Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Fragmen Tanah ll


__ADS_3

"Hahaha! Hahaha!" tawa Danur Cakra seketika meledak setelah tangannya berhasil menggenggam Fragmen Tanah.


Pancaran cahaya yang semula ada pada Fragmen itu perlahan berjalan merayap dan masuk ke dalam tubuh Danur Cakra, menyatu ke dalam nadi Danur Cakra yang kontan membuat dirinya semakin kuat.


Seperti tanah yang mampu menampung apa pun yang bergerak di atasnya, karomah yang terkandung di dalam Fragmen itu akan membuat tubuh Danur Cakra sekuat karang yang tak goyah meski setiap saat ombak menerjang.


"Huuuhhh ..." asap putih yang halus, mengepul saat Cakra menghembuskan napas dengan dalam, tatkala dia berhasil menyatukan Fragmen Tanah ke dalam tubuhnya.


Keringat mengalir membasahi dahi, tapi setelah itu Danur Cakra merasakan jika tubuhnya terasa sangat ringan. Seperti semalam minum jamu, dia merasa sekujur tubuhnya menjadi sehat.


"Ini bagus!" ucap Danur Cakra dalam tawa.


Dan ketika Danur Cakra sedang merayakan kemenangannya, dari udara muncul bayangan hitam besar yang semakin lama semakin dekat. Saat bayangan itu mendarat, keindahan terpancar dari bulu-bulu yang cantik warna-warni.


Danur Cakra memicingkan mata, untuk kemudian melempar senyum penuh kemenangan. Siapa lagi, satu-satunya yang bisa memasuki alam evolusi Cakra hanyalah Putri Foniks. Kasta tertinggi bangsa siluman itu menatap pada Danur Cakra dengan rasa tidak percaya. Sebenarnya dia menyesal juga, karena ceroboh meninggalkan Fragmen Tanah. Hingga dengan mudah Cakra kembali datang dan mengambilnya. Hanya saja, Putri Foniks tidak menduga jika Cakra akan berhasil dalam waktu yang lebih cepat dari prakiraan.


"Hai ... halooo ..." Cakra melambaikan tangannya, mengejek ekspresi Putri Foniks yang kaget.


"Kau berse*tubuh dengan adik kembarmu itu? Aku kira kau ..."


"Kepa*rat! Tutup mulutmu! Aku bukanlah manusia rendah seperti yang kau maksud!" Danur Cakra membentak dengan suara tinggi, sebelum Putri Foniks menyelesaikan perkataannya.


"Wow! Berani kau memaki aku?! Kau pikir, dengan Fragmen Tanah yang baru kau dapatkan telah membuat aku berada di bawah mu?!" Putri Foniks tertawa mengejek.


"Kau boleh rendahkan aku, kau bebas menghinaku. Tapi jangan sekali-kali kau bawa-bawa adikku. Bahkan dia lebih baik dari sepuluh Foniks agung sekali pun!"


"Ya, ya, ya, baiklah, anggap aku setuju. Lagi pula, kedatanganku sekadar untuk memberi selamat. Selamat karena sekarang kau telah seutuhnya menjadi bagian dari kami. Dan satu hal yang harus kau camkan baik-baik. Setiap elemen kekuatan di dunia kita sekarang, diwajibkan untuk menjalankan satu misi. Kau tunggu saja, ada misi terbaik yang harus kau kerjakan!"


Putri Foniks mengurai senyum, sebelum kemudian wujudnya menghilang dari pandangan.


Danur Cakra cuma mengangkat alis mendengar apa yang dikatakan oleh Putri Foniks. Apa itu misi?! Jika akan berikan kebaikan untuknya, tentu Cakra akan pertimbangkan.

__ADS_1


Danur Cakra kembali ke alam dunia. Persetan dengan misi wajib yang dimaksud oleh Putri Foniks, dan untuk Fragmen kekuatan selanjutnya pastilah Putri Foniks akan mengabarkan.


"Hei! Berhenti!" satu teriakan terarah pada Danur Cakra.


Bersamaan dengan teriakan itu, dari berbagai arah bermunculan orang-orang yang berlarian ke arah Danur Cakra. Mereka segera mengepung Cakra yang kedapatan berada di rumah Ki Bekel Kamto.


Cakra menyelinap masuk ke dalam kamar tanpa seorang pun tahu. Bahkan pasangan pengantin baru yang menuntaskan malam pertama pun tidak sadar ketika kain putih yang menjadi alas tidur mereka sudah diambil oleh Cakra.


"Angkat tangan, jangan coba-coba bergerak!" ucap kepala penjaga.


Danur Cakra tidak beraksi, dia melihat beberapa pengawal mengambil borgol. Menyaksikan para pengawal itu ragu-ragu, barulah Cakra bersuara, itupun hanya tertawa. Detik selanjutnya Danur Cakra memetikkan jarinya, menciptakan angin kencang yang tiba-tiba datang berhembus.


"Anak cacing, berani sekali menggertak kobra!" desis Danur Cakra.


