Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Bocah Nakal


__ADS_3

"Besar juga nyalimu, beraninya ikut campur urusan kami," keempat bocah yang mengganggu Suhita berkacak pinggang menghadapi orang yang datang.


Salah satu dari empat anak itu memungut potongan kayu yang tadi di lemparkan ke arah mereka. Nampaknya kayu itu sengaja hanya digunakan untuk menggertak dan tidak untuk menyakiti.


"Bos, coba ajari dia bagaimana cara menggunakan kayu ini," ucap anak itu pada anak yang paling berpengaruh.


Dengan senyum angkuh, anak itu menerima dahan kayu yang diserahkan padanya. Kemudian menimang kayu seraya menatap penuh permusuhan pada orang yang mereka anggap mengganggu kesenangan.


Suhita sadar, keributan akan segera terjadi. Mereka pasti akan berkelahi. Namun, yang lebih mengejutkan Suhita ialah terletak pada wajah orang yang menolongnya. Ya, Suhita tidak mungkin salah mengenali ataupun ada orang lain yang miliki paras yang begitu mirip dengan anak itu.


"Kakak, sudahlah. Jangan layani mereka, aku juga tidak diapa-apakan," Suhita berlari menghalangi langkah kakaknya.


Danur Cakra Prabaskara. Anak itu memang Danur Cakra, saudara kembarnya Suhita. Kebetulan dia sedang maraton di tempat yang sama. Melihat adiknya diganggu oleh orang, tentu saja hati Danur Cakra jadi mendidih. Kalau saja tidak ingin dikatakan pengecut, Danur Cakra pasti sudah arahkan dahan kayu tadi pada kepala empat anak berandalan itu.


"Hita, kau minggirlah! Mereka harus diberi pelajaran," ucap Danur Cakra dengan tatapan tajam.


Suhita hanya bisa menghela napas. Mata Danur Cakra selalu tidak bisa ditatap setiap kali dia marah. Dan selalu begitu jika mereka berselisih pendapat. Nampaknya tidak ada yang bisa Suhita lakukan lagi. Bagaimanapun dia coba melarang, justru Danur Cakra malah akan memarahinya. Baiklah, biarkan saja sejauh masih dalam batas kewajaran dan hanya untuk berikan efek jera. Anak-anak itu memang sudah keterlaluan. Mereka berbuat sesuka hati, bahkan sudah termasuk melecehkan lawan jenis.


"Kakak, tapi kau harus janji pada Hita. Cukup beri mereka pelajaran, jangan sampai ada yang terluka apalagi sampai kau celakai mereka. Masalahnya bisa rumit," pinta Suhita dengan memohon.


"Kau, cepat berlindung!"


"Tapi kakak berjanji dulu," Suhita bersikeras.

__ADS_1


Danur Cakra mengepalkan tangannya dengan keras. Suhita benar-benar menyebalkan. "Baiklah, aku berjanji. Sekarang, kau cepat berlindung. Aku akan beri tahu mereka apa itu tata krama."


Suhita tersenyum lega. Dia baru minggir setelah Danur Cakra mau berjanji.


Plok! Plok! Plok!


"Sangat mengharukan! Seorang pahlawan kesiangan, berjanji untuk menjadi anjing yang setia demi seorang anak gadis. Hahaha!" tawa penuh ejekan meledak dari keempat anak yang mengganggu Suhita.


"Dengar! Aku bukanlah orang yang terbiasa direndahkan. Akan ku pastikan, kalian menyesal!" habis sudah kesabaran Danur Cakra yang memang merupakan seorang anak yang sangat pemarah. Jangankan diejek secara terang-terangan, bahkan ada orang yang becanda sesama teman pun, jika Cakra merasa tersinggung maka dia akan menjatuhkan tangan.


Mata Danur Cakra menyala, menatap penuh dendam kebencian. Sementara, telapak tangannya sudah dialiri kekuatan tenaga dalam. Danur Cakra tidak main-main. Terlebih lagi karena dia tahu jika anak-anak yang merupakan lawannya adalah juga peserta kompetisi. Anggap saja, ini adalah pertarungan uji coba yang sebenarnya.


"Kau! Dan kau! Serang dia lebih dulu!"


Dua orang anak menyerang Danur Cakra secara bersamaan. Darah jurus yang mereka gunakan, terlihat jika kedua anak itu bukanlah murid sembarangan. Hanya saja, mereka yang berbakat dalam bela diri tidak mendidik tata krama sejak usia dini. Makanya, mereka mudah mendapatkan masalah.


