
"Kak, Kakaakkk! Hei, tunggu dulu. Berhenti sebentar!" Suhita berteriak memanggil Danur Cakra yang tidak juga menghentikan lari kudanya.
Setelah beberapa kali Suhita memanggil dan tidak digubris, Hita berinisiatif untuk menghentikan laju kuda yang Cakra tunggangi dengan menggunakan kemampuannya.
Danur Cakra tersadar akan laju kudanya yang semakin melambat. Dia lekas menarik tali kekang kuda dan menepi. Sebelum Suhita bicara, lebih dahulu Cakra segera meminta maaf. Beberapa waktu yang lalu Cakra tidak begitu fokus, selain memasuki alam evolusi dia juga masih memikirkan solusi atas masalahnya yang tidak bisa menyentuh Fragmen tanah miliknya. Merupakan hal yang wajar bila Cakra tidak mendengar saat Suhita memanggilnya.
"Kak, kita istirahat dulu. Hita letih, juga lapar ..." Suhita tersenyum manja, tangannya mengelus perut.
"A-ah, baiklah. Kita cari kedai di depan sana!" Danur Cakra setuju.
Biasanya, Danur Cakra merupakan seorang yang begitu peduli pada kesehatan Suhita. Selalu wanti-wanti untuk Hita selalu makan tepat waktu. Meskipun pasien melonjak, ataupun situasi darurat apa pun. Cakra akan marah bila Suhita tidak mendengarnya. Tapi situasi sekarang berbeda, ada hal lain yang memaksa Cakra tidak mengingat keberadaan adiknya.
Hanya ada satu-satunya kedai di desa itu. Tentu saja membuat kedai berukuran besar tersebut sangat ramai pengunjung. Danur Cakra membayar seseorang untuk merawat kuda mereka, kemudian menyusul Suhita yang lebih dulu memasuki kedai.
"Kakak mau makan apa?" tanya Suhita.
"Daging menjangan, serta satu guci arak!" jawab Danur Cakra.
Dengan sabar mereka menunggu pelayan datang untuk mencatat pesanan. Cukup banyak pelayan yang bekerja, tapi karena pengunjung juga banyak hingga siapa pun harus sabar untuk giliran.
"Kak, ada sesuatu yang kau pikirkan? Sejak tadi wajahmu nampak tertekan," tanya Suhita memecah kebisuan.
Danur Cakra melirik ke arah Suhita, kemudian menggeleng lemah. Tentu saja dia tidak mungkin untuk menceritakan pada Suhita. Tidak seorang pun yang tahu perihal aktivitas latihan yang Danur Cakra lakukan. Siapa juga yang akan paham, konsep yang sukar untuk dijabarkan. Di luar logika.
Danur Cakra memicingkan matanya, dia merasakan ketidak adilan. Sangat berani pelayan kedai meremehkan dirinya. Danur Cakra yang datang lebih dulu, tapi justru seorang yang baru datang malah diistimewakan. Pakaiannya memang mencerminkan bahwa dirinya seorang berpengaruh, anak pejabat.
"Kak," Suhita menggenggam tangan Danur Cakra, saat Cakra hendak bangkit.
Suhita menggelengkan kepalanya, meminta untuk Cakra tidak melakukan apa pun. Segala hal yang mereka lakukan hanya akan menambah masalah saja. Jelas-jelas saat ini mereka sedang bergerak rahasia, menghindari mata para pendekar dunia persilatan.
"Hei, pelayan sialan!" teriak seorang pendekar dari meja lain.
Meskipun Cakra bisa menahan diri, tapi ada orang lain yang juga diperlakukan tidak adil memprotes tindakan pelayan yang lebih mendahulukan anak pejabat. Padahal semua orang yang datang sama laparnya.
"Fuuiiihhh! Baji*ngan! Berani sekali kau mengangkat wajah di depan Raden Mas Karto! Minta maaf!" seorang tukang pukul berbadan tinggi besar brewokan mendekat dengan wajahnya yang sangar.
Raden Mas Karto. Nama pemuda tiga puluh tahun itu. Dia merupakan anak sulung walikota Bukit Hambala. Sebagai calon penerus ayahnya memimpin Kota Bukit Hambala, Raden Mas Karto telah dibekali dengan ilmu tata negara dan ilmu sastra yang dituntutnya di pusat pengajaran di ibu kota. Singkatnya, dia merupakan seorang terpelajar nomor satu di Kota Bukit Hambala, di usia yang sangat muda.
