Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Awal Perselisihan


__ADS_3

"Jenderal Muda ... Purwa Anom meminta untuk menghadap," dari luar tenda, seorang prajurit mengabarkan kedatangan Purwa Anom.


Raka Jaya lekas keluar, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi yang ramah, kusut dan tanpa senyum. Sebelum Purwa Anom menyampaikan laporan, Raka Jaya telah lebih dulu mengangkat tangan kanannya.


"Tidak lagi ada yang penting, yang ingin aku dengar. Aku tahu berita buruk yang hendak kau sampaikan," Raka Jaya memotong.


Purwa Anom hanya menundukkan wajahnya dengan dalam. Dan perkataan Raka Jaya memang benar adanya, "Ampuni hamba, Jenderal. Semuanya berada di luar kendali."


"Apa ada yang mengikutimu?" tanya Raka Jaya.


"Ampun Jenderal, sejauh yang hamba sadari, tidak seorang pun yang mengikuti hamba. Hanya seorang tokoh aliran sesat, Jubah Ungu melihat ketika hamba melarikan diri," Purwa Anom menjawab dengan sangat hati-hati.


"Baik. Sekarang kau perkuat penjagaan, jika ada sesuatu cepat beritahu aku!" Raka Jaya mengibaskan tangannya, memerintahkan seluruh anak buahnya untuk kembali pada tugas dan posisi mereka.


Setelah menghela napas, Raka Jaya kembali masuk ke dalam tenda. Sejauh ini, tidak seorang pun yang diizinkan untuk memasuki tenda pribadi Jenderal Muda. Seperti ada yang sengaja disembunyikan. Dan memang benar, ada sesuatu.


Raka Jaya duduk di samping sesosok tubuh yang terbaring tidak sadarkan diri. Seorang wanita, yang tentunya sangat spesial bagi Raka Jaya. Beberapa kali telah Raka coba untuk mengalirkan energi tenaga dalam murni, membantu meringankan rasa sakit yang dirasa.


"Apa yang sebenarnya telah terjadi padamu? Siapa yang berani melukaimu? Hita ... ayo cepat bangun. Aku yakin kau kuat untuk melalui semua ini," Raka Jaya menggaruk kepalanya. Sungguh kepala Raka terasa hampir meledak.


Suhita pingsan, tidak sadarkan diri setelah menerima pukulan yang dilontarkan Danur Cakra. Hingga perahu kayu yang membawa tubuh Suhita melaju semakin jauh terbawa arus sungai.


Suhita terhitung masih sangat beruntung karena secara kebetulan yang menemukan dirinya ialah Raka Jaya dan rombongan prajurit kerajaan yang kebetulan melintas di jalur yang sama.


Raka Jaya membawa sekitar empat puluh orang prajurit berkemampuan tinggi, memang tujuannya ialah untuk menemui Suhita dan juga menjemput Kemuning. Akan tetapi, tentu saja yang diharapkan Raka Jaya tidaklah seperti sekarang yang dia temukan.


Dari atas punggung kuda, Raka Jaya melihat perahu kayu yang hanyut di permukaan sungai seperti bermuatan manusia. Awalnya Raka Jaya hendak memerintahkan seorang anak buahnya untuk memeriksa perahu tersebut. Akan tetapi, mata Raka Jaya menyipit saat melihat ujung kain yang tergantung di dinding perahu.


"Apa mungkin?!" Raka Jaya menelan ludah. Dia seperti mengenali corak kain yang terlihat. Raka Jaya ingat, kain itu dibeli di pasar tradisional yang menjajakan pakaian bernuansa tradisional ala selatan. Dan Suhita merupakan seorang yang Raka Jaya ketahui menyukai budaya selatan.


Raka Jaya mengalihkan perhatiannya pada pasukan, lalu memerintahkan mereka untuk beristirahat dan mendirikan tenda. Sementara Raka Jaya sendiri yang akan memastikan isi di dalam perahu.


Apa yang ditakutkan oleh Raka Jaya kiranya menjadi kenyataan. Meskipun tidak percaya, akan tetapi benar Suhita yang terbaring tidak sadarkan diri. Sepertinya, Suhita baru saja menerima satu pukulan tenaga dalam dengan telak.


