Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Penginapan Luar Kota


__ADS_3

"Sialan! Sekarang bagaimana, apa yang harus aku lakukan?" Raka Jaya mengelus dagu, berpikir untuk langkah terbaik yang akan dia ambil.


Ada peran Panglima Braja di balik ini semua. Belum lagi keluarga Bangsawan Cokro yang merupakan salah satu keluarga terbesar penggerak perekonomian dalam kerajaan. Pengaruh yang besar pula di miliki mereka, membuat Raka Jaya harus cermat mengangkat kaki menentukan langkah. Jika tidak, maka dia akan terjebak ke dalam perangkap yang disiapkan.


Orang tua Kemuning, berasal dari keluarga konglomerat kaya. Sudah barang pasti mereka akan melakukan cara apa pun untuk bisa menemukan putrinya. Masuk akal bila kelompok sirkus yang selama ini menampung dan menyembunyikan Kemuning mendapatkan masalah besar. Menghadapi orang-orang berkantong tebal adalah salah satu hal tersulit dalam kehidupan nyata. Uang merupakan salah satu sumber kekuatan yang tiada tandingan.


Keluarga Bangsawan Cokro. Merupakan keluarga bangsawan yang Raka Jaya tunjuk sebagai kelompok terdekat yang ikut andil dalam setiap kejadian. Raka Jaya bisa menduga bila keluarga Bangsawan Cokro dan keluarga Kemuning pernah terikat satu janji. Kemungkinan berkaitan dengan diri Kemuning itu sendiri yang diminta menunjukkan bakti dengan mengikuti pilihan orang tua. Kemuning menolak, lalu pergi dari rumah. Dan ... masalah terus mengalir hingga sekarang.


Tidak ada sangkut pautnya permasalahan perjodohan keluarga tersebut dengan tugas dan wewenang Raka Jaya sebagai Jenderal Muda. Akan tetapi masalah jadi berbeda karena di sana ada Danur Cakra, saudaranya Jenderal Muda. Pertemuan Danur Cakra dan Kemuning membuat dia turut terlibat dalam masalah. Sebagai saudara, mana mungkin Raka Jaya menutup mata. Menjadi kura-kura dalam perahu, berpura-pura tidak tahu. Masalahnya sangat jelas, Danur Cakra terlibat masalah karena ingin melindungi Kemuning. Tanpa dia tahu, bahwa mereka yang memburu Kemuning merupakan orang-orang suruhan keluarga Kemuning itu sendiri.


Rumah penginapan tempat Suhita menginap sudah sepi lengang. Selain para pelayan dan petugas bersih-bersih, tidak lagi terlihat ada geliat pergerakan manusia. Sepertinya Suhita dan para pembantunya sudah pergi.


"Ampun, Jenderal Muda. Tabib Dewa dan rombongan sudah cukup lama pergi. Hamba lihat, Tabib Dewa memang menunggu kedatangan Jenderal Muda. Akan tetapi mengingat waktu, beliau memutuskan untuk berangkat sebelum Jenderal Muda tiba. Takut kemalaman di jalan," terang pimpinan pelayan.


Pimpinan pelayan itu kemudian mengambil sesuatu dari balik jubahnya. Sepucuk surat. Dia kemudian menyerahkan surat tersebut pada Jenderal Muda, titipan dari Suhita.


"Terima kasih," ucap Raka Jaya dengan senyum getir. Jujur saja, dia merasa sedih.


Kakak, saat kau baca pesan ini mungkin Hita sudah jauh meninggalkan Kota Raja. Maaf, bila Hita tidak sempat berpamitan. Namun Hita merasa sangat bangga melihat bagaimana Kakak sekarang. Teruslah menjadi Kakak yang bisa Hita banggakan. Menjadi kebanggaan Ayah dan Ibu, Padepokan dan terutama menjadi kebanggaan rakyat. Sejauh apa pun terbangnya seekor bangau, tempat kembalinya akan ke kubangan jua. Tepian mandi menantimu sepanjang waktu. Kak, jangan berhenti berbuat baik. Akan selalu Hita sertakan doa dari kejauhan. Salam sayang, dari adikmu. Suhita Prameswari.


Raka Jaya tersenyum mengakhiri pesan di dalam surat. Hatinya terenyuh, segenap rasa menggelora di dalam hatinya.


