Pendekar Elang Putih 2

Pendekar Elang Putih 2
Pertarungan, dimulai


__ADS_3

Suhita menghentikan laju kudanya ketika tiba di pertigaan jalan. Harusnya Kencana Sari sudah menunggu di sana, akan tetapi tidak terlihat siapa pun. Apa mungkin Kencana Sari yang terlambat atau justru telah terjadi sesuatu?


Memang tidak ada tanda-tanda bekas pertarungan di tempat itu. Tapi juga tidak menutup kemungkinan penyergapan pada Kencana Sari dilakukan sebelum dia tiba di sana atau bahkan mungkin di penginapan. Tentu saja Suhita bukan tipe orang yang berburuk sangka, tapi penemuan di beberapa hari terakhir memaksa Hita untuk berpikir lebih rasional.


Suhita melirik pada Danur Cakra, "harusnya mereka ada di sini. Tapi sepertinya mereka sedikit terlambat."


"Tabib, saya pikir lebih baik untuk Tabib lanjutan perjalanan. Dan saya yakin jika kedua teman Anda sudah berada di tempat yang aman," jawab Danur Cakra.


"Bagaimana kau begitu yakin?" Suhita mengerutkan dahi.


"Tentu saja. Kita sedang dalam permainan, menjadi pemain yang baik adalah tugas kita. Pernah dengar bandar judi yang gulung tikar? Sering terjadi, itu dikarenakan mereka salah memilih lawan. Mari, silakan Tabib ..."


Purwa Anom menatap Danur Cakra dengan dalam, dia tahu jika Cakra merupakan seorang pendekar cerdas dengan insting yang baik. Meskipun bicara tanpa bukti, nyatanya dengan mudah dia berhasil membuat Tabib Dewa percaya.


Jika Kencana Sari dan juga Kemuning sudah berada di tempat yang aman, itu artinya ada kejadian tidak aman yang telah terjadi. Ah, Cakra hanya menduga. Bagaimana bisa tahu jika tidak melihat.


"Siapa sebenarnya orang ini? Aku harus lebih berhati-hati, jangan sampai dia menjegal di tengah jalan. Kemampuannya sukar untuk ditebak," batin Purwa Anom.


Pasukan Bunglon, sangat menguasai teknik bersembunyi, strategi yang mereka terapkan sukar untuk dibaca lawan. Namun lagi-lagi, tugas mereka hanya untuk membawa Tabib Dewa jauh dari kepungan para pendekar. Di sana, ada sejumlah pendekar lain yang miliki peran masing-masing. Kemungkinan besar, Jenderal Muda akan turun tangan.


Eeeaaakkk !!! Seketika mereka menarik tali kekang kuda, membuat kuda yang ditunggangi berhenti mendadak hingga kedua kaki depannya terangkat tinggi.


Beberapa mayat tergeletak tepat di tikungan jalan. Sementara ada seorang wanita berpakaian putih sedang menangis tersedu di tepi jalan. Dia meratapi kepergian suami dan anaknya.


Tentu saja Suhita langsung melompat turun dari atas kuda, tanpa berpikir berlari menghampiri wanita yang menangis.


"Huuuu ... huuu ... suamiku, mengapa kau pergi secepat ini? Mengapa kau tinggalkan aku sendiri ..." ratapan si wanita menjadi satu-satunya suara yang terdengar.


"Bibi ... apa yang terjadi?" tanya Suhita.


"Tabib ... lihat anak dan suamiku, mereka mati mengenaskan ..." tanpa mengangkat wajah, wanita itu menjawab.


Tidak ada yang aneh, sangat wajar atas hal yang dilakukan oleh wanita itu. Kehilangan anggota keluarga yang disayang, tentu merupakan pukulan batin yang amat menyakitkan.


TEP! Tangan Danur Cakra menahan pundak Suhita, agar Suhita menghentikan langkahnya. "Hati-hati!"


Dengan satu gerakan cepat, Danur Cakra telah hilang dari punggung kuda, sekarang dia telah berdiri di depan Suhita. Menatap pada wanita paruh baya yang masih menangis.


"Kau sangat luar biasa! Bahkan tanpa melihat, kau tahu bahwa orang yang datang ialah seorang Tabib, sungguh aku sangat terkesan atas sandiwara kalian," ucap Danur Cakra, yang seketika membuat ratap dan tangis si wanita seketika terhenti.


