
Kencana Sari kembali ke kamar miliknya. Sementara Kemuning di bawa ke beranda depan untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Raka Jaya melihat, ada suatu hal yang ingin disampaikan oleh Kemuning. Besar kemungkinan Raka Jaya bisa mengorek informasi dari gadis itu. Mungkin yang terlihat, Raka Jaya hanya seorang prajurit yang mudah termakan oleh ucapan dan kata-kata bohong yang Kemuning sampaikan. Namun jauh di balik itu orang-orang tidak bakal bisa menduga kemampuannya. Singkat kata, dia begitu cerdas.
"Aku tahu, tidak banyak yang Cakra ketahui tentang dirimu. Mungkin kalian memang baru saling mengenal atau justru kau yang banyak menutupinya. Dan satu hal, aku tahu kalau kedatangan Panglima Braja tempo hari ada kaitannya dengan dirimu," meskipun kalimatnya tertata juga tanpa intonasi yang tinggi, tapi Raka Jaya begitu menegaskan pada setiap kebenaran dalam kalimatnya.
"Jenderal Muda ... saya hanyalah orang biasa, bahkan untuk menyambung hidup saya harus berjuang sendiri. Bekerja sebagai pemain sirkus, tepat ketika saya hampir celaka di tangan para penjahat, Cakra menyelamatkan saya dan membawa saya pada Tabib Dewa. Meskipun akhirnya, karena saya Cakra harus bertengkar dengan Tabib Dewa," jawab Kemuning.
Raka Jaya tersenyum, dia menatap mata Kemuning dengan tajam. Terus terang, sinar mata Kemuning, pancaran kecantikan yang begitu menyilaukan membuat siapa pun pria akan kesulitan menahan diri kala bertatap.
"Kau tidak perlu khawatir, Cakra sudah bisa mengatasi masalahnya. Kau juga jangan meragukan bagaimana Tabib Dewa merawatmu. Aku tahu dia, dan tidak mungkin membuat orang lain celaka, dan aku sangat yakin kau juga percaya itu."
Kemuning mengangguk, dia mencoba tersenyum meskipun yang nampak hanyalah senyum getir, mencerminkan dalam hatinya yang tengah tergores luka.
"Aku hanya ingin memastikan, bagiku sangatlah penting. Bagaimanapun hubunganmu dengan Cakra sudah begitu dekat, begitu juga dengan Tabib Dewa. Aku hanya ingin menghapus kecurigaan dalam hatimu dengan mengatakan iya. Apa yang terlihat itu benar adanya, kami sudah lama saling mengenal, bahkan sejak masih sama-sama kecil. Mungkin kau harus luangkan waktumu sebentar," Raka Jaya menghela napas, sebelum memulai cerita.
Raka Jaya memang tidak menceritakan semuanya, terlalu banyak yang dia tutupi. Akan tetapi, masa kecil mereka yang penuh warna-warni tentunya merupakan hal menarik untuk dibagikan. Raka Jaya dan Danur Cakra saling mengenal sebelum mereka mengikuti perlombaan yang diadakan di Padepokan Giling Wesi, sepuluh tahun yang lalu. Berteman baik, siapa sangka keduanya kembali bertemu sebagai lawan di atas arena pertandingan. Meskipun demikian, nyatanya mereka tetap bersahabat sampai saat sekarang.
"Bagiku, Cakra adalah pemenang sesungguhnya. Dia hanya memberiku kemenangan demi kebaikan bersama, demi padepokanku, juga demi dirinya. Aku bangga, di balik sikapnya yang bergajulan, dia memiliki hati yang baik. Dan jika kau bertanya mengapa aku tidak menganggap dirinya sebagai buronan yang bersalah, tentunya karena aku percaya pada penjelasannya," tutup Raka Jaya.
Kemuning manggut-manggut, dia yakin kalau Jenderal Muda berkata jujur. Meskipun nyatanya tidak banyak orang yang mengetahui cerita itu. Menjadi rahasia karena sekarang dunia mereka berbeda, tapi persahabatan tetap terjalin dengan baik. Meskipun Raka Jaya mengambil resiko yang begitu besar untuk hal ini.
"Jenderal, mengapa kau percaya pada saya? Bukankah ini sebuah rahasia besar?" tanya Kemuning.
"Bahkan Cakra berani mempertaruhkan nyawanya saat kau terluka, itu artinya dia begitu percaya padamu. Aku berjanji pada diriku sendiri, untuk menjadi seperti Cakra saat dia tidak ada, termasuk saat mereka berusaha membawamu dengan paksa," yang Raka Jaya maksud mereka ialah Panglima Braja dan anak buahnya.
Kemuning terhenyak, benarkah demikian? Betapa Cakra menempatkan dirinya pada posisi setinggi itu? Kalau sudah begini, bagaimana caranya untuk Kemuning bisa melupakan Cakra? Apa yang harus dia lakukan?
"Jenderal Muda ... saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Jujur, saya tidak berani untuk membuat Cakra kecewa. Akan tetapi, seandainya saya terus berbohong tentunya bukanlah hal yang baik," curhat Kemuning. Secara tidak langsung, dia mengakui bagaimana sulit posisinya sekarang.
"Mungkin aku bukanlah yang terbaik, tapi percayalah aku akan berusaha untuk membantumu. Terus terang, aku juga tidak tahu harus bagaimana jika aku tidak tahu banyak tentang dirimu."
"Jenderal Muda ... saya hanya takut Cakra akan meninggalkan saya, karena itu saya tidak berani bicara jujur padanya. Sekarang, saya berharap Jenderal Muda berbelas kasihan pada saya ..."
Ya, tidak salah lagi. Jenderal Muda Raka Jaya berhasil membuat Kemuning membuka mulut. Bahkan dia tidak membutuhkan waktu yang lama, untuk membuat Kemuning bercerita.
Diah Pitaloka, putri dari pasangan orang tua yang terhormat. Ayahnya pejabat kerajaan bernama Manggar Wangi sementara ibunya Sucinta, merupakan keluarga bangsawan. Tentu saja Raka Jaya mengenal mereka semua. Termasuk calon jodoh yang dipersiapkan untuk Diah Pitaloka. Wahyu Udaksana, bahkan sekarang ia telah menjadi sosok yang ternama. Bangsawan muda yang pastinya sangat didambakan hampir setiap gadis juga oleh setiap orang tua untuk bisa memiliki menantu seperti Udaksana. Sosok komplit yang bakal sulit dicarikan bandingan. Namun justru Diah Pitaloka menolak. Aneh memang.
"Itu artinya, dugaanku tidak meleset. Tapi harusnya kau tidak perlu khawatir, tidak banyak dari mereka yang mengetahui wajah aslimu. Kendati ada beberapa sketsa wajah yang dibuat, terus terang bisa dikatakan tidak ada mirip. Kecuali jika kau bertemu secara langsung dengan anggota keluargamu," ucap Raka Jaya.
"Jenderal Muda ... saya mohon untuk merahasiakan semua ini. Tidak terkecuali, siapa pun juga. Saya juga berharap belas kasih Jenderal untuk melindungi saya," Kemuning memohon dengan sangat.
__ADS_1
Sedikit terasa janggal memang, bagaimana Kemuning justru menceritakan perihal rahasia dirinya pada Raka Jaya. Bukankah orang yang mati-matian berjuang untuknya ialah Danur Cakra? Mungkinkah Kemuning telah melakukan kesalahan? Atau justru karena ini hubungan mereka akan semakin rumit? Entahlah.
"Jenderal Muda ... saya mohon diri untuk kembali ke kamar," pamit Kemuning.
Raka Jaya mempersilakan. Tidak hanya itu, dia kemudian mengantar Kemuning hingga di depan bangunan tempat kamar Kemuning. Sebelum kemudian kembali.
Diah Pitaloka alias Kemuning masih berdiri tertegun memandangi punggung Raka Jaya, saat dari samping kirinya muncul Danur Cakra.
"Mengapa berdiri di sini?" sapa Danur Cakra dengan senyum mengembang.
"Aa ..." Kemuning ternganga, mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tapi suara itu seperti tercekat di tenggorokan. Wajahnya pucat pasi seperti mayat karena sama sekali tidak menduga jika Danur Cakra akan muncul.
"Kau lihat apa?" Danur Cakra menengok ke arah Kemuning memandang. Namun tidak ditemukannya apa pun di sana. Kemuning hanya menatap bangunan yang berada di depan kamarnya.
Syukurlah, Kemuning bisa bernapas lega karena Danur Cakra tidak melihat jika Raka Jaya adalah orang yang dipandang oleh Kemuning. Meskipun sesungguhnya tanpa maksud apa-apa, Kemuning hanya melepaskan rahasia dirinya bersama langkah Raka Jaya tersebut.
"A-ah, Cakra ... ka-kau, mengapa tiba-tiba ada di sini?" Kemuning salah tingkah di buatnya.
"Tentu saja untuk menemuimu. Kau mengapa malam-malam ke luar kamar? Apa kondisimu sudah baikan?" Danur Cakra memandangi Kemuning dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
Tentu saja hati Kemuning berbunga-bunga rasanya, perhatian yang Cakra berikan padanya pasti bukan sekadar pemanis bibir belaka. Kemuning bisa melihat kalau Cakra sepenuhnya khawatir pada kondisinya. Tapi ... sekarang situasinya berbeda. Kemuning cukup tahu diri. Andai saja waktu bisa kembali diputar, tentunya Kemuning ingin saat-saat dia dan Cakra melalui hari bersama. Saat itu Kemuning mendapati seseorang yang benar-benar tulus membantunya, mengurus dirinya yang sakit hampir celaka, bahkan mengorbankan banyak energi untuk membuatnya bertahan. Akan tetapi, mungkinkah saat itu akan kembali terulang?
Akan tetapi ketika Danur Cakra merangkul pundak Kemuning untuk memapah masuk ke kamar, reaksi Kemuning sedikit berbeda. Gadis itu menolak, dia menyingkirkan tangan Danur Cakra dari pundaknya seraya bergeser sedikit menjauh.
Danur Cakra mengerutkan dahi, apa yang telah terjadi? Dia merasa kalau saat itu Kemuning berusaha untuk menghindar. Padahal sebelumnya, mungkin hanya Cakra satu-satunya orang yang tidak membuat Kemuning ketakutan. Lalu, mengapa sekarang justru sebaliknya? Ah, mungkin efek dari pengobatan yang dijalani. Danur Cakra berusaha untuk berpikir positif. Bagaimanapun dia tahi bagaimana kondisi mental Kemuning beberapa waktu terakhir.
"Ma-maaf ... aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja, ah lupakan. Ayo kembali ke kamar, udara dini hari tidak baik untuk kesehatanmu," ucap Danur Cakra dengan senyum getir.
Kemuning mengangguk lemah, dia bergegas masuk ke dalam kamar. Kendati rasa bersalah menggelayut di dalam hati, tapi Kemuning harus membiasakan hal itu. Dia harus bisa menata hidup tanpa Danur Cakra.
"Kemuning ... Kemuning ... kau baik-baik saja 'kan? Jika ada sesuatu, katakan padaku. Kemuning ..."
Tok! Tok! Tok! Danur Cakra mengetuk pintu kamar. Saat masuk, Kemuning langsung menutup pintu. Dia tidak memberikan ruang pada Danur Cakra untuk ikut masuk.
Tok! Tok! Tok!
"Kemuning, buka pintunya. Setidaknya izinkan aku untuk masuk barang sebentar," sambung Danur Cakra.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya mau istirahat. Cakra, baiknya kau juga istirahat di kamarmu. Jika ingin menemuiku datanglah esok pagi," jawab Kemuning.
__ADS_1
Danur Cakra menghela napas panjang. Dia merasa aneh, sangat yakin kalau telah terjadi sesuatu pada Kemuning. Sungguh tidak masuk akal atas perubahan sikap Kemuning yang dirasa begitu mendadak. Apa mungkin ini ada kaitannya dengan Suhita? Bicara apa anak itu? Tapi ya sudahlah. Lebih baik di bahas besok. Lagi pula, hubungannya dengan Suhita baru saja baikan. Masa iya Danur Cakra harus kembali datang dengan bawa masalah baru. Jika memang benar karena 'kipas' ucapan Suhita, itu sangat mudah. Cukup dengan klasifikasi maka masalah selesai.
"Kasihan gadis itu, begitu besar beban yang harus dia pikul. Masa iya, ada manusia justru takut bertemu sesama manusia. Sakit aneh," gumam Danur Cakra pelan.
Meskipun yang terlihat kalau Kemuning justru tidak menginginkan keberadaannya, Danur Cakra tidak pergi dan memutuskan untuk tetap menjaga Kemuning. Dia duduk bersila di dekat pintu. Hingga bayangannya samar terlihat dari celah bawah pintu. Kenyataan itu semakin membuat hati Kemuning tidak karuan.
"Apa yang dia lakukan? Mengapa duduk di sana?" batin Kemuning.
Kemuning mencoba untuk tidak menganggap keberadaan Danur Cakra dengan menutupi wajahnya menggunakan bantal. Dia tidak mau melihat, tidak mau mendengar, juga tidak mau tahu kalau seseorang ada di depan kamarnya. Sekuat tenaga Kemuning memejamkan mata, memaksa supaya cepat terlena dalam lelap. Dia ingin tidur, meninggalkan dunia ini dalam beberapa saat.
Semakin Kemuning coba untuk lupakan, justru bayangan itu semakin nyata. Sekuat apa pun dia memaksa dirinya untuk tidur, tapi kesadaran semakin segar mengatur raga. Akhirnya, Kemuning kembali duduk.
Memandang ke arah pintu, bayangan itu tetap tidak bergeming dari tempat semula. Sudah cukup lama Kemuning tanpa suara, tapi sepertinya Danur Cakra tetap duduk di sana hingga esok hari matahari menyapa.
"Cakra, dengan apa yang aku lakukan ini, justru membuat aku semakin takut kehilanganmu. Tapi aku sadar siapa diriku. Katakan Cakra, katakan apa yang harus aku lakukan?" jerit Kemuning dalam hati. Tanpa terasa, air matanya meleleh membasahi kedua pipinya yang lembut.
Belai angin malam yang lembut semakin menebar rasa dingin yang menembus tulang sumsum. Kemuning turun dari pembaringan, kakinya terayun teratur semakin mendekat pada pintu. Dengan hati-hati tangannya meraih gagang pintu dan membukanya. Pintu itu tidak dikunci, hanya saja Danur Cakra yang tidak memaksa untuk masuk.
Kemuning mendapati Danur Cakra masih dalam keadaan duduk bersila, tanpa menghiraukan dinginnya angin malam. Perih, sungguh Kemuning tidak tega menyaksikan perbuatan kejam yang dia lakukan.
"Kemuning ... ada apa?" Danur Cakra membuka mata saat menyadari Kemuning keluar kamar. Dia segera bangkit.
Kemuning menggeleng lemah, tersenyum pun sekilas, hanya senyum getir cerminan atas rasa perih.
"Huuuhhh ... sebenarnya apa yang terjadi? Jangan membuat aku khawatir, ayo cerita padaku."
Kemuning menarik Danur Cakra masuk ke dalam kamar. Setelah menutup pintu, dia menghambur ke dalam pelukan Danur Cakra, kemudian menangis tersedu-sedan menumpahkan segenap ganjalan rasa.
Kaget, tentu saja. Namun Cakra begitu tanggap, dia membiarkan Kemuning menuangkan apa yang dirasakannya. Ada sebagian masalah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Meski hanya ekspresi, menangis salah satunya, diyakini mampu untuk hilangkan segala ganjalan dalam dada.
Kemuning masih menangis, meskipun isaknya sudah tidak lagi terdengar sekarang. Dia telah menumpahkan segalanya, sampai-sampai sesenggukan seperti anak kecil kehilangan boneka kesayangan.
"Sudah, sudah, tidak lagi ada yang perlu ditakutkan. Aku di sini, aku akan menjagamu, malam ini juga selamanya. Kau bahkan tidak perlu khawatir akan kemunculan seekor nyamuk sekalipun. Sekarang tenangkan dirimu," dengan lembut, Danur Cakra membelai rambut Kemuning, penuh kasih sayang nan tulus.
"Cakra, malam ini temani aku ya ... aku tidak ingin kau pergi, sedetik pun jangan tinggalkan aku ..." bisik Kemuning dengan suara parau setelah menangis.
Belum juga Danur Cakra menjawab, Kemuning telah lebih dulu membungkam mulutnya. Menautkan lidah, menyusuri setiap celah di dalam sana.
Mungkin dia tidak bisa memiliki untuk selamanya, tidak berkesempatan untuk dapatkan seutuhnya. Tapi paling tidak, untuk saat ini, hanya malam ini, Cakra adalah miliknya. Ya, terkadang pengaruh iblis merupakan pilihan terbaik di saat jiwa sedang rapuh.
__ADS_1