Suhita akan kembali menjemput takdirnya. Hidup penuh senyum dalam ciptaan kebaikan yang dia lakukan sepanjang langkah terayun. Peran mereka berbeda, tapi layaknya Suhita tentu Raka Jaya akan menjadi sesuatu yang spesial dalam keluarga. Menjadi kebanggaan bersama.


"Aku harus pastikan Suhita keluar dari Kota Raja dengan selamat," batin Raka Jaya.


°°°


Sementara itu, di luar kota dengan arah yang berbeda, Danur Cakra dan Kemuning sedang beristirahat di sebuah kedai. Tampilan dua orang itu sangat berbeda, membuat siapa pun tidak mengenali mereka. Keduanya terlihat seperti layaknya pasangan muda yang berasal dari keluarga terhormat.


"Cakra, apakah ini rute yang benar? Coba kau lihat di depan sana. Itu hutan lebat yang tidak ada seorang pun berjalan dari arah sana," Kemuning menunjuk ke arah hutan yang dia maksud.


"Tenang saja. Paling kuat, di dalam hutan ada binatang buas. Dan kau tahu, sebuas-buasnya bintang, itu tidak sebanding dengan manusia. Jauh lebih mengerikan berhadapan dengan manusia-manusia bejat bertopeng malaikat yang begitu banyak bertebaran. Kenapa kau harus takut?" Danur Cakra mengangkat sebelah alisnya.


"Yang aku takutkan bukanlah binatang buas atau semacam apa pun itu. Justru aku khawatir pada dirimu. Bagaimana kalau justru kau yang terluka? Aku tidak mau itu terjadi," Kemuning cemberut karena menganggap Cakra tidak peka.


Danur Cakra tertawa kecil, dia menatap Kemuning dengan dalam. Kendati belakangan ini sikap Kemuning kerap berubah-ubah, tapi justru itu membuat Danur Cakra semakin senang berbuat usil. Persetan dengan rahasia yang disembunyikan, entoh bila saatnya nanti pelan-pelan semuanya akan diketahuinya.


"Tuan Muda, Nona ... apakah kalian bermaksud untuk mencari penginapan? Hehe ... jika berkenan mampirlah ke tempat saya. Maka saya akan berikan penawaran harga spesial untuk Tuan dan Nona," seorang pria paruh baya datang dengan sopan, dia membungkuk berulang kali sebelum memberikan penawaran.


Danur Cakra menatap pada Kemuning, seolah bertanya. Apakah mereka butuh menginap atau akan melanjutkan perjalanan segera.

__ADS_1


"Em, Ah ... bagaimana Kak? Tapi bila aku boleh usul, baiknya kita terima penawaran bapak ini. Lumayan loh, ada potongan harga," Kemuning tersenyum.


"Baiklah! Tapi pelayanan dan juga kenyamanan adalah salah satu aspek yang tidak bisa dipisahkan. Jika kau menjamin, maka aku pastikan akan setuju," ucap Danur Cakra pada sales penginapan itu.


"Tentu ... tentu ... kami jamin pasti akan melakukan yang terbaik untuk Tuan dan Nona," pria paruh baya itu membungkuk berucap terima kasih.


Selesai makan, Danur Cakra dan Kemuning mengikuti pria paruh baya menuju penginapan yang ia janjikan. Selama perjalanan, Danur Cakra melihat adanya hal yang dia anggap janggal. Contoh hal yang paling mencolok ialah, meskipun begitu banyak orang yang melintas dan datang di kota itu, tapi rata-rata penginapannya sepi pengunjung. Bukan hanya satu-dua melainkan seluruh penginapan demikian. Mereka merekrut begitu banyak sales-sales yang berkeliaran mencari pelanggan untuk bermalam barang satu atau dua malam. Meskipun menjemput bola, nyatanya langkah tersebut tidak seratus persen paten, tetap saja banyak penginapan yang kosong.


"Wow, besar sekali penginapan ini. Tapi, mengapa hanya sedikit orang yang menginap? Atau jangan-jangan di dalamnya, tempat tidur dan kamar mandinya kotor? Bila tidak sesuai, baiknya kita cari tempat lain saja, Kak!" ucap Kemuning.


