Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Bekerja Sama


__ADS_3

"APA?! Bukankah itu si Cakra?!" mata Raka Jaya terbelalak lebar ketika melihat seorang anak kecil sebaya dengan dirinya berlompatan di antara celah batu.


Raka Jaya masih tidak bergeming dari tempatnya sembunyi. Dari tempat itu, dia bisa melihat hampir seluruh medan pertempuran.


Yang Raka Jaya tidak habis pikir ialah ke mana tujuan Cakra. Anak kecil sebaya dirinya itu, belum lama tadi masih bersembunyi tapi sekarang sudah berlari melewati orang-orang yang bertarung. Terlihat, jika kemampuan ilmu meringankan tubuh yang Cakra miliki sudah sangat bagus.


"Apa aku ikuti saja dia?" gumam Raka Jaya dalam hati.


Sementara itu, Danur Cakra telah memasuki hutan lebih dalam. Dia telah berada di bibir sebuah tebing tinggi. Mengamati keadaan di sekitarnya.


Sudah sejak tadi siang Danur Cakra mengawasi hutan. Beberapa kali dia coba mendekat, tapi selalu gagal karena begitu banyak orang yang melakukan penjagaan. Kali ini, pertarungan di pinggir hutan sana yang membuat perhatian para penjaga itu jadi terbelah hingga Danur Cakra bisa masuk dengan mudah.


Danur Cakra sudah meneliti hampir setiap sudut jalan, dia banyak tahu mengenai seluk beluk hutan tersebut. Jadi, meskipun kedatangannya kali ini di tengah malam, Danur Cakra tidak lagi khawatir akan tersesat atau salah arah. Setelah memastikan para pendekar kuatnya telah keluar terpancing oleh peperangan, maka Danur Cakra akan segera memasuki lembah guna mencari gua yang merupakan sangkar para penjahat.


"Sialan, apa yang kau lakukan. Kau membuntuti aku?!" Danur Cakra nampak murka mengetahui Raka Jaya berada di seberangnya. Kalau saja tidak khawatir akan ada orang yang mendengar, sudah pasti Danur Cakra akan langsung melepaskan pukulan tenaga dalam saat itu juga.


Kepalang basah. Raka Jaya yang semula tidak berniat menampakkan diri, terpaksa keluar dari persembunyian setelah ketahuan. Danur Cakra memiliki penglihatan yang berada di atas perkiraan Raka Jaya.


"Cakra, maaf. Aku tidak memiliki maksud apa-apa. Aku ... aku hanya takut jika hal buruk terjadi padamu," Raka Jaya mendekat tanpa ada rasa takut. Karena memang dia tidak memiliki maksud apa-apa.

__ADS_1


Danur Cakra menatap dengan begitu dalam, seolah hendak menyelami dasar hati Raka Jaya. Hingga akhirnya Danur Cakra tidak bereaksi meskipun hatinya belum bisa sepenuhnya menaruh percaya pada Raka Jaya. Yang tidak lain adalah saudara tirinya. Hanya saja, mereka saling tidak mengetahui.


"Kau pergi dengan seorang diri, memasuki kawasan yang merupakan markas penjahat. Apa kau sama sekali tidak memiliki rasa takut?" tanya Raka Jaya.


"Sayangnya, aku terlalu membuang rasa itu jauh dari pikiran. Aku melakukan segala kepentingan ku sendiri, hal paling baik untuk dirimu yakni jangan terlalu ikut campur," tukas Danur Cakra.


Raka Jaya menghela napas panjang. Dia hanya membalasnya dengan senyuman. Raka Jaya meyakinkan Danur Cakra untuk tidak meragukannya. Datang kembali ke hutan itu memang bukan ide bagus, tapi siapa sangka Raka Jaya justru menemukan banyak hal yang tidak dia duga sebelumnya.


"Kau tahu 'kan, incaran para pembunuh itu adalah kita. Anak-anak yang akan ikut serta dalam kompetisi. Apa pun cara yang mereka gunakan, percayalah itu hanyalah umpan untuk kita menelan mata kail."


Danur Cakra tersenyum masam. Sudah terduga olehnya, jika seorang anak yang berasal dari satu padepokan besar pasti begitu memperhitungkan nama baik dan pengaruh padepokannya. Tanpa mau tahu atas kejadian yang sebenarnya.