"Kalau begitu, biar kau saja yang mati!" anak laki-laki yang tergeletak seketika bangkit, pedang yang semula terlihat menancap di perut kini telah berpindah dalam genggaman. Ujung pedang yang runcing meluncur dan terarah pada Danur Cakra.


Danur Cakra memutar tangannya, membentuk lingkar energi yang menjadi tameng, membuat serangan pria itu seperti membentur dinding karang. Tubuhnya terpental, tapi dengan segera dia kembali bangkit.

__ADS_1


"Kurang ajar! Coba kau sambut yang satu ini!" wanita berpakaian putih yang tadi berpura-pura menangis, ikut melayangkan serangan.


Tidak salah, mereka bertiga hanyalah kelompok pendekar yang bersandiwara. Tujuannya tidak lain ialah untuk membokong Tabib Dewa yang lengah, karena terusik untuk menolong.


Serangan demi serangan yang dilancarkan, membuka jati diri mereka, menegaskan bahwa mereka bukanlah pendekar sembarangan. Bahkan beberapa kali si wanita melakukan serangan disertai serbuk sirep yang mampu membuat lawan jadi hilang tenaga. Barang siapa yang mampu ciptakan serbuk tersebut, sudah barang pasti dia adalah pendekar dengan kemampuan tinggi.


Danur Cakra menghilang dari pandangan, ketika kembali muncul dia sudah berada di belakang seorang lawannya. Tangan Cakra terjulur dengan melepaskan satu pukulan tenaga dalam tingkat tinggi.


BAAAMMM !!! Telapak tangan Danur Cakra mendarat dengan sempurna, telak, membuat darah seketika menyembur dari mulut sang lawan.


Suhita memalingkan pandangannya ke tempat lain. Dia tidak terbiasa mendapatkan tontonan yang tidak layak seperti tadi. Andai saja bisa, tentu Suhita lebih memilih untuk tidak ada di sana.


"Paman, bagaimana keadaanmu?" seorang lawan Cakra yang berakting sebagai anak berlari memburu pamannya yang tersungkur dengan tulang punggung yang remuk.


Tersisa si wanita paruh baya yang masih berhadap-hadapan dengan Cakra. Dia meraih tabung bambu kecil di pinggangnya, pastinya berisi serbuk berbahaya, yang mampu membuat kulit lawan jadi melepuh. Detik selanjutnya, dia membuka tabung bambu dan melakukan serangan.


Namun, Danur Cakra selangkah lebih cepat, dia berhasil menangkap tabung bambu berikut jari lawannya sebelum isi di dalam tabung melompat ke luar. Kaki Cakra menyapu kuda-kuda lawan hingga tubuh wanita itu melayang di udara. Tidak berselang detik, Cakra membanting tubuh lawannya ke atas tanah.


Braakk! Punggung wanita paruh baya tadi sampai bersuara gemertak ketika Cakra menekan dengan keras. Jerit pilu nyaris keluar dari mulutnya, tapi semuanya terhenti ketika tabung bambu yang berisi serbuk beracun tiba-tiba telah mengisi rongga mulutnya.


"Akh! Uhhhkk!" wanita itu tersedak, hendak terbatuk, tapi keburu Cakra menekan tangan ke mulutnya, hingga mau tidak mau dia menelan semuanya. Serbuk racun itu, dinikmati tanpa tersisa sedikit pun.


Danur Cakra melepaskan cengkeraman tangannya, membiarkan lawannya kelojotan, merasakan sakit yang luar biasa dan tidak tergambarkan. Tubuhnya sampai mengepulkan asap saat racunnya beraksi. Sungguh racun ganas yang mengerikan.


Suhita membiarkan dua orang lainnya untuk melarikan diri. Seorang dari mereka terluka sangat parah, rasanya sangat tipis harapan untuk bisa selamat. Haruskah Cakra menghabisi mereka yang sudah tidak berdaya? Suhita hanya bisa menggelengkan kepala.


Purwa Anom, masih duduk di punggung kudanya. Secara jelas dia melihat sepak terjang serta kekuatan yang dimiliki oleh Danur Cakra. Jelas dia merupakan tokoh aliran sesat yang menjadi ancaman bagi kelangsungan perdamaian dunia.


