
"Emmm, Den Cakra ... bagaimana? Apa ada informasi?" tanya Tabib Mala dengan pelan setengah berbisik.
Danur Cakra mengangkat bahu, kepalanya menggeleng lemah. Sudah beberapa anak buah yang ia kirim, tapi sampai sekarang tidak seorang pun dari mereka yang berhasil menemukan apa yang dicari.
"Tabib, apa mungkin kau yang harus keluar mencarinya? Siapa tahu, ada diantara kenalanmu yang menyimpan sumberdaya tersebut," ucap Danur Cakra.
Tabib Mala nampak berpikir keras, dia sendiri tidak tahu di mana keberadaan Lidah Cumi, yang mereka cari. Terakhir mungkin puluhan tahun yang lalu terdengar kabar kemunculan sumberdaya terbaik yang konon berasal dari dunia lain. Sampai sekarang tidak terlacak keberadaannya.
"Apa lukaku separah itu?" tanya Kemuning.
Danur Cakra menoleh, tanpa menjawab dan hanya menghela napas. Kemudian Danur Cakra duduk di tepi balai, di dekat Kemuning.
Kendati telah melihat kebaikan hati Danur Cakra, tapi terus terang saja Kemuning masih dihantui oleh perasaan ketakutan. Trauma yang dia alami sepertinya akan sukar untuk sembuh. Hampir tidak pernah Kemuning menemukan seorang pria yang baik, rata-rata mereka datang hanya untuk kepentingan pribadi semata.
"Dengan sumberdaya, saya yakin luka dalammu akan bisa disembuhkan hingga tuntas. Namun jika kita tidak bisa mendapatkannya, maka hanya satu orang yang bisa sembuhkan dirimu. Tapi terus terang, aku tidak tahu di mana keberadaannya sekarang," ucap Tabib Mala.
"Si-siapa Tabib?" tanya Kemuning.
"Tabib Titisan Dewa. Saya sangat yakin, jika berjodoh bisa bertemu dengannya maka Tabib Dewa akan obati dirimu. Tapi ... ya, sudahlah. Lebih baik kita berusaha lebih dulu, kedepannya pasti akan ada jalan keluarnya."
Kemuning terdiam. Tabib Dewa, ya? Apa mungkin Tabib Dewa mau mengobati dirinya? Sementara pimpinan mereka, Ki Wadas memiliki hubungan dengan kelompok pemberontak Watu Galing dan Gunda Soka. Dua nama tersebut merupakan orang yang pernah bermasalah dengan Tabib Dewa. Bahkan Watu Galing pernah membakar kereta Tabib Dewa. Mereka menyerang Tabib Dewa, dikarenakan Tabib Dewa mengobati seorang pejabat korup yang merupakan musuh Watu Galing. Baiknya lupakan saja meminta bantuan Tabib Dewa. Benar kata Tabib Mala, jika berusaha pasti Tuhan akan berikan jalan yang terbaik.
"Aku bisa membawamu pada Tabib Dewa. Tapi setidaknya kau butuh satu atau dua hari lagi supaya fisikmu lebih kuat untuk perjalanan jauh. Aku yakin, saat ini Tabib Dewa berada di Kota Raja."
Kemuning tersentak mendengar penuturan Danur Cakra. Kota Raja? Ah, tidak - tidak! Tidak mungkin dia kembali ke sana.
"Tidak! Tidak! Aku tidak mau!"
"Kau takut jika aku akan berbuat tidak senonoh?! Baiklah. Kalau itu yang menjadi maumu, semoga secepatnya ada jalan keluar," Danur Cakra bisa menangkap rasa ketakutan yang begitu besar menyelimuti Kemuning. Tidak masuk akal jika dia harus membujuk atau memaksa gadis itu untuk pergi.
"Permisi !!!" dari luar ruangan, terdengar suara Arsita meminta untuk masuk.
"Iya, silahkan masuk!" jawab Tabib Mala.
Arsita masuk bersama dengan beberapa teman. Termasuk Rangga dan dua orang pria lain. Melihat gelagat mereka, rasanya tidak nyaman untuk Danur Cakra jika tetap berada di dalam ruangan. Sebagai seorang yang tidak dikenal, dia bisa memahami penilaian orang terhadap dirinya. Danur Cakra hendak bangkit, tapi siapa sangka Kemuning justru menahannya.
