
"Hei, siapa itu?!"
"Ah, sial!" dengan kecepatan tinggi, sesosok bayangan melompat turun dari pohon rambutan. Dia segera berlari, menghindari kejaran para penjaga.
Dari atas pohon rambutan tersebut, pasti sosok tidak dikenal tadi sedang coba untuk mengintai. Setidaknya ada lima orang penjaga yang berlari mengejar. Mereka berpencar guna memotong arah, berharap si pengintai bisa ditemukan.
"Kurang ajar! Ke mana larinya?" dua orang penjaga bertemu di ujung jalan. Mereka tidak berhasil menyusul pengintai.
"Jalan di sini terlalu ramai. Bagaimana kita bisa menemukan orang yang bahkan tidak kita kenal? Baiknya kita kembali, dan kita laporkan pada Tuan Baskoro." Tanpa membawa hasil, para penjaga segera kembali. Mereka ialah petugas keamanan yang menjaga rumah super mewah bak istana. Kaki tangan bangsawan kaya.
Di seberang jalan, tidak jauh dari tempat para pengawal tadi berada, penjual cinderamata sedang melayani seorang pembeli. Terlihat si pembeli itu sedang memilih payung tradisional yang sangat cantik dan unik. Setelah transaksi, pembeli kemudian menoleh ke arah orang-orang yang mengejarnya. Merasa aman, dia tersenyum dan melanjutkan perjalanan.
"Hebat sekali, penjaga pintunya saja telah kuasai ilmu meringankan tubuh. Berapa mereka dibayar setiap pekannya?"
Sosok yang merupakan pengintai tidak lain ialah Kencana Sari. Dia berhasil menelusuri alamat tempat tinggal rumah orang tua Diah Pitaloka. Ketika berusaha untuk mengamati apakah Pitaloka ada di rumah itu, malah ketahuan. Harus diakui, keamanan rumah bangsawan kaya raya memang sangatlah ketat. Bahkan melebihi dari Katumenggungan.
Tapi paling tidak, Kencana Sari punyai satu petunjuk. Dia berharap ini bisa berguna. Dengan menenteng barang yang dia beli, Kencana Sari kembali ke penginapan. Suhita pasti sudah selesai mandinya.
"Dari mana, belanja?! Mengapa harus jauh-jauh? Selalu jadi kebiasaan buruk, melakukan sesuatu tanpa lebih dulu meminta izin. Apa terlalu berat bagimu? Atau justru kau merasa lebih baik dengan begini?!" Suhita menyambut dengan melontarkan pertanyaan sulit.
Kencana Sari gelagapan. Sangat jarang Suhita marah. Dan kali ini termasuk kategori marah yang bahkan di atas rata-rata. Memang tidak membentak dan memaki, tapi Kencana Sari merasakan adanya rasa bersalah yang menggelayut hatinya. Seolah dia telah melangkahi kepala Suhita.
Berulang kali Kencana Sari memohon maaf, tapi dia kerap mengulang kesalahan yang sama. Memang semuanya Sari lakukan atas dasar rasa tanggung jawab terhadap tugasnya sebagai seorang pelayan. Sebenarnya dia tidak melakukan kesalahan apa-apa. Karena pada dasarnya Kencana Sari-lah yang berkewajiban melindungi keselamatan Suhita, bukan malah sebaliknya. Jika tidak begitu, lantas apa fungsinya dia?
"Kau tidak melakukan kesalahan apa pun, jadi tidak ada yang harus dimaafkan. Tapi paling tidak, sebelum melakukan sesuatu bicarakan lebih dulu. Kau tahu, ini bukan Soka Jajar," Suhita menghembuskan napas panjang.
Sejak Suhita sadar Kencana Sari tidak ada di dalam kamarnya, dia sudah bisa menduga apa yang dilakukan oleh pelayannya itu. Bukannya tidak percaya pada kemampuan yang Sari miliki, tapi Suhita hanya tidak enak jika harus terjadi sesuatu yang buruk pada Sari. Karena Suhita tidak pernah menganggap Kencana Sari sebagai pelayan, tidak ada pembeda manusia satu dengan yang lain hanya karena status sosial.
"Tabib, kau tidak marah 'kan? Aku takut ..." Kencana Sari masih menunduk dalam.
Suhita tersenyum, dia mendekat dan segera memeluk Kencana Sari dengan erat. "Jika kau mendengar kata-kataku sebagai sebuah luka di hatimu, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud demikian, dan aku yakin kau tahu kepribadianku. Aku tidak bisa memaafkan diriku jika terjadi sesuatu padamu. Kau sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Maklumi bagaimana kekhawatiran ku."
Kencana Sari membalas dekapan Suhita. Dan mengapa Sari begitu menghargai Suhita melebihi keselamatannya. Merasa dicintai oleh orang yang disayang, akan tidak tergambarkan bagaimana hati yang berbunga, perasaan yang terenyuh. Terlahir tanpa miliki keluarga, di sini Kencana Sari bersyukur hidup di dunia.
°°°
Di kediaman pribadi Manggar Wangi. Kepala pasukan penjaga, Baskoro terlihat mondar mandir di halaman depan. Laporan anak buahnya berhasil membuat hatinya tidak bisa tenang.
"Aku miliki seorang saudara yang miliki kemampuan bela diri sangat tinggi. Tapi saat ini dia masih di lereng utara, bagaimana untuk kita datangkan pendekar hebat dalam waktu dekat?!"
"Kakak, apa tidak sebaiknya kita bicarakan ini pada Tuan besar? Aku yakin beliau paham dan menindak lanjuti dengan serius," saran Orai Alit. Wakil kepala keamanan.
"Tidak, tidak. Kekuatan kita sudah ditambah hampir dua kali lipat. Jika kita laporkan ini, sama saja dengan melempar lumpur ke muka kita. Baiknya kita coba untuk atasi, lagi pula sosok pengintai yang mereka sebut belum jelas, siapa dan dari mana," Baskoro menolak saran Orai Alit, bagaimanapun sebagai seorang pendekar mereka memiliki gengsi dan nama besar yang harus dipertahankan.
__ADS_1
"Lapor ketua, di luar ada dua orang gadis meminta untuk masuk," seorang pengawal datang dan melaporkan sesuatu.
"Ah?! Mengapa sangat kebetulan sekali?" Baskoro mengerutkan dahi.
Baru saja ada laporan mengenai mata-mata, dan sekarang tiba-tiba mereka kedatangan tamu. Pasti, ini saling berkaitan. Diikuti Orai Alit, Baskoro melangkah menuju pintu gerbang.
Keluarga Manggar Wangi sedang bersuka cita, putri mereka yang sempat bilang kini kembali. Maka dari itu, penjagaan di setiap sudut rumah yang mereka miliki diperketat hingga dua kali lipat pasukan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, meskipun pihak kerajaan telah menjamin keamanan Diah Pitaloka melalui pernyataan resmi yang disampaikan Jenderal Muda beberapa hari yang lalu.
"Selamat malam, Nona-nona. Apakah kalian memiliki janji untuk bertemu juragan kami?" Orai Alit mewakili Baskoro untuk bicara.
Dua gadis yang dimaksud siapa lagi kalau bukan Suhita dan Kencana Sari. Meskipun tadinya Suhita berencana untuk lebih dulu menemui Raka Jaya, tapi mengingat usaha yang dilakukan Kencana Sari, membuat Suhita memutuskan untuk mendatangi langsung kediaman Manggar Wangi.
"Terus terang, ini adalah kali pertama saya datang berkunjung ke sini. Kami mendengar banyak cerita mengenai Tuan Manggar Wangi dan tertarik untuk bertemu, berbicara langsung dengan beliau. Bukankah putrinya sudah kembali?"
Set! Set! Set! Serentak seluruh pasukan siap siaga, tangan mereka meraih gagang pedang di pinggang masing-masing.
"Bisa diperjelas maksud anda?" Orai Alit mengerutkan dahi.
Para penjaga bukanlah anak kemarin sore yang polos dan dungu, mereka bisa menangkap maksud perkataan Suhita yang ingin untuk di bawa masuk. Berpura-pura memancing suasana, kemudian akan di adili di dalam. Setelah masuk, barulah rencana utama di lakukan. Tidak semudah itu, mereka sudah khatam trik-trik murahan seperti itu. Kemudian, mengaku-ngaku jika pernah mengenal Diah Pitaloka ketika berada di dunia luar, semua tidak mempan.
"Ya, kalian benar. Tapi kalian harus percaya, kami bukanlah datang dalam rencana. Kau tahu aku? Ahhh ... sebenarnya aku tidak ingin dengan cara ini," Suhita menggaruk kepalanya.
Apa boleh buat, mereka terlanjur dicurigai. Semakin lama bicara maka akan semakin banyak mata yang tertuju. Paling tidak, Suhita bisa masuk ke dalam. Perkara Kemuning ada atau tidak, itu urusan nanti.
Memasuki pelataran rumah, Suhita bisa merasakan banyak pendekar dengan kemampuan tinggi bersembunyi, menempati posisi masing-masing. Kiranya para penjaga pintu gerbang hanyalah pendekar pengucap salam, di dalam lebih banyak lagi penjaga.
Sangat ketat, menyerupai kediaman pejabat istana saja. Dan Suhita yakin, hal semacam ini yang tidak disukai Diah Pitaloka. Di mana privasi mereka sebagai gadis yang anggun, ketika menguap dan kentut, harus berada dalam pengawasan.
Baskoro dan Orai Alit terus mengawal Suhita hingga mereka memasuki ruang utama. Padahal, secara logika tidak mungkin lagi untuk orang bisa melakukan serangan pada pemilik rumah jika para penjaganya dalam keadaan siap sedia seperti ini. Tapi, tentu saja mereka dibayar lakukan tugas demikian.
Manggar Wangi langsung yang menyambut kedatangan Suhita. Dia terlihat sangat gembira dengan kunjungan Tabib Dewa yang secara mendadak dan sangat tidak diduga. Meskipun yakin jika setiap orang yang datang pada bangsawan pasti dengan kepentingan, tapi mengenai Tabib Dewa kali ini tidak ada yang bisa menduga tujuannya.
"Tuan, sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat karena putri kesayangan Tuan dan Nyonya sudah kembali. Dan terus terang, kedatangan saya ke sini yakni untuk bertemu dengan putri Tuan," Suhita langsung menyampaikan tujuannya.
Manggar Wangi terbelalak. Sekelas Tabib Dewa saja, rela membuang waktu datang jauh-jauh dari Soka Jajar untuk sekadar bertemu Diah Pitaloka. Ada apa ini semua?
"Ta-tapi ... ah, begini Tabib. Saat ini Pitaloka tidak ada di rumah ini. Bukannya kami tidak mengizinkan untuk Tabib bertemu putri kami," Sucinta, ibu Pitaloka menjawab dengan sedikit terbata.
Suhita tersenyum, mengangguk dan tanpa menanyakan di mana keberadaan Diah Pitaloka saat ini. Itu hanya membuat penilaian orang menjadi buruk padanya. Suhita yakin, ada peran Raka Jaya di balik semua ini. Dan mungkin Kencana Sari ada benarnya, Raka Jaya sedang menyusun siasat untuk membuat Diah Pitaloka nyaman saat bersamanya.
Tidak ada yang salah. Ditambah lagi, Raka Jaya merupakan saudaranya. Harusnya Suhita ikut senang, selain Kemuning sahabatnya miliki pelindung yang cakap, di sana juga ada kebahagiaan Raka Jaya. Betapa menjadi kebahagiaan yang sempurna.
Namun entah mengapa, di dasar hati kecil Suhita yang paling dalam, tidak begitu tulus dia dalam ikhlas. Mereka sama-sama tahu, bagaimana kedekatan Kemuning dengan Danur Cakra selama ini. Ya, meskipun Cakra-lah yang telah merusak segalanya.
__ADS_1
Rasa sakit yang Suhita rasa, seperti menggambarkan hancurnya perasaan Cakra. Saudara kembar memiliki insting yang kuat, di mana seorang sakit maka seorang lagi akan ikut merasakan. Kendati semua sudah menjadi resiko, tetap saja butuh waktu untuk hati bisa menerima.
Manggar Wangi dan keluarga berniat menjamu Tabib Dewa. Tapi sebelum mereka menuju ruang jamuan, mendadak saja Raka Jaya muncul dari taman samping. Kiranya informasi di dalam tidak mengabarkan akan kedatangan Tabib Dewa. Bisa saja, Raka Jaya lebih dulu bersembunyi sampai mata Suhita teralihkan pada penglihatan lain. Ya, karena Suhita melihat betapa terkejutnya Raka Jaya ketika mereka bertemu pandang. Jika tidak dalam sesuatu, harusnya seorang Jenderal ternama tidak melakukan ekspresi terlalu berlebihan seperti itu.
"Jenderal Muda, selamat malam," Suhita bersama Kencana Sari segera membungkukkan badan, memberi salam paling awal.
"A-ah ... Tabib Dewa, sungguh tidak menduga bisa bertemu anda di sini. Senang rasanya, suatu kehormatan berjumpa Anda," Raka Jaya membalas salam Suhita.
Suhita tersenyum, menatap mata Raka Jaya dengan dalam, lalu kemudian mengalihkan pandangannya pada Kencana Sari. Seolah dalam sikap itu Suhita menyampaikan kalimat ancaman, 'kau berhutang padaku.'
"Jenderal Muda, Diah Pitaloka ada bersamamu bukan? Apa aku diizinkan untuk menemuinya?" tanya Suhita.
"Mengapa aku? Tabib, di sini ada kedua orang tuanya."
"Bukankah Jenderal yang bertanggung jawab atas keselamatannya? Atau Jenderal khawatir jika aku berniat buruk?"
Raka Jaya tertawa kecil, dia mengangkat bahu, "mana mungkin aku berani. Berpikir negatif atas dirimu, sama saja aku mengutuk diriku sendiri."
Sebelum melanjutkan kalimat, Raka Jaya terlebih dahulu menatap pada Manggar Wangi dan Sucinta. Setelah kedua orang itu mengangguk tanda memberi izin, barulah Raka Jaya mempersilakan Suhita untuk ikut dengannya, untuk bertemu dengan Diah Pitaloka.
"Aku sangat terkesan. Kau berhasil mengambil hati dan kepercayaan mereka. Dan aku harap, kau tetap menjadi yang terbaik," ucap Suhita.
"Hita, aku hanya menjalankan kewajibanku. Kau tahu, bagaimana sikap dan cara pandangku bukan? Jika terlihat, sekecil apa pun kotoran cicak pasti akan dihindari. Mengapa harus injak duri saat tangan mampu untuk singkirkan."
Suhita tersenyum, dia setuju. Semua yang dilakukan Raka Jaya ialah tindakan paling tepat. Baik dilihat dari segi hukum ataupun lainnya. Dia merupakan wujud yang sempurna. Masih muda, karir bagus, berbudi mulia, dan juga tampan. Wajar saja bila banyak orang tua yang mendambakan sosok menantu idaman sepertinya.
"Di sana, taman ini merupakan tempat Pitaloka," Raka Jaya menunjuk.
"Apa pun tugasmu, aku yakin kau bisa mengerti apa yang aku ingin," Suhita menatap pada Kencana Sari, mereka memasuki pelataran hanya berdua.
Raka Jaya mengangguk, dia mempersilakan Suhita untuk menemui Diah Pitaloka. Tidak ada alasannya untuk melarang. Lagi pula, apa yang dikhawatirkan dari sosok Tabib Dewa?
Tok! Tok! Tok! Suhita mengetuk pintu kamar Diah Pitaloka.
Aroma wangi bunga semerbak mewangi, memberi kesejukan dalam jiwa. Sangat baik untuk kesehatan, di mana diri akan merasa sangat nyaman dan rileks. Harusnya tidak ada alasan untuk tidak betah tinggal di tempat nan nyaman seperti itu.
Beberapa orang pelayan datang membuka pintu, sedikit kaget karena yang datang merupakan perempuan yang tidak mereka kenal.
"HITAAA ?!" Diah Pitaloka berteriak, kala mengetahui yang menjadi tamunya ialah Suhita.
Bukan Diah Pitaloka, melainkan Kemuning yang langsung berlari dan menubruk Suhita dengan erat. Seperti sudah setahun tidak bertemu, padahal belum genap satu pekan mereka berpisah.
Setelah ini, setelah memastikan keadaan sahabatnya baik-baik saja, Suhita akan kembali ke Soka Jajar, kembali pada kehidupannya sebagai seorang tabib tanpa adanya beban pikiran yang mengganjal. Semua yang terjadi hari ini, akan menjadi pengalaman untuk hari esok, serta menjadi cerita yang akan selalu dikenang.
__ADS_1