"Ti-tidak, tidak! Sama sekali tidak seperti itu, Nona. Baiknya periksa dulu, jangan main batal-batal seperti ini, saya mohon ..." ucap pria paruh baya dengan amat sangat.


Tentu saja Kemuning hanya berkomentar, bukan membatalkan. Dia hanya menduga dari apa yang dia lihat saja. Kenyataannya mereka memang tidak berniat pergi sebelum memeriksa.


Tiba di depan pintu, pelayan penginapan yang lain sudah datang menyambut. Sikap dan perlakuan mereka tidak ubahnya di penginapan-penginapan lain yang tersebar di seluruh penjuru kerajaan. Bahkan di sini terlihat kalau mereka lebih ramah, berusaha untuk tidak memberi kesan minus pada pelanggan berharap mau menginap.


Sangat indah, serasi dengan tampilan yang terlihat dari luar. Penginapan yang Danur Cakra datangi merupakan penginapan mewah, dengan empat lantai dan puluhan kamar. Tidak masuk akal bila mereka hanya menerima satu atau dua pengunjung permalamnya.


Selesai melihat-lihat, tentu saja yang ditawarkan tidak meleset dari ekspektasi yang tadi digambarkan oleh sales di jalan. Penginapan tersebut memang penginapan mewah. Wajar bila dibanderol harga yang lumayan. Akan tetapi, tidak henti-hentinya Danur Cakra dibuat terkejut setelah mendengar penawaran harganya. Ditambah lagi diskon khusus yang dijanjikan, membuat harga kamar dengan kesan mewah seperti itu menjadi sangatlah murah. Bila tempatnya berada di Kota Raja, pasti harga tiga kali lipat bahkan lebih.


"Lima puluh kepeng perak untuk satu kamar dalam semalam. Apa kalian tidak salah? Ini aku mengambil kamar terbaik yang ada," Danur Cakra memastikan.


Para pelayan menegaskan bahwa yang mereka berikan adalah benar. Dengan demikian, harga sewa kamar mewah di sana hanya setengah dari harga sumberdaya penguat otot. Satu kepeng emas saja, bisa menyewa dua kamar. Yang benar saja. Di kota lain, untuk kamar spek sultan demikian maka sewanya tidak akan kurang dari dua kepeng emas atau dua ratus kepeng perak.


"Oh, ya. Apa aku bisa minta tolong?" tanya Danur Cakra pada seorang pelayan.


"Tentu ... sudah menjadi kewajiban kami untuk melayani kebutuhan Tuan dan Nona," jawab pelayan.


"Tolong jangan ganggu kami. Jangan datang jika tidak aku yang memanggil," tegas Danur Cakra.


Para pelayan segera mengangguk mengiyakan. Tentu saja keinginan Danur Cakra adalah hal yang tidak bisa mereka tolak.


°°°


Seorang pria mengenakan jubah berwarna putih dengan rambut dan janggut yang mulai memutih berjalan lambat di pelataran penginapan. Dengan sekali lihat, bisa dipastikan bahwa pria itu merupakan orang sekitar. Nampak dari sikap para pelayan yang tidak datang menyambut dan menawarkan kamar.


Pria itu membuka kipas yang ia bawa, mengibas kipas seirama dengan ayunan langkah. Sejenak dia melirik ke arah samping, di kandang kuda ada beberapa kuda yang sedang diberi makan. Itu artinya ada orang yang bermalam.


"Cukup banyak tamu malam ini?" tanyanya pada seorang pelayan.


"Ada beberapa ..." jawab pelayan dengan takut-takut.

__ADS_1


Namanya Sabdo Metu, seorang penyihir sekaligus juru sembuh di kota Ulir. Begitu banyak penduduk yang tergantung padanya, karena hanya Sabdo Metu yang mampu diandalkan untuk berikan pertolongan ketika suasana genting.


Meski hanya berjarak dua hari perjalanan dari Kota Raja, dikarenakan jalannya buntu membuat Kota Ulir cukup tertinggal dari kota-kota lain yang merupakan jalan lintas. Selain itu juga, tentunya pengaruh mistis masih sangat kental menyelimuti kehidupan dalam keseharian penduduk.


"Aku merasakan adanya aura yang sangat kuat. Apakah penginapan kalian kedatangan seorang pendekar?" tanya Ki Sabdo Metu lagi.