Dengan menggunakan tangan kosong, mereka segera terlibat perkelahian. Danur Cakra menyerang dua orang lawannya dengan tinjunya yang keras. Menghadiahi lawan-lawannya rasa sakit yang meresap sampai ke tulang sumsum.


"Aku, tidak pernah bermain-main!" Danur Cakra menutup serangan dengan pukulan telak di dada masing-masing lawannya.


Bruuukk !!! Dua anak itu jatuh tersungkur. Sambil memegangi dada mereka yang terasa hancur, tidak hentinya meringis kesakitan.


"Hmmm ... ternyata kau juga peserta kompetisi. Aku tidak menduga kita bertemu sebelum kompetisi di mulai," anak yang merupakan pimpinan, maju beberapa langkah. Dia menggulung ujung baju yang dia pakai, " Namaku Satrio Watu, dari Padepokan Pagoda Putih. Secara resmi, aku menantangmu bocah!"

__ADS_1


"Fuuiiihhh!" Danur Cakra meludah ke tanah, "banyak bicara. Sejak awal, aku sudah menantangmu. Malah mengirimkan dua anak tidak berguna ini. Persetan dengan padepokanmu, hari ini kau akan tahu sekuat apa orang yang akan menjadi pemenang kompetisi!"


Tidak ingin banyak bicara lagi, Danur Cakra langsung melompat menerjang. Tentu saja Satrio Watu sudah bersiap dalam jurusnya. 


Kedua anak itu terlibat perkelahian sengit. Mereka saling serang silih berganti. Seorang teman Satrio juga turut membantu serangan.


Danur Cakra bukanlah ayahnya. Meskipun dia memiliki kemampuan yang lumayan di usianya, akan tetapi tetap saja beberapa pukulan mendarat di tubuhnya. Terlepas dari pukulan yang juga berhasil dia daratkan di tubuh kedua lawannya.


Bukan karena kemampuan yang berbeda, akan tetapi cara bertarung yang menyebabkan murid Raditya tersebut tidak bisa menang dengan mudah. Danur Cakra terlalu ceroboh dan mudah terpancing emosi, hingga membuat dia jadi kurang bisa mengontrol pola pertarungan. Ya, Danur Cakra termasuk dalam kategori petarung yang sangat adil. Begitu adilnya hingga terkesan begitu bodoh. Karena dalam pertarungan, intinya adalah kemenangan. Bagaimana otak menciptakan kesempatan tersebut dan mewujudkannya.


Sudah banyak jurus yang berlalu. Sampai-sampai Suhita tidak sempat menghitungnya. Gadis kecil itu terlihat kebingungan. Dia baru tahu jika saudaranya adalah salah satu peserta kompetisi. Bagaimana bisa? Bukankah kompetisi ini hanya diikuti oleh padepokan-padepokan besar saja. Sementara, Danur Cakra hanya dilatih oleh kakeknya.


Dengan demikian, itu berarti mereka yang sedang bertarung adalah para peserta kompetisi yang telah memasuki babak semi final?! Haruskah buang-buang energi dan begiy banyak waktu untuk memperebutkan hal yang tidak pasti. Semuanya terjadi, karena dirinya. Aduh ... Suhita menepuk jidat.


"Bagaimana caranya untuk bisa hentikan kakak?! Dia tidak mungkin mau mendengarkan aku. Akan tetapi, seandainya aku biarkan mereka bertarung sampai ditemukan siapa pemenangnya, itu sama saja aku melukai Kakakku," Suhita berusaha memutar otak coba untuk temukan cara paling bijak.


Bugh! Desh! Diwaktu yang begitu tepat, Danur Cakra berhasil memukul lawannya hingga terjatuh. Tapi sayang, Danur Cakra kehilangan kesempatan berikutnya karena serangannya bisa digagalkan oleh Satrio Watu yang telah gunakan pukulan tenaga dalam untuk mempersulit gerak Danur Cakra.


Satrio Watu tinggal seorang diri setelah rekannya tumbang. Menghadapi Danur Cakra yang memiliki kemampuan satu tingkat di atasnya, tidak serta merta membuat murid Padepokan Pagoda Putih tersebut menjadi gentar. Dia mempersiapkan pukulan tenaga dalam jarak jauh. Begitu juga dengan Danur Cakra, melihat lawannya begitu bernafsu untuk membunuh, dirinya bahkan bisa lebih dari itu.


"Ah, celaka! Apa yang mereka lakukan, mereka hendak saling bunuh?!" Suhita tercekat. Tindakan itu sama sekali tidak perlu. Dengan segera, Suhita melompat ke tengah medan laga.


"HENTIKAAANN !!!"

__ADS_1


__ADS_2