Banyak orang yang gemetaran mendengar nama Raden Mas Karto. Tidak seorang pun warga Bukit Hambala yang tidak mengenal nama itu. Seorang calon pemimpin yang gagah, tampan dan terpelajar. Begitu banyak gadis-gadis yang menjadi halu, orang-orang tua yang berkhayal mengangkat mantu Raden Mas Karto.
"Karena dia seorang terpandang, maka kami menjadi onggokan sampah?! Fuuiiihhh!" tidak merasa gentar, pendekar yang menegur bangkit dari duduknya.
Melawan pejabat merupakan suatu tindakan melanggar hukum. Dan telah dituangkan dalam undang-undang. Entah siapa yang salah dalam kasus ini, tapi yang jelas tindakan mereka mengganggu banyak orang. Banyak orang yang semula berniat makan malah melarikan diri.
"Pelayan!" Danur Cakra melambaikan tangannya pada seorang pelayan yang membawa makanan, sementara tamu yang dilayaninya sudah pergi meninggalkan kedai.
__ADS_1
Semula pelayan itu bermaksud untuk kembali ke dapur, tapi Cakra yang tidak peduli pada kekacauan yang bakal terjadi, segera mengambil makanan untuk segera mereka nikmati.
Suhita hanya menghela napas, tidak ada yang bisa diperbuatnya kecuali ikut Kakaknya berlagak buta dan tuli.
Sementara Danur Cakra mulai menyuap nasi ke dalam mulutnya, pertarungan antara anak buah dan Raden Mas Karto pun telah dimulai. Dengan beringas mereka menyerang pendekar sok jago yang dianggap bernyali besar.
Braaak! Beberapa meja dan kursi hancur akibat pertarungan yang terjadi di dalam kedai. Pengawal Raden Mas Karto yang memiliki kemampuan bela diri cukup tinggi berhasil menghajar lawannya hanya dalam beberapa jurus saja.
Tubuh pendekar yang berhasil dikalahkan segera di lemparkan ke luar kedai, namun darah yang mengalir membasahi lantai kedai, bau amisnya akan membuat perut mual dan menghilangkan nafsu makan. Tapi tidak bagi para pendekar ataupun mereka yang telah terbiasa melihat darah yang menganak sungai. Danur Cakra contohnya. Juga begitu dengan Suhita dan Kencana Sari, mereka telah terbiasa menghadapi pasien dalam segala kondisi.
Hanya meja yang Danur Cakra tempati yang masih terisi. Sementara meja lain kosong tanpa pengunjung. Dan lebih hebatnya lagi, tiga orang yang mengisi meja masih asyik menyantap makanan seolah tidak sedang terjadi apa pun.
Harusnya keadaan berjalan baik-baik saja seandainya pengawal Raden Mas Karto tidak iseng, berjalan menghampiri Danur Cakra. Dia menganggap tindakan yang dilakukan Cakra merupakan bentuk ketidak sopanan, tidak menghargai keberadaan Raden Mas Karto di tempat itu.
"Tuan, mohon maafkan kami. Sungguh kami tidak bermaksud demikian, sama sekali kami tidak berani berlaku tidak sopan," Suhita membungkuk meminta maaf.
Namun sudut mata pelayan brewok itu justru tertuju pada Danur Cakra yang sama sekali tidak menggubris. Cakra hanya diam, bahkan tidak sekali pun menoleh.
"Jika temanmu tuli, beritahu dia akan keberadaan calon pemimpin Kota Bukit Hambala ini!" dengan kalimat yang ditekankan, pengawal itu coba mengintimidasi, berharap Cakra jadi gentar.
Suhita mengurai senyum, kembali membungkuk hormat. Tanpa sengaja matanya bertabrakan dengan pandangan mata Raden Mas Karto, membuat masalah baru saja.
"Bewok Ireng!" Raden Mas Karto memanggil pengawalnya.
Bewok Ireng membungkuk memberi hormat saat Raden Mas Karto pula datang menghampiri. Bukan alasan lain, tentu saja karena wajah manis yang Suhita miliki.
"Nini, jika berkenan singgahlah ke tempatku. Kalian bisa menukar kuda yang lebih baik, juga menambah bekal perjalanan yang dibutuhkan. Tidak perlu sungkan, aku akan sangat senang bila mana kau berkenan," dengan nada bicara yang sopan Raden Mas Karto menawarkan kebaikan yang tentunya dengan suatu maksud.
Danur Cakra yang tidak suka basa-basi, hatinya pun bergolak mendengar secara langsung seseorang modus pada adiknya. Meskipun telah ditahan dengan sekuat tenaga, tetap saja aura kemarahan dalam diri Cakra dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.