Pukulan tenaga dalam yang Danur Cakra lepaskan berhasil membuat barisan para pengawal jadi kalang kabut. Tidak jarang dari mereka yang sampai jatuh tersungkur. Dan saat mereka bangkit, sosok Danur Cakra telah lenyap entah ke mana.


Tong! Tong! Tong! Seorang pengawal menabuh kentongan seraya berlari, mengabarkan pada pengawal lain bahwasanya ada seorang penyusup.


Kemampuan yang tidak umum ditunjukkan oleh Danur Cakra, membuat mereka jadi ketakutan sendiri. Para anak buah Bekel Kamto mengaitkannya dengan hal-hal mistis.


"Ya, sudah. Kalau begitu kita periksa keadaan Ki Bekel dan keluarganya ..."


°°°


Aki Calincing yang juga melintasi jalur yang sama dibuat terkejut saat dia menemukan sosok Bewok Ireng yang sudah tidak karuan bentuknya. Sepertinya kemampuan sihir yang Aki Calincing sertakan tidak cukup kuat untuk menahan pergerakan para putra Mahesa.


"Hmmm ... kiranya Raditya telah mempersiapkan bocah-bocah itu guna kemajuan mereka di masa depan. Aku tidak menyangka ..." ucap Aki Calincing pelan.


Aki Calincing melompat ke atas sebuah batu besar. Seolah bisa mengetahui bahwa di bawah sana terdapat sebujur bangkai yang tidak lagi bernyawa, Aki Calincing langsung melepaskan satu pukulan cahaya dari jarak jauh.


Bllzzz! Cahaya itu langsung menyala, lalu memberikan kekuatan pada sang mayit untuk kembali bisa bangkit dan berinteraksi dengan manusia. Ilmu sihir yang amat langka.

__ADS_1


"Kau cari di mana teman-temanmu. Bawa seorang pendekar kepadaku!" perintah Aki Calincing.


Boneka Sihir itu lekas mengangguk. Dengan tubuh yang masih berlumuran darah, dia lekas berjalan membawa Aki Calincing menuju tempat mayat para pendekar yang lain.


Terlihat jika di sana merupakan bekas pertarungan. Sementara si pendekar yang Aki Calincing temukan ialah dia yang melarikan diri.


"Hmmm ... membeku. Tapak Penakluk Naga," gumam Aki Calincing.


Melihat mayat yang bergelimpangan, Aki Calincing mengetahui penyebab kematian mereka. Hanya saja, dia sedikit kaget karena tidak menduga kalau pemilik Tapak Penakluk Naga yang melakukannya. Mahesa atau Raditya, tapi apa mungkin?!


Aki Calincing bangkit, kemudian berjalan mundur. Dia mencari tempat yang cukup tinggi untuk bisa melihat seluruh mayat yang ada, sebelum kemudian merapal mantra.


Aura menyeramkan terpancar saat ilmu sihir pembangkit arwah menyelimuti. Tubuh manusia yang semula tidak lagi bernafas kembali membuka mata, di bawah pengaruh kekuatan sihir.


Aki Calincing mengurungkan niatnya untuk bertanya mengenai siapa orang yang telah mencelakai mereka, karena percuma saja tidak seorang pun dari mereka yang bisa mengingat masa lalu.


Sebelum Aki Calincing menurunkan perintah, memberikan boneka sihir arahan atas misi yang diemban, tanpa di duga sekelebat bayangan telah kembali membuat seorang boneka sihir kembali celaka.


Baaammm! Pukulan keras nan dahsyat menghantam kepala seorang boneka sihir, membuat kepala itu hancur lebur.


"Kepa*rat! Siapa kau, berani sekali ikut campur urusanku!" dengan geram, Aki Calincing mengumpat.


Mata Aki Calincing menatap tajam, tubuhnya sampai bergetar karena amarah. Sosok pemuda di hadapannya benar-benar menguras sisa kesabaran yang Aki Calincing miliki.


"Hahahaha !!!" justru tawa yang didapat. Seolah meremehkan, pemuda itu mengejek seluruh boneka sihir termasuk Aki Calincing sendiri.


"Habisi dia!" perintah Aki Calincing pada boneka sihir.


Sebelum boneka sihir bergerak, pemuda yang datang telah lebih dulu menyerang. Dari telapak tangannya berlompatan puluhan bayangan naga berwarna hitam, menghantam satu persatu boneka sihir.


"Ah?!" Aki Calincing mengerutkan dahi, dia bisa merasakan kalau pemuda yang menjadi lawannya itu bukanlah pemuda sembarangan. Energi siluman pekat menyelimuti saat dia mengerahkan kekuatan.

__ADS_1


Sangat menarik! Jika Aki Calincing bisa menguasai tubuh lawannya dengan ilmu sihir, maka dia akan mendapatkan mesin pembunuh yang luar biasa. Akan tetapi, keadaan pula bisa berubah sebaliknya saat keadaan tidak berpihak.


__ADS_2