
"Apa tidak ada jalan yang lebih cepat. Bukankah ayah bisa terbang?"
"Kau tahu, dengan jernih payah dan hasil keringat sendiri, maka panen yang kau petik akan terasa lebih nikmat."
Di tempat yang cukup jauh, di sebuah desa yang asri terbebas dari kebisingan. Desa Talang Tunggal. Suhita sedang berusaha keras membujuk ayahnya agar mau mengantarnya menonton kompetisi yang diadakan di Padepokan Giling Wesi. Mendadak saja, Suhita bersikeras untuk pergi ke sana.
Mahesa mengizinkan, tapi menurutnya itu sia-sia. Jarak yang membentang sangatlah jauh. Setidaknya dibutuhkan waktu empat lima hari berkuda tanpa henti, barulah tiba di Padepokan Giling Wesi. Sesampainya di sana, pasti arena kompetisi pun sudah di bongkar.
"Aaahhh ... ayah, tolonglah. Mana mungkin seorang pendekar besar dengan kemampuan tenaga dalam tanpa tanding sekelas Pendekar Elang Putih harus kehabisan cara," Suhita cemberut. Dia tahu, ayahnya tidak bersedia mengantar. Tapi bagaimana pun juga, Suhita harus pergi ke sana.
"Makanya, jadi orang jangan bandel. Bukankah sudah sejak lama ayah selalu memperingatkan untuk melatih kemampuan tenaga dalam. Kau saja yang tidak pernah mau belajar. Bahkan kau sendiri akan mampu untuk kuasai ilmu meringankan tubuh pada tahap yang sempurna. Dan pada puncaknya kau bisa melayang menembus awan. Orang mengatakan itu adalah terbang. Tidak perlu lagi jasa ayah."
Sungguh, hati Suhita sangat kesal. Tidak biasanya sang ayah begitu mengesalkan. Tapi kali ini, Suhita merasa jika Mahesa tidak seperti Mahesa yang kemarin.
Cemberut dan kerutan-kerutan di wajah Suhita semakin menjadi mana kala ibunya datang. Bahkan mengkilapnya cahaya pelangi samar tergambar di pelupuk mata Suhita.
Puspita Dewi menghela napas panjang kala mengetahui suasana canggung yang terjadi. Dia tidak bisa berpihak pada kubu manapun.
Bukannya Puspita tidak tahu alasan di balik berbelit-belitnya alasan yang Mahesa ungkapkan. Satu hal yang pasti ialah di sana berkumpul begitu banyak para pendekar aliran putih dari berbagai daerah. Jika mereka melihat Mahesa datang tidak bersama dengan rombongan Padepokan Api Suci, apa yang bakal para pendekar itu pikirkan? Terlebih lagi, kalau ada di antara orang-orang itu yang menyadari Mahesa menampakkan diri bersama dengan seorang anak perempuan.
__ADS_1
Dunia persilatan hanya mengetahui jika Elang Putih adalah seorang menantu di Padepokan Api Suci. Istrinya bernama Dewi Api, dan seorang anak laki-laki bernama Raka Jaya Supena. Hal pribadi yang lain, tidak ada orang yang tahu.
Mudah saja, Mahesa bisa memperkenalkan Suhita sebagai anak asuh atau bahkan muridnya pada dunia persilatan. Tapi hatinya tidak bisa berdusta kalau dia sendiri merasa sakit hati mendengar hal itu. Lalu bagaimana dengan Suhita dan Puspita? Mahesa masih waras.
Tidak bisa dipungkiri jika Suhita adalah orang kedua yang sangat Mahesa cintai setelah Puspita. Tidak sampai hati dia harus mengorbankan perasaan anaknya hanya demi martabat Padepokan Api Suci dan orang-orang besar di sana, termasuk Dewi Api.
Melepaskan diri dari segala belenggu? Tentu tidak semudah itu. Keselamatan Puspita dan Suhita yang menjadi pertimbangan Mahesa. Siapa yang tidak kenal sifat buruk yang dimiliki oleh Dewi Api. Wanita itu tidak akan bisa dihentikan.
Ya, sudahlah. Tunggu saat yang tepat. Paling tidak, Mahesa akan menunggu sampai Suhita tubuh lebih besar dan memiliki pandangan hidup yang lebih luas. Yang paling utama yakni tunggu Suhita mencapai tingkat sempurna dari seluruh kemampuan olah kanuragan yang Mahesa turunkan. Dengan begitu, tidak akan ada yang bisa untuk coba celakai Suhita. Termasuk Dewi Api sekali pun.