Buru-buru Raka Jaya memeriksa kondisi Suhita. Meskipun pukulan tenaga dalam yang mendarat di tubuhnya sangat keras, tapi kemampuan tenaga dalam yang Suhita punya masih cukup mampu untuk menahan hingga tidak terjadi patah tulang.


"Kurang ajar! Siapa pun itu, aku berjanji akan membalas dendam ini," gigi geraham Raka Jaya sampai berbunyi gemertukan saking menahan amarah.


Dalam waktu singkat, tenda telah selesai didirikan. Raka Jaya segera membawa Suhita ke dalam tendanya, membaringkan Suhita untuk beristirahat dengan leluasa. Tidak hanya itu, Raka Jaya pula mengerahkan energi murni untuk membantu tubuh Suhita kembali pada kondisi baik dan lekas sadarkan diri.


Harus diakui, ilmu tenaga dalam yang Suhita miliki berada pada tahap yang sempurna. Dengan membuat Suhita pingsan, itu artinya sosok yang menyerang bukanlah orang sembarangan.


Raka Jaya memberanikan diri untuk memeriksa bekas pukulan di tubuh Hita, untuk memastikan kekuatan apa yang telah melukai Suhita. Dengan demikian, akan memudahkan bagi Raka Jaya untuk mencari tahu siapa sosok yang bertanggung jawab atas semua ini.

__ADS_1


"Hahaha! Ini tidak mungkin, sangat tidak mungkin," Raka Jaya dibuat tertawa setelah selesai memeriksa. Dia bisa merasakan aura kekuatan yang tertinggal di tubuh Hita. Akan tetapi, sangat aneh karena Raka Jaya langsung mengenali aura energi tersebut. Milik Danur Cakra, saudara kembar Suhita.


Raka Jaya menyimpan lekat di dalam hati, atas apa yang dia temukan dari hal yang terjadi pada Suhita. Meskipun sangat kecil, tapi kemungkinan itu masih ada. Bisa jadi, ada pendekar yang miliki kemampuan dan aura yang hampir mirip. Dan dipergunakan untuk kepentingan pribadi. Terlalu banyak orang yang coba memancing di air keruh.


°°°


Mungkin, Raka Jaya termasuk salah satu orang yang pusing kepala akibat kejadian yang menimpa Suhita dan Kemuning. Dengan satu alasan Raka Jaya datang, untuk mereka. Tapi kenyataannya hanya hal buruk yang didapatnya. Menyebalkan.


Raka Jaya tidak punya pilihan lain, dia dan juga pasukan kerajaan harus berdiam di hutan itu dalam beberapa waktu ke depan. Paling tidak sampai kondisi Tabib Dewa membaik. Satu-satunya cara, mereka harus kembali pada jati diri. Melenyapkan jejak atas rencana awal yang telah disusun.


Menjelang senja, barulah Tabib Dewa siuman. Proses penyembuhan alami yang dilakukan oleh tubuhnya membuat Suhita terbangun dalam kondisi yang mendingan. Bisa dikatakan dia tidak mengalami cidera apa pun. Bukan karena pukulan Cakra yang lemah, akan tetapi karena tenaga dalam Hita yang tinggi. Membuat Hita bisa selamat dari maut.


"Kak Cakra, mengapa dia berniat mencelakai aku? Ah, tidak. Itu hanya  pengaruh kekuatan Mutiara Hati yang tidak bisa dikendalikan? Lalu, di mana dia sekarang? Bagaimana keadaannya?" batin Suhita.


Baru saja membuka mata, bahkan berjalan pun belum sanggup. Tapi Suhita justru telah memikirkan kondisi orang lain. Orang yang jelas-jelas sehat wal afiat saat terakhir bertemu dengannya. Orang yang menyebabkan dirinya hampir celaka. Suhita tidak berpikir ke arah itu.


"Tabib, syukurlah kau sudah siuman."


"Sari?! Bagaimana kau ada di sini? Apa kau yang menyelamatkan aku?" Suhita menatap Kencana Sari penuh tanda tanya.


Terlihat jika kondisi Kencana Sari pula tidak dalam keadaan baik. Membuat hati Suhita semakin nyeri, ada penyesalan di sana. Andaikan Hita hanya mengutamakan kepentingannya sebagai tabib, pastinya hal seperti ini tidak akan terjadi. Sudah kepalang basah, ludah yang telah keluar tidak mungkin kembali ditelan. Resiko? Apa pun itu, harus dihadapi. Sebagai pelajaran di hari esok yang lebih baik.


