahinya.


"Kau hebat! Kau pantas untuk menang!" ucap Danur Cakra.

__ADS_1


Danur Cakra menatap pada wasit pemimpin pertandingan dan tangannya menunjuk pada Raka Jaya, "aku mengaku kalah!"


Wasit pemimpin pertandingan memuji kebesaran hati Danur Cakra dan mengumumkan jika Raka Jaya adalah juara kompetisi. Tepuk tangan diiringi sorak-sorai yang bergemuruh mengalahkan segala suara yang ada.


Para pendekar besar, pendekar senior, ketua bahkan pemimpin padepokan aliran putih yang menyaksikan, semuanya menghela napas lega. Mereka mengapresiasi keputusan yang Danur Cakra ambil. 


Meskipun kemungkinan untuk Danur Cakra menang masih terbuka lebar, tapi anak itu memutuskan untuk mengakui keunggulan lawan saat tenaga dalamnya mulai terkuras habis. Padahal, hal serupa juga terjadi pada Raka Jaya. Bahkan Raka Jaya telah alami luka dalam.


Jika pertarungan terus berlanjut, kemungkinan untuk Danur Cakra menang memang masih ada, bahkan sangat besar. Akan tetapi, satu diantara mereka akan jatuh sebagai korban dan celaka saat energi tenaga dalam benar-benar terkuras habis. Mungkin Raka Jaya yang tewas, atau bahkan Danur Cakra yang lebih dulu kehabisan energi kehidupannya.


Ya, juara sejati telah lahir.


"Syukurlah, akhirnya kau sadar juga. Sekarang, apa kau tidak punya solusi untukku?" Danur Cakra menepuk jidat Suhita dengan telapak tangan yang terbalik.


"Apa kau sudah mengkonsumsi seluruh sumberdaya langka yang ku berikan?! Kakak, itu ..."


"Dasar perhitungan. Tentu saja belum. Aku kira kau punya sesuatu untuk bantu aku yang hampir kehabisan tenaga. Cepatlah kau pasti punya," paksa Danur Cakra.


Dengan perasaan sedikit terpaksa, Suhita memberikan satu tabung bambu kecil yang berisi sumberdaya. Awalnya, Suhita ingin hadiahkan itu untuk Raka Jaya, tapi ya sudah.

__ADS_1


"Hehe ... terima kasih. Cepat pergi sana, temui kekasihmu," tanpa rasa berdosa, Danur Cakra mendorong tubuh Suhita agar menjauh darinya.


Tunggu dulu, apa yang dikatakannya tadi? Enak saja, Suhita hendak membantah jika dia punya perasaan pada Raka Jaya. Akan tetapi, tubuh Danur Cakra sudah hilang di balik kekarnya tubuh para pendekar yang mulai menaiki ring.


Dengan mendengkus kesal di dalam hati, Suhita melangkah pergi. Lagi pula, dia memang harus menemui Raka Jaya. Setidaknya untuk berikan ucapan selamat, meskipun tanpa hadiah apa pun.


°°°


Dengan munculnya nama-nama sang penunggu podium di kompetisi, berakhir sudah perhelatan akbar di Padepokan Giling Wesi. Mereka yang menang mendapatkan lencana abadi, sebagai pengenal yang bisa ditunjukkan di seluruh padepokan aliran putih untuk bisa mendapatkan segala kemudahan. Termasuk bila inginkan bantuan sumberdaya atau pun tenaga dan pasukan. Diharapkan, ke depannya persatuan antara para pendekar aliran putih bisa semakin erat hingga menyulitkan untuk tokoh aliran sesat menguasai dunia persilatan.


Dengan senyum lebar penuh sukacita, Danur Cakra akan menunjukkan lencana dan berbagai hadiah yang ia dapat pada kakek dan neneknya yang telah berjasa membina dirinya hingga sejauh ini. Dengan itu juga, Danur Cakra berharap kakek dan neneknya tidak lagi meragukan dirinya untuk bisa kuasai seluruh kemampuan tenaga dalam yang belum diajarkan. Danur Cakra ingin tumbuh menjadi seorang pendekar terkuat di dunia persilatan. Tekadnya sudah bulat.


"APA, DIA SUDAH PERGI?!" Suhita terbelalak hampir tidak percaya, jika Danur Cakra telah lebih dulu pergi meninggalkan Giling Wesi. Bahkan tanpa berpamitan padanya.


Suhita sadar, jika Danur Cakra terlihat risih jika mereka bersama. Akan tetapi, bagaimana juga Suhita ingin melihat kakaknya menggenggam lencana abadi dengan penuh senyum.


"Sungguh tidak punya hati!" Suhita melampiaskan kekesalannya. Titik air matanya menggambarkan betapa kesalnya Suhita pada sang kakak.


"Baiklah ... aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku tahu dia memang begitu. Kakak, jika kau senang, aku pasti akan ikut bahagia. Titip salam rinduku pada kakek dan nenek," Suhita menghela napas panjang. Bibirnya tersenyum lebar, dengan kedua tangan sesegera mungkin menghapus air mata di pipinya. Senyumnya terlepas begitu tulus memandang ke arah sang kakak menuju pulang.

__ADS_1


Suhita masih punya satu tugas, dia harus membersihkan namanya. Seandainya Raka Jaya dan rombongan Padepokan Api Suci telah kembali pun, dia akan tetap menghadap para petinggi Padepokan Giling Wesi. Untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Dia, bukan salah satu biang keladi atas kecurangan racun di kompetisi seperti yang dituduhkan. Suhita ingin mereka mencabut keputusan untuk menangkap dan mengadili dirinya.


__ADS_2