"Apa kalian sadar jika sebenarnya kalian telah dibodohi oleh pemikiran kalian yang terlalu maju itu? Ibarat ikan, kalian terlalu menghindari mata kail. Tanpa sadar jika lubang kecil yang kalian masuki ialah perangkap di dalam bubu, tanpa jalan keluar."


Danur Cakra justru tertawa mendengar pernyataan Raka Jaya yang dia anggap lucu. "Apa kau yakin kau adalah satu-satunya orang yang mereka inginkan? Asal kau tahu, sama sekali aku tidak perduli dan tidak mau tahu akan hal itu."


"Kemampuanmu sangat besar. Dengan ikut kompetisi, kau bisa perkenalkan dirimu juga padepokanmu pada dunia persilatan. Kau akan diakui dan pastinya memiliki kesempatan besar untuk lebih cepat maju dan berkembang. Disaat orang-orang berlomba menampilkan yang terbaik, kau malah tidak tertarik. Harus aku katakan kau itu sangat aneh."


"Aku lebih tertarik untuk bisa mengambil pusaka yang tersimpan di dalam gua tempat bersarangnya para penjahat itu. Apa kau juga tertarik?!" Danur Cakra mengangkat sebelah alisnya.

__ADS_1


"Tunggu, tunggu, tunggu. Hei, aku ini masih waras. Aku selalu mengukur atas apa yang akan mampu untuk aku lakukan, melepas apa yang terlalu berat di pundakku. Kau tahu, melakukan sesuatu yang berada di luar batas kemampuan, hanya akan menyiksa diri sendiri," kata-kata petuah meluncur dari mulut Raka Jaya.


Danur Cakra kembali tersenyum masam. Berita yang Raka Jaya katakan begitu mengusik hatinya. Siapa orangnya yang akan melewatkan kesempatan emas itu. Mengikuti kompetisi, kemudian menang dan mendapatkan pengakuan dari dunia persilatan. Dengan demikian, Danur Cakra akan semakin dekat meraih mimpinya. Menjadi seorang pendekar yang terkenal dan disegani oleh orang-orang.


"Aku bukan siapa-siapa, hanya seorang anak petani kecil yang hina. Sama sekali tidak memiliki kans untuk sekadar bisa mencantumkan nama dalam kompetisi. Apa lagi bermimpi untuk ikut perlombaan. Aku sangat tidak beruntung," Danur Cakra memasang wajah yang murung. Sangat jika sayang harus melepas kesempatan emas tersebut dengan begitu saja.


"Begini saja, bagaimana kalau kau ikut denganku. Kita laporkan tempat persembunyian para penjahat ini pada pihak penyelenggara kompetisi, lalu aku akan memohon untuk kau bisa ikut serta dalam perlombaan," saran Raka Jaya.


Danur Cakra menggeleng lemah. Dia menjelaskan jika markas penjahat yang ada di dalam lembah itu bukanlah kelompok penjahat berjubah hitam seperti yang disangkakan. Melainkan hanya merupakan sebuah teknik pengalihan.


Penjahat Jubah Hitam sengaja membuat para penjahat penghuni lembah seolah bersalah hingga memancing banyak para pasukan pengawal yang berdatangan. Sementara, Penjahat Jubah Hitam sendiri mungkin sedang melaksanakan rencana mereka di tengah kota.


"Hahaha! Itu hanyalah dugaan pribadiku semata. Lagi pula kau yang menjadi sasaran utama mereka sekarang berada di tempat ini. Bagaimana rencana mereka bisa dikatakan sukses jika kau saja sampai sekarang masih hidup."


Danur Cakra tidak memperdulikan saran dari Raka Jaya. Dia tetap nekad untuk memasuki lembah guna mencari keberadaan pusaka yang dia maksudkan.


"Hei, apa boleh aku ikut membantumu? Anggap saja ini sebagai tanda persahabatan kita," Raja Jaya mengejar langkah saudaranya itu.


"Dengar, aku tidak butuh teman apa lagi rekan. Aku bisa urus pekerjaanku sendiri. Kau pulang saja, beritahu kelompokmu kejadian yang sebenarnya," Danur Cakra menolak.

__ADS_1


Dasar keras kepala. Keduanya malah saling diam. Sebelum kemudian Danur Cakra terpikirkan satu syarat. Raka Jaya diperbolehkan untuk ikut, tapi tidak berhak atas apa pun yang bakal mereka peroleh kecuali jika ketahuan dan celaka.


"Baik, aku setuju!" mereka sepakat melakukan kerja sama.


__ADS_2