"Ah, Tuan. Tetaplah di sini, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan," kata Kemuning.
Pantat Danur Cakra yang baru saja terangkat beberapa inci, kembali mendarat dan duduk. Dia hanya memperbaiki posisi. Lumayan, bisa duduk di samping putri jelita. Pasti di dalam hati Rangga dan teman-temannya, darah bergejolak menyesak ke ulu hati. Tentu saja Danur Cakra menikmati hal tersebut.
"Ada apa ini?" tanya Tabib Mala.
"Kami mencurigai seseorang sebagai penyusup. Keluar masuk gua dengan sesuka hati, karena itu kami mencoba untuk mencari tahu," jawab Rangga.
Meskipun kalimat terlontar dengan wajar, tapi terasa janggal karena hanya ada satu orang asing di tempat itu. Bicara Rangga seolah-olah menuduh bahwa Danur Cakra adalah orang yang mereka curigai.
"Teman-teman ... orang yang kalian maksud Pendekar Cakra kah? Tidak ada orang lain di sini. Ah, sepertinya ada kesalahpahaman, kalian harus mendengarkan penjelasan ku," Kemuning yang menyahut. Bicaranya begitu lancar, dengan suara yang tidak terdengar lemah.
__ADS_1
Sesungguhnya Kemuning sendiri merasa aneh atas hal itu. Dia sangat yakin, sekarang dirinya akan sanggup untuk berjalan bahkan beberapa meter. Aneh sekali, padahal sebelumnya tubuhnya begitu lemah dan terjatuh ketika dipaksa untuk berjalan beberapa tindak. Tapi sekarang ... ya, Kemuning sadar. Perasaan lebih baik dia rasakan bukan karena istirahat beberapa saat. Melainkan setelah tubuhnya disentuh oleh Danur Cakra. Pasti pemuda itu yang diam-diam terus membantu mengalirkan energi murni.
Dengan kata lain, kondisi tubuh Kemuning yang sebenarnya jauh lebih buruk dari yang terlihat. Dia masih bertahan hidup dan semakin terlihat ada kemajuan kesembuhan hanya dikarenakan tubuhnya mendapatkan asupan hawa murni secara terus-menerus. Dan celakanya Tabib Mala merupakan orang pertama yang telah tertipu oleh keadaan. Pantas saja kalau tabib itu memuji kemampuan energi murni yang Kemuning miliki. Luar biasa! Sekelas tabib pun bisa dikelabui.
"Kemuning, bahkan kau belum tahu siapa dirinya, harusnya kau buka mata atas segala keanehan ini," Rangga terlihat tidak terima mendapati Kemuning justru membela Danur Cakra.
"Kakak, apa maksudmu? Apa kau punya suatu bukti atas tuduhanmu? Kita sedang dalam kondisi yang amat sulit, jadi saya mohon untuk tidak mengedepankan ego. Jika kita justru bertengkar, berapa lama bisa bersembunyi?" Kemuning menatap Rangga dengan mata berkaca.
"Jika kalian hendak bertengkar, sebaiknya cari tempat lain yang cukup jauh. Saya lelah, mau istirahat," ucap Kemuning kemudian.
Rangga dan teman-temannya hanya bisa menunduk. Perkataan Kemuning tidak keliru. Jika tiba-tiba prajurit kerajaan menyergap mereka, lalu apa yang bisa dilakukan ketika sapu tercerai berai?
Satu persatu, mereka keluar ruangan. Namun dari lirikan mata tidak menutupi kalau dalam hati semakin menggumpal rasa tidak senang pada sosok Danur Cakra, Pendekar congkak yang sama sekali tidak memiliki sopan santun.
"Jika bukan karena dirimu, aku bisa pastikan besok pagi mereka tidak lagi berkesempatan menatap matahari," nada kesal tidak tertutupi dalam kalimat Danur Cakra.
"Apa katamu? Aku, aku tidak salah dengar?!" tanya Kemuning terkejut. Dia menatap tidak percaya pada Danur Cakra. Mengapa pemuda ini terdengar begitu kejam, ataukah dia yang telah salah? Ekspektasi nya terlalu tinggi, mengarah pada kebaikan. Benar saja Rangga barusan, Kemuning sama sekali tidak mengenal siapa Danur Cakra.
"Sialan! Aku salah bicara. Pasti gadis ini akan takut lagi padaku. Huuuhhh ... tenang ... tenang ... aku harus persiapkan kail terbaik untuk tangkapan ikan yang sepadan," batin Danur Cakra.