Para pelayan tidak menjawab, mereka sama sekali tidak tahu siapa orang yang dimaksud. Sebagai orang yang awam akan kemampuan bela diri tentu para pelayan tidak menyadari seperti yang Sabdo Metu rasakan. Hingga mereka menjawab cukup dengan kalimat tidak tahu.


Sabdo Metu memanggil kepala keamanan penginapan, meminta untuk ditemani berkeliling mengecek satu persatu kamar. Kepala keamanan diikuti seorang pelayan segera mengantar Ki Sabdo Metu, yang terpenting adalah keamanan para pengunjung. Selama mereka tidak mengusik ketenangan, maka tidak salah sekadar mengecek hingga depan pintu. 


"Sudah selesai, Ki. Tidak lagi ada pengunjung di kamar sebelah kanan," seorang pelayan mengajak untuk mereka kembali turun ke lantai bawah.


Kamar sebelah kanan yang pelayan maksud tidak lain adalah kamar yang disewa oleh Danur Cakra. Karena dua kepeng emas yang Danur Cakra berikan, maka dia berhak atas empat kamar. Tidak peduli berapa pun yang ditempati.


"Mengapa kau berbohong?! Aku tahu, ada dua orang yang berada di sana," ucap Sabdo Metu dengan tatapan tajam.


Pelayan itu tergagap, dia tidak bermaksud untuk membohongi Sabdo Metu tapi sesuai permintaan Danur Cakra maka mereka tidak akan mengganggu meskipun hanya sampai di depan pintu.


"Tidak peduli! Aku harus memastikannya, atau jangan-jangan mereka adalah buronan," Sabdo Metu memaksa. Dia menyingkirkan pelayan penginapan yang coba menghalangi.


Tanpa tercegah dan hanya dengan satu kedipan mata, maka Sabdo Metu sudah berdiri di depan pintu kamar Kemuning. Ya, karena Kemuning dan Danur Cakra menempati kamar yang berbeda.


"Permisi!" Sabdo Metu mengetuk pintu kamar Kemuning.


"Ki Sabdo, mohon maaf. Anda jangan menciderai penginapan kami. Mereka adalah pasangan muda, dan meninggalkan pesan untuk tidak diganggu. Apa yang Anda lakukan?" pelayan coba menghentikan kelakuan Sabdo Metu.


Mengapa, apa karena mendengar bahwa mereka tidak ingin diganggu justru begitu bersemangat untuk mengganggu. Padahal di kamar lain, tidak ada yang sampai di ketuk. Aneh! Untuk kali ini, terlihat bahwa pelayan itu sangat kecewa.


"Kau jangan macam-macam, semuanya aku yang bertanggung jawab! Jangan kau coba remehkan aku!" dengan intonasi tinggi, Sabdo Metu membentak pelayan penginapan. Hatinya begitu terbetot, sementara pelayan itu hanya buat dia kesal saja.


KREEEKKK!!!! Pintu kamar dibuka.


Beruntung kamar tempat mereka bertengkar adalah kamar Kemuning, akan beda ceritanya bila itu adalah kamar Danur Cakra. Si pemarah itu pasti naik pitam.


"Pelayan, ada apa?" tanya Kemuning yang hanya membuka sedikit pintu dan menampakkan separuh wajahnya.


"Ah, tidak Nona. Kami hanya ingin memastikan keadaan Nona. Syukurlah jika Nona tidak kurang suatu apa," kepala keamanan sigap menjawab.


"Baik, terima kasih," Kemuning segera menutup pintu kembali.


"Nona, tunggu!" Ki Sabdo Metu mengangkat tangan kanannya, jari telunjuknya terarah pada celah antara daun pintu membuat pintu berhenti bergerak.

__ADS_1


Kemuning terkejut bukan main, begitu juga dengan pelayan penginapan dan kepala keamanan. Tindakan yang dilakukan oleh Sabdo Metu sudah melebihi batas. Tanpa izin dari penyewa kamar mereka bahkan tidak mempunyai hak untuk membuka pintu. Apa lagi memaksa agar pengunjung keluar tanpa alasan yang tepat. Itu termasuk tindakan kriminal yang sangat menggangu kenyamanan. Ditambah, si penyewa kamar merupakan seorang wanita. Yang Sabdo Metu lakukan merupakan bentuk pele*cehan.


__ADS_2