"Sayang, jangan begitu. Memangnya, apa yang bisa kau lakukan di ajang kompetisi itu? Kau mau ikut tunjukkan kemampuan mengobati yang kau punya?! Hehehe ... sabar, sayang. Tahun depan juga tidak terlambat. Bahkan ibu yakin, saat itu kau telah benar-benar siap," Puspita coba memberikan penjelasan pada anaknya.
Aduh, harus bagaimana Suhita mengatakannya. Jika dia sesungguhnya ingin menyaksikan kompetisi tersebut untuk mendukung seorang yang memberi tentang Kompetensi tersebut. Siapa lagi kalau bukan Raka Jaya. Saudara iparnya yang baru dikenal.
Suhita diam membisu. Dia tidak menjawab juga tidak menunjukkan reaksi apa pun. Membuat kedua orangtuanya tidak tahu harus berbuat apa. Terutama Puspita. Dia sadar jika usia Suhita yang menuntun rasa ingin tahunya semakin besar.
"Kanda, untuk kali ini saja. Mengapa tidak kanda beri anak kita satu kesempatan?" akhirnya Puspita memberanikan diri untuk bicara. Yang disambut oleh satu senyum cerah di bibir Suhita.
"Jangan melihat bulan, melihat bulan hanya akan membuat masalah. Maka kau lihat saja lentera, lentera hanya memancarkan cahaya yang redup," Mahesa bicara kemudian berdiri.
__ADS_1
"Kanda ..." Puspita memohon.
"Begini saja, jika besok sore kau sudah mampu selaraskan tenaga dalam yang terkumpul dengan bantuan pil kelopak surgawi, maka ayah akan beri kau kemudahan. Ingat! Waktumu tidak lebih dari 24 jam," tutup Mahesa sebelum melangkah meninggalkan ruangan.
Di luar bilik, Mahesa kembali menoleh. Seuntai senyum terukir di bibirnya. Akhirnya, dia punya cara untuk menggenjot semangat Suhita untuk lekas sempurnakan tenaga dalamnya.
Setelah ini, maka tidak akan banyak halangan lagi untuk Suhita menyerap kemampuan Sepuluh Tapak Penakluk Naga. Saat wadah telah siap, jalan telah ditemukan, maka kekhawatiran di dada Mahesa segera tersingkirkan.
"Kau pasti bisa, sayang. Sebentar lagi, anak ayah akan sulit tersentuh oleh kejahatan mereka orang-orang yang berperut besar," Mahesa melangkah pergi.
Dengan sangat terpaksa, Mahesa harus melakukan cara seperti itu. Suhita terlalu keras kepala, sulit untuk dibentuk menjadi sosok gadis yang berkemampuan tinggi.
Selepas suaminya pergi, Puspita membelai rambut putrinya. Memberi semangat pada Suhita, "Kau tahu bukan, bagaimana sifat Ayahmu? Sekali dia bilang tidak, maka akan tetap tidak meskipun dunia terbelah. Tapi ayahmu sudah berjanji, dia pasti menepati."
Wajah Suhita sumringah, meng-iyakan ucapan ibunya. Sejak tadi, Suhita sudah membayangkan jika besok dia akan tiba di Padepokan Giling Wesi.
Suhita berani berkhayal begitu karena dia sangat yakin pada dirinya. Dalam waktu yang ditentukan oleh ayahnya, Suhita pasti bakal bisa untuk selaraskan energi Pil Kelopak Surgawi di tubuhnya.
"Lihat saja nanti. Setelah aku kuasai Ilmu Sepuluh Tapak Penakluk Naga, aku juga akan pelajari ilmu meringankan tubuh terbaik. Jika tubuhku mampu bergerak cepat layaknya naga yang terbang, kemana pun aku mau maka tidak lagi ada alasan." Suhita membulatkan tekadnya.
__ADS_1
Memang ayahnya benar, meskipun hidup Suhita hanya sebagai juru sembuh. Tapi juru sembuh yang berkualitas. Hingga dia akan ada di mana pun orang membutuhkan jasanya.
Ya, Suhita akan belajar untuk menerima cara pandang ayahnya. Semuanya bisa, karena biasa.