°°°
Lidah Cumi, sumberdaya tersebut adalah sumberdaya yang sangat langka, sulit untuk bisa didapatkan meski hanya sekerat kecil. Bahkan bentuknya pun jarang yang pernah melihat, hingga tingkat kesulitan untuk mencari pun semakin tinggi. Bertanya pada orang yang ahli. Merupakan satu-satunya cara, tapi bukan tidak mungkin pula malah justru dibohongi. Di dunia ini mana ada orang yang bisa dipercaya.
"Apa yang mereka bicarakan?" dari jauh Kemuning melihat Cakra dan Tabib Mala bercakap-cakap. Danur Cakra terlihat memberikan satu kantong uang emas pada sang tabib. Entah untuk keperluan apa, Kemuning sama sekali tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Ah, ada ya jalan ke sini?" Kemuning terheran-heran menemukan pemandangan yang begitu aneh.
Tanpa Kemuning sadari, semuanya telah direncanakan oleh Danur Cakra. Sejak awal Kemuning mengikutinya, Danur Cakra sudah tahu, kemudian iseng mengerjai gadis jelita itu.
"Huuuhhh ... huuuhhh ... capek sekali," Kemuning kelelahan setelah berjalan cukup jauh. Tenaganya berkurang drastis.
Untuk sekadar mengatur napas, Kemuning coba untuk duduk di sebuah batu pipih. Sejak pagi, dia belum bertemu dengan Danur Cakra makanya dia rasakan tulangnya seolah remuk. Hidupnya dalam beberapa hari ke belakang begitu tergantung pada Danur Cakra. Kemuning sadar, dia tidak bisa seperti ini terus. Tapi hal apa yang bisa dia perbuat?
"Kenapa berhenti? Tidak jauh lagi kita akan sampai."
Kemuning terkejut bukan kepalang ketika satu sapaan terdengar dari arah belakangnya. Bukankah sejak tadi Danur Cakra ada di depan? Bagaimana mungkin dia justru yang datang menyusul. Kemuning gelagapan, tidak bisa berkata apa-apa.
"Di depan sana, kau bisa melihat sungai dan pemandangan lembah yang sangat indah. Aku rasa bisa membantumu untuk meredam stres. Kalau jiwamu tentram, bukankah pikiran akan ikut jernih? Jadi, tidak perlu berburuk sangka pada orang."
Kemuning benar-benar mati kutu. Yang bisa dia lakukan hanyalah menundukkan wajahnya dalam-dalam. Sungguh Danur Cakra telah mempermalukan dirinya habis-habisan.
"Ihhh! Apa-apaan ini, turunkan aku!" teriak Kemuning saat Danur Cakra membopong tubuhnya, membawa untuk meneruskan perjalanan.
Danur Cakra tidak menggubris. Justru menambah kecepatan langkahnya, hingga setengah melayang di atas tanah. Kemuning tidak bisa berbuat banyak, dia pasrah andaipun Danur Cakra membawanya kabur.
Dengan menggunakan lari cepat, Danur Cakra dengan mudah bisa menjangkau ujung gua. Jalan rahasia yang dia temukan, membawanya pada pemandangan yang indah. Benar yang dia katakan, sungai dan lembah menyambut keduanya dengan nuansa damai penuh ketenangan.
__ADS_1
"Mengapa kau begitu baik padaku?" tanya Kemuning memecah keheningan.
"Andaipun ada, mungkin kau salah satu dari sedikit orang yang berkata demikian. Kau harus tahu, aku bukanlah orang baik-baik. Aku seorang buronan kerajaan, dan pernah mencelakai beberapa orang Tumenggung. Wajar jika kau begitu ketakutan dekat denganku," jawab Danur Cakra.
Sengaja Cakra berkata begitu, bicara yang sebenarnya, supaya Kemuning tidak terlalu berkhayal dalam ketidak tahuan menganggap Cakra sebagai sosok pahlawan baik hati. Padahal kenyataannya, dia tidak seperti demikian. Tidak masalah dikenal sebagai seorang pembunuh, dari pada tumbuh sebagai orang yang munafik.
"Seseorang mengirimmu untuk menangkapku?" tanya Kemuning dengan suara sedikit bergetar. Bagaimanapun dia sembunyikan, tetap saja rasa ketakutan itu muncul.