"Hei, kau tidak perlu cemas. Aku ini seorang tabib berpengalaman. Jika harus celaka, tentunya aku tidak harus lebih dulu membuka mata seperti ini. Jangan berlebihan!" Suhita mengacungkan jari telunjuknya di hadapan wajah Sari.


"Jadi, sebelumnya Cakra bersamamu?" satu suara lain semakin mengejutkan Suhita.


Suhita mengangkat kepalanya, dia ingin memastikan jika suara itu benar keluar dari mulut Raka Jaya.


"Raka?! Ah, maksudku Jenderal Muda. Sejak kapan kau di sana?" Suhita berusaha untuk duduk. Dia harus menunjukkan sikap sopan pada pejabat tinggi kerajaan.


"Sssttt! Justru Jenderal Muda dan pasukannya yang menyelamatkan kita. Jika tidak, heehhh ... mungkin kita sudah tamat!" bisik Kencana Sari.


Kencana Sari menatap Raka Jaya dengan dalam, ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Namun di balik itu semua, ada pertanyaan yang begitu mengganjal hatinya.


"Tabib, sejak tadi kau tidak memberikan jawaban apa pun. Emmm, maaf jika aku merasa jika ada yang sengaja kau sembunyikan," ucap Raka Jaya pelan.


Suhita memaksakan untuk tersenyum, dengan sekuat tenaga coba untuk menutupi segala rasa curiga yang jelas dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.


Suhita tetap menutupi kejadian yang sebenarnya. Dia tidak menyudutkan Danur Cakra, meskipun Cakra hampir mencelakai dirinya.


Separuh sumberdaya Mutiara Hati telah menyatu di dalam tubuh Danur Cakra. Tinggal separuh lagi ada pada Suhita. Dengan ini, maka Cakra telah mendapatkan sepenuhnya karomah Mutiara Hati. Dia tidak akan bisa dicelakai kecuali dengan pula hilangkan Suhita.


Tidak mendebat, tidak mengeluarkan sanggahan ataupun tanpa memberi reaksi yang berlawanan bukan berarti menjadi tolak ukur sebagai tanda persetujuan. Percaya atau tidak, merupakan rahasia hati yang bisa perintahkan otak untuk merubah dalam ciptakan tindakan yang kemudian berbeda.

__ADS_1


Jenderal Muda Raka Jaya merupakan seorang pendekar muda yang pula terjun ke dunia politik sejak dini. Dengan baik dia mampu memanipulasi mimik wajah dan juga perkataan. Dalam kasus sekarang, tentunya Raka Jaya sudah mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Meskipun Suhita terus menutupi, dengan pernyataan yang mengambang membuat Raka Jaya yakin jika orang yang telah melukai Suhita tidak lain adalah saudara kembarnya sendiri, Danur Cakra.


Tentu saja Raka Jaya tidak merasa heran. Sejak Danur Cakra ditetapkan sebagai buronan oleh kerajaan, saat itu pula Raka Jaya berhenti untuk percaya. Meskipun dia tetap mendengarkan penjelasan, tapi Raka Jaya sudah menetapkan batasan, dengan kemampuan dan pengalamannya Raka Jaya bisa menentukan apa yang dianggap benar olehnya.


Malam yang merangkak naik, memberi kesempatan pada Raka Jaya untuk bicara berdua dengan Suhita. Oh, ya. Perihal Kemuning, dengan terpaksa Raka Jaya menunda rencana. Setelah Suhita, barulah nanti Diah Pitaloka menjadi langkah selanjutnya.


"Hmmm ... aku sudah tahu, hanya merasa heran mengapa sampai kau menempuh jalan yang aku rasa tidak berguna," ucap Raka Jaya.


Suhita menghela napas, dia tidak lagi bisa menyangkal. Bahkan Raka Jaya jauh lebih cerdas dari yang diperkirakan. Tanpa harus jujur atau berbohong, Suhita yakin jika dia melakukan hal percuma.


"Aku percaya, ada alasan di balik perbuatannya. Dan kakak harus tahu, Kak Cakra sengaja menumbalkan dirinya demi untuk selamatkan namaku. Bagiku, itu bukanlah hal kecil," apa pun alasan dan kondisinya, nampak jika Suhita tidak bisa menempatkan saudara kembarnya sebagai yang disalahkan. Sungguh naif memang, tapi sekuat itukah hubungan antara saudara kembar?