"Owh ... hahaha! Kau kiranya seorang pendekar juga?! Lantas apa maumu?!" Si Bewok Ireng pengawal Raden Mas Karto tertawa mengejek, tangannya terayun hendak menepuk pundak Danur Cakra.
Si Brewok semakin penasaran dan dengan sengaja hendak menepuk pundak Danur Cakra dengan menyertakan kemampuan tenaga dalam yang cukup besar. Dia berniat untuk menjajal seberapa kuatnya Danur Cakra, hingga sikapnya begitu angkuh.
Namun ketika tangan Si Bewok Ireng terangkat, terdengar suara kegaduhan dari luar kedai. Sontak Si Brewok mengalihkan perhatian, dia bersiap untuk menjalankan tugas melindungi Raden Mas Karto dari berbagai macam ancaman bahaya.
Brewok dari Kidul merupakan pengawal pribadi sekaligus tembok pelindung Raden Mas Karto sebagai calon pemimpin. Mereka tentunya memiliki kemampuan olah kanuragan tingkat tinggi. Dalam sekejap, dia telah berdiri di depan Raden Mas Karto untuk melakukan perlindungan.
Di halaman kedai, seorang pria paruh baya berlari menerobos beberapa orang pengawal yang coba menahannya. Hampir seluruh pakaian yang dikenakan si pria paruh baya itu basah oleh darah. Dia mengalami luka yang cukup parah pada pundak dan punggungnya. Luka bekas tebasan pedang.
Si Brewok menangkap si pria paruh baya, menenangkannya. Terlihat jika napas pria tersebut sudah berada di ujung kerongkongan. Luka yang menganga lebar telah menguras sebagian besar darahnya.
"Apa yang terjadi padamu wahai pak tua?" tanya Si Brewok.
Pria paruh baya menatap menghiba pada Raden Mas Karto, meminta belas kasihan. Sebagai calon pemimpin, tentunya Raden Mas Karto memiliki kewajiban untuk melindungi siapa pun rakyat yang berada di wilayahnya.
__ADS_1
Belum juga sempat pria paruh baya berbicara, di halaman kedai telah menampilkan jawaban atas permasalahan yang terjadi. Seorang pemuda dengan usia antara tiga puluhan tahun berlari dengan menggenggam sebilah golok panjang di tangannya. Seraya berteriak seperti orang kesurupan, pria itu berusaha untuk mendekat dan mencelakai pria paruh baya yang sudah tidak berdaya.
"Amankan pria itu. Tidak perlu membuatnya celaka!" perintah Raden Mas Karto pada Si Brewok.
Brewok mengangguk, dia segera menjalankan tugas secepat mungkin. Dengan tangan kosong, Brewok menyergap. Perkelahian pun tidak terelakkan. Pemuda itu menyabetkan golok secara membabi buta, menyerang Si Brewok.
Tep! Tep! Dengan gerakan cepat Si Brewok membalas serangan dengan hanya gunakan tangan kosong. Jelas terlihat bahwa kemampuan Si Brewok berada jauh di atas lawannya. Hingga dalam waktu singkat, dia berhasil membuat pemuda itu tidak berdaya. Seiring goloknya yang terjatuh, tubuh pemuda itu pun berhasil diringkus. Dua anak buah Brewok lekas mengikat kedua kaki dan tangannya.
"Lepaskan aku! Lepaskaaannn!" seraya berteriak hingga suaranya serak, pemuda itu meronta sekuat tenaga. Namun sia-sia, dia telah kehilangan begitu banyak tenaga.
Tidak lama berselang, seorang Demang diikuti beberapa prajurit datang. Suasana makan siang di kedai itu benar-benar hancur, hancur berantakan. Dalam waktu singkat, kedai yang merupakan tempat makan telah menjadi tempat kekacauan. Darah menebar aroma amis di mana-mana, memutus selera makan setiap orang.
"Raden Mas ... mohon terima salam saya," betapa terkejutnya Ki Demang saat dia mendapati Raden Mas Karto ada di dalam kedai, bahkan pengawal Raden Mas Karto lah yang telah meringkus Durgala (si pemuda yang membawa golok).
Raden Mas Karto mengangguk, dia memerintahkan anak buahnya untuk lebih dulu membungkam mulut Durgala, sementara mendengar penjelasan dari Ki Demang.