"Mereka tidak berasal dari istana, juga bukan pendekar aliran putih penegak keadilan. Apa salahnya kalau sekalian aku habisi? Hampir saja dia mencelakaimu, Tabib. Masih juga aku yang salah?" Danur Cakra mengangkat bahunya, protes.


"Kau lihat itu? Apa yang sudah kau lakukan? Kau ... kau sangat kejam!" Suhita menunjuk pada tubuh wanita paruh baya yang seluruh permukaan kulitnya hancur, melepuh, termakan oleh serbuk racun miliknya sendiri.


"Itu namanya senjata makan tuan. Hal serupa akan terjadi padaku jika dia yang menang. Dalam pertarungan selalu ada yang menang dan yang kalah. Aku hanya membela diri."


Suhita mendengkus kesal! Percuma juga berebut benar dengan Cakra, yang ada hanya membuat tensi darahnya naik. Suhita hanya meminta untuk Danur Cakra mengurus jasad wanita itu dengan baik.


"Beres!" Danur Cakra memetikkan jari, seketika api besar membakar habis tubuh wanita tadi, hingga lenyap tak bersisa.


°°°


Purwa Anom membawa Suhita ke satu tempat, lebih tepatnya sebuah gua. Katanya di sana telah menunggu beberapa orang yang berkepentingan dengan Hita. Ya, orang yang butuh bantuan Suhita (katanya).


"Menilik tampilan luarnya, rasanya aku pernah melihat. Atau mungkin, gua ini memang di buat oleh kelompok yang sama," komentar Danur Cakra. Cakra mengingat jika tampilan gua tersebut mirip dengan gua tempat persembunyian kelompok sirkus dulu. Serupa.

__ADS_1


"Tuan pendekar, jangan sok tahu. Sikap anda seolah menyudutkan kami, anda mengatakan jika kami sengaja menjebak Tabib Dewa untuk suatu kepentingan. Sekali lagi, jangan samakan kami dengan dirimu!" Purwa Anom menyela.


Danur Cakra tertawa kecil, "tentu saja kau sangat berani sekarang. Pertama banyak temanmu di sini, kedua tugasmu sudah selesai. Sejak kapan prajurit istana ikut campur urusan sumberdaya? Apa kalian bertugas di bawah perintah Jenderal Muda? Mengapa bukan sekalian saja dia yang datang?"


Purwa Anom menatap tajam. Sesungguh dia kaget karena jati dirinya diketahui. Akan tetapi mau tidak mau dia harus mengakui jika Cakra ialah seorang pendekar terbaik, matanya tidak bisa dibohongi.


"Ya, Tabib tidak salah dengar. Ada lencana pengenal tersembunyi di balik jubahnya. Mereka prajurit kerajaan. Saat ini, tidak ada orang yang bisa dipercaya. Jadi percayalah pada dirimu sendiri," Danur Cakra menjawab pertanyaan yang ada dalam benak Suhita.


Suhita mengerutkan dahi, dia memandang ke sekeliling lokasi. Dan benar, Hita menemukan cukup banyak orang yang bergerak mendekat. Mereka sengaja bersembunyi, mungkinkah itu merupakan suatu cara yang tepat jika benar mengaku memiliki tujuan baik? 


Suhita tidak memiliki cukup waktu untuk berpikir, dia harus segera mengambil tindakan. Karena mereka yang datang, bukan serta merta orang-orang istana. Melainkan juga kelompok lain yang juga datang dengan tujuan yang sama.


WUUUSSS !!! pusaran angin berhembus dengan kencang, menerbangkan berbagai benda yang ada di sekitar mulut gua.


Dari udara, muncul seorang pendekar yang memakai jubah berwarna ungu, dengan wajah tertutup make up yang amat tebal. Dia tidak lain ialah Kala Murka atau yang lebih dikenal dengan nama Jubah Ungu. Sosok di balik layar, orang yang bertanggung jawab atas serangan yang terjadi di rumah penginapan, ketika Suhita berada di kota raja beberapa bulan yang lalu.


Kekuatan yang sangat besar Jubah Ungu kerahkan untuk mengintimidasi lawan, menunjukkan pada mereka bagaimana kekuatan yang dia punya. Dengan demikian, maka lawannya dengan sendirinya akan tahu diri, memilih mundur daripada hancur.