"Ya, aku sangat percaya padamu. Tapi maaf, terus terang aku meragukan Danur Cakra. Pergi tanpa alasan apa pun, rasanya tidak masuk akal."


Suhita menatap wajah Raka Jaya dengan dalam, ada sesuatu yang Hita rasa. Bicara Raka Jaya menjurus pada penyebab utama mengapa Hita jadi incaran. Ya, apa lagi. Tentu saja sumberdaya.


"Huuuhhh ... mengapa saudara-saudaraku mendadak menjadi aneh? Ataukah mungkin karena aku?" Suhita hanya bisa menelan ludah. Dia tidak ingin mendengar jika sebenarnya datangnya Raka Jaya pula dengan tujuan yang sama seperti kebanyakan pendekar.


Suhita bangkit, dia hendak pergi ke tempat tidur. Namun langkahnya terhenti ketika Raka Jaya menangkap pergelangan tangan Hita, kembali menarik Hita ke tempatnya semula.


"Hita, tunggu dulu. Aku belum selesai."


"Kak, aku mau istirahat. Apa tidak sebaiknya kita bicarakan lagi esok saja?" dengan lembut, Suhita berusaha menolak.


Raka Jaya tidak peduli, dia tetap melanjutkan kalimatnya. Menanyakan akan kebenaran dugaannya. Apa benar, Danur Cakra membawa lari sumberdaya yang diperebutkan itu? Sampai hati dia membuat Suhita hampir celaka.


"Ah, tidak. Itu tidak benar. Aku tahu, bagaimana Kak Cakra di matamu sekarang. Tapi Kak, kau harus percaya padaku, setidaknya untuk kali ini. Bukan Kak Cakra, justru aku yang memaksanya untuk mempergunakan sumberdaya. Memang setelah itu dia melukaiku, tapi dia melakukan semuanya untuk diriku, demi aku, demi nama baikku sebagai seorang tabib."


"Hita dengar baik-baik. Baik, mungkin aku bisa percaya padamu, menganggap benar atas apa yang kau katakan. Tapi ada satu hal yang harus kau tahu, selain aku juga ada orang lain yang mengetahui hal ini."


Raka Jaya berusaha menyadarkan Suhita pada kenyataan. Danur Cakra memanglah saudara kembarnya, tapi segala hal bisa berubah dalam hitungan detik. Nasi sudah menjadi bubur, Danur Cakra telah terlanjur menjadi buruk di mata semua orang. Dan pasti, para pendekar akan mengetahui jika Danur Cakra adalah orang yang telah merebut sumberdaya dari tangan Tabib Dewa. Akankah Hita tetap tidak terima pada kenyataan itu?


Suhita mengerutkan dahi, dia menatap Raka Jaya penuh rasa tidak percaya, "jadi, apa benar kau juga yang mendalangi semua ini? Seperti apa yang telah kau lakukan pada Kemuning? Kak Raka ... sungguh aku tidak menduga, kiranya kilau pangkat dan jabatan telah berhasil membuat kau berubah, bahkan pada saudaramu sendiri."


Dengan menahan derai air mata dalam kecewa, Suhita pergi meninggalkan Raka Jaya. Hatinya terluka, sungguh Hita tidak menyangka. Kenyataan menimpakan beban berkali-kali ke pundaknya yang lemah.


Tadinya hati Suhita menolak, tapi setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, sekarang Hita paham bagaimana kualitas saudaranya.


Pertama Danur Cakra, selain membuat kesalahan dengan memperdalam ilmu siluman, Cakra telah mengambil keputusan yang fatal. Mungkin tujuannya baik, tapi dengan menjerumuskan dirinya. Lain halnya dengan Raka Jaya, dia selalu bertindak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku. Menegakkan kebenaran yang menjadi semboyan utama. Tapi mengapa, Suhita merasa itu tidak adil baginya? Terkesan Raka Jaya sengaja melakukan tindakan yang cenderung menguntungkan diri sendiri.


Seraya menahan tangis, Suhita kembali ke ruangan gua. Dia ingin istirahat, menghilangkan semua pikiran dalam lelap.


"Ibu ... Hita lelah, Bu. Mengapa keadaan selalu tidak seperti yang diinginkan?"

__ADS_1


__ADS_2