Sementara itu, pria paruh baya yang berlumuran darah telah menghembuskan napas terakhirnya. Bahkan dia tidak sempat mengucap sepatah kata pun. Terlalu banyak darah yang keluar, dia meninggal dengan bermandikan darah.
Suhita hanya bisa memejamkan mata, sayatan kepedihan menusuk-nusuk jantungnya. Semula Hita yang hendak secepatnya bergerak menolong, terpaksa terhenti setelah tangannya dipegang oleh Danur Cakra. Ya, Cakra menghentikan Suhita seperti tadi Hita menghentikan saat Cakra hendak memberi pelajaran pada pengawal Raden Mas Karto.
Keduanya impas, tidak seorang pun yang menunjukkan kemampuan mereka di tempat itu. Melainkan hanya menonton drama kehidupan yang ekstrim. Dari keterangan Ki Demang, bahwasannya pria paruh baya dan pemuda yang membawa golok merupakan ayah dan anak. Mereka merupakan keluarga kandung. Sangat miris memang, sukar diterima akal sehat.
Durgala nekad membacok ayahnya karena diketahui bahwa sang ayah yang telah membunuh ibunya. Luar biasa! Entah tergolong dalam kelompok apakah sang anak. Dia nampaknya begitu berbakti pada ibunya, hingga dia menuntut balas dengan pula mencabut nyawa orang yang menghabisi ibunya, tidak peduli meski orang itu adalah ayahnya sendiri.
Sekarang, kedua orang tua Durgala telah tiada. Setelah ibunya dicelakai oleh sang ayah, Durgala berhasil membalaskan dendam dengan pula membuat ayahnya membayar lunas hutang nyawa. Padahal menurut Ki Demang, keluarga Durgala merupakan salah satu keluarga yang jarang sekali tertimpa masalah. Sekali datang, begitu besarnya masalah hingga membuat Durgala setengah gila.
Raden Mas Karto menghela napas panjang, masalah yang sangat rumit. Durgala melakukan satu kesalahan besar, apa pun alasannya dengan menghabisi nyawa seseorang merupakan tindakan kriminal yang tidak bisa ditolerir. Akan tetapi, atas apa yang dilakukan oleh ayahnya juga merupakan kesalahan yang sama besarnya. Pemecahannya sangat rumit, tapi mengingat hanya Durgala yang masih hidup, maka tentu dia seorang yang akan diadili.
"Tidak ada yang perlu kita lakukan. Tidak ada hal menarik di sini. Jika sudah selesai, baiknya kita lanjutkan perjalanan," ucap Danur Cakra.
Suhita tidak menjawab, hanya menoleh pada Kencana Sari yang seketika langsung menganggukkan kepala. Ketiganya lekas bangkit, setelah membayar makanan mereka berniat meninggalkan kedai.
Akan tetapi, Raden Mas Karto yang melihat langsung menghentikan. Terlihat kalau dia masih belum puas bercakap-cakap dengan Suhita, hingga alasan yang dirangkainya hanyalah kamuflase.
"Sialan! Sikap gadis cantik ini semakin membuat aku penasaran. Aku sangat suka tantangan," kata Raden Mas Karto dalam hati.
Sejenak meninggalkan kasus kematian yang terjadi di depan matanya, Raden Mas Karto memanggil seorang anak buahnya untuk mengikuti Suhita. Dia tidak ingin kehilangan jejak Suhita.
"Bawa mereka ke padukuhan, seluruh keterangan akan diperjelas. Kita tidak bisa menghakimi seseorang hanya berdasarkan keterangan sebelah pihak," ujar Raden Mas Karto dengan penuh wibawa.
"Baik Raden Mas ..." para prajurit lekas melakukan perintah. Jasad pria paruh baya yang telah tewas di bawa untuk nanti dikebumikan secara layak, sementara anaknya dibawa untuk diadili.
"Bewok, kau susul anak buahmu! Jangan sampai kehilangan jejak tiga orang tadi. Cepatlah!" bisik Raden Mas Karto di telinga Brewok dari Kidul.
Meskipun sangat kaget, tapi Brewok tidak bisa membantah. Bukan pula haknya untuk mengajukan pertanyaan. Yang perlu dilakukannya ialah segera bergerak menyusul Suhita dan pendekar muda sombong tadi.
__ADS_1
"Kebetulan sekali, tanganku sudah gatal untuk memecahkan mulut bocah ingusan itu!" Bewok Ireng mengepalkan tangannya, tadi niatnya terhenti akibat muncul ganggu. Tapi saat bertemu di hutan, merupakan kesempatan emas untuk Bewok Ireng mewujudkan niatnya.