Selain Jubah Ungu, juga ada beberapa kelompok lain yang datang pada waktu yang hampir bersamaan. Berita yang tersebar, membuat semakin banyak orang yang penasaran untuk ikut terlibat. Tidak lagi bisa mengelak, tujuan mereka adalah sama. Dengan begitu tidak ada istilah teman, untuk tercapainya tujuan maka segala hal akan menjadi mungkin.


"Gawat! Mengapa begitu banyak orang yang datang? Dan tujuan kedatangan mereka tentu untuk merebut sumberdaya dari tanganku. Huuhhh ... aku tidak menyangka, masalahnya jadi sebesar ini," Suhita menepuk jidat.


Suhita melirik ke satu titik, tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ada pergerakan di bawah tanah, bukan karena gejala alam melainkan karena pengaruh kekuatan. Dengan sigap, Suhita mengangkat kaki, melompat menghindar saat muncul tangan manusia hendak menangkap kakinya.


Kelompok Tikus Tanah muncul, tapi ketika mengetahui terlalu banyak kekuatan besar yang menunggu di permukaan, kelompok itu memilih untuk melarikan diri. Mereka tidak mau mengambil resiko yang terlalu besar. Lagi pula, mereka sudah dapatkan cukup uang dari hasil menjual informasi.


Pemilik informasi yang sah, dia yang pertama kalinya mengendus keberadaan Tabib Dewa dan sumberdaya yang di bawa justru belum menampakkan batang hidungnya. Dia tidak lain ialah Setan Abang. Tokoh sesat yang memiliki begitu banyak burung pengintai. Setan Abang hanya mengutus burung peliharaan untuk mewakili mata dan telinganya, mengawasi setiap kejadian di depan gua. Dia akan muncul ketika tinggal tersisa satu atau dua orang saja.


Di depan gua, suasana semakin memanas. Saling sindir, saling singgung, jelas tidak lama lagi pertarungan akan terjadi. Namun demikian belum nampak dari mereka yang coba untuk menyerang Suhita, merebut sumberdaya dengan paksa. Justru sebaliknya, mereka saling melindungi Suhita, inginkan sumberdaya tapi tidak untuk melukai Tabib Dewa. Sangat sportif, bahkan tokoh aliran sesat jauh lebih beretika dari pada para pendekar aliran putih. Dunia sudah membuat perbedaan. 


"Tunggu sampai saat mereka bertarung, maka aku akan miliki kesempatan untuk bisa kabur. Selain untuk Kak Cakra, aku tidak akan membagi Mutiara Hati. Lebih baik aku gunakan sendiri saja!" batin Suhita.


Suhita telah mengalirkan kemampuan Tapak Naga ke seluruh tubuhnya. Tidak lagi ada seorang Tabib, melainkan gadis dengan tenaga dalam tanpa tanding. Kemampuan tenaga dalam Suhita saat ini, setara dengan kekuatan Mahesa pada masa jayanya. Hanya saja Suhita bukanlah pendekar yang berasal dari dunia persilatan, dia sangat minim kepandaian bertarung. Jurus Sepuluh Tapak Penakluk Naga yang melegenda, tidak dikuasai dengan tuntas.


Bulir es telah menghias di setiap pucuk daun, ujung mata panah yang tajam siap meluncur kapan saja, pertanda Suhita telah mengerahkan kekuatan Tapak Naga Es tahap tinggi. Jika hujan es dirasa kurang, masih ada Panah Bidadari yang bisa Suhita gunakan supaya lawan tidak mengikuti langkahnya. Sangat menarik, ketika seorang tabib yang anti kekerasan dipaksa untuk melakukan segala cara dalam pertarungan hidup atau mati.


"Bukan saatnya untuk ego. Hita berencana untuk kabur, aku harus pastikan keselamatannya. Persetan dengan penilaian dunia persilatan. Aku bukanlah orang yang mementingkan nama besar. Ada masanya saat harga diri terukur karena tanggung jawab," Danur Cakra mengangkat tangannya, menggenggam garis petir yang menyala hitam, mengacaukan suasana dan pandangan mata.


Hal yang tidak pernah Danur Cakra lakukan sebelumnya, lari dari pertarungan. Namun dia akan melakukannya, sekarang.


BAAAMMM! Benturan keras terjadi, peperangan di luar nalar pun dimulai.


Pada saat yang sama, Danur Cakra melompat mendekati Suhita mereka angkat kaki bersama. Jika ada yang berhasil menyusul, tentu hanya satu atau dua orang saja.

__ADS_1


__ADS_2