"Tidak! Aku bahkan tidak tahu siapa dirimu, latar belakang keluargamu dan mengapa kau menjadi incaran orang-orang. Lagipula, aku tidak terbiasa bekerja untuk orang lain. Jika pernah aku selamatkan kau, itu hanya suatu kebetulan. Pertemuan kita pun suatu kebetulan semata."
Kemuning mengangguk, dia harus percaya pada jawaban Danur Cakra. Karena secara logika, tidak mungkin Cakra bersikap baik jika hanya untuk membawa dirinya pada Tumenggung Surotanu ataupun bangsawan lain. Dia bisa lakukan kapan saja.
"Lalu ... untuk apa kau berikan begitu banyak kepeng uang emas pada Tabib Mala? Apa yang kau ingin dia kerjakan?"
"Menemukan Lidah Cumi. Mungkin ada diantara orang yang tabib kenal menyimpan sumberdaya itu. Aku tidak bisa membiarkan dirimu terlalu lama menderita. Lagi pula, kau tidak mau untuk ku bawa berobat pada Tabib Titisan Dewa, ya apa boleh buat."
"Maaf, aku sudah begitu banyak merepotkanmu. Terima kasih ya, semua kebaikanmu tidak mungkin bisa aku balas," suara Kemuning melemah. Segenap rasa curiga dan ketakutan coba untuk ia singkirkan. Pelan-pelan dia coba untuk mengenal sosok Cakra lebih jauh.
"Jangan sungkan. Aku justru senang bisa membantu."
Satu hal yang sama sekali tidak Kemuning sadari, bahwa dirinya tengah melangkah menuju mulut menganga seekor buaya darat. Rata-rata dari kebaikan yang pria lakukan pada seorang gadis, merupakan jurus jitu teknik licik sosok buaya. Saat buaya tersebut mendekat Kemuning lupa kalau dia termasuk penyayang binatang.
"Satu hal lagi. Mengapa kau rela mengorbankan dirimu, mentransfer banyak energi murni untuk bantu aku? Bagaimana jika hal buruk justru terjadi padamu?"
"Aku hanya tidak ingin kau terluka. Apa pun akan aku lakukan, asalkan kau baik-baik saja. Jangan khawatir, aku selalu bisa menjaga diriku," Danur Cakra tersenyum, bagaimanapun kerasnya batu, dengan tetesan air pada saatnya akan berlubang.
Kemuning tersipu, untuk pertama kalinya dia membalas tatapan mata Danur Cakra. Entah apa yang menghiasi pikirannya, malu, terharu, atau justru senang. Yang terasa jelas yakni dadanya berdebar kencang.
°°°
Sementara itu, di luar gua persembunyian. Ki Wadas telah kembali bersama dengan Watu Galing, Gunda Soka dan sekelompok kecil anak buahnya. Entah apa alasannya hingga Ki Wadas membawa mereka mendatangi satu-satunya tempat persembunyian yang aman. Kontan saja Jatmiko keberatan karenanya.
"Aduuhhh ... mengapa bisa kacau begini?" Jatmiko menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal.
"Ayah, harusnya pimpinan tidak boleh mengambil keputusan sendiri. Bagaimanapun Ayah yang pertama menemukan gua ini. Sialan!" ucap Rangga yang juga kesal.
"Kak Rangga benar. Bagaimana kalau ada dari mereka, merupakan pengkhianat?!" Arsita menepuk jidat. Dia segera teringat pada Kemuning.
"Iya, sekarang juga cepat kalian beritahu dia untuk tidak sembarang keluar kamar," perintah Jatmiko.
Buru-buru Arsita menuju ruangan tempat khusus Kemuning dirawat. Namun betapa terkejutnya dia ketika tidak menemukan siapa-siapa, bahkan Tabib Mala pun tidak ada, termasuk pula Danur Cakra.
Arsita cepat kembali dan melaporkan hal tersebut pada Ayah dan Kakaknya. Kecurigaan mereka terbukti, Kemuning dibawa kabur oleh Danur Cakra. Tapi apa mungkin Tabib Mala ikut terlibat?
"Secepatnya kita harus temukan mereka. Aku yakin, mereka belum jauh meninggalkan tempat ini! CEPAT!"
Suasana gua mendadak menjadi ramai. Kemuning diculik! Kata itu mengaung memenuhi seisi